MAKALAH
BIMBINGAN DAN KONSELING KELUARGA
“RASIONAL EMOTIF TERAPI (RET).”
Di
Susun Oleh :
Kelompok
6
Nama
Kelompok :
1. Mariyati 2014 141 106
2. Ika
Ayu Oktaviani 2014 141 108
3. Wela
Wilia 2014 141 113
4. Rahmad
Shadat 2014 141 104
5. Yogi
Pirnando 2014 141 114
Semester/Kelas :Lima (5) / C
Program Studi :
Bimbingan dan Konseling
Dosen Pengasuh :
Sysca Purnamasari, M.Pd
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2016/2017
KATA
PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW. Sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang rasional
emotif terapi (RET).
Makalah ini telah disusun sebagai
salah satu tugas mata kuliah Bimbingan dan
Konser keluarga. Disamping itu pula, makalah ini
bertujuan untuk menambah wawasan lebih luas bagi mahasiswa semester V Program Studi
Bimbingan dan Konseling .
Kami menyadari
sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini kurang baik dari teknik penulisan,
sistematika penulisan dan isi penulisan. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka
kami menerima saran dan kritik dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata kami
Kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Palembang, Desember 2016
Tim Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. ii
BAB
I PENDAHULUAN........................................................................... 1
1.1
Latar
Belakang................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................ 2
1.3 Tujuan Penulisan.............................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................. 3
2.1
Tokoh Rasional
Emotif Terapi (RET).............................................. 3
2.2
Pengertian Rasional Emotif Terapi
(RET)....................................... 3
2.3
Pendekatan Rasional Emotif Terapi
(RET)...................................... 4
2.4
Corak
Rasional Emotif Terapi (RET)............................................... 6
2.5
Deskripsi
Proses Konseling Rasional Emotif Terapi (RET)............. 7
2.6
Teknik
Konseling Rasional Emotif Terapi (RET)............................ 8
2.7
Tujuan
Rasional Emotif Terapi (RET)............................................. 9
2.8
Langkah-Langkah
Rasional Emotif Terapi (RET)........................... 10
2.9
Kelebihan
Dan Kekurangan Rasional Emotif Terapi (RET)............ 10
BAB III PENUTUP...................................................................................... 12
3.1
Kesimpulan....................................................................................... 12
3.2
Saran................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 14
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia
dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk
berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan
untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai,
bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan mengaktualisasikan diri. Akan
tetapi, manusia juga memiliki kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan
diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan
secara tak berkesudahan, takhayul, intoleransi, perfeksionisme, dan mencela
diri, serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri.
Konseling
yang merupakan bentuk bantuan secara langsung antara dua orang atau lebih
sehingga masalah yang sedang dihadapi oleh konseli dapat terselesaikan sehingga
tidak menghalangi konseli dalam meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Di dalam
proses konseling, konselor harus menggunakan pendekatan-pendekatan yang sesuai
dengan karakteristik masalah dari konseli. Salah satu dari pendekatan konseling
adalah rasional emotif terapi. Rasional emotif terapi merupakan teknik yang
dikembangkan oleh Albert Ellis sebagai salah satu bentuk perubahan dari
pendekatan-pendekatan yang sudah ada pada saat itu.
Pendekatan rasional emotif merupakan
pendekatan yang berbeda, dimana pendekatan ini menekankan kepada faktor
kognisi, perilaku dan perbuatan. Rasional emotif pada umumnya dipakai oleh
konselor ketika menghadapi jenis konseli yang mengalami masalah yang disebabkan
oleh pikiran irrasional. Pikiran-pikiran irrasional yang menyebabkan timbulnya
suatu perbuatan atau perasaan yang salah tersebut oleh rasional emotif akan
dilakukan perubahan yang mendasar.
2.
Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah yaitu sebagai berikut;
a.
Siapa tokoh rasional
emotif terapi (RET)?
b.
Apa pengertian rasional emotif terapi (RET)?
c.
Bagaimana pendekatan rasional emotif terapi (RET)?
d.
Bagaimana corak rasional
emotif terapi (RET)?
e.
Bagaimana deskripsi proses
konseling rasional emotif terapi (RET)?
f.
Bagaimana teknik konseling
rasional emotif terapi (RET)?
g.
Apa tujuan rasional emotif
terapi (RET)?
h.
Bagaimana langkah-langkah
rasional emotif terapi (RET)?
i.
Apa saja kelebihan
dan kekurangan rasional emotif terapi (RET)?
3.
Tujuan Makalah
Adapun
tujuan makalah yaitu sebagai berikut;
a.
Untuk mengetahui tokoh rasional emotif
terapi (RET).
b.
Untuk mengetahui pengertian
rasional emotif terapi (RET).
c.
Untuk mengetahui pendekatan
rasional emotif terapi (RET).
d.
Untuk mengetahui corak rasional emotif terapi (RET).
e.
Untuk mengetahui deskripsi proses konseling rasional emotif terapi (RET).
f.
Untuk mengetahui teknik konseling rasional emotif terapi (RET).
g.
Untuk mengetahui tujuan rasional emotif terapi (RET).
h.
Untuk mengetahui langkah-langkah rasional emotif terapi (RET).
i.
Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan rasional emotif terapi (RET).
j.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Tokoh
Rasional Emotif Terapi (RET)

Albert Ellis
terkenal sebagai pemikir dan pencetus rasional emotif terapi, sebuah bentuk
terapi yang populer dan banyak digunakan dalam proses konseling saat ini.
Albert Ellis
dilahirkan pada tahun 1913 di Pittsburgh, Amerika Syarikat. Pada saat
mencetuskan teorinya, dia mendapati bahwa teori psikoanalasis yang dipelopori
oleh Freud tidak mendalam dan adalah satu bentuk pemulihan yang tidak
saintifik. Pada awal tahun 1955, beliau telah menggabungkan terapi-terapi
kemanusiaan, fisolofikal dan tingkah laku dan dikenali sebagai teori
emosi-rasional (RET/ Rational Emotive Therapy). Semenjak itu beliau
terkenal sebagai bapak kepada teori RET dan salah satu tokoh teori tingkah laku
kognitif.
Pada masa
kanak-kanak, Albert Ellis sering mengalami gangguan kesehatan. Bahkan dia
pernah menjalani rawat inap untuk perawatan penyakit nefritis yang dideritanya
sebanyak Sembilan kali. Albert Ellis adalah orang yang mempunyai cita-cita yang
tinggi untuk menjadi pakar dalam ilmu psikologi. Pada tahun 1947 hingga 1953
Ellis telah menjalankan kajian secara klasikal berasaskan psikoterapi. Hasil
kajian mendapati bahwa terapi psikoanalisis tidak begitu menyeluruh dan tidak
saintifik.
2.
Pengertian
Rasional Emotif Terapi (RET)
Rasional
Emotif Terapi (RET) adalah aliran
psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi,
baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan
jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri,
berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain,
serta tumbuh dan mengaktualisasikan diri. Akan tetapi, manusia juga memiliki
kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran,
berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan secara tak berkesudahan,
takhayul, intoleransi, perfeksionisme, dan mencela diri, serta menghindari
pertumbuhan dan aktualisasi diri.
Terapi
emotif rasional menegaskan bahwa manusia
memiliki sumber-sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi
dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakat. Manusia
dilahirkan dengan kecenderungan untuk mendesakkan pemenuhan
keinginan-keinginan, tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrat, dan kebutuhan-kebutuhan
dalam hidupnya. Jika tidak segera mencapai apa yang diinginkannya, manusia
mempersalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain.
TER
menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara stimulan.
Jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan- perasaan biasanya
dicetuskan oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik.
3. Pendekatan Rasional Emotif Terapi (RET)
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian
Albert Ellis, dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis. Ada
tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu :
a. Antecedent
event (A), segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa
pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain.
Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon
karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. segenap peristiwa luar
yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta,
kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga,
kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan
antecendent event bagi seseorang.
b. Belief
(B), keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu
peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional
(rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief
atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan
yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan
yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang
salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
c. Emotional
consequence (C), merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi
individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya
dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung
dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan
(B) baik yang rB maupun yang iB.
Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau
teori ABC. Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini.
Seorang terapis harus melawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu
agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psikologis positif dari
keyakinan-keyakinan yang rasional.
Dalam menjelaskan teorinya tentang Rasional Emotif terapi,
Albert Ellis mempunyai pendekatan sebagai berikut:
o Teori
RET mementingkan tiga aspek utama yaitu kognitif, emosi dan aspek tingkah laku.
o Memberi
penekanan kepada pemikiran, penganalisaan, penilaian, perlakuan dan membuat
keputusan.
o Pendekatan
teori ini bercorak deduktif atau mengajar, mengarah dan mengutamakan kepada
pemikiran daripada kepercayaan yang tidak rasional.
o Kepercayaan
ini perlu dicabar dan diperbetulkan supaya dapat mewujudkan sistem kepercayaan
yang baik dan rasional.
o Prinsip
terapi RET boleh digunakan kepada masalah sekarang, masalah yang lain dalam
kehidupan dan juga masalah yang mungkin dihadapi pada masa akan datang
o Fokus
prinsip ini adalah kepada pemikirandan tindakan, bukan hanya mengikuti
perasaan.
o Terapi
ini dianggap sebagai satu proses pembelajaran kerana fungsi konselor yang
berbeda-beda.
o Teori
Ellis ini berasaskan bahwa individu-individu mempunyai usaha untuk bertindak
sama dan dalam bentuk rasional maupun tidak rasional.
4. Corak Rasional Emotif Terapi (RET)
Corak konseling RET
berpangkal pada beberapa keyakinan tentang martabat manusia dan tentang proses
manusia dapat mengubah diri, yang sebagian bersifat filsafat dan sebagian lagi
bersifat psikologis, yaitu:
a.
Manusia adalah
mahluk yang manusiawi, artinya dia bukan superman dan juga bukan mahluk yang
kurang dari seorang manusia. Manusia mempunyai kekurangan dan keterbatasan,
yang mereka atasi sampai taraf tertentu. Selama manusia hidup di dunia ini, dia
harus berusaha untuk menikmati hidupnya sebaik mungkin.
b.
Perilaku manusia
sangat dipengaruhi oleh bekal keturunan atau pembawaan, tetapi sekaligus juga
tergantung dari pilihan-pilihan yang dibuat sendiri. Nilai-nilai kehidupan
(values) untuk sebagian ditentukan baginya.
c.
Hidup secara
rasional berarti berpikir, berperasaan, dan berperilaku sedemikian rupa,
sehingga kebahagiaan hidup dapat dicapai secara efisien dan efektif. Bilamana
orang berpikir, berperasaan dan berperilaku sedemikian rupa, sehingga segala
tujuan yang dikejar tidak tercapai, mereka ini hidup secara tidak rasional.
Orang yang tidak mencapai kebahagian itu harus mempersalahkan dirinya sendiri
karena tidak menggunakan akal sehatnya secara semestinya.
d.
Manusia memiliki
kecenderungan yang kuat untuk hidup secara rasional dan sekaligus untuk hidup
secara tidak rasional. Dia dapat berpikir dengan akal sehat, tetapi dapat juga
berpikir salah.
e.
Orang kerap
berpegang pada setumpuk keyakinan yang sebenarnya kurang masuk akal atau
irasional (irational beliefs), yang ditanamkan sejak kecil dalam lingkungan
kebudayaan atau diciptakan sendiri. Mungkin juga keyakinan-keyakinan itu
merupakan gabungan dari pengaruh lingkungan sosial dan gagasannya sendiri.
5.
Deskripsi Proses Konseling Rasional Emotif Terapi (RET)
Konseling
rasional emotif terapi dilakukan dengan
menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus
dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun
secara bersama-sama oleh konselor dan klien.
Tugas
konselor menunjukkan bahwa;
a.
Masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan
pikiran-pikiran yang tidak rasional
b. Usaha untuk
mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan.
Operasionalisasi
tugas konselor :
a. Lebih
edukatif-direktif kepada klien, dengan cara banyak memberikan cerita dan
penjelasan, khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara
langsung
b. Menggunakan
pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien,
kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih
dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan
hambatan emosional pada klien
c. Mendorong
klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya
d. Menggunakan
pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan
mengkonfrontasikan berpikir secara irasional.
Karakteristik proses konseling rasional-emotif :
a.
Aktif-direktif, artinya
bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien
dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
b.
Kognitif-eksperiensial, artinya
bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan
berintikan pemecahan masalah yang rasional.
c.
Emotif-ekspreriensial, artinta
bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi
klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar
akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.
d.
Behavioristik, artinya
bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong
terjadinya perubahan tingkah laku klien.
6.
Teknik Konseling Rasional Emotif Terapi (RET)
Pendekatan
konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif,
afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Beberapa teknik
dimaksud antara lain adalah sebagai berikut.
1. Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
a. Assertive adaptive, Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan
membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan
tingkah laku yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat
pendisiplinan diri klien.
b. Bermain peran, Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan
yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang
dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan
dirinya sendiri melalui peran tertentu.
c. Imitasi, Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu
dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang
negatif.
2. Teknik-teknik Behavioristik
a. Reinforcemen, Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang
lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun
hukuman (punishment). eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan
keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang
positif. Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka klien akan
menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.
b. Social modeling, Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku
baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model
sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru), mengobservasi, dan
menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model
sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.
3. Teknik-teknik Kognitif
a. Home work assigments, Teknik yang
dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri,
dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku
yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat
mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional
dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk
mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan
tertentu berdasarkan tugas yang diberikan.
Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh
klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan
untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada
diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien dan
mengurangi ketergantungannya kepada konselor.
a. Latihan assertive, Teknik untuk melatih keberanian klien dalam
mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui
bermain peran, latihan, atau meniru model-model sosial. Maksud utama teknik
latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai
hal yang berhubungan dengan emosinya; (b) membangkitkan kemampuan klien dalam
mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang
lain; (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri;
dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif
yang cocok untuk diri sendiri.
7.
Tujuan Rasional Emotif Terapi (RET)
Ellis
mengatakan tujuan utama terapi ini adalah untuk membantu individu-individu
menanggulangi problem-problem perilaku dan emosi mereka untuk membawa
mereka kekehidupan yang lebih bahagia, lebih sehat, dan lebih terpenuhi. Secara
sederhana dan umum tujuan terapi ini adalah membantu klien untuk membebaskan
diri dari gagasan-gagasan yang tidak logis dan untuk belajar gagasan-gagasan
yang logis serta realisitik sebagai penggantinya. Secara terperinci terapi ini
bertujuan untuk;
a.
Memperbaiki dan mengubah segala perilaku, sikap,
persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan yang irasional dan
tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan dirinya.
b.
Menghilangkan gangguan emosional yang merusak seperti
rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa
marah.
c.
Untuk membangun Self Interest (minat), Self Direction (pengendalian/
pengarahan diri), Tolerance (toleransi), Acceptance of Uncertainty (kesediaan
menerima ketidakpastian), Fleksibel, Commitment (komitmen terhadap sesuatu),
Scientific Thinking (berpikir logis), Risk Taking (keberanian mengambil
resiko), dan Self Acceptance (penerimaan diri) klien.
8. Langkah-Langkah
Rasional Emotif Terapi (RET)
a.
Langkah pertama, Konselor
berusaha menunjukkan bahwa cara berfikir klien harus logis kemudian membantu
bagaimana dan mengapa klien sampai pada cara seperti itu, menunjukkan pola
hubungan antara pikiran logis dan perasaan yang tidak bahagia atau dengan
gangguan emosi yang di alami nya.
b.
Langkah kedua, Menunjukkan kepada klien bahwa ia mampu
mempertahankan perilakunya maka akan terganggu dan cara pikirnya yang tidak logis
inilah yang menyebabkan masih adanya gangguan sebagaimana yang di rasakan.
c.
Langkah ketiga, Bertujuan mengubah cara berfikir klien
dengan membuang cara berfikir yang tidak logis.
d.
Langkah keempat, Dalam hal ini konselor menugaskan
klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata.
9.
Kelebihan Dan Kekurangan Rasional
Emotif Terapi (RET)
Kelebihan
terapi ini yaitu;
a.
Membantu klien untuk siap menghadapi kenyataan
b.
Pendekatan ini cepat sampai kepada masalah yang
dihadapi oleh klien, menyadarkan klien terhadap pikiran/nilai yang irasional
yang membuatnya bermasalah. Dengan itu perawatan juga dapat dilakukan dengan
cepat.
c.
Lebih rasional dalam membantu klien. Kaedah pemikiran
logik yang diajarkan kepada klien dapat digunakan dalam menghadapi gejala yang
lain.
d.
Klien merasakan diri mereka mempunyai keupayaan
intelektual dan kemajuan dari cara berfikir, sehingga dapat menyadarkan klien
akan kekuatan dan kelemahan diri serta menyikapinya secara tepat
Kekurangan
terapi ini, yaitu;
a.
Konselor lebih otoritatif. Sehingga klien terkesan
dipaksa untuk melakukan apa yang selama ini ia merasa tidak sanggup untuk
dilakukannya.
b.
Ada klien yang boleh ditolong melalui analisa logik
dan falsafah, tetapi ada pula yang tidak begitu geliga otaknya untuk dibantu dengan
cara yang sedemikian yang berasaskan kepada logika. Terapi ini terbatas pada
individu dewasa, tidak dapat diterapkan pada anak dan remaja.
c.
Ada setengah klien yang begitu terpisah dari realiti
sehingga usaha untuk membawanya ke alam nyata sukar sekali dicapai.
d.
Konselor terang-terangan dalam menyerang irasional
klien. Padahal ada juga klien yang terlalu berprasangka terhadap logik,
sehingga sukar untuk mereka menerima analisa logik.
e.
Ada juga setengah klien yang memang suka mengalami
gangguan emosi dan bergantung kepadanya didalam hidupnya, dan tidak mau membuat
perubahan apa-apa lagi dalam hidup mereka.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Pandangan
pendekatan rasional emotif tentang kepribadian Albert Ellis, dapat dikaji dari
konsep-konsep kunci teori Albert Ellis. Ada tiga pilar yang membangun tingkah
laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional
consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep
atau teori ABC.
Antecedent
event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu.
Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang
lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi
calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
Belief (B) yaitu
keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu
peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational
belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief
atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan
yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan
yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang
salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
Emotional
consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat
atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam
hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan
akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam
bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Selain itu,
Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus
melawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya
bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psikologis positif dari
keyakinan-keyakinan yang rasional.
Albert Ellis
juga menambahkan bahwa secara biologis manusia memang “diprogram” untuk selalu
menanggapi “pengondisian-pengondisian” semacam ini. Keyakinan-keyakinan
irasional tadi biasanya berbentuk pernyataan-pernyataan absolut.
2.
Saran
Pahamilah
Rasional Emotif
Terapi (RET) agar pemahamannya bertambah dan bisa mengetahui Rasional
Emotif Terapi (RET). Sehingga, mampu menerapkan nantinya
didunia lapangan kerja.
DAFTAR
PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar