Langsung ke konten utama

RESUME Penyesuaian Diri, Ketidak-Mampuan Menyesuaikan Diri, Individu Marginal



Nama          :Mariyati                      Jurusan                                    :Bimbingan Dan Konseling
Nim             :2014 141 106             Mata Kuliah                 :Patologi & Rehabilitas Sosial
Kelas           :5/C                              Dosen Pengampu         :Erfan Ramadhani, M.Pd., kons.

RESUME

1.    Penyesuaian Diri, Ketidak-Mampuan Menyesuaikan Diri, Individu Marginal
Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga permusuhan, kemarahan, depresi, dan emosi negatif lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis. Penyesuaian diri dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang mencakup respon-respon mental dan perilaku yang diperjuangkan individu agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustasi, konflik, serta untuk menghasilkan kualitas keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dunia luar atau lingkungan tempat individu berada.
Individu-individu, yang agak berbeda dan ditolak oleh masyarakat itu pada umumnya tidak bahagia hidupnya. Mereka mengalami proses demoralisasi dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Susahnya menerima sesuatu yang sedikit berbeda itulah masalah terbesar bagi seoarang sosiopatik.
Individu yang puas dalam usaha pembenaran-diri dan pendefinisian-diri sendiri, akan merasa bahagia dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sebaliknya, dia akan menjadi sangat tidak bahagia atau sengsara, apabila tidak ada kongruensi atau keseimbangan antara pendefinisian-diri dengan hukuman sosial antara peranan yang dituduhkan kepada dirinya dan peranan sosial menurut interpretasi sendiri yang ingin dilakukannya
Pada kasus-kasus yang ekstrem, berlangsunglah ketidakmampuan menyesuaikan diri secara total; ada personal maladjustment dan kepatahan jiwa secara total atau complete breakdown. Konflik-konflik hebat disebabkan oleh pembanding antara hukuman sosial dengan definisi-diri itu bisa membelah kesatuan kepribadian.
Ada juga pribadi-pribadi yang tidak mampu mengadakan penyesuaian diri/adaptasi terhadap lingkungannya, disebabkan oleh alasan sebagai berikut: ditolak oleh masyarakat untuk menjalankan peranan-peranan yang sangat didambakan. Sebaliknya, menolak peranan-peranan yang disodorkan oleh masyarakat kepada dirinya atas alasan-alasan subjektif. Orang-orang demikian disebut individu-individu marginal (pribadi tepian atau setengah-setengah). Pribadi marginal ini adalah seorang yang dihadapkan pada pilihan peranan. Juga disebabkan oleh keterbatasan internal atau eksternal tertentu, dia tidak mampu mengintegrasikan hidupnya atas dasar salah satu peranan tersebut.

2.    Reaksi Sosial
Penyimpangan sosial yang terjadi didalam masyarakat menimbulkan beberapa reaksi entah itu pujian ataupun anggapan yang kurang menyenangkan tapi memang pada umumunya yang terjadi adalah sesuatu yg kurang menyenangkan, seperti yang terjadi pada umumunya yang minoritas selalu dimarginalkan, Kompleks dari reaksi-reaksi sosial itu dapat dinyatakan sebagai kusien-toleransi. Yakni merupakan: (1) ekspresi subjektif dan kuantatif terhadap penyimpangan (tingkah laku patologis) dan (2) kesediaan masyarakat untuk menerima atau menolak penyimpangan tadi. Dengan kata lain, kusien-toleransi itu merupakan perbandingan di antara tingkah laku objektif yang nyata kelihatan sosiopatik dengan kesediaan lingkungan sosial/masyarakat untuk mentolerisasinya.
Reaksi-reaksi sosial itu berkembang dari sikap menyukai, ragu-ragu, apatis, acuh tak acuh, sampai sikap menolak dengan hebat kemudian, reaksi tersebut bisa dibagi dalam tiga fase, yaitu:
1)   Fase mengetahui dan menyadari adanya penyimpangan;
2)   Fase menebtukan sikap dan kebijaksanaan;
3)   Fase mengambil tindakan, dalam bentuk: reaksi reformatif, reorganisasi, hukuman (memberikan hukuman), dan sanksi-sanksi.                  
Khususnya mengenai penyimpangan dalam bentuk ide-ide, pikiran dan perilaku yang dianggap baru, berlangsunglah proses sebagai berikut: mula-mula ditolak hebat oleh masyarakat luas, kemudian ditanggapi dengan sikap acuh tak acuh. Lambat laun diterima oleh masyarakat dengan sepenuh hati. Maka produk dari peristiwa tersebut berwujud perubahan sosial dan perubahan kultural.

3.    Organisasi Sosiopatik dan Kebudayaan Eksploitatif
Terhadap organisasi yang menyimpang, juga terhadap individu-individu buangan dan daerah-daerah yang di huni oleh para penyimpang itu pada umunya di kenakan sanki sebagai berikut;
a.    Lokalisasi
b.    Penutupan lokal
c.    Isolasi
d.   Segregasi
          Namun,  di samping organisasi-organisasi defiasi yang setengah atau tidak legal itu sering juga di eksploitasi  oleh kelompok-klompok politik dan sosial lainnya.  Misalnya oleh surat kabar sering kali membesar-besarkan peristiwa, dan mempertinggi penampakan/visibilitas aktivitas-aktivitas patologis guna menambah sirkulasi jumlah korannya.
          Disebabkan oleh kondisi para penyimpang yang sosiopatik, dan statusnya yang ekstra legal, ilegal, ambigius meraguka, sangat lemah, atau mempunyai aspirasi-aspirasi untuk mendapatkan “status norma”, maka mereka itu sering di jadikan objek eksploitasi. Banyak orang yang memeras dan menipu pihak yang lemah dengan dalih: menjadi orang tua angkat mereka menjadi patron ( pelindung, pembela), majikan, induk, pemberi kerja, mempermudah kesempatan naik haji, dan macam promosi dagang. Khususnya orang yang kurang pendidikannya dan orang-orang desa sering kali di jadikan santapan empuk oleh orang kota.  Pemeras-pemeras itu antara lain: para profiteur, calo-calo, dan perantara-perantara  atau brokers. Ringkasnya, masyarakat komersial yang sangat kompetitif dan di dera oleh tuntutan materil tinggi itu menyuburkan kebudayaan eksploitatif.  Selanjutnya masyarakat demikian ini cenderung sekali memanipulasi dan memeras pihak-pihak yang lemah.
          Beberapa eksploitatif yang bisa di catat antara lain:
a.    Propoganda melalui media masa (televisi, tadio, periklanan,
b.    Fitnahan
c.    Pemerasan
    

Sumber:
Burlian, Paisol. 2016. Patologi Sosial. Jakarta: Bumi Aksara
Kartono, Kartini. 2005. Patologi Sosial. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS

Nama           :Mariyati                       Jurusan             :BimbinganDan Konseling Nim              :2014 141 106              Mata Kuliah      :Studi Kasus Kelas            :6/C                               Dosen Pengampu :Mirnayenti, M.Pd RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS 1.     Pendekatan Umum Pendesainan Studi Kasus a.     Definisi Desain Penelitian Desain penelitian adalah keseluruha...

pemikiran Friederich Wilhelm August Froebel

BAB I PENDAHULUAN 1.1    Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang, dimana memiliki sasaran yang berperan dalam melaksanakan pembangunan disegala sektor, baik di sektor industri, perdagangan maupun di sektor pendidikan. Dalam menunjang keberhasilan pembangunan di setiap sektor, maka perlunya peranan pendidikan yang menempatkan manusia sebagai kedudukan sentral dalam pembangunan. Pentingnya peranan pendidikan dalam pembangunan di setiap sektor, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan berperan sebagai upaya pencerdasan, pendewasaan, kemandirian manusia yang dilakukan oleh perorangan, kelompok dan lembaga. Upaya ini dimulai sejak berabad-abad silam, pola pendidikan mengalami kemajuan yang pesat berkat kerja keras para pakar pendidikan terdahulu. Adapun tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan prasekolah adalah Friederich Wilhelm August Froebel atau lebih dikenal dengan sebutan Froebel. Tokoh ini ...

Makalah Konseling Psikologi Individual

Makalah Model-Model Konseling “ Konseling Psikologi Individual ” Di Susun Oleh : Kelompok 3 Nama Kelompok   : 1.      Ayu soraya 2.      Ema kusna haryati 3.      Ika ayu oktaviani 4.      Mariyati 5.      Rahmad shadat 6.      Yogi firnando Semester/Kelas     : Enam    (6) / C Program Stud i       : Bimbingan dan Konseling Dosen Pengasuh    : Erfan Ramdhani, M.Pd., Kons, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang 201 6/2017 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha P e nyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami . Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW....