Makalah
Manajemen
dan Kepemimpinan
“Balanced
Scorecard Dalam Perspektif Manajemen Kepemimpinan dan Pengawasan Kepemimpinan”
Di Susun Oleh :
Kelompok 5
Nama
Kelompok :
1. Ayu
Soraya 2014 141 101
2. Ema
Kusna Haryati 2014 141 102
3. Mariyati 2014 141 106
4. Rahmad
Shadat 2014 141 104
Semester/Kelas
:Lima (5) / C
Program
Studi : Bimbingan Dan
Konseling
Dosen
Pengasuh : Asmuni, SE.Ak, M.M.
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas
PGRI Palembang
2016/2017
KATA
PENGANTAR
Dengan menyebut
nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami panjatkan puja dan puji
syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW. Sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang
memahami masalah individu yang sosiopat dan reaksi
sosial.
Makalah ini
telah disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah patologi dan rehabilitas sosial. Disamping
itu pula, makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan lebih luas bagi
mahasiswa semester V
Program Studi Bimbingan dan Konseling .
Kami menyadari
sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini kurang baik dari teknik penulisan,
sistematika penulisan dan isi penulisan. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka
kami menerima saran dan kritik dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata kami
Kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Palembang, Oktober 2016
Tim Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. ii
BAB
I PENDAHULUAN........................................................................... 1
1.1
Latar
Belakang...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 2
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................. 3
1.1 Balanced Scorecard
Dalam Perspektif Manajemen Dan Kepemimpinan 3
1.1.1 Definisi
Balanced Scorecard ...................................................... 3
1.1.2 Balanced
Scorecard Dan Manajemen Kepemimpinan................ 3
1.1.3 Kerangka
Balanced Scorecard.................................................... 4
1.1.4 Bentuk,
Karakteristik, Dan Mekanisme Balanced Scorecard..... 9
1.1.5 Konsep Strategi
Balanced Scorecard.......................................... 9
1.1.6 Manajemen
Kepemimpinan Berbasiskan Balanced Scorecard.... 12
1.2 Pengawasan Dan
Kepemimpinan......................................................... 14
1.2.1 Definisi
Pengawasan .................................................................. 14
1.2.2 Peran
Pengawasan Dalam Perpsektif Kepemimpinan................. 16
1.2.3 Tipe-Tipe
Pengawasan................................................................. 17
1.2.4 Alasan-Alasan
Pengawasan Diperlukan...................................... 18
1.2.5 Pengawasan Dari
Segi Keuangan................................................ 18
1.2.6 Hambatan-Hambatan
Dalam Pengawasan.................................. 19
1.2.7 Solusi Dalam
Mengatasi Hambatan............................................ 21
BAB III PENUTUP...................................................................................... 23
3.1 Kesimpulan.......................................................................................... 23
3.2
Saran.................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 25
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dari awal sangat perlu dipahami
mengapa pengukuran kinerja organisasi (perusahaan) sangat penting dan vital.
Sebuah organisasi dalam hal ini perusahaan yang beroperasi tanpa system
pengukuran kinerja, seperti pesawat terbang yang terbang tanpa sebuah kompas,
seorang pembalap F1 yang mengemudi dan matanya ditutup. Atau seorang CEO yang
menjalankan bisnis tanpa sebuah rencana strategis. Tujuan dari pengukuran
kinerja tidak hanya bertujuan untuk mengetahui bagaimana kinerja bisnis akan
tetapi mampu untuk menciptakan kinerja yang lebih baik. Tujuan utama
melaksanakan sistem pengukuran kinerja adalah untuk meningkatkan kinerja
organisasi sehingga dapat lebih baik melayani pelanggan, karyawan, pemilik, dan
stakeholder. Dimana, hasil pengukuran
kinerja yang baik akan menjadi informasi bagaimana keberadaan bisnis tersebut
dan bagaimana hal tersebut dilakukan, dan dimana itu terjadi.
Selama ini pengukuran kinerja hanya dilakukan secara
tradisional yaitu dengan menitikberatkan pada sisi keuangan. Manajer yang
berhasil mencapai tingkat keuntungan yang tinggi akan dinilai berhasil dan
memperoleh imbalan yang baik dari perusahaan. Penilaian kinerja perusahaan yang
semata-mata dari sisi keuangan akan dapat menyesatkan, karena kinerja keuangan
yang baik saat ini dapat dicapai dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan
jangka panjang perusahaan. Dan sebaliknya, kinerja keuangan yang kurang baik
dalam jangka pendek dapat terjadi karena perusahaan melakukan
investasi-investasi demi kepentingan jangka panjang.
Untuk mengatasi masalah tentang kelemahan system
pengukuran kinerja perusahaan berfokus pada aspek keuangan dan mengabaikan
kinerja non keuangan, seperti kepuasan pelanggan, produktivitas karyawan, dan
sebagainya, maka diciptakanlah sebuah model pengukuran kinerja yang tidak hanya
mencakup keuangan saja melainkan non keuangan pula.
Dengan adanya permasalahan yang demikian maka dari itu
makalah ini akan membahas mengenanai dua hal yaitu “balanced
scorecard dan manajemen kepemimpinan dan pengawasan dalam perpsektif kepemimpinan”.
1.2
Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah yaitu bagaimana balanced scorecard dan manajemen
kepemimpinan serta
pengawasan
dalam perpsektif kepemimpinan?
1.3
Tujuan makalah
Untuk mengetahui balanced scorecard dan manajemen
kepemimpinan serta
pengawasan
dalam perpsektif kepemimpinan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
BALANCED
SCORECARD DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN KEPEMIMINAN
1.
Definisi
Balanced Scorecard
Balanced
scorecard merupakan suatu konsep yang bertujuan
untuk mendukung perwujudan visi, misi, dan strategi perusahaan dengan
menekankan pada empat kajian yaitu
persoektif keuangan (financial),pelanggan
(customer),bisnis internal (internal business),serta pembelajaran
dan pertumbuhan (learning and growth) dengan target bersifat jangka panjang.
Balanced
scorecard terdiridari dua kata: (1) kartu skor (scorecard) dan (2) berimbang (balanced).
Kartu skor adalah kartu yang di pergunakan untuk mencatat skor hasil kinerja
suatu organisasi atau skor individu. Kata berimbang dimaksudkan untuk
menujukkan bahwa kinerja organisasi/individu
diukur secara berimbang dari dua
aspek: keuangan dan non keuangan, jangka pendek dan jangka panjang,internal dan
ekssternal.
2.
Balanced Scorecard Dan Manajemen
Kepemimpinan
Ada hubungan
yang antara konsep balanced scorecard
dan manajemen kepemimpinan. Setiap pemimpin dalam mendukung pengambilan
keputusan ia memerlukan analisis dan pandangan dari berbagai sudut pandang .
dengan tujuan semua itu akan memberikan penguatan pada keputusan yang akan di
hasilkan nantinya.
Dimana salah
satu sisi yang ditekankan dalam balanced
scorecard adalah
menghasilkan keputusan yang
memiliki nilai yang bersifat berimbang. Dan memang salah satu bentuk keputusan
yang berimbang. Artinya ia tidak bisa memaksa setiap keputusan yang dilakukan
atas dasar mengejar profit yang tinggi tanpa memikirkan pengembangan kualitas
karyawan, termasuk menyediakan fasilitas yang dibutuhkan karyawan, seperti gaji
yang mencukupi/ tunjangan, jaminan hari tua, jaminan kesehatan,dan berbagai
bentuk lainnya.
Posisi top management selalu berkeinginanuntuk
memberikan kinerja yang maksimal khususnya kepada komisaris sebagai pemilik
peruasahaan. Dan secara konsep memang manajemen perusahaan diharuskan untuk
memberikan kepuasaan yang maksimal kepada para pemegang saham.
Namun pihak top management selaku pimpinnan
perusahaan tidak bisa melihat semua itu
dari susdut leuangan saja. Karena untuk mendorong meningkatnya grafik keuangan
perusahaan dalam arttian
profit jug harus dilihat dari non keuangan, dan balanced scorecard (BSC) memiliki arti kuat dalam menjelaskan ini
kepada pihak pimpinan perusahaan. Ini sebagaimana dikemukakan oleh Bambang
Sudibyo bahwa,”BSC mengukur kinerja manajemen dari dimensi finansial dan
nonfinansial. Jadi di samping memberikan indicator kinerja finansial seperti
yang lazim diberikan oleh fungsi akutansi BSC juga memberikan
indikator-indikator kinerja penting lainnya yang dimensinya tidak finansial
seperti kepuasaan konsumen, retensi konsumen, perolehan konsumen baru, waktu
pelayanan (delivery time),kualitas,
kepuasaan kerja, tingkat penguasaan skill, segmen keuangan ini juga dapat
dilihat sebagai evaluasi yang berimbang (balance).
3.
Kerangka Balanced Scorecard (Bsc)
Ada banyak
penelitian yang telah dilakukan tentang balanced
scorecard (BSC) baik oleh peneliti domestik maupun asing . secara umum
semuanya menekankan pada empat perspektif balanced
scorecard yaitu financial, customer,
internal business processes,dan learning and growth. Dan keempat bidang
tersebut merupakan standar perspektif yang dikemukakan oleh Kaplan dan Norton
sebagai pihak penggagas utama konsep BSC tersebut. Untuk memahami lebih dapat
kita jelaskan di bawah ini
Kaplan dan
Norton menggunakan empat standar perspektif BSC yaitu financial, customer, internal business process, dan learning and growth.
a) Perspektif
Financial
BSC dibangun
dari studi pengkuran kinerjadi sector bisnis , sehingga yang di maksud
perspektif financial di sini adalah
terkait dengan financial sustainability.
Perspektif ini digunakan oleh shareholder
dalam rangka melakukan penilaian kinerja orgnisasi apabila dinarasikan akan
berbunyi: “organisasi harus memenuhi sebagaimana harapan shaareholdres agar
dinilai berhasil oleh shareholder”.
b) Perspektif Customer
Perspektif customer adalah perspektif yang
berorientasi pada pelanggan karena merekalah pemakai produk/jasa yang dihasilkan organisasi. Dengan kata lain,
organisasi harus memperhatikan apa yang diinginkan oleh pelanggan.
c) Perspektif Internal
Business Process
Perspektif internal business process adalah
serangkaian aktivitas yang ada dalam organisasi untuk menciptakan produk/jasa
dalam rangka memenuhi harapan pelanggan. Perspektif ini menjelaskan proses
bisnis yang dikelola untuk memberikan layanan dan nilai-nilai kepada stakeholder
dan customer
d) Perspektif Learning
Dan Growth
Perspektif learning and growth adalah perspektif
yang menggambarkan kemampuan organisasi untuk melakukan perbaikan dan perubahan
dengan memanfaatkan sumber daya internal organisasi. Kesinambungan suatu orgsnisasi
dalam jangka panjang sangat bergantung pada perspektif ini.
Keempat bidang tersebut bekerja
sebagai sebuah kerangka dalam memperkuatterwujudnya visi dan misi perusahaan.
Dalam kontek pemahaman kerangkanini patut kita menyimak pendapat dari Sony Yuwono.
Dkk. Menurut Sony Yuwono,dkk., bahwa, “BSC memberikan sebuah kerangka untuk
memandang strategi yang digunakan untuk menciptakan nilai dari empat
perspektif:
1. Financial:
strategi pertumbuhan, profitabilitas,risiko dipandang dari sisi pemegang saham;
2. Customer: Strategi untuk
menciptakan nilai dan diferensiasi dari kacamata pelanggan;
3. Internal Business
Process:
Proritas strategi atas berbagai proses bisnis yang menciptakan kepuasan
pelanggan dan pemegang saham;
4. Learning And Growth: berbagai prioritas
untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perubahan, inovasi, dan
pertumbuhan secara organisasional.
Dari penggunaan
kerangka strategi tersebut diharapkann akan membentuk suatu manajemen kinerja
yang bekerja secara efektif dan efesien. Para manajer di suatu perusahaan menginginkan
penerapan aplikasi manajemen yang mengedepankan konsep efektif dan efesien.
Karena pada prinsipnya penekanan efektif dan efesien merupakan bahagian dari perintah dewa komaris kepada pihak
manajemen dalam memenuhi target-target yang dimaksud. Salah satu target
terpenting adalah mampu menciptakan perolehan keuntungan para pemegang saham.
Dalam konteks
ini BSC memegang andil untuk menciptakan sinerginitas dalam pembentukan proses
manajemen. Ini sebagaimana dikatakan oleh Kaplan dan Norton bahwa. “perusahaaan
menggunakan focus pengukuran scorecard
untuk menghasilkan berbagai proses manajemen
penting:
1.
Memperjelas dan
menerjemahkan visi dan strategi.
2.
Mengkomunikasikan dan
mengaitkan berbagai tujuan dan ukuran strategis
3.
Merencanakan,
menetapkan sasaran, dan menyelaraskan berbagai inisiatif strategi
4.
Meningkatkan umpan
nalik dan ppembelajran strategi.”
|
Memperjelas dan menerjemahkan visi dan stratei
· Memperjelas visi
· Menghasilkan konsensus
|
|
Merencanakan dan menetapkan sasaran
· Menetapkan sasaran
· Memadukan inisiatif stratgis
· Mengalokasikan sumberdaya
· Menetapkan tonggak-tonggak penting
|
|
Umpan balik dan pembelajaran strategis
· Mengartikulasikan visi bersama
· Memberikan umpan balik strategis
· Memfasilitasi tinjua
ulang dan pembelajaran strategis
|
|
Mengkomunikasikan dan menggabungkan
·
Mengkomunikasikan
dan mendidika
·
Menetapkan
tujuan
·
Mengkaitkan
imbalan dengan ukuran kinerja tonggak
|
|
Balanced
scorecard
|
Usaha untuk
mewujudkan visi dan misi sering mendapat
berbagai bentuk hambatan. Hambatan-hambatan tersebut selalu terjadi pada saat rencana kinerja yang telah disusun tidak mampu berjalan sesuai dengan yang diharapakan.
Salah satu faktor yang turut mendororng terbentuknya hambatan tersebut adalah
kondisi internal dan eksternal. Dalam konteks ini BSC memberikan pada perbaikan
yang bersifat berkelanjutan. Ini seperti yang dikemukakan oleh Sony Yuwono, dkk
bahwa , “BSC merupakan sistem manajemen yang dapat memotivasi berbagai temuan
perbaikan pada area-area seperti; produk,proses pelanggan dan pengembangan
produk”.
Sebuah perbaikan
yanh berkelanjutan tidak akan memiliki dampak positif jika hanya dilakukan pada
kantor pusat (head office) saja.
Namun harus berkelanjutan pada seluruh lini perusahaan yaitu berlanjut pada
kantor cabang (brand office), kantor
cabang pembantu (sub btand office)
dan kantor kas (cash office). Ini
sebagaimana dipertegas oleh Sony Yukono, dkk bahwa “sejalan dengan sistem
pengendalian strategi dan pengendalian manajemen (K. A. Merchant,1998), BSC
juga merupakan sarana pengukuran bagi kinerja strategi dan operasionalisasi
strategis (action) melalui lagging
indicator dan lead indicator yang melintasimpat perspektif BSC yang seimbang
dan terkait secara kausal dari hilir ke hulu”.
Dalam konteks
perbaikan atau perubahan yang dilakukan secara berkelanjutan yang dimulai dari
kantor pusat hingga kantor kas adalah tidak bisa dipungkiri jika pimpinan
memiliki peran penting untuk melakukannya. Perubahan yang paling cepat adalah
jika dilakukan secara top down, namun
masukan atau saran-saran yang bersifat aspiratif datang dari button up. Dan setiap dianalisis oleh
pimpinan perusahaan untuk dilihat dan disusun secara pendekatan skala
prioritas.
Sebagai catatan
yang harus diingat dalam berbagai kasus
kajian ketahui bahwa apa yang terjadi di setiap organisasi bisa berbeda-beda.
Permasalaha yang terjadi di kantor pusat berbeda yang terjadi di kantor cabang,
dan apa yang terjadi di kantor cabang adalah berbeda dengan apa yang terjadi di
kantor unit. Sehingga pada saat konsep perubahan khususnya melakukan perubahan
pada kultur organisasi perusahaan harulah dilihat secara jauh lebih detil. Ini
sebagaimana ditegaskan oleh schein, hood dan koberg, bahwa “tipe kultur dalam
suatu perusahaandapat bervariasi antara divisi departemen atau bagian yang satu
dengan yang lain dalam suatu perusahaan, “(schein 1986; hood dan hoberg 1991).
Artinya seorang pimpinan mengerti jika perubahan bisa membawa damoak pada
perbaikan namun semua itu harus dilakukan secara bertahap. Konsep skala
prioritas merujuk kepada berbagai segi seperti melihat dari segi ketersedian
dana, kepemilikan sumber daya manusia, keberadaan fasilitas perusahaan untuk
saat ini, serta kondisi eksternal lainnya.
4.
Bentuk, Karakteristik, Dan Mekanisme Balanced Scorecard
Sebelum kita
melangkah lebih jauh ada baiknya kita memahami bentuk, karakteristik, dan
mekanisme balanced scorecard. Menurut
bambang sudibyo sifat-sifat dan deskripsi berikut ini menggambarkan bentuk,
karakteristik, dan mekanisme BSC secara singkat:
a. Instrumen
pengukuran kinerja manajemen yang multidimensional;
b. Akomodatif
terhadap kepentingan banyak kelompok stakeholders;
c. Berorientasi
pada implementasi misi dan strategi;
d. Management by
objectives (MBO);
e. Operasional-konkrit;
f. Seimbang
(balanced);
g. Hubungan
sebab-akibat;
h. Memberikan
lagging dan leading investors kinerja sukses;
i. Sistem
manajemen era informasi;
j.
Top
down dan bottom-up;
k.
Strategic
business unit (SBU) based.
Yang paling
penting untuk disadari adalah bahwa penerapan BSC seperti dikatakan creelmen (1996),
bukanlah sekedar menerpkan suatu intrumen pengukuran baru,karena penerapan BSC
mensyaratkan adanya pergeseran cara berpikir yang fundamental dalam
pengelolahan bisnis.
5.
Konsep
Strategi Balanced Scorecard
Pada bagian atas
telah dijelaskan secara singkat kerangka
BSC dalam mewujudkan visi dan misi perusahaan. Secara strategi BSC
berfungsi dalam membangun kesatuan kerja di lingkungan perusahaan. Secara lebih
detil dapat kita jelaskan di bawah ini.
Kinerja keuangan
(financial performance) sering mengalami
kondisi yang fluktuatif tersebutterjadi sangat mungkin disebabkan oleh ketiga
faktor lainnya dalam BSC itu sendiri. Kinerja keuangan akan mengalami penurunan
penjualan terjadi karena salah satunya pihak konsumen merasa kecewa atau tidak terpuaskan terhadap produk yang dipakainya.
Secara realita setiap konsumen
menginginkan kepuasan, dan kepuasan konsumen (consumers satisfaction) hanya dapat diperoleh jika produsen mampu
melakukan indentifikasi pada setiap segmentasi produk yang dituju secara akurat.
Memang konsep balanced scorecard tidak layak jika hanya dilihat secara keuangan
saja. Ini sebagaimana dikatakan oleh mulyadi bahwa “konsep balanced scorecard yang diciptakan
untuk memperluas ukuran kinerja di perspektif keuangan rupanya belum berhasil
mengubah secara radikal sistem pengukuran kinerja pusat pertanggung-jawaban”.
Kepuasaan
konsumen tersebut dipengaruhi oleh kualitas kinerja internal perusahaan dalam
mengembangkan produk yang memiliki nilai kompetitif di pasar. Research and development (R & D)
bertugas dalam melakukan penelitian dan pengembangan produk secara
berkelanjutan. Sebuah produk memiliki nilai rendah dimata konsumen jika ada
sisi catat, dan begitu pula sebaliknya. Saat ini bisnis harus mampu memenuhi
tuntutan keinginan konsumen. Ini seperti yang dikemukakan oleh mulyadi yaitu
“karena pemangku kepentingan kunci
dalam bisnis modern adalah customer, tuntutan customer telah memainkan
peran menetukan dalam mendefinisikan ukuran kinerja yang digunakan oleh
organisasi. Perusahan perlu pengembangan costumer-driver
performence managemnt systems- sistem pengelolaan kenierja yang di pacu
oleh pemuasan kebutuhan custumer,
sehingga seluruh perhatian, pemikiran, dan usaha personal di arahkan untuk
menenangkan pilihan custumers.”
Untuk menciptakan produ yang
berkualitas maksimal harus di dukung oleh pembentukan manajemen kinerja yang
baik. Artinya para karyawan harus di berikan pelatihan dan pengembangan.
Contonya bagi karyawan yang bekerja pada perusahaan bidang furniture di berikan
pelatihan tentang bagaiman mendesain, memilih, menilai dan lain-lainny tentang furniture serta berbagai ruang
lingkupnya.
Ini bagaimana dikatakan Mulyadi bahwa, “ dalam manajemen
modern, kinerja personal tidak hanya cukup di ukur, namun di kelola dan di
rencanakan secara strategik, di ukur dan di nilai, serta di beri penghargaan
berbasis kinerja.”
Pada saat kualitas
telah tercapai sesuai keinginan konsumen, maka penjualan akan menjadi
meningkat. Peningkatan penjualan ini akan mampu mendorong peningkatan dan
perolehan laba perusahaan. Artinya kinerja keungaan terjadi peningkatan, lebih
jauh lagi peningkatan kinerja keungaan akan mampu memberi kepuasaan kepada
dewan komisaris yaitu peningkatan pada perolehan deviden.
Pada stakeholder adalah
mereka yang berkepentingan terhadap satu organisasi, karena itu para stakeholder memerlukan informasi
maksimal. Dengan perolehan informasi tersebut di harapkan para stakeholder tersebut akan memiliki
banyak dasar dalam setiap pengambilan keputusan. Salah satu kelemahan dalam
mengambil keputusan karena perolehan informasi yang tidak maksimal. Contohnya
pada perusahaan akan menciptakan suatu produk baru, tentu di dahului dengan
tindakan melakukan riset pasar. Kebijakan riset dilakukan ats dasar agar
penciptaan produk tersebut sesuai dengan harapan konsumen. Namun ternyata hasil
riset tidak memberikan dampak pada keniakan penjualan produk di pasar, tentu
ini tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh lemahnya riset pasar yang di
lakukan, terutama penggunaan metodelogi riset yang tidak sesuai.
Para manajer baik mereka yang berada di posisi top dan middle management menginginkan informasi yang paling realistis
dari kondisi bisnis yang berlaku pada saat ini. Karena mereka adalah termasuk
para pengguna pelaporan bisnis yang lebih jauh akan mampu mendukung proses
pengambilan keputusan mereka. Menurut Robert S. Kaplan dan David P. Norton,
mengatakan bahwa “ untuk memenuhi kebutuhan para pengguna yang terus berubah,
sistem pelaporan bisnis harus:
a.
Menyediakan lebih
banyak informasi tentang rencana, peluang, risiko, dan ketidakpastian.
b.
Lebih memfokuskan
diri kepada berbagai faktor yang menciptakan nilai jangka panjang, termasuk
ukuran finansial yang memberi petunjuk tentang kinerja berbagai bisnis penting
perusahaan.
c.
Menyelaraskan dengan
lebih baik informasi yang di laporkan kepada pihak eksternal dengan informasi
pihak internal kepada manajemen tingkat atas untuk mengelola perusahaan.
Pada saat suatu
perusahaan berencana menerapkan konsep strategi dalam menjalankan suatu
perusahan maka perusahaan harus melakukan evaluasi terlebih dahulu terhadap
manajement yang di jalankan selama ini. Strategi bersifat jangka panjang dan
taktik adalah bersifat jangka pendek, sehingga jika kita melihat perspektif
karyawan datang terlambat serta kemampuannya dalam menghasilkan produk baru.
6.
Manajemen Kepemimpinan Berbasiskan Balances Scorecard
Konsep balanced scorecard menempatkan kajian manajemen tidak hanya di
lihat dari yang sederhana atau berpandangan tradisional kapalitas. Dalam artiam
setiap persoalan yang terjadi di suatu perusahan baik maju maupun mundur
dilihat dari segi perolehan keuntungan yang di peroleh tanpa mengerti sebab
musabab yang melatar belakanginya.
Pengukuran dari
segi keuangan dilihat sebagai pengukuran yang begitu mudah untuk di ukur,
apalagi keberadaan data-data keuangan semuanya tersedia dengan baik dan
selanjutnya di masukan formula serta di-forecast.
Namun untuk memberikan analisis yang jauh lebih komprehensif bagi pemimpin
diharuskan menganalisis setiap masalah secara pendekatan multideminsional.
Dengan tujuan akan di peroleh pengukuran kinerja secata multideminsional
juga. Seorang pemimpin harus melihat hard measurement dan soft measurement sebagai satu kesatuan
yang utuh, itu artinya bisa di kaji secara tersipah namun kedua-duanya pada
prinsipnya yang saling berkaitan, dan bisa saling memperngaruhi.
Sedangkan
pengukuran dari segi non keuangan, maka diharapkan pimpinan dapat mengetahui
dimana sebab timbulnya masalah penurunan kinerja perusahaan. Sehingga dengan
begitu pimpinan bisa melakukan pengubahan budaya kerja yang selama ini di
anggap tidak mampu memberi dampak pada peningkatan kinerja perusahaan.
Seorang pemimpin
harus memahami dengan jelas bahwa masyarakat pada era sekarang ini adalah
sebuah bentuk dari struktur masyarakat global yang menggunakan produk global dan menerapkan cara berfikir yang global
pula. Untuk menerapkan konsep global
tersebut perusahaan harus dengan cepat adaftif dalam menyesuaikan setiap
perubahan sekarang ini dengan kondisi
realita di perusahaan. Oleh
karena itu, solusi penerapan harus diterapkan adalah “berfikir” merencanakan
dan merealisasikan semua katifitas usaha dengan menerapkan standar-standar
internasioanl terutama akitivitas yang terkait dengan aspek permodalan,
regulasi, transparmasi atau komunikasi, teknologi serta kempetensi manajemen
dan karyawan.
Dengan demikian konsep balanced scorecard merupakan
salah satu pendukung analisa yang harus di lihat dari sudut perspektif
global. Dengan tujuan memiliki kemampuan adaptasi secara global, sehingga
risiko kegagalan dalam aplikasi dapat dihindari. Dengan begitu konsep ini di terapkan oleh
perusahaan yang siap untuk masuk pasar internasioanl dan tidak bisa di lakukan
secara setengah-setangah dan hanya cocok di pakai dan diterapkan oleh pimpinan
suatu organisasi yang memiliki pandangan dan keinginan membawa organisasinya ke
pasar internasional.
B.
PENGAWASAN DAN KEPEMIMPINAN
1.
Definisi
pengawasan
Pengawasan
secara umum, dapat didefenisikan sebagai cara suatu organisasi mewujdkan kinerja yang efektif dan
efisien,sertalebihjauh mendukung terwujudnyavisi dan misi organisasi.untuk
memahami lebih dalam pengertian dari pengawasan ada baiknya kita lihat pendapat
dari para ahli,yaitu;
a.
Fremont E.Kast dan
James E. Rosenzwelg :pengawasanadalah tahapproses manjerial mengenai
pemeliharaan kegiatan organisasi dalam batas – batas ysng diizinkan yang
diukurdari harapan-harapan. Lebihjauh Fremont E.Kast danJames E.
Rosenzwelg megatakan bahw, teori
pengawasanitu seprti halnya teoriimum lainnya, leboih banyak merupakankeadaan
pikiran (state of mind) dari pada
gabunganspesifik darimetode matematis,ilmiah dan teknologis.
b.
G. R. Terry: controling
can be defined as the process of determining whatis to be accomplished that is
the standard; what is being accomplished, that is the perfomance, evaluating
the perfomance and if necessary applying corrective measure so that performance
take placeaccording to plans, that is, in conformity with the standard (pengawasan
dapat didefenisikan sebagai proses penentuan, apa yang harus dicapai yaitu
standar, apa yang sedang dilakukuan yaitupelaksanaan, menilai pelaksanaan
danapabila perlu dilakukuanperbaikan – perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencanayaitu selarasdengan
standar )
c.
T. Hani Handoko:
pengawasan dapat didefenisikansebagai proses untuk “menjamin” bahwa tujujan-
tujuan organisasi dan manajemen tercapai.
d.
Handibroto mengatakan
bahwa pengawasan adalah kegiatan penilaian terhadap organisasi/kegaitan
tersebut melaksanakan fungsinya dengan baik dan dpat memenuhi tujuannya yang
telahdi tetapkan.
e.
Brantas : pengawasan
ialah proses pemantauan, penilaian, dan pelaporan rencana atas pencapaian tujuan yang telah
ditetapkanuntuk tindakan korektif guna penyempurnaan lebih lanjut.
Pengawasan
dan pengendalian memliki perbedaan penfsiran, dan selama ini telah terjadi penafsiran yang menganggap sama kedua ini.
Soemardjo Tijtrosidojo juga membedakan arti istilahpengawasndan istilah
pengendalian. Menurutnya:
Pengawasan adalah suatu bentuk
pengamatan yang umunya dilakukuan secara menyeluruh , dengan jalan mengadakan
perbandingan antara yang dikonstatir dan
yang seharusnya dilaksanakan, sedangkan
istilah pengendalaian merupakan
sarapan dari istilah dalam bahasa inggris control.
Black’s
Law Dictinory memberiakn
definisi control dalam fungsinya sebagai suatu kerja atauverb adalah sebagai
berikut:
a.
To
exercise power or influence over;
b.
To
regulate orgovern;
c.
To
have a contrloing interest someinstitution.
Untuk
memahami perbedaab keduan ini baik pengawsan dan pengendalian jusuf Anwar
mengatakan, ‘secar formal,pengawasan hanya bersifat memberiakan saran,
sedangkan tindakan lebih lanjut merupakan wewenang dari orang – orang yang mempunyai fungsi pengendalian.” Sehingga disini menjadi sangat jelas jika pengawasn
dan pengendalian menempati posisi berbeda, artinya pengawsan
yang utama danpengendalian menjalankan keputusan pengawasan.
Dan
jika kepurusan pengawasan
salah maka kitatidak bisa menyalahkan kesalahan itu sematakarena faktor
pengendalian yang tidaktetap, namun konsep pengawsan yang diterapkan juga
mungkin harusdilakukanperbaikan. Karena dengan konsep pengawsan berkualitas
tinggi terutammampu memikirkn dampak – dampak yang akan terjadi nantinya, maka
pekerjaan bagian pengendalian menjadi
jauh lebih ringan dan simpel. Contohnya,pemimpin disebuah organisasi bisnis yang memiliki visi
dan isi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pengawasan ini berkaitan erat sekali dengan fungsi
perencanaan dan kedua fungsi ini
merupakan hal yang saling mengisi,karena:
·
Pengawasan harus terlebih dahulu
direncanakan;
·
Pengawasan barudapat
dilakukan jika da rencana;
·
Pelaksanaan rencana
akan lebih
baik,jika pengawasan dilakukan dengan baik;
·
Tujuan dapat diketahui
tercapai dengan
baik atau tidak setelah pengawasan atau
penilaian dilakukan (Hasibuan,
2001:241).
2.
Peran
Pengawasan Dalam Perspektif Kepemimipnan
Secara umum ada
beberapa manfaat yang diperoleh dengan diberlakukannya pengawasan pada suatu
organisasi,yaitu :
a. pengawasan
memiliki peran penting terutama dalam memastikan setiap pekerjaan terlaksana
sesuai dengan yang direncanakn.
b. disamping
itu pengawasan juga memiliki peran dalam membantu menjer dalam
mengawal dan mewujudkan keinginan visi
dan misi perusahaan, dan tidak terkecuali telah menempatkan manajer sebagi sutu
pihak yang memilki wewenang sentral disuatu organisasi.
c. pengawasan
bernilai positif dalam membangun hubungan yang baik anatar pimpinan dan
karyawan.ini sebagimana ditegaskan oleh
George R.Terry dan Leslie W.Rue mengatakan, “manajer yang efektif menggambarkan
pengawsanuntuk membagi –bagi informasi, memuji pelaksanaan yang baik
danmenampak mereka yang memrlukan bantuan serta menentukan bantuanjenis apa
yang mereka perlukan.”
d. pengawasan
yang baik memiliki peran dalam menumbuh
kembangkan keyakinan para stateholders’ pada organisasi. stateholders’ adalah mereka yang memiliki kepedulian tinggi pada
organisasi . mereka yang dikategorikan sebagai
stateholders’ adalah
pemerintah, kreditur,supplier (pemasok),investor,akutan publik,
akademisi,lembaga penilai,karyawan, dan lain-lain.
Peran
pengawasan akan semakin terasa jiaka seorang pimpinan menerapkan konsep
pengawasan secara sangat baik. Namun
peran pengawasan menjadi tidak begitu berarti jika pimpinan tidak ikut serta dalam mewujudkan pengawasan
yang dimaksud.
3.
Tipe-Tipe
pengawsan.
Secara
konsep pengawasan tersebut memiliki banyak tipe.menurut T.Hani Handoko ada tiga
tipe pengawasan,yaitu :
1)
Pengawasan pendahuluan,
2)
Pengawasan “concurrent”
dan
3)
Pengawasan umpan balik.
Untuk
memahami secara lebih dalam Hani Hadoko menjelaskan bahwa, ”pengawasan pendahuluan,
atau sering disebut steering controls,
dirancang untukmangantisipasi masalah-masalah atau penyimpangan-penyimpangan
dari standar atau tujuan danmemungkinkan koreksi dibuat sebelum suatu tahap kegiatantertentu
diselesaikan.
Untuk pengawasan “concurrent” Hani
Handoko megatakan,”tipe pengawasan ini
merupakan prose dimana aspek tertentu dari sutu prosedur harus disetujui dulu, Atau syarat
tertentu harus dipenuhi dulu sebelum kegiatan-kegiatan bisa dilanjutkan, atau menjadi semacam peralatan “double-check” yang lebih jauh Hani
Handoko “pengawasan umpan balik,juga
dikenal sebagi past action controls, mengukur hasil- hasil dari suatu kegiatan
yang telah diselesaikan.”
Ada
yang harus diingat dalam memahami tipe pengawasan adalah semuaitu snagta
tergantung siapa dan dimana diterapkannya tipepengawsan tersebut. Karena
kesuksesan suatu tipe pengawasan
dari pekerjaan tersebut. Jika ditugaskan untuk menjadi pengawsan dari
pekerjaan tersebut. Jikayang bersangkutan memiliki keseriusan tinggi maka
artinyapengawsan itu akan sukses, namun
itu juga manjadi sebaliknya.
Oleh
karena itu, pemimpin harus memiliki orang yang
tepat untukditunjuk sebagai pengawas. Karena pada prinsipnya pengawas
yang ditunjuk tersebut bertugas mengawasi
rencana kerja yang telah disusun atau disetujui oleh pimpinan. Sehingga
kesuksesan pengawasan dalam mengawasi pekerjaan juga akan menjadi
kesuksesaan bagi pimpinan yang bersangkutan. Termasuk menghindari ditempatkan
pengawas yang meneriam sogokan atau suap, sebab pengawas yangmeneriam
sogokanartinya pengawas tersebut hanya mentingkan kepentingan pribadinya tanpamemperhatikan kualitas
pekerjaan. Dan lebih jauh ini bisa
membahayakan produk perusahaan. Salah satu cara untuk mendapatkan pengawas yang
bermutu adalah dengan mempersyaratkan setiap pengawas harus
memiliki sertifikat yang dishkan oleh lembaga resmi.
4.
Alasan
– Alasan Pengawasan ( Controling )
Diperlukan
Secara
umum ada beberapa alasan mengapa dalam suatu organisasi diperlukan pengawsan,
yaitu:
a. Agar
kualitas output yang dihasilkan menjadi lebih baik dan sesuai dengan keinginan
banyak pihak, khususnya pengguna produk.
b. Terbentuknya
konsep manajemen perusahaan. Misalnya pihak komisaris maupunmanajemen
perusahaan. Misalnya pihak
komisaris perusahaan menginginkan
perolehan dividen tahun ini adalah 12 persen tersebut tercapai.
c. Dengan
adanya pengawasan maksimal diharapkan
tujuan dan keinginan terbentuknya Good
Corporate Governance (GCG) akan dapat diwujudkan. Pembentukan GCG lebih jauh
telah memposisikan terwujudnya
organisasi yang bersih (clean organization)dan manjemen yang
profesional.
5.
Pengawasan
Dari Segi Keuangan
Salah
satu perhatian mendalam dari pimpinan adalah bidang keuangan. Beberapa kasus
bangkrutnya suatu organisasi disebabkan
oleh lemahnya kontrol keuangan (financial
control) yang dilakukan. Sehingga berakibat pada timbulnya kebocoran dana
di berbagai bidang, seperti dilakukan mark up sejumlah pengeluaran yangmemiliki
jumlah uang sisa namun tidak dikembalikan
atau dilaporkan ke perusahaaan, memakai fasilitas perusahaan untuk
kepentingan pribadi sehingga tagihan biaya yang harus ditanggung oleh
perusahaan tejadi peningkatan, dan
lain sebagianya. Jika kondis seperti iti
dibiarkan maka perusahaan akan mnegalami kerugaian.
Untuk
menghindari timbulnya kebocoran dana
yang keberlanjutan maka pimpinan memiliki
tanggung jawab penuh untuk mengawasi jalnnya penggunaan dana perusahaan.oleh
karen itu ada beberapa tujuan mengapa pengawasn dari segi keuangan layak atau
diperlukan disebuh organisasi, yaitu :
a. Menghindari timbulnya
kebocoran dana dan terwujudnya efisien yang maksimal.
b. Memungkinkan setiap pekerjaan akan terlaksan sesuai dengan
time schedule yang ada. Sehingga
setiap pengelauran yang dianggarkan akan terlaksana seperti direncanakn,karena jika
tidak sesuai dengan time schedule maka
artinya pihak organisasi harus menyediakan dana tambahan.
c. Membantu pihak akuntan
internal dan eksternal dalam
melihat kondisi keuangan perusahaan secara sistematis.
d. Terlaksananya
pembuatan konsep keuangan dengan menerapkan
prosedur yang representatif sesuai dengan aturan dalam dunia akuntasi.
Seperti sesuai dengan mekanisme SAK ( Standar Akuntasi Keuangan). Sehingga
semua itu nantinya akan mampu memberi kemudahan kepada para auditor yang
ditugaska nmengaudit.
Dengan
adnyapengawasan yang baik pada segi keuangan maka diharapkan pimpinan akan
mampu meredam setiap tindakn yang bersifat merugikan keuangan perusahaan. karena persoalan keuangan
dalahbagian yang sensitif,maka dengan melakukan pengawasan yang baik pada
bidang keuangan diharapkan kinerja keuangan perusahaanakanterlihat lebih baik,
seprti peningkatan profit. Serta
dengan adanya pengawasan yang baik diharapkan pula efisien
dan efektifitas akan terciptadengan baik.
6.
Hambatan – Hambatan Dalam Pengawasan
Dalam rangka menciptakan suatu model
pengawasan yang baik maka di buatnya sistem pengawasan. Sistem pengawasan
bertujuan untuk membentuk suatu model kerja pengawasan dengan mengacu pada
aturan – aturan yang berlaku dan di harapkan. Pengharapan itu baik bersifat
jangka pendek dan jangka panjang. Namun dalam kenyataan sering sistem
pengawasan tersebut tidak bisa berlangsung atau dijalankan secara baik atau
dengan kata lain sistem pengawasan tersebut mengalami penolakan dari pihak –
pihak tertentu. Tentunya penolakan terhadap suatu sistem dianggap sebagi sebuah
hambatan, dalam kenyataannya penolakan tersebut disebabkan oleh berbagai sebab.
Seorang pimpinan yang profesional memiliki tanggungjawab penuh untuk
melakukan kajian dan analisis terhadap
berbagai sebab timbulnya hamabatan – hamabatan dalam bidang pengawasan,
termasuk menerima masukan dari berbagi pihak. Karena masukan dari berbagai
pihak tersebut bisa menjadi bahan intropeksi bagi pimpinan dalam membangun
konsep pengawasan di masa yang akan datang atau lebihh baik dari sebelumnya.
Lawyer menyimpulkan bahwa penolakan terhadp sistem pengawasan itu
lebih besar kemungkinannya terjadi dibawah salah satu atau lebih dari keadaan
yang berikut:
1. Sistem
pengawasan itu mengukur prestasi dalam
suatu bidang baru.
2. Sistem
pengawasan itu menggantikan suatu sistem dimana orang mempunyai investasi besar
dalam pemeliharaannya.
3. Standar – standar ditetapkan tanpa
partisipasi.
4. Hasil
– hasil dri sistem pengawasan itu tidak diumapan balik (feed back) kepada mereka yang prestasinya diukur.
5. Hasil
– hasil dari sistem pengawasan itu relatif puas dengan sistem imbalan (reward system).
6. Orang
yang terkena sistem itu relatif puas dengan hal –hal sebagaimana adanya dan mereka melihat diri
mereka sendiri terikat (committed)
pada organisasi.
7. Orang
yang terkena sistem itu rendah harga diri dan authoritarianism mereka.
Adapun
bentuk penolakan terhadap sistem pengawasan yang dikemukakan diatas adalah
bersifat umum, untuk secara khusunya itu dapat disesuaikan dengan bentuk
organisasi yang diawasi. Contohhnya untuk perusahaan manufaktur ( pabrik )
tentunya berbeda hambatan pengawsab yang dikemukan diperusahaan jasa. Dngan
kata lain pendapat diatas dapat dijadikan rujukan secara umum.
7.
Solusi
Dalam Mengatasi Hambatan Dibidang Pengawasan
Untuk
mengatasi agar terciptanya pengawasan
yang berlangsung secara baik, maka setiap hambatn dalam bidang pengawasan harus
dicarikan solusi. Adapun bentuk solusi tersebut adalah:
a. Menciptakan
hubungan antara tingkat atas dan bawah agar terbentuknya suatu control yang
maksimal sampai dengan tingkat sub sistem. Ini sebagaiman dinyataka oleh
Fremont E. Kast dari James E. Rosenzweig bahwa, “ ada saling hubungan (interface) dengan pengawasan tingkat
tinggi dimana tujuan ditentukan. Juga terdapat saling hubungan dengan
pengawasan tingkat rendah diamana pekerjaan dilaksanakan oleh sistem dan
berbagai sub sistem”.
b. Memahami
konsep efektivitas. Konsep efektivitas melihat dari segi waktu dan sebaiknay
pengawasan yang dilakukan meliahat pada konsep time schedule, dengan tujuan
agar setiap pengerjaan tugas dapat diselesaikan sesuai dengan target yang
diinginkan. Karena jika suatu pekerjaan selesai diatas target maka artinya
terjadi pemborosan dari segi waktu dan lebih jauh pada biaya (cost), sementara manajer perusahaan sering mengedepankan persoalan
efisiensi.
c. Perusahaan
perlu mengembangkan suatu standar acuan kerja yang representatif dan modern.
Dengan tujuan setiap pihak yang bekerja diorganisasi tersebut harus mematuhi
dan menerpakan standar acuan tersebut, sehingga jika suatu saat ada teguran,
sanksi dan berbagai bentuk penegakan
aturan lainnya semua itu telah bersumber pada standar tersebut, dengan begitu
diharapka kondisi homogen akan berlangsung secara stabil. Ini sebagaiman dinyatakan
oleh Fremont E.Kast dan James E. Rosenzweig bahwa, “ sistem nilai homogen,
pemghayatan norma- norma kelompok, dan pengetahan serta penerimaan hukum,
tentulah akan membawa kepada mawas diri dan perilaku yang berbeda dalam batas-batas
yang sesuai untuk suatu situasi tertentu”.
d. Menerapkan
konsep “the right man and the right
place.” Konsep the right man and the
right place artinya menempatkan
sesseorang sesuai dengan posisinya. Dengan begitu diharapakan setiap pekerjaan
ditangani oleh mereka yang benar- benar mampu untuk menyelesaikannya.
BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
Konsep balanced scorecard menempatkan kajian manajemen tidak hanya di
lihat dari yang sederhana atau berpandangan tradisional kapalitas. Dalam artiam
setiap persoalan yang terjadi di suatu perusahan baik maju maupun mundur
dilihat dari segi perolehan keuntungan yang di peroleh tanpa mengerti sebab
musabab yang melatar belakanginya.
Pengukuran dari
segi keuangan dilihat sebagai pengukuran yang begitu mudah untuk di ukur,
apalagi keberadaan data-data keuangan semuanya tersedia dengan baik dan
selanjutnya di masukan formula serta di-forecast.
Namun untuk memberikan analisis yang jauh lebih komprehensif bagi pemimpin
diharuskan menganalisis setiap masalah secara pendekatan multideminsional.
Dengan tujuan akan di peroleh pengukuran kinerja secata multideminsional juga. Seorang pemimpin harus melihat hard measurement dan soft measurement sebagai satu kesatuan
yang utuh, itu artinya bisa di kaji secara tersipah namun kedua-duanya pada
prinsipnya yang saling berkaitan, dan bisa saling memperngaruhi.
Sedangkan
pengukuran dari segi non keuangan, maka diharapkan pimpinan dapat mengetahui
dimana sebab timbulnya masalah penurunan kinerja perusahaan. Sehingga dengan
begitu pimpinan bisa melakukan pengubahan budaya kerja yang selama ini di
anggap tidak mampu memberi dampak pada peningkatan kinerja perusahaan.
Seorang pemimpin
harus memahami dengan jelas bahwa masyarakat pada era sekarang ini adalah
sebuah bentuk dari struktur masyarakat global yang menggunakan produk
global dan menerapkan cara berfikir yang
global pula. Untuk menerapkan konsep
global tersebut perusahaan harus dengan cepat adaftif dalam menyesuaikan setiap
perubahan sekarang ini dengan kondisi
realita di perusahaan. Oleh
karena itu, solusi penerapan harus diterapkan adalah “berfikir” merencanakan
dan merealisasikan semua katifitas usaha dengan menerapkan standar-standar
internasioanl terutama akitivitas yang terkait dengan aspek permodalan,
regulasi, transparmasi atau komunikasi, teknologi serta kempetensi manajemen
dan karyawan.
Dengan demikian konsep balanced scorecard merupakan
salah satu pendukung analisa yang harus di lihat dari sudut perspektif
global. Dengan tujuan memiliki kemampuan adaptasi secara global, sehingga
risiko kegagalan dalam aplikasi dapat dihindari. Dengan begitu konsep ini di terapkan oleh
perusahaan yang siap untuk masuk pasar internasioanl dan tidak bisa di lakukan
secara setengah-setangah dan hanya cocok di pakai dan diterapkan oleh pimpinan
suatu organisasi yang memiliki pandangan dan keinginan membawa organisasinya ke
pasar internasional.
Pengawasan
adalah suatu bentuk pengamatan yang umunya dilakukuan secara menyeluruh, dengan
jalan mengadakan perbandingan antara
yang dikonstatir dan yang seharusnya dilaksanakan, sedangkan istilah pengendalaian merupakan sarapan dari istilah dalam bahasa
inggris control. Dan
jika kepurusan pengawasan
salah maka kitatidak bisa menyalahkan kesalahan itu semata karena faktor
pengendalian yang tidak tetap,
namun konsep pengawsan yang diterapkan juga mungkin harus dilakukanperbaikan.
Karena dengan konsep pengawsan berkualitas tinggi terutammampu memikirkn dampak
– dampak yang akan terjadi nantinya, maka pekerjaan bagian pengendalian menjadi jauh lebih ringan dan
simpel. Contohnya, pemimpin disebuah organisasi bisnis yang memiliki visi
dan isi yang dapat dipertanggungjawabkan.
3.2 saran
Pahamilah balanced scorecard
dalam perspektif manajemen kepemiminan dan pengawasan serta kepemimpinan
agar pemahamannya bertambah dan bisa mengetahui balanced scorecard
dalam perspektif manajemen kepemiminan dan pengawasan serta kepemimpinan.
Sehingga, mampu menerapkan nantinya didunia lapangan kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Fahmi, Irham. 2014. Manajemen
Kepemimpinan. Bandung: Alfabeta
Komentar
Posting Komentar