Nama :Mariyati Jurusan :Bimbingan dan Konseling
Nim :2014
141 106 Mata Kuliah
:BK Industri
Kelas :5/C Dosen
Pengampu :Mirnayenti, M.Pd
RESUME
PELATIHAN
DAN PENGEMBANGAN TENAGA KERJA
1. Pengertian
pelatihan dan pengembangan tenaga kerja
(Simamora:2006:273) Pelatihan (training) merupakan proses pembelajaran yang
melibatkan perolehan keahlian, konsep, peraturan, atau sikap untuk meningkatkan
kinerja tenga kerja.
Menurut pasal I ayat 9 undang-undang No.13 Tahun 2003. Pelatihan kerja
adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan, serta
mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja
pada tingkat ketrampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan
kualifikasi jabatan dan pekerjaan.
(Hani Handoko:2001:104) Latihan (training) dimaksudkan untuk memperbaiki
penguasaan berbagal ketrampilan dan teknik pelaksanaan kerja tertentu, terinci
dan rutin. Yaitu latihan rnenyiapkan para karyawan (tenaga kerja) untuk
melakukan pekerjaan-pekerjaan sekarang.
(Gomes:2003:197) Mengemukakan pelatihan adalah setiap usaha untuk
memperbaiki performansi pekerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang
menjadi tanggungjawabnya.
(Hadari:2005:208). Pelatihan adaah
program- program untuk memperbaiki kernampuan melaksanakan pekerjaan secara
individual, kelompok dan/atau berdasarkan jenjang jabatan dalam organisasi atau
perusahaan.
(Hani Handoko:2001:104) Pengembangan (development) diartikan sebagai
penyiapan individu untuk memikul tanggung jawab yang berbeda atau yang Iebih
tinggi dalam perusahaan, organisasi, lembaga atau instansi pendidikan
(Syafaruddin:200
1:2 17) Pengembangan cenderung lebih bersifat formal, menyangkut antisipasi
kemampuan dan keahhan individu yang harus dipersiapkan bagi kepentingan jabatan
yang akan datang. Sasaran dan program pengembangan menyangkut aspek yang lebih
luas yaitu peningkatan kemampuan individu untuk mengantisipai perubahan yang
mungkin terrjadi tanpa direncanakan(unplened change) atau perubahan yang
direncanakan (planed change).
(Hadari:2005:208) pengembangan karir adalah
usaha yang diakukan secara formal dan berkelanjutan dengan difokuskan pada
peningkatan dan penambahan kemampuan seorang pekerja. Dan pengertian ini
menunjukkan bahwa fokus pengernbangan karir adalah peningkatan kemampuan mental
tenaga kerja.
(Sjafri
:2003: 135) lstilah pelatihan dan pengembangan merujuk pada struktur total dan
program di dalam dan luar pekerjaan karvawan yang dimanfaatkan perusahaan dalam
mengembangkan keterampilan dan pengetahuan, utamanya untuk kinerja pekerjaan
dan promosi karir. Biasanya pelatihan merujuk pada pengembangan ketrampilan
bekerja (vocational) yang dapat digunakan dengan segera.
2. Tujuan
pelatihan dan pengembangan tenaga kerja
(Simamora:2006:276)
Adapun tujuan-tujuannya sebagai berikut;
1. Memperbaiki
kinerja karyawan-karyawannya yang bekerja secara tidak memuaskan karena
kekurangan keterampilan merupakan calon utama pelatihan, kendatipun tidak dapat
memecahkan semua masalah kinerja yang efektif, progaram pelatihan dan
pengembangan yang sehat sering berfaedah dalam meminimalkan masalah ini.
2. Memuktahirkan
keahlian para karyawan sejalan dengan kemajuan teknologi. Melalui pelatihan,
pelatih memastikan bahwa karyawan dapat megaplikasikan teknologi baru secara
efektif. Perubahan teknologi pada gilirannya, berarti bahwa pekerjaan
senantiasa berubah dan keahlian serta kemampuan karyawan haruslah dimuktahirkan
melalui pelatihan, sehingga kemajuan teknologi dapat diintgrasikan dalam
organisasi secara sukses.
3. Mengurangi
waktu pembelajaran bagi karyawan baru agar kompoten dalam pekerjaan. Seorang
karywan baru acap kali tidak menguasai keahlian dan kemampuan yang dibutukan
untuk menjadi ”job comotent” yaitu mencapai output dan standar mutu yang
diharapkan.
4. Membantu
memecahkan msalah orperasional. Para manejer harus mencapai tujuan mereka
dengan kelangkaan dan kelimpahan suber daya: kelangkaan sumberdaya finansial
dan sumberdaya teknologis manusia (human tecnilogical resourse), dan kelimpahan
masalah keuangan, manusia dan teknologis.
5. Mempersiapkan
karyawan untuk promosi satu cara untuk menarik, menahan, dan memotivasi
karyawan adalah melalui program pengembangan karir yang sistematis.
Pengembangan kemampuan promosional karyawan konsisten dengan kebijakan
sumberdaya manusia untuk promosi dari dalam: pelatihan adalah unsur kunci dalam
sistem pengembangan karir. Dengan secara berkesinambungan mengembangkan dan
mempromosikan semberdaya manusianya melalui pelatihan, manejer dapat menikmati
karyawan yang berbobot, termotivasi dan memuaskan.
6. Mengorientasikan
karyawan terhadap organisasi, karena alasan inilah, beberapa penyelenggara
orientasi melakukan upaya bersama dengan tujuan mengorientasikan para karyawan
baru terhadap organisasi dan bekerja secara benar.
7. Memenuhi
kebutuhan pertumbuhan pribadi. Misalnya sebagian besar manejer adalah
berorientasi pencapaian dan membutuhkan tantangan baru dipekerjaannya.
Pelatihan dan pengembangan dapat memainkan peran ganda dengan menyediakan
aktivitas-aktivitas yang menghasilkan efektifitas organisasional yang lebih besar
dan meningkatkan pertumbuhan pribadi bagi semua karyawan.
3. Penyusunan
program tenaga kerja
Penyusunan
program pelatihan/ pengemangan terdiri atas bermacam-macam tahap, yaitu :
1. Identifikasi
Kebutuhan Pelatihan atau Studi Pekerjaan (job dtudy)
Miner (1992)
mengemukakan bahwa pwmbwlajaran, terlibat dalam mengembangkan 4 macam
keterampilan, yaitu :
a. Knowledge
based skills (keterampilan didasarkan pada pengetahuan yang
dikuasai), keterampilan ini dikembangkan berdasarkan pengetahuan yang
diperlukan dimiliki untuk dapat melakukan tugas pekerjaannya secara baik.
b. Singular
behavior skills (keterampilan perilaku sederhana), seperti dating
bekerja tepat waktu.
c. Limited
interpersonal skills (keterampilan antar pribadi terbatas) terlibat dalam
aktivitas seperti memberi arahan kepada karyawan baru, mendelegasikan tanggung
jawab dan memberikan balikan kepada seseorang tentang unjk kerjanya.
d. Social
interactive skills (keterampilan interaktif social) berlangsung pada
taraf manajerial mencakup memanajemeni konflik, menggunakan daya/kekuasaan
secara efektif, negoisasi satu kontrak dan sebagainya.
Untuk
mengidentifikasi kebutuhan pelatihan perlu dilaksanakan dua kegiatan utama
yaitu : melaksanakan studipekerjaan (study job) dan mengadakan assessment
dari tenaga kerja, hal ini dapat dilaksanakan oleh atasan langsung tenaga
kerja dalam rangka penilaian prestasi tenaga kerja, dapat pula dilakukan juga
melalui assessment center.
Kebutuhan
pelatihan pada umumnya diketahui berdasarkan permintaan dari para line
manager. Berdasarkan unjuk kerja yang kurang memuaskan dari para bawahan
mereka mengusulkan agar bawahan mereka dilatih untuk pengetahuan dan
keterampilan tertentu.
Gropper
&Short (1969) memberikan salah satu cara untuk melaksanakan job study. setiap
pekerjaan terdiri atas sekumpulan tugas. Setiap tugas terdiri atas sekumpulan
unsur pekerjaan yang tersusun menurut urutan tertentu. Untuk menganalisis
setiap tugas, Gropper &Short menggunakan urutan input-action-output, seperti
tugas sekertaris berikut ini :
|
Input
Konsep surat
atau surat dalam tulisan steno
|
Action
Mengetik
dengan menggunakan mesin ketik
|
Output
Surat
telah diketik rapi tanpa salah, dan siap ditandatangani
|
Tugas dapat diberikan kedalam
serangkaian input-action-output (bentuk rantai) dapat pula terjadi macamnya input
lebih dari satu untuk dapat melakukan action. Job study yang digunakan oleh Gropper &
Short, memberi kemungkinan untuk :
a.
Menetapkan pengetahuan, keteramilan apa yang dierlukan
b.
Menetapkan sasaran yang harus dicapai dalam pelatihan
c. Menetapkan
kriteria keberhasilan dan membuat alat ukurnya.
2. Penetapan
Sasaran Pelatihan/pengembangan
Sasaran
pelatihan dapat dibedakan kedalam sasaran umum atau tujuan dan sasaran khusus,
yang dapat dibedakan lagi kedalam sasaran keseluruhan pelatihan dan sasaran
subjek pembahasan/latihan. Sasaran khusus dirinci kedalam suatu uraian yang
mempergunakan istilah-istilah perilaku yang dapat diamati dan diukur. Contoh
sasaran keseluruhan pelatihan : “Pada akhir pelatihan diharapkan dapat mengenal
prinsip-prinsip manajemen umum dan dapat menggunakannya dalam kinerja
sehari-hari”.
Mager (1962)
memberikan 3 aspek untuk merumuskan sasaran subjek pembahasan/latihan dengan
baik, yaitu dalam setiap sasaran hendaknya :
a.
Ada uaraian tentang situasi yang diberikan (given
what)
b.
Ada uraian tentang apa yang harus dilakukan (does
what)
c.
Ada uraian tentang bagaimana baiknya trainee melaksanakannya
(how well)
Sasaran
khusus yang hendaknya dihasilkan melalui latihan, yaitu :
a.
Sasaran kognitif, sasaran yang menggambarkan perilaku
kognitif.
b.
Sasaran afektif, meliputi perilaku yang berhubungan
dengan perasaan sikap.
c.
Sasaran psikomotor, meliputi perilaku gerak.
3. Penetapan
Kriteria Keberhasilan dengan Alat Ukurnya
Sebagaimana
halnya dengan kriteria keberhasilan yang digunakan dalam riset seleksi,
kriteria keberhasilan pelatihan mempunyai dimensi waktu. Sebagai kriteria
keberhasilan pelatihan, dapat ditetapkan perilaku-perilaku trainees
sebagaimana ditampilkan pada akhir program pelatihan dapat pula ditetapkan prestasi
kerja trainees setelah mereka kembali ke pekerjaannya masing-masing
selama waktu tertentu.
Untuk
mengetahui apakah para trainees betul-betul telah belajar, maka
mendapatkan sesuatu yang sebelum pelatihan belum dimiliki atau dikuasai, maka
selain mereka di tes pada akhir program pelatihan (yang dinamakan post-test),
sebelum pelatihan dimulai (dinamakan pre-test) dari pre-test dapat diketahui
sejauh mana pra trainees telah menguasai bahan atau memeiliki pengetahuan da
keterampilan yang akan dilatihkan pada mereka. Skor-skor pre-test sebaiknya
diharapkan tinggi-tingi, karena ini merupakan ukuran hasil belajar selama
mendapat pelatihan. Makin besar perbedaan antara skor pada post-test dengan
skor pre-test, makin banyak trainees belajar, makin kecil perbedaannya, makin
sedikit yang di pelajari trainee.
4. Penetapan
Metode-metode Pelatihan/Pengembangan
Metode
pelatihan di kelas dipakai dalam bentuk pelatihan di luar pekerjaan pekerjaan,
macamnya yaitu :
a. Kuliah, merupakan
suatu ceramah yang disampaikan secara lisan untuk tujuan pendidikan, kuliah
adalah pembicaraan yang diorganisasai secara formal tentang hal-hal khusus.
b. Konperensi.
merupakan pertemuan formal dimana terjadi diskusi atau konsultasi tentang
sesuatu hal yang penting. Konperasi menekankan adanya : (i) diskusi kelompok
kecil, (ii) bahan yang terorganisasi, (iii) keterlibatan peserta secara aktif.
Pada metode ini konperensi belajar diperlancar melalui partisipasi lisa dan
interaksi antar anggota, para trainee dianjurkan untuk memberikan gagasan dan pandangan
peserta lainnya, metode ini biasanya terdiri dari 15-20 orang.
c. Studi kasus,
pada metode studi kasus trainee diminta
untuk mengidentifikasi masalah mengkomendasi jawabannya. Metode ini
adalah metode belajar melalui perbuatan dan bermaksud meningkatkan pemikiran
analistis dan kecakapan memecahkan masalah.
d. Bermain
Peran (role playing), Peran adalah suatu pola perilaku yang diharapkan. Peserta
diberi tahu tentang situasi/keadaan dan peran mereka yang harus mereka mainkan,
hal ini digunakan untuk memeberikan kesempatan kepada para trainee untuk
memepelajari keterampilan hubungan antara manusia melalui praktek dan untuk
mengembangkan pemahaman mengenai pengaruh kelakuan mereka sendiri pada orang
lain
e. Bimbingan
berencana atau instruksi bertahap (programmed instruction), terdiri atas suatu
urutan langkah yang berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan suatu
pekerjaan atau suatu kelompok tugas pekerjaan.
f. Metode
Simulasi, dalam hubungannya dengan pelatihan, maka suatu simulasi adalah suatu
jenis alat atau teknik yang menyalin setepat mungkin kondisi-kondisi nyata yang
ditemukan dalam pekerjaan.
5. Pencobaan
dan Revisi
Maksud
pencobaan atau try-out ini adalah untuk mengidentifikasi kelemahan apa
saja yang masih ada. Apakah sasaran pelatihan telah relevan dan metode
pelatihannya sesuai serta dapat dilaksanakan oleh trainer. Jika masih dijumpai
kelemahan dapat langsung diadakan revis, perbaikan-perbaikan bila diperlukan.
Dengan demikian dapat diusahakan efektivitas pelatihan yang optimal dan
dihindari biaya yang lebih tinggi.
Try-out dapat
dilakukan terhadap beberapa orang tenaga kerja saja (untuk mempertahankan biaya
yang minimal), terhadap tenaga ahli (sehingga dapat memberikan penilaian
berdasarkan keahlian mereka) yang berfungsi berupa trainees. Baru setelah
pencobaan dan revisi paket pelatihan dapat digunakan untuk pelatihan yang
sebenarnya. Ada kalanya paket pelatihan tidak dapat dicobakan terlebih dahulu,
misalnya karena terdesak waktu. Dalam hal ini maka pelatihan langsung
dilaksanakan dengan segala konsekuensinya.
Komentar
Posting Komentar