Langsung ke konten utama

RESUME Proses Diferensiasi Dan Sosialisasi



Nama               :Mariyati              Jurusan                   :Bimbingan Dan Konseling
Nim                 :2014 141 106     Mata Kuliah            :Patologi & Rehabilitas Sosial
Kelas               :5/C                       Dosen Pengampu     :Erfan Ramadhani, M.Pd., kons

RESUME

1.    Proses Diferensiasi Dan Sosialisasi
Pribadi yang menyimpang dengan tingkah laku menyimpang dari norma-norma umum itu merupakan produk dari proses diferensiasi, individualisasi, dan sosialisasi. Proses diferensiasi  Ada orang-orang yang secara individual memang berbeda dengan orang kebanyakan sejak lahirnya. proses sosialisasi pada diri anak dalam pengopenan pola tingkah laku yang ditolak secara sosial itu ( yang menyimpang/ sosiopatok ). Proses tersebut berlangsung secara progresif, tidak sadar berangsur- angsur, setahap demi setahap, dan berkesinambungan. Maka semua bentuk pelanggaran terhadap norma- norma sosial itu lalu dirasionalisasi secara progresif, dibenarkan – ada proses justifikasi- dan dan akhirnya dijadikan pola tingkah laku sehari- hari. Perubahan- perubahan sosiopatik demikian bisa berlangsung pada tingkah laku lahiriah dengan penyimpangan- penyimpangan yang tampak jelas, maupun tingkah laku yang tersembunyi. Dengan demikian pembentukan perilaku men Dengan demikian pembentukan perilaku menyimpang mweupakan suatu proses yang dapat  di lihat dari berbagai sudut  pandang berikut
a.    Terjadinya perilaku menyimpang dari sudut pandang sosiologi
Sebagai akibat proses sosialisasi, setiap individu belajar mengenai berbagai tujuan kebudayaan serta mempelajari berbagai cara untuk mencapai tujuan yang selaras dengan kebudayaannya. Jika kesempatan mencapai tujuan tidak tercapai, maka setiap individu mencari cara lain yang terkadang menimbulkan penyimpangan. Berikut penyebab perilaku penyimpangan  dalam sosiolog
1.    Terjadi karena sosialisasi
Teori ini menyatakan bahwa dalam kehidupan masyarakat terdapat norma-norma dan nilai-nilai inti yang di sepakati oleh seluruh anggota keluarga.   Perilaku penyimpangan ini di sebabkan  oleh adanya gangguan pada proses penghayatan dan pengamalan nilai-nilai tersebut dalam perilaku seseorang.
2.    Terjadi karena anomie
Teori ini menyatakan bahwa  penyimpangan dapat terjadi apabila dalam suatu masyarakat yang memiliki banyak norma dan nilai, tetapi norma dan nilai tersebut saling bertentangan dan tidak terciptanya keselarasan  antara kenyataan yang di harapkan dengan kenyataan sosial yang ada,
3.    Terjadi karena hubungan diferensiasi
Penyimpangan dapat terjadi karena hubungan interaksi sosial antara seseorang dengan orang lain.
4.    Terjadi karena labbeling
Perilaku menyimpang lahir karena adanya cap, julukan atau sebutan atas sesuatu perbuatan yang disebut menyimpang.  Ini artinya kita menciptakan serangkaian perilaku yang cenderung mendorong orang untuk melakukan penyimpangan.
b.    Terjadinya perilaku menyimpang dari sudut pandang biologi
Dalam teori ini berpendapat  bahwa perilaku menyimpang terjadi karena  faktor-faktor biologis, seperti sel-sel tubuh.
c.    Terjadinya perilaku menyimpang dari sudut pandang psikologi
Teori ini berpendapat  bahwa perilaku menyimpang terjadi  karena adanya keterkaitan antara penyakit mental dan gangguan keperibadian.  Sigmun frued membagi manusia menjadi tiga bagian penting yaitu id, ego, superego
d.   Terjadinya perilaku menyimpang dari sudut pandang kriminologi
Dalam teori ini perilaku penyimpang  dapat di lihat dari teori konflik dam teori pengendalian. Teori konflik, pertama, konflik budaya terjadi apabila  dalam suatu masyarakat  terdapat kebudayaan khusus yang masing-masig cenderung tertutup sehingga mengurangi kemungkinan timbulnya kesepakatan nilai.  Hal ini menjadikan  norma kebudayaannya sebagai peraturan resmi. kedua , konflik sosial terjadi akibat suatu kelompok menciptakan peraturan sendiri untuk melindungi kepentingannya. Sedangakan  teori pengendalian melihat orang yang menyesuaikan diri dengan nilai dominan karena adanya pengendalian dari dalam maupun dari luar. Pengendalian ini dapat berupa norma yang di hayati dan nilai yang di pelajari.
e.    Terjadinya perilaku menyimpang karena perilaku dan subkebudayaan menyimpang
Perilaku menyimpang  seseorang terjadi karena pergaulan seseorang  yang pada umumnya tidak terlepas dari peniruan terhadap  terhadap orang lain yang di idolakannya.  Biasanya sesuatu yang di tiru merupakan sesuatu yang menurut mereka perwakilan dari modernisasi.

2.    Deviasi Primer Dan Sekunder
a.    Limitasi interna dan personal
Deviasi primer yaitu individu yang menyimpang menyadari betul peranan patologis  yang dilakukannya. Dia memandang hal tersebut sebagai hal yang wajar dan cocok dengan pola sosial psikologis masyarakat. Disebut demikian, selama penyimpangan itu masih dirasionalisasi, atau ditetapkan sebagai fungsi untuk melakukan peranan sosial tertentu. Peranan tersebut dianggap wajar oleh pribadi yang bersangkutan, namun dianggap menyimpang atau sosiopatik oleh sebagian besar masyarakat lainya. 
Deviasi  sekunder yaitu Apabila seorang mulai menggunakan tingkah laku deviasi sebagai alat pembelaan diri, atau alat menyerang, atau alat penyesuaiaan diri terhadap kesulitan (kesulitan sebagai produk dari reaksi-reaksi sosial terhadap tingkah laku yang sosiopatik). Dengan kata lain, tingkah laku penyimpangan semacam ini sudah menjadi propesionalisasi dari deviasi-deviasinya.
Urutan peristiwa yang menyebabkan terjadinya deviasi sekunder itu secara ringkas dapat dinyatakan sebagai berikut.
(1)   Dimulai dengan deviasi primer
(2)   Munculnya kemudian reaksi-reaksi sosial,hukuman dan sanksi-sanksi.
(3)   Pengenbangan dari deviasi-deviasi primer.
(4)   Reaksi sosoal dan penolakan yang lebih hebat dari masyarakat.        
(5)   Pengenbangan deviasi lebih lanjut disertai pengorganisasian yang lebih rapi timbul sikap bermusuh serta dendam penuh kebencian terhadap masyarakat yang menghukum mereka.
(6)   Kesabaran masyarakat sudah sampai pada batas terakhir. Dibarengi hukuman, tindakan-tindakan kekerasan.
(7)   Timbulnya reaksi kedongkolan dan kebencian dipihak sipenyimpang, disertai” penghebatan tingkah laku yang sosiopatik, sehingga berkembang menjadi deviasi sekunder. Hilanglah kontrol-kontrol rasional, dan dirinya menjadi budah dari nafsu serta kebiasaan-kebiasaan yang sosiopatik atau abnormal. Terjadilah individualisasi dari pribadi yang sosiopatik.
(8)   Masyarakat menerima tingkah laku sosiopatik itu sebagai realitas konkret atau sebagai status sosial.
Dengan demikian proses individulisasi dari penyimpang itu merupakan proses perkembangan dengan saat-saat kritis yang menimbulkan perubahan kualitatif pada pribadi yang menyimpang.
b.    Sanki sosial
Sanki sosial adalah sanki yang langsung yang di kenakan pada orang-orang yang di anggap mempunyai stigma sosiopat yang di kenakan oleh masyarakat pada umumnya. Sanksi sosial membatasi partisipasi sosialnya dengan cara menghalangi keikutsertaannya dalam kegiatan sehari-hari. mereka tidak di perbolehkan  memanfaatkan peranan ekonomi atau sosial tertentu.

3.    Mobilitas Pada Individu-Individu Sosiopat
Pada umumnya, individu-individu dan kelompok-kelompok yang menyimpang itu sangat mobile sifatnya. Pribadi-pribadi dengan mobilitas vertikal dan mobilitas spasial/ruang yang rendah, sangat dibatasi ruang geraknya oleh para anggota kelompok/lingkungan lainnya. Mereka memilki afinitas atau daya-kait yang tinggi dengan anggota-anggota kelompok sendiri. Sebaliknya, orang-orang yang merasa ditolak oleh lingkungannya, tidak mempunyai tempat dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan anggota-anggota kelompoknya, pasti punya kecenderungan kuat untuk keluar dari daerah tempat tinggalnya. Dan besar keinginannya untuk bermigrasi ke dalam masyarakat dengan struktur organisasi yang berbeda. Tidak jarang mereka itu berpindah-pindah tempat tinggal untuk memperluas komunikasi dan habitat atau tempat tinggal. Jadi, ruang gerak mereka menjadi lebih luas dan longgar.
Namun, pada hakikatnya mereka itu terisolisasi dari bagian terbesar masyarakat normal. Individu yang dianggap pribadi yang tidak diterima, tidak mendapatkan pengampunan-oleh tingkah lakunya yang menyimpang, praktis akan dikucilkan atau dikeluarkan sama sekali dari semua partisipasi sosial oleh masyarakat, dan secara geografis tidak banyak berkomunikasi dengan daerah luar. Maka tekanan-tekanan sosial yang sentripetal-keluar dari tokoh pemimpin yang dianggap sebagai kekuatan suku-mempunyai daya memaksa yang kuat sekali.

Sumber:
Burlian, Paisol. 2016. Patologi Sosial. Jakarta: Bumi Aksara
Kartono, Kartini. 2005. Patologi Sosial. Jakarta: RajaGrafindo Persada



Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS

Nama           :Mariyati                       Jurusan             :BimbinganDan Konseling Nim              :2014 141 106              Mata Kuliah      :Studi Kasus Kelas            :6/C                               Dosen Pengampu :Mirnayenti, M.Pd RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS 1.     Pendekatan Umum Pendesainan Studi Kasus a.     Definisi Desain Penelitian Desain penelitian adalah keseluruha...

pemikiran Friederich Wilhelm August Froebel

BAB I PENDAHULUAN 1.1    Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang, dimana memiliki sasaran yang berperan dalam melaksanakan pembangunan disegala sektor, baik di sektor industri, perdagangan maupun di sektor pendidikan. Dalam menunjang keberhasilan pembangunan di setiap sektor, maka perlunya peranan pendidikan yang menempatkan manusia sebagai kedudukan sentral dalam pembangunan. Pentingnya peranan pendidikan dalam pembangunan di setiap sektor, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan berperan sebagai upaya pencerdasan, pendewasaan, kemandirian manusia yang dilakukan oleh perorangan, kelompok dan lembaga. Upaya ini dimulai sejak berabad-abad silam, pola pendidikan mengalami kemajuan yang pesat berkat kerja keras para pakar pendidikan terdahulu. Adapun tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan prasekolah adalah Friederich Wilhelm August Froebel atau lebih dikenal dengan sebutan Froebel. Tokoh ini ...

Makalah Konseling Psikologi Individual

Makalah Model-Model Konseling “ Konseling Psikologi Individual ” Di Susun Oleh : Kelompok 3 Nama Kelompok   : 1.      Ayu soraya 2.      Ema kusna haryati 3.      Ika ayu oktaviani 4.      Mariyati 5.      Rahmad shadat 6.      Yogi firnando Semester/Kelas     : Enam    (6) / C Program Stud i       : Bimbingan dan Konseling Dosen Pengasuh    : Erfan Ramdhani, M.Pd., Kons, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang 201 6/2017 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha P e nyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami . Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW....