Nama :Mariyati Jurusan :Bimbingan dan Konseling
Nim :2014 141 106 Mata
Kuliah :BK Industri
Kelas :5/C Dosen
Pengampu :Mirnayenti, M.Pd
RESUME
KEPUASAN
KERJA
1.
Pengertian kepuasan kerja
Tiffin (1958)
kepuasan kerja berhubungan erat
dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaannya sendiri, situasi kerja,
kerjasama antara pimpinan dengan karyawan.
Blum (1956)
dalam Moch. As’ad ( 1995 : 104 ) mengemukakan bahwa kepuasan kerja merupakan sikap umum yang merupakan hasil dari
beberapa sikap khusus terhadap faktor – faktor pekerjaan, penyesuaian diri dan
hubungan sosial individu diluar kerja.
Menurut
Hasibuan (2007) Kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan
mencintai pekerjaannya. Kepuasan kerja (job statisfaction) karyawan
harus diciptakan sebaik-baiknya supaya moral kerja, dedikasi, kecintaan, dan
kedisiplinan karyawan meningkat. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja,
kedisiplinan, dan prestasi kerja. Kepuasan kerja dinikmati dalam pekerjaan,
luar pekerjaan, dan kombinasi dalam dan luar pekerjaan. Kepuasan kerja dalam
pekerjaan adalah kepuasan kerja yang dinikmati dalam pekerjaan dengan
memperoleh pujian hasil kerja, penempatan, perlakuan, peralatan, dan suasana lingkungan
kerja yang baik. Karyawan yang lebih suka menikmati kepuasan kerja dalam
pekerjaan akan lebih mengutamakan pekerjaannya daripada balas jasa walaupun
balas jasa itu penting.
Robbins and
Judge (2009) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai perasaan positive tentang
pekerjaan sebagai hasil evaluasi karakter-karakter pekerjaan tersebut.
Kinicki and
Kreitner (2005) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai respon sikap atau emosi
terhadap berbagai segi pekerjaan seseorang. Definisi ini memberi arti
bahwa kepuasan kerja bukan suatu konsep tunggal. Lebih dari itu seseorang dapat
secara relative dipuaskan dengan satu aspek pekerjaannya dan dibuat tidak
puas dengan satu atau berbagai aspek. Dalam pandangan yang hampir sama,
Nelson and Quick (2006) menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah suatu
kondisi emosional yang positif dan menyenangkan sebagai hasil dari
penilaian pekerjan atau pengalaman pekerjaan seseorang.
2.
Teori kepuasan kerja
(1)Discrepancy
Theory
Teori ini menerangkan bahwa seorang
karyawan akan merasa puas bila tidak ada perbedaan antara apa yang diinginkan
dengan persepsinya atas kenyataan yang ada. Dipelopori oleh Porter (1961)
dengan mengukur kepuasankerja seseorang dengan menghitung selisih antara apa
yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan. Selanjutnya Locke (1969) menerangkan bahwa
kepuasan kerja seseorang tergantung kepada
Discrepancy antara should be(expectation, need, atau value) dengan apa
yang menurut perasaannya telah diperoleh atau dicapai melalui pekerjaan (Moh.
As‟ad, 1995:105).
(2) Equity
Theory
Prinsip dari teori ini adalah bahwa
orang akan merasa puas atau tidak puas, tergantung apakah ia merasakan adanya
keadilan (equity) atau tidak atas suatu situasi. Menurut teori ini
equityterdiri dari tiga elemen, yaitu :
a.
Input, yaitu segala sesuatu yang berharga yang
dirasakan oleh karyawan sebagai
sumbangan atas pekerjaannya.
b.
Out comes, yaitu segala sesuatu yang berharga yang
dirasakan oleh karyawan sebagai hasil dari pekerjaannya.
c.
Comparison persons, yaitu kepada orang lain atau
dengan siapa karyawan membandingkan rasio input –outcomes yang dimilikinya.
Comparison Persons ini bisa berupa
seseorang di perusahaan yang sama, atau di tempat lain, atau bisa pula dengan
dirinya sendiri diwaktu lampau.
Sehingga dapat disimpulkan dalam teori
ini adalah setiap karyawan akan
membandingkan rasio input –out comes dirinya dengan rasio input –out comes orang lain. Bila
perbandingan itu dianggap cukup adil,
maka ia akan merasa cukup puas. Bila perbandingan itu tidak seimbang
tetapi menguntungkan, bisa menimbulkan kepuasan tetapi
bisa pula
tidak. Kelemahan teori ini adalah kenyataan bahwa kepuasan orang juga
ditentukan oleh individual differences (misalkan saja pada waktu orang melamar
pekerjaan apabila ditanya besarnya gaji/upah yang diinginkan). Selain itu tidak
liniernya hubungan antara besarnya
kompensasi dengan tingkat kepuasan lebih banyak bertentangan dengan
kenyataan.
(3)Two
Factor Theory
Prinsip dari teori ini adalah kepuasan
dan ketidakpuasan kerja itu merupakan dua hal
yang berbeda, artinya kepuasan dan ketidakpuasan kerja terhadap
pekerjaan itu tidak merupakan suatu
variabel yang kontinyu (Herzberg,1966). Teori ini pertama dikemukakan oleh Herzberg melalui hasil penelitian beliau
dengan membagi situasi yang mempengaruhi
sikap seseorang terhadap pekerjaannya menjadi dua kelompok, yaitu :
a)
Kelompok satisfiers, yaitu situasi yang dibuktikannya
sebagai sumber kepuasan kerja yang
terdiri dari tanggung jawab, prestasi,
penghargaan, promosi, dan pekerjaan itu sendiri. Kehadiran faktor ini akan menimbulkan
kepuasan, tetapi tidak hadirnya ini tidaklah selalu mengakibatkan
ketidakpuasan.
b)
Kelompok dissatisfiers ialah faktor-faktor yang
terbukti menjadi sumber ketidakpuasan, yang terdiri dari kondisi kerja, gaji,
penyelia, teman kerja, kebijakan administrasi, dan keamanan.
3.
Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja
Menurut
Hasibuan (2007) kepuasan kerja karyawan dipengaruhi oleh faktor-faktor:
1)
Balas jasa yang adil dan layak.
2) Penempatan
yang tepat sesuai dengan keahlian.
3) Berat
ringannya pekerjaan.
4)
Suasana dan lingkungan pekerjaan.
5) Peralatan
yang menunjang pelaksanaan pekerjaan.
6) Sikap
pimpinan dalam kepemimpinannya.
7) Sifat
pekerjaan monoton atau tidak.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah:
1. Kondisi
kerja, artinya jika seluruh kebutuhan seseorang untuk bekerja terpenuhi baik
itu dari bahan yang dibutuhkan ataupun dari lingkungan yang menunjang maka
kepuasan kerja akan terjadi.
2. Peraturan,
budaya serta karakteristik yang ada dalam organisasi tersebut, yang jika
peraturan dalam menjalankan pekerjaannya dapat mendukung terhadap pekerjaannya
maka karyawan atau para pekerja akan merasakan kepuasan kerja.
3. Kompensasi
dari pekerjaannya yang seimbang dengan pekerjaan yang telah ia lakukan.
4. Efisiensi
kerja, dalam hal ini dikaitkan dengan kemampuan seseorang dalam pekerjaannya,
sehingga apabila kepuasan kerja itu ada salah satunya adalah dengan bekerja
sesuai dengan kemampuan masing-masing.
5. Peluang
promosi, yaitu di mana adanya suatu peluang untuk mendapatkan penghargaan atas
prestasi kerja seseorang dimana diberikan jabatan dan tugas yang lebih tinggi
dan disertai dengan kenaikan gaji. Promosi ini sangat mempengaruhi kepuasan
kerja dapat dihargai dengan dinaikan posisinya disertai gaji yang akan
diterimanya.
6. Rekan kerja
atau partner kerja, kepuasan kerja akan muncul apabila dalam suatu organisasi
terdapat hubungan yang baik. Misalnya anggota kerja mempunyai cara atau sudut
pandang atau kebiasaan yang sama dalam melakukan suatu pekerjaan sehingga dalam
bekerja juga tidak ada hambatan karena terjalin hubungan yang baik.
Sedangkan
dalam pandangan Islam kepuasan kerja itu terjadi apabila suatu pekerjaan yang
dilakukan dapat membantu orang lain dalam meringankan pekerjaannya, karena “sebaik-baiknya
manusia adalah yang berguna bagi orang lain”.
Komentar
Posting Komentar