Makalah
Patologi
dan Rehabilitas Sosial
“Memahami Masalah Gangguan Mental ”
Di
Susun Oleh :
Kelompok
2
Nama
Kelompok :
1. Eha
Rizky Projustitia 2014 141 116
2. Fatma
Agustina 2014 141 125
3. Mariyati 2014 141 106
4. Retno
Rahmania Kinanti 2014 141 131
5. Ricky
Ari Rivaldi 2014 141 089
6. Vira
Dwi Lestari 2014 141 127
Semester/Kelas :Lima (5) / C
Program Studi :
Bimbingan dan Konseling
Dosen Pengasuh :
Erfan Ramdhani, M.Pd., Kons,
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas
PGRI Palembang
2016/2017
KATA
PENGANTAR
Dengan menyebut
nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami panjatkan puja dan puji
syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW. Sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang
memahami masalah gangguan mental.
Makalah ini
telah disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah patologi dan rehabilitas sosial. Disamping
itu pula, makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan lebih luas bagi
mahasiswa semester V
Program Studi Bimbingan dan Konseling .
Kami menyadari
sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini kurang baik dari teknik penulisan,
sistematika penulisan dan isi penulisan. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka
kami menerima saran dan kritik dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata kami
Kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Palembang, November 2016
Tim Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. ii
BAB
I PENDAHULUAN........................................................................... 1
1.1
... Latar
Belakang.......................................................................... 1
1.2 ... Rumusan Masalah..................................................................... 1
1.3 ... Tujuan Penulisan....................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................. 3
1.1
Implikasi Gangguan Mental..................................................... 3
1.2
Masyarakat Modern Dan Gangguan Mental.....................................
1.3
Masalah Kebutuhan Manusia Dan Gangguan Mental..............
BAB III PENUTUP......................................................................................
3.1 Kesimpulan...............................................................................
3.2
Saran.........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Orang yang memiliki kesehatan mental yang baik
sekalipun tidak bisa bebas dari kecemasan dan perasaan bersalah. Dia tetap
mengalami kecemasan dan perasaan bersalah tetapi tidak dikuasai oleh kecemasan
dan perasaan bersalah itu.Ia sanggup menghadapi masalah-masalah biasa dengan
penuh keyakinan diri dan dapat memecahkan masalah-masalah tersebut tanpa adanya
gangguan yang hebat pada struktur dirinya. Dengan kata lain, meskipun ia tidak
bebas dari konflik dan emosinya tidak selalu stabil, namun ia dapat
mempertahankan harga dirinya. Keadaan yang demikian justru berkebalikan dengan
apa yang terjadi pada orang yang mengalami kesehatan mental yang buruk.
Mengingat semakin pesatnya usaha pembangunan,
modernisasi dan industrialisasi yang mengakibatkan semakin kompleknya
masyarakat, maka banyak muncul masalah-masalah sosial dan gangguan/disorder
mental di kota-kota besar. Makin banyaklah warga masyarakat yang tidak mampu
melakukan penyesuaian diri dengan cepat terhadap macam-macam perubahan sosial.
Mereka itu mengalami banyak frustasi, konflik-konflik terbuka/eksternal dan
internal,ketegangan batin dan menderita gangguan mental.
Untuk memahami tidaknya suatu ganguan mental tidak
semudah mengenal pada gangguan fisik. Banyak faktor yang mempengaruhi
kesepakatan pengertian terhadap gangguan mental ini. Selain karena faktor
kultural yang mengartikan konsep sehat dan sakit secara berbeda antara budaya
satu dengan lainnya, juga faktor kebutuhuan manusia. Namun demikian, kita
menyadari bahwa gangguan mental itu diakui masyarakat sama halnya seperti
gangguan fisik. Berdasarkan analisis diatas, kami akan membahas tenatang “Gangguan
Mental dalam masyarakat modern dan kebutuhan manusia”.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana implikasi gangguan mental?
2. Bagaimana masyarakat modern dan
gangguan mental?
3. Bagaimana masalah kebutuhan manusia
dan gangguan mental?
1.3 Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui implikasi gangguan
mental.
2. Untuk mengetahui masyarakat modern dan gangguan mental.
3. Untuk mengetahui masalah kebutuhan
manusia dan gangguan mental.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
IMPLIKASI GANGGUAN MENTAL
Penampilan
gangguan mental biasanya berupa gejala-gejala sebagai berikut;
1. Banyak
konflik batin. Ada rasa tersobek-sobek oleh pikiran dan emosi yang antagonis bertentangan.
Hilangnya harga diri dan kepercayaan diri. Selalu merasa tidak aman dan dikejar
oleh suatu pikiran atau perasaan yang tidak jelas hingga ia merasa cemas dan
takut. Menjadi agresif, suka menyerang, bahkan ada yang berusaha membunh orang
lain atau melakukan usaha bunuh diri (agresivitas ke dalam).
2. Komunikasi
sosisal terputus dan adanya disorientasi sosial. Timbul delusi-delusi yang
menakutkan atau dihinggapi delusion of
grandeur (merasa dirinya paling super). Selalu iri hati dan curiga. Ada
kalanya dihinggapi delusion of
persecution atau khayalan dikejar-kejar sehingga menjadi sangat agresif, berusaha
melakukan pengrusakan, atau melakukan destruksi diri dan bunuh diri.
3. Ada
gangguan intelektual dan gangguan emosional yang serius. Penderita mengalami
ilusi, halusinasi berat, dan delusi. Selain itu, kurangnya pengendalian emosi
dan selalu bereaksi berlebihan(overreacting).
Selalu berusaha melarikan diri dalam dunia fantasi, yaitu dalam masyarakat semu
yang diciptakn dalam khayalan. Merasa aman dalam dunia fantasinya. Orang luar
dihukum dan dihindari sebab mereka itu dianggap berdosa, kotor, jahat. Maka dari itu, realitas sosial yang
dihayati menjadi kacau-balau. Juga kehidupan batinnya menjadi kalut, kusut, dan
kepribadiannya pecah berantakan.
2.2 MASYARAKAT MODERN DAN GANGGUAN MENTAL
Semakin
pesatnya usaha pembangunan, modernisasi, dan industrialisasi yang berakibat
semakin kompleksnya masyarakat, memunculkan banyak masalah sosial dan gangguan
mental di kota-kota besar. Makin banyak warga masyarakat yang tidak melakukan
penyesuaian diri dengan cepat terhadap macam-macam perubahan sosial. Mereka
banyak mengalami frustasi, konflik eksternal dan internl, ketengangan batin, dan
menderita gangguan mental.
Individu-individu
yang tidak mampu melakukan adaptasi juga tidak dapat menyesuaikan tindakannya
dengan norma dan kebiasaan sosial. Mereka selalu mengalami banyak ketegangan
dan tekanan batin yang disebabkan oleh sanksi batin ataupun sanksi sosial.
Tuntutan sosial dari lingkungan sosial dan proses modernisasi menjadi semakin
banyak dan berat. Misalnya pendidikan harus menjadi semakin tinggi jika ingin
medapatkan pekerjaan. Rumah dan mobil harus menjadi semakin mewah, kalau mau
digolongkan ke dalam kelompok elite, dan seterusnya. Jika gangguan emosional
dan ketegangan batin itu berlangsung terus-menerus, akan menjadi kronis dalam
waktu panjang yang memunculkan macam-macam gangguan mental.
Ditengah
hiruk-piruk kehidupan kota yang serba tergesah-gesah dan banyak menuntut, orang
harus selalu berpacu dan bersaing dalam “perlombaan hidup”. Suasana kompetitif
banyak di warnai oleh tingkah laku yang tidak wajar, yaitu tingkah laku
kriminal , spekulatif, manipulatif, liik , intrik-intrik atau tingkah laku
munafik, dan cara hidup berbahaya lainnya. Hal ini menimbulkan banyak ketakutan
dan ketegangan batin bagi penduduknya sehingga menjadi penyebab utama timbulnya
macam-macam penyakit mental.
Kehiduan
modern di kota-kota besar lebih menonjolkan kepentingan diri sendiri dan
individualisme sehingga mata dan hati menjadi keras membeku terhadap kondisi
orang lain. Kontak sosial menjadi longgar, orang menjadi semacam atom-atom yang
terlepas satu sama lain, dan terurai menjadi sayatan-sayatan fraksi yang
mengutamakan kebanggan atau kesombongan diri. Dalam masyarakat sedemikian ini
orang selalu merasa cemas, merasa selalu tidak aman, juga kesepian dan takut.
Selain
itu, kemajuan-kemajuan-kemajuan yang pesat disebabkan oleh perkembangan ilmu
pengtahuan, teknologi, meknisasi, industrialisasi, dan urbanisasi kehidupan modern
menjadi senakin terurai dalam spesialisasi dan dan pengotakan yang
terintergrasi. Hal tersebut mengakibatkan masyarakatnya semakin terpecah belah
dan sulit diatur. Lalu menampilkan gejala disintegrasi sosial dan disintegrasi
perorangan yang menjadi sebab utama bagi timbulnya gangguan mental.
Ditambah
pula dengan pengaruh lingkungan dan media massa, seperti koran, film, majalah,
dan iklan-iklan yang merangsang untuk menuntut standar penghasilan tinggidan
kemewahan materil. Jika semua usaha memenuhi ini tidak berhasil karena
kemampuan untuk mencapainya tidak ada, sedangkan ambisi dan tuntutan semakin
menanjak makan akan muncul rasa malu, takut, binggung, kecewa, dan rendah hati.
Muncul
pula agresivitas, ketautan,serta kecemasan yang kronis, untuk rendah diri yang
dikompensasikan dalam bentuk pola-pola yang membesar-besarkan diri dan
narsisme, serta semakin subirnya kebudayaan tegangan tinggi yang sangat
eksplosif. Karena bertumpuknya macam-macam konflik dan tegangan sosial, serta
bnayak tejadi disharmoni dan konflik sosial tanpa konsensus di tengah rakyat.
Kemudian, berlangsung proses disorganisasi pibadi dan disorganiasi sosial yang
memunculkan gangguan mental.
Gangguan
emosional dan mental juga banyak timbul dalam masa-masa transisi, dimana
berlangsung peralihan kebudayaan. Misalnya dari priode agraris beralih ke fase
mekanisasi. Ketika hal itu terjadi menimbulkan diskontinuitas atau tidak
kesinambungan antara lompatan-lompatan kultur (loncatan antara dua priode
kebudayaan). Mengakibatkan tidak sedikit orang yang binggung dan sangat
ketakutan serta menderita gangguan mental, dari stadium paling ringan hingga
berat dari kegilaan.
Perubahan
sosial yang serba cepat merupakan proses organis yang sangat dinamis, yang
menyebabkan banyak ketidak stabilan dan kurang adanya kesepakatan anatara
masing-masing anggota masyarakat mengenai pola kehidupan sehari-hari. Ini
mengakibatkan banyak individu dan kelompok yang menggunaan cara penyelesaian
msalah mengatur dan melayani kebutuhan masyarakat menjadi tidak berfungsi,
sehingga tingkah laku warga masyarakat banyak yang tidak terkendalim lalu
menjadi patologi secara psikis atau sosial. Semua itu pada hakikatnya merupakan
efek samping dari modernisasi dan perkembangan zaman.
2.3 MASALAH KEBUTUHAN MANUSIA DAN GANGGUAN MENTAL
Setiap manusia selalu mempunyai
beragam kebutuhan untuk memepertahankan eksistensi hidupnya sehingga timbul
dorongan dan usaha untuk memenuhinya. Apabila kebutuhan-kebutuhan hidup hidup
itu terhalang maka timbul ketegangan-ketegangan
dan konflik batin yang memicu gangguan mental jika berlangsung terus menerus.
Kebutuhan tersebut dapat dibagi dalam tiga kategori,
yaitu :
1.
Kebutuhan fisik biologis, organis, atau
kebutuhan vital,
2.
Kebutuhan sosial, bersifat kemanusian
atau sosiokultural, dan
3.
Kebutuhan metafisis, religius, atau
transendental.
BAB III
PEBUTUP
3.1
Kesimpulan
Penampilan
gangguan mental biasanya berupa gejala-gejala, seperti banyak konflik batin,
komunikasi sosisal terputus dan adanya disorientasi sosial, serta ada gangguan
intelektual dan gangguan emosional yang serius.
Semakin
pesatnya usaha pembangunan, modernisasi, dan industrialisasi yang berakibat
semakin kompleksnya masyarakat, memunculkan banyak masalah sosial dan gangguan
mental di kota-kota besar. Makin banyak warga masyarakat yang tidak melakukan
penyesuaian diri dengan cepat terhadap macam-macam perubahan sosial. Mereka
banyak mengalami frustasi, konflik eksternal dan internl, ketengangan batin,dan
menderita gangguan mental.
Kebutuhan tersebut dapat dibagi dalam tiga kategori,
yaitu;
a)
Kebutuhan fisik biologis, organis, atau
kebutuhan vital,
b)
Kebutuhan sosial, bersifat kemanusian
atau sosiokultural, dan
c)
Kebutuhan metafisis, religius, atau
transendental.
3.2
Saran
Pahamilah
masalah gangguan mental agar
pemahamannya bertambah dan bisa masalah gangguan mentall. Sehingga, mampu
menerapkan nantinya didunia lapangan kerja.
4.
DAFTAR PUSTAKA
Burlian, Paisol. 2016. Patologi Sosial. Jakarta. Bumi Aksara
Kartono, Kartini. 2005. Patologi Sosial. Jakarta. Rajawali Pers
Komentar
Posting Komentar