Makalah
Metodelogi
Penelitian Dan Pendidikan BK
“Penelitian Penomenologi”
Di
Susun Oleh :
Kelompok
3
Nama
Kelompok :
1. Ayu
Soraya 2014 141 101
2. Ika
Ayu Oktaviani 2014 141 108
3. Mariyati 2014 141 106
4. Veni
Cahaya Ningrum 2014 141 132
5. Vira
Dwi Lestari 2014 141 127
6. Wela
Wilia 2014 141 114
7. Yunia
Rahmah 2014 141 092
Semester/Kelas :Lima (5) / C
Program Studi :
Bimbingan Dan Konseling
Dosen Pengasuh :
Muhammad Ferdiansyah, M.Pd., kons.
Fakultas
Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas
Pgri Palembang
2016/2017
KATA
PENGANTAR
Dengan menyebut
nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami panjatkan puja dan puji
syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW. Sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang
“Penelitian fenomenologi”.
Makalah ini
telah disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Metodelogi Penelitian Dan Pendidikan BK. Disamping
itu pula, makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan lebih luas bagi
mahasiswa semester V (Lima)
Program Studi Bimbingan dan Konseling .
Kami menyadari
sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini kurang baik dari teknik penulisan,
sistematika penulisan dan isi penulisan. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka
kami menerima saran dan kritik dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata kami
Kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Palembang, Oktober 2016
Tim Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................
DAFTAR ISI..................................................................................................
BAB
I PENDAHULUAN...........................................................................
1.1
... Latar
Belakang..........................................................................
1.2 ... Rumusan Masalah.....................................................................
1.3 ... Tujuan Penulisan.......................................................................
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................
1.1
Pengertian Penelitian Penomenologi........................................
1.2
Karakteristik Penelitian Penomenologi..............................................
1.3
Kelemahan Dan Kelebihan Penelitian Penomenologi..............
1.4
Alasan Menggunakan Penelitian Penomenologi.......................
BAB III PENUTUP......................................................................................
3.1 Kesimpulan...............................................................................
3.2
Saran.........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Melakukan penelitian ilmu-ilmu
sosial dengan metode kualitatif merupakan pengalaman yang unik dan menarik.
Unik karena peneliti harus terjun langsung ke masyarakat yang ditelitinya dan
menarik karena harus berinteraksi secara langsung dengan masyarakat dengan
segala suka dukanya. Ada beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian
kualitatif, yaitu penelitian atau inkuiri naturalistik atau alamiah, etnografi,
interaksionis simbolik, perspektif kedalam, etnometodologi, the Chicago
School, fenomenologis, studi kasus, interpretatif, ekologis dan deskriptif.
Penelitian kualitatif adalah
penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan
analisis. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam
penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus
penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga
bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai
bahan pembahasan hasil penelitian.
Penelitian kualitatif jauh lebih
subyektif daripada penelitian atau survei kuantitatif dan menggunakan metode
sangat berbeda dari mengumpulkan informasi, terutama individu, dalam
menggunakan wawancara secara mendalam dan grup fokus. Sifat dari jenis
penelitian ini adalah penelitian dan penjelajahan terbuka berakhir dilakukan
dalam jumlah relatif kelompok kecil yang diwawancarai secara mendalam.
Peserta diminta untuk menjawab
pertanyaan umum, dan interviewer atau moderator group periset menjelajah dengan
tanggapan mereka untuk mengidentifikasi dan menentukan persepsi, pendapat dan
perasaan tentang gagasan atau topik yang dibahas dan untuk menentukan derajat
kesepakatan yang ada dalam grup. Kualitas hasil temuan dari penelitian
kualitatif secara langsung tergantung pada kemampuan, pengalaman dan kepekaan
dari interviewer atau moderator group.
Secara umum penelitian kualitatif
sendiri dikelompokkan menjadi 5 (lima) pendekatan besar yakni 1) biografi; 2)
fenomenologi; 3) grand theory; 4) etnografi; dan 5) studi kasus. Dan
mengingat begitu luasnya cakupan dari penelitian kualitatif, pada artikel ini
hanya akan di bahas penelitian kualitatif jenis fenomenologi.
1.2 Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu;
a)
Apa
pengertian penelitian penomenolog?
b)
Bagaimana
karakteristik penelitian penomenologi?
c)
Apa
saja kelemahan dan kelebihan penelitian penomenologi?
d)
Apa
alasan menggunakan penelitian penomenologi?
1.3 Tujuan
Makalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu;
a)
Untuk
mengetahui pengertian penelitian penomenolog!
b)
Untuk
mengetahui karakteristik penelitian penomenologi!
c)
Untuk
mengetahui kelemahan dan kelebihan penelitian penomenologi!
d)
Untuk
mengetahui alasan menggunakan penelitian penomenologi!
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Penelitian Fenomenologi Menurut Para Ahli
a. Pengertian
Menurut Bahasa
Fenomenologi berasal dari bahasa
Yunani: phainómenon "sesuatu yang tampak (that which
appears)"; dan lógos "ilmu"). Kata ini ditemukan pada
awal abad ke-20 oleh Edmund Husserl, kemudian
diperluas oleh para penerusnya di Universitas Göttingen dan Munich in Germany, and
menyebar sampai Perancis, Amerika, dan negara-negara di berbagai belahan dunia.
Dalam bahasa Inggris yang nampak
berdekatan dengan kata ini adalah Phenomenon (j. -mena) yang
berarti perwujudan, kejadian, gejala.
Fenomenologi dapat digolongkan
menjadi dua pengertian. Dalam pengertian yang lebih luas, fenomenologi
diartikan sebagai ilmu tentang fenomen-fenomen atau apa
saja yang tampak. Dalam hal ini, fenomenologi merupakan sebuah pendekatan
filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala yang membanjiri kesadaran
manusia. Sedangkan dalam arti yang lebih sempit lagi, fenomenologi diartikan
sebagai ilmu tentang gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita
b.
Pengertian Menurut Immanuel Kant
Immanuel Kant memakai istilah
fenomenologi dalam karyanya Prinsip-Prinsip Pertama Metafisika (1786).
Maksud Kant adalah untuk menjelaskan kaitan antara konsep fisik gerakan dan
kategori modalitas, dengan mempelajari ciri-ciri dalam relasi umum dan
representasi, yakni fenomena indera-indera lahiriah.
c.
Pengertian
Menurut Hegel
Dalam bukunya “The
Phenomenology of The Spirit” yang diterbitkan pada 1806, Hegel berpendapat
bahwa fenomenologi berkaitan dengan pengetahuan sebagaimana tampak kepada
kesadaran, sebuah ilmu yang menggambarkan apa yang dipikirkan, dirasa dan
diketahui oleh seseorang dalam kesadaran dan pengalamannya pada saat itu.
Proses tersebut mengantarkan pada perkembangan kesadaran fenomenal melalui
sains dan filsafat “menuju pengetahuan yang absolut.” Hegel mengembangkan
pemahaman bahwa esensi (wesen) dipahami melalui penyelidikan terhadap
tampilan-tampilan dan perwujudan atau manifestasi (erschinugnen). Ia
menunjukkan bagaimana hal itu mengantarkan kepada satu pemahaman bahwa semua
fenomena dalam keberagamannya, berakar pada esensi atau kesatuan mendasar (geist
atau spirit). Hubungan antara esensi dan manifestasi tersebut memberikan
pemahaman bahwa agama dan keagamaan merupakan sesuatu yang berbeda
d.
Pengertian Menurut Edmund Husserl
Menurut Husserl,
fenomenologi merupakan sebuah kajian tentang struktur kesadaran yang
memungkinkan kesadaran-kesadaran tersebut menunjuk kepada objek-objek diluar
dirinya. Dari sana Ia kemudian memunculkan istilah “reduksi fenomenologis.”
Bahwa suatu pikiran bisa diarahkan kepada objek-objek yang non-eksis dan riil.
Reduksi fenomenologis tidak menganggap bahwa sesuatu itu ada, melainkan
terdapat “pengurangan sebuah keberadaan,” yaitu dengan mengesampingkan
pertanyaan tentang keberadaan yang riil dari objek yang dipikirkan. Berangkat
dari asumsi tersebut Husserl kemudian merumuskan dua konsep yang kemudian
menjadi landasan utama dalam kajian fenomenologi. Dua konsep tersebut adalah epochè
dan eiditic vision.
i. Epochè vision. Kata epochè
berasal dari bahasa Yunani berarti “menunda semua penilaian” atau “pengurungan”
(bracketing). Hal ini berarti bahwa fenomena yang tampil dalam kesadaran
adalah benar-benar natural tanpa dicampuri oleh presupposisi pengamat. Karena
pada dasarnya membawa konsep-konsep dan konstruk-konstruk pandangan adalah
sesuatu yang mempengaruhi dan merusak hasil penilaian.
ii. Eidetic vision berarti “yang
terlihat” atau pengandaian terhadap epochè yang merujuk pada pemahaman
kognitif (intuisi) tentang esensi, ciri-ciri yang penting dan tidak berubah
dari satu fenomena yang memungkinkan untuk mengenali fenomena tersebut.
e.
Pengertian
Menurut Maxs Scheler
Pemikiran yang paling utama Scheler
adalah tentang fenomenologi etika. Dalam pandangan Scheler tentang fenomenologi
etis, benda dianggap sebagai “sesuatu” yang bernilai. Dunia benda-benda terdiri
atas segala sesuatu, maka dapat dihancurkan oleh kekuatan alam dan sejarah. Dan
jika nilai moral kehendak kita tergantung pada benda-benda, maka kehancuran
tersebut akan mempengaruhinya. Scheler ingin mengatakan bahwa nilai itu berasal
dari benda-benda, namun tidak tergantung pada mereka. Dan dari
ketidaktergantungan tersebut memungkinkan benda itu untuk “menyusun” sebuah
etika aksiologis yang sekaligus material.
Berdasarkan
pengertian di atas di simpulkan bahwa penelitian fenomenologi merupakan suatu
penelitian yang mengatakan bahwa kebenaran suatu itu di dapatkan atau di peroleh dengan menangkap fenomena
atau gejala yang memancar dari objek yang di teliti. Apabila penelitian
melakukan penangkapan secara profesional, maksimal dan bertanggung jawab, maka
akan dapat di peroleh variasi refleksi dari objek. Bagi objek manusia , gejala
dapat berupa mimik, panomimik, ucapan, tingkah laku, perbuatan dan lain-lain.
Tugas penelitian ini adalah memberikan interprestasi terhadap gejala tersebut.
2.2
Karakteristik Penelitian Fenomenologi
Sehubungan dengan itu daymon dan holloway, menjelaskan ada sejumlah ciri
yang lazim di dapati dalam riset fenomenologi ini yaitu;
a.
adanya pengungkapan dasar
filosofis. Kajian fenomenologi dimulai dengn diskusi mengenai elemen-elemen
filosofis dari suatu riset, mencakup fenomenologi sosial, fenomenologi
transendental dan fenomenologi hermeneutika menginterprestasikan teks sesuai
dengan konteks budaya, situasi, dan sejarah tempat fenomena itu terjadi.
b.
Adanya usaha pengurungan
asumsi-asumsi. Untuk melihat fenomena secara besar, asumsi-asumsi harus
terlebih dahulu disungkirkan agar hasil riset benar-benar berdasarkan
terminologi topik itu sendiri.
c.
Adanya fenomena utama
sebagai fokus penelitian
d.
sampelnya terbatas
e.
adanya analisis data secara
sistematis.
Adapun
karakteristik pendekatan fenomenologi sebagai berikut;
a.
tidak berasumsi mengetahui
hal-hal apa yang berarti bagi manusia yang akan di teliti
b.
memulai penelitian dengan
keheningan untuk mengungkapkan apa yang sedang di teliti.
c.
Menekankan pada aspek
subjektif manusia, berusaha masuk kedalam dunia konseptual subjektif, agar
dapat memahami bagaimana dan makna apa yang mereka kontruksi di sekitar peristiwa
dalam kehidupan sehari-hari.
d.
Mempercayai bahwa dalam
kehidupan manusia banyak cara yang di
pakai untuk menafsirkan pengalaman-pengalaman melalui interaksi kita dengan
orang lain, dan ini merupakan makna dari pengalaman realita. Dan
e.
Memahami subjektif adalah
dengan cara melihatnya sendiri dari sudut pandang subjektif itu sendiri.
Adapun karateristik
Metode Fenomenologi Menurut Embree,
yaitu sebagai berikut;
1. Fenomenolog berkecenderungan untuk menentang atau meragyukan hal-hal
yang diterima tanpa melalui penelaahan atau pengamatan terlebih dahulu, serta
menentang sistem besar yang dibangun dari pemikiran yang spekulatif.
2. Fenomenolog berkecenderungan untuk menentang naturalisme (juga disebut
sebagai objektivisme atau positivisme), yang tumbuh meluas dalam ilmu
pengetahuan dan teknologi modern dan telah menyebar di daratan Eropa bagian
utara semenjak zaman Renaissance.
3. Secara positif, fenomenolog berkecenderungan untuk membenarkan pandangan
atau persepsi (dalam beberapa hal, juga evaluasi dan tindakan) yang mengacu
pada apa yang dikatakan Husserl sebagai evidenz, yakni terdapatnya kesadaran
tentang kebenaran itu sendiri sebagaimana yang telah terbuka secara sangat
jelas, tergas perbedaannya dan menandai sesuatu yang disebut sebagai `apa
adanya seperti itu`.
4. Fenomenolog cenderung mempercayai perihal adanya, bukan hanya dalam arti
dunia kultural dan natural tetapi juga adanya oibjek yang ideal seperti jumlah
dan bahkan juga berkenaan dengan kehidupan tentang kesadaran itu sendiri yang
dijadikan sebagai bukti dan oleh karenanya harus diketahui.
5. Fenomenolog memegang teguh prinsip bahwa periset haurs memfokuskan diri
pada sesuatu yang disebut `menemukan permasalahan` sebagaimana yang diarahkan
kepada objek dan pembetulannya terhadap objek sebegaimana ditemukan
permasalahannya. Terminologi ini memang tidak secara luas digunakan dan
utamanya digunakan utnuk menekankan permasalahan ganda dan pendekatan reflektif
yang diperlukan.
6. Fenomenoog berkecenderungan untuk mengetahui peranan deskripsi secara universal,
pengertian a-priori atau `eiditic` untuk menjelaskan tentang sebab-akibat,
maksud atau latar belakang.
7. Fenomenolog berkecenderungan untuk memperseoalkan tentang kebenaran atau
ketidakbenaran mengenai apa yang dikatakan oleh Husserl sebagai transcendental
phenomenological epoche, dan penyederhanaan pengertiannya menjadi sangat
berguna dan bahkan sangat mungkin untuk dilakukan.
2.3
Kelemahan Dan Kelebihan Penelitian Fenomenologi
Kelebihan dari
filsafat fenomenologi diantaranya dapat diuraikan sebagai berikut :
a.
Fenomenologi sebagai suatu metode
keilmuan, dapat mendiskripsikan penomena dengan apa adanya dengan tidak
memanipulasi data, aneka macam teori dan pandangan.
b.
Fenomenologi mengungkapkan ilmu
pengetahuan atau kebenaran dengan benar-benar yang objektif.
c.
Fenomenologi memandang objek kajian
sebagai bulatan yang utuh tidak terpisah dari objek lainnya.
Dari berbagai kelebihan tersebut, fenomenologi sebenarnya juga tidak luput
dari berbagai kelemahan, seperti :
a.
Tujuan fenomenologi untuk mendapatkan
pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai pandangan
sebelumnya, baik dari adat, agama ataupun ilmu pengetahuan, merupakan suatu
yang absurd.
b.
Pengetahuan yang di dapat tidak bebas
nilai (value-free), tapi bermuatan nilai (value-bound).
2.4 Alasan
Menggunakan Penelitian Fenomenologi
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
penelitian fenomenologi
merupakan suatu penelitian yang mengatakan bahwa kebenaran suatu itu di
dapatkan atau di peroleh dengan
menangkap fenomena atau gejala yang memancar dari objek yang di teliti. Apabila
penelitian melakukan penangkapan secara profesional, maksimal dan bertanggung
jawab, maka akan dapat di peroleh variasi refleksi dari objek. Bagi objek
manusia , gejala dapat berupa mimik, panomimik, ucapan, tingkah laku, perbuatan
dan lain-lain. Tugas penelitian ini adalah memberikan interprestasi terhadap
gejala tersebut
Adapun
karakteristik pendekatan fenomenologi sebagai berikut; tidak berasumsi
mengetahui hal-hal apa yang berarti bagi manusia yang akan di teliti, memulai
penelitian dengan keheningan untuk mengungkapkan apa yang sedang di teliti, Menekankan
pada aspek subjektif manusia, berusaha masuk kedalam dunia konseptual
subjektif, agar dapat memahami bagaimana dan makna apa yang mereka kontruksi di
sekitar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, Mempercayai bahwa dalam
kehidupan manusia banyak cara yang di
pakai untuk menafsirkan pengalaman-pengalaman melalui interaksi kita dengan
orang lain, dan ini merupakan makna dari pengalaman realita dan Memahami
subjektif adalah dengan cara melihatnya sendiri dari sudut pandang subjektif
itu sendiri.
Kelebihan dari filsafat fenomenologi diantaranya dapat diuraikan sebagai
berikut :Fenomenologi sebagai suatu metode keilmuan, dapat mendiskripsikan
penomena dengan apa adanya dengan tidak memanipulasi data, aneka macam teori
dan pandangan, Fenomenologi mengungkapkan ilmu pengetahuan atau kebenaran
dengan benar-benar yang objektif, Fenomenologi
memandang objek kajian sebagai bulatan yang utuh tidak terpisah dari objek
lainnya.
sedangkan kelemahan penelitian fenomenologi seperti :Tujuan fenomenologi
untuk mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai
pandangan sebelumnya, baik dari adat, agama ataupun ilmu pengetahuan, merupakan
suatu yang absurddan Pengetahuan yang di dapat tidak bebas nilai (value-free),
tapi bermuatan nilai (value-bound).
3.2 Saran
Sebaiknya sebagai
mahasiswa kita mempelajari dengan serius mengenai penelitian fenomenologi guna
menambah wawasan dan pengetahuan mengenai penelitian femonelogi karena ini
dapat bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain
DAFTAR
PUSTAKA
Agus Salim. 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial.
Yogyakarta: TIARA WACANA.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT RINEKA
CIPTA
Arman. 2012. Pendekatan Fenomenologi. [Online] [Tersedia] Http://Suparmanarman94.Blogspot.Co.Id/2012/05/Pendekatan-Fenomenologi.Html [Di Akses] [11 Oktober 2016]
Iskandar. 2008. Metodelogi
Penelitian Pendidikan Dan Sosial. Jakarta: GP PRESS
Komentar
Posting Komentar