Langsung ke konten utama

RESUME Perkembangan Konseling Keluarga



Nama               :Mariyati              Jurusan                    :Bimbingan Dan Konseling
Nim                 :2014 141 106      Mata Kuliah           :BK keluarga
Kelas               :5/C                      Dosen Pengampu   :Sysca Purnamasari, M.Pd
A.   Perkembangan Konseling Keluarga
Sejarah perkembangan konseling keluarga di dunia berasal dari daratan Eropa dan Amerika Serikat. Awal permulaan abad ke-20 berasal dari Eropa, namun perkembangan yang lebih semarak adalah pada tahun 60-an dan seterusnya di Amerika Serikat. Perbedaan yang mencolok ialah bahwa aliran Amerika Serikat telah berorientasi teoritis (academic setting) misalnya dengan menganut aliran-aliran psikologi terkenal, sedangkan Eropa berawal dari praktisi (para dokter terutama dokter kandungan) tanpa memikirkan aspek teoritisnya.
Pada tahun 1919 yakni sesudah perang dunia I, Magnus Hirschfeld mendirikan klinik pertama untuk pemberian informasi dan nasehat tentang masalah seks di Berlin Institute for sexual science. Pusat informasi dan advis yang sama didirikan pula di Vienna pada tahun 1922 oleh Karl Kautsky dan kemudian pusat lain didirikan lagi di Berlin tahun 1924. Usaha lain segera diorganisir yaitu di negeri-negeri Eropa Utara terutama di Denmark dan Swedia.
Sekitar tahun 1932 terdapat beberaoa ratus pusat-pusat konseling perkawinan dan keluarga (marriage and family counseling) di Jerman dan Austria. Pusat-pusat ini memberikan informasi mengenai keluarga berencana, perkawinan, dan konseling keluarga (family counseling). Pada saat itu masyarakat telah menerima anggapan bahwa masalah-masalah perkawinan dan keluarga hendaklah dibantu oleh tenaga-tenaga profesional yang telah dilatih menangani masalah-masalah tersebut. Periode ini datang dan berakhir dengan timbulnya kekuasaan Hitler di Jerman.
Di AS ada dua penentu yang masing-masing berkaitan dalam perkembangan gerakannya: (1) adanya perkembangan pendidika keluarga yang diusahakan secara “academic settings” dan kemudian menjadi perndidikan orang dewasa sebagai setting lain; (2) munculnya konseling perkawinan dan keluarga terutama dalam masalah-masalah hubungan diantara anggota keluarga (suami, isteri, dan anak-anak dalam konteks kemasyarakatan).

B.   Sejarah Baru Konseling Keluarga
            Istilah family counseling (konseling keluarga) sama dengan family therapy, dimana yang terakhir itu lebih popular di AS. Sebabnya pada masa perkembangan selanjutnya konseling keluarga lebih banyak digarap oleh para terapis dibidang psikiatri. Sebelumnya di AS lebih terkenal istilah family counseling (konseling keluarga), karena pelopor sosiolog Groves.
Pada tahun 1957 dalam sidang tahunan American Orthopsychiatric Association (AOA) oleh Bowen dicatat sebagai munculnya family therapy tingkat nasional, dimana pada bulan Mei 1957 terjadi rapat seksi tentang keluarga pada bidang AOA itu. Dalam sidang itu dapat dicatat: (1) muncul kesadaran diantara para pelopor untuk gerakan itu: (2) muncul karir praktik keluarga pada terapis-terapis yang kurang berpengalamanan.
Dekade 60-an adalah dekade anak dan remaja dalam gerakan family therapy (Olso et.a 1980 dalam Willis, 2011;27) . Jelasnya pada dekade ini muncul pengujian ide-ide dalam literature dan perkembangan family therapy secara nasional di AS. Munculnya psikiatris Donald Jackson, dan kemudian Bateson Project sampai tahun 1962. Jackson mendirikan Mental Research Institute (MRI) di palo Alto. Kemudian bersama Ackerman tahun 1981 ia menerbitkan jurnal “Family Process” yang merupakan jurnal pertama yang berisi teori tentang family therapy, juga tentang terapi dan risetnya. Jackson menaruh kepedulian terhadap komunikasi antara penelitian klinis dengan masalah-masalah keluarga. MRI menaruh kepedulian utama terhadap family therapy itu.

C.   Sejarah Konseling Keluarga di Indonesia
            Perkembangan konseling kelurga di Indonesia tertimbun oleh semarak perkembangan bimbingan dan konseling di sekolah. Bimbingan dan konseling di sekolah  pada masa tahun 60-an bahkan smapai saat ini dirasakan sebagai suatu kebutuhan, karena banyak sekali masalah-masalah siswa ,seperti kesulitan belajar, penyesuaian sosial, dan masalah perilaku siswa yang tidak dapat dipecahkan oleh guru biasa. Jadi diperlukan guru BK untuk membantu siswa.
Namun sejak awal, lulus BK ini memang sangat sedikit, sehingga sekolah mengfambil kebijakan menjadi guru biasa merangkap BK. Hal ini telah mencemarkan nama BK karena banyak perlakuan guru BK yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip BK, seperti memarahi siswa, bahkan ada yang memukul.
Mengenai kasus keluarga, banyak juga ditemukan disekolah seperti sisiwa yang menyendiri dan merenung. Selidik punya selidik, ternyata kelurganya berantakan, misalnya ayah ibu bertengkar dan bercerai.

Beberapa indikator perkembangan BK adalah sebagai berikut:
a.       Guru pembimbing tidak secara khusus menangani masalah keluarga, akan tetapi disambilkan dalam penanganan masalah kesulitan belajar, penyesuaian belajar dan pribadi siswa. Guru-guru pembimbing sekolah menemukan masalah-masalah kesulitan belajar dan masalah lainnya seperti sosial dan pribadi siswa, berkaitan dengan keadaan sosial-psikologis kelurga. Misalnya,kesulitan belajar siswa diduga bersumber dari ketidakharmonisan komunikasi antar anggota keluarga dan adanay kepincangan dalam sistem keluarga.
b.      Terjadi anggapan yang keliru bahwa konseling keluarga adalah bimbingan bagi para calon ibu dan bapak yang akan memasuki hidup berumah tangga. Mereka ini memerlukan bimbingan keluarga, anggapan ini masih terjadi hingga tahun 1983.
c.       Pada tahun 1983, di Jurusan BK IKIP Bandung dirintislah oleh penulis pendiri, menjadikan konseling kelurga sebagaimana yang ada di Negara asalnya yakni Amerika Serikat. Orientasi konseling keluarga adalah pengembangan individu anggota keluarga melalui sistem keluarga yang mantap dan komunikasi anatar anggota keluarga yang harmonis.

D.  Tokoh-Tokoh Konseling Keluarga
a. Virginia Satir
Virginia Satir adalah seorang psikiatris pekerja sosial yang berafiliasi dengan Chicago Psychiatric Institute (CPI). Satir bersama Jackson di MRI mengembangkan pola-pola komunikasi dalam keluarga. Satir menyumbangkan kemampuannya dalam menafsirkan maupun mempraktikkan formulasi-formulasi secara kompleks yang terungkap dalam berbagai metodenya. Buku publikasinya yang terkebal ialah “Conjoint Family Therapy” mengemukakan desimilasi family therapy sebagai metode.
Setelah meninggalkan MRI, Satir adalah orang pertama yang menjadi direktur Esalen Institute di Big Sur, California. Saat itu ia merupakan orang pertama yang terkenal dalam pengajaran dan latihan dalam psikologi humanistik. Pusat perhatian dalam Esalen ialah tentang pertumbuhan, kesadaran, dan perasaan yang sama dengan minat perkembangan dalam proses sensori.

b. Jay Haley
Ketika Bateson Project berakhir tahun 1962, Jay Haley bergabung dengan Satir dan Jackson di MRI. Menurut Haley perjumpaan terapeutik ditandai oleh situasi yang paradoks, pengertian, dan manajemen dalam arah terapi yang efektif. Haley menyarankan ketika terapis membangun suatu kerangka yang penuh kebaikan dimana perubahan sedang berlangsung, si terapis juga membolehkan kliennya melanjutkan perilaku yang tak berubah dan membiarkan paradoks itu selama perilaku tanpa perubahan itu masih ada.
Tujuan terapi menurut Haley adalah mendefinisikan dan mengubah hierarki keluarga yang dicapai melalui perjuangan kekuatan terapeutik yang ditandai oleh seleksi bertujuan dari terapis dan pelaksanaan strategi interventif. Bagaimana perubahan terjadi dan bagaimana gejala-gejala berkembang bukanlah hal yang penting bagi Haley. Bagaimana insight dan kesadaran terjadi, dan pengetahuan tentang sistem keliarga, tidak relevan dengan terapi Jay Haley.

c. Salvadore Minuchin
Keluar dari Mental Research Institute (MRI),Haley bergabung dengan Minuchin di Klinik Bimbingan Anak Philadelhpia (tahun 60-an). Menurut Minuchin, faktor-faktor penting yang menentukan pola interaksi dalam keluarga ialah: struktur keluarga, batas-batas wewenang anggota keluarga, proses sistem keluarga, dan pembagian tugas dalam keluarga.


E.   Pertumbuhan Konseling Keluarga
            Mengikuti penemuan konseling keluarga (family therapy) tahun 50-an dan operasionalisasiannya tahun 60-an, gerakan konseling keluarga, telah tumbuh dalam model yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pertumbuhan itu tampak pada hal-hal: a. rentangan masalah, b. para pakar/ praktisi, c. publikasi ilmiah, dan d. training para anggota.
a.      Rentang Masalah
Mula-mula, terapi keluarga/konseling keluarga bergerak sebagai studi dan menangani kasus-kasus schizophrenia dan kenakalan remaja. Dan kemudian mengembangkan teori-teori tentang interaksi keluarga dengan berbagai masalahnya. Sementara itu juga menanganani masalah-masalah psikotik.
Pada perkembangan selanjutnya menjurus kepada memperkaya dan restorasi mengenai masalah-masalah keluarga yakni masalah alkohol, obat-obat terlarang, kenakalan, sakit tubuh, gangguan emosional, masalah penyesuaian perkawinan, dan hubungan anak dengan orang tua.
b.      Para Pakar/Praktisi
Mereka kebanyakan berasal dari psikiater dan ahli-ahli kesehatan mental yang berjumlah sekitar 4.000 (Hansen cs. 1982). Ada tiga organisasi professional yang besar yang mewadahi para professional itu: (1) American Association for Marital and Family Therapy (AAMFT); (2) The Marital and Family Therapy Section of National Council on Family Relation (MFTNCF); (3) American Family Therapy Association (AFTA).
AAMFT adalah yang terbesar dengan 25 % terapis bergabung didalamnya dan beranggotakan 10.300 orang pada tahun 1983 (dibandingkan 1967 hanya 973 anggota).
MFTNCF adalah yang tertua yang mengutamakan terhadap kehidupan keluarga dan kualitasnya. Reorganisasi hal-hal berdasarkan minat tentang konseling perkawinan. Jumlah anggota 900 (1984).
AFTA adalah termuda dan terkecil. Didirikan 1977 oleh kelompok “Family Process” dan tercatat hanay 150 anggota, kemudian berkembang menjadi 700 professional.
c.       Publikasi
Pada tahun 1958 Nathan Ackerman menerbitkan buku pertama berjudul “The Psychodynamics of Family Life”. Buku ini berisi tentang diagnosis dan treatment mengenai hubungan keluarga. Tahun 1961 Don Jack bergabung dengan Ackerman dan menemukan “Family Procces” yang merupakan jurnal tentang teori-teori keluarga dan terapinya. Sejak saai itu buku-buku dan jurnal-jurnal tentang family therapy berkembang menjamur. Pada tahun 1980 ada 400 judul buku, sedang tahun 1970 hanya 200 judul saja.
d.      Training
Dalam tahun 1955 latihan family training baru dilima lokasi di seluruh AS. Tahun 175 pusat latihan di AS dan Eropa, Kanada, Mexico, Australia. Demekian juga pusat-pusat latihan di jurusan psikologi, psikiatri, dan social work. Antara 1970-1980 tercatat 4.000 mahasiswa yang dilatih ditambah kegiatan seminar dan workshop. Keseluruhan terlibat kira-kira 10.000.

F.    Klasifikasi Konseling Keluarga
Dalam proses perkembangan konseling keluarga terdapat dua dimensi orientasi:
1. Orientasi Praktis
Orientasi praktis tahun 60-an lebih menekankan bahwa kebenaran tentang perilaku tertentu diperoleh dari pelaksanaan proses konseling di lapangan. Gaya kepribadian konselor berorientasi praktis dibagi menjadi dua, yakni:
a.       Gaya Konduktor. Kepribadiannya hebat, giat, dapat menguasai audience sehingga mereka terpana. Kadang-kadang ada pula yang mengkritik dengan sadis, manipulatif, pamer dan tidak sensitif. Dalam sesi-sesi konseling para konduktor itu berada di dalam situasi mngomandoi secara penuh.
b.      Gaya Reaktor. Kepribadian konselornya cenderung tidak menguasai, menggunakan taktik secara dinamika kelompok di keluarga. Terapis dengan taktiknya menggunakan sindiran yang sering dikutip dari tulisan-tulisan di koran/majalah tentang bahaya anggota keluarga yang berantakan, tenggelam, kacau, dan lain-lain.

2. Orientasi Teoritis
Sampai tahun 70-an banyak konselor masih berbeda-beda asumsinya dalam hal konseling keluarga, karena mereka berbeda pandangan terhadap observasi lapangan. Pada tahun 1970 muncul kelompok bagi peningkatan psikiatri (The Group for Psychiatry-GAP). Hasil penelitiannya terhadap 300 responden terapis/konselor dari berbagai disiplin ilmu yang terkait pada konseling keluarga, yang menghadiri konferensi The American Orthopsychiatric Association (AOA) pada tahun 1965 dan 1966.
Dari penelitian itu GAP menemukan data sebagai berikut:
a.       Konselor sangat dipengaruhi oleh prakteknya.
b.      Belief dan action mewarnai praktek.
c.       Para praktisi dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang kuat seperti Virginia Satir, Jackson, Nathan Ackerman, Jay Haley dan Bowen.
d.      Para praktisi juga dipengaruhi oleh kondisi geografisnya masing-masing.
e.       Kerangka teori yang mereka ikuti dalam konseling keluarga adalah enam aliran yaitu: Psychodinamic, Behavioral, Learning, Small Group, Family System Theory, dan Existential. Dari enam teori itu ada dua yang berkuasa yakni: Psychodinamic dengan fokus kepada kepercayaan tentang dinamika kepribadaian anggota keluarga. Kedua, teori sistem dalam Keluarga (Family System Theory) dengan fokus analisisnya pada dinamika hubungan interpersonal dari anggota keluarga secara sistematik.

Nathan Ackerman enggan sekali mengatakan bahwa keluarga itu adalah suatu sistem. Ia memandang bahwa keluarga sebagai unit utama bagi sosialisasi kepribadian. Sedangkan Bowen dan Satir berusaha menggabungkan pemahaman tentang individu dengan level keluarga sebagai sistem. Khususnya Bowen, memandang keluarga sebagai sistem emosional dan tujuan terapeutik ialah keluarga sebagai sistem. Jackson dan Haley tampaknya selalu memelihara hubungan interpersonal dalam proses terapeutik untuk mencapai perubahan.
Tahun 80-an: Menuju Konstruk yang Lebih Luas
Dekade 80-an ditandai oleh adanya pengorganisasian dalam konseling keluarga dan bermunculannya literatur yang makin banyak dalam bidang tersebut. Susan Jones dalam bukunya “Family Therapy” mengemukakan perbandingan-perbandingan pendekatan dalam konseling keluarga, yaitu:
a.       Integratif (Ackerman) tidak menganggap keluarga sebagai sistem, tempat patologi berpusat pada bobot sama terhadap internal dan eksternal serta kemacetan dalam fungsi keluarga adalah ketidakstabilan dan kekauan hubungan keluarga.
b.      Psychoanalytic (Farmo, Sterlin, Grotjan) menganggap keluarga sebagai sistem psikologis, memberikan penekanan pada internal, serta memusatkan kemacetan fungsi keluarga pada pengambilan figur orang tua ke dalam diri.
c.       Struktural (Minuchin) menganggap keluarga sebagai suatu sistem struktural transaksional, lebih menekankan kepada eksternal, mengutamakan kemacetan fungsi keluarga pada menjaring atau mengikat lingkungan keluarga.
d.      Interaksional (Jackson, Watslawick, Haley, Satir) menganggap keluarga sebagai sistem komunikasi, memberikan penekanan pada eksternal, serta letak kemacetan fungsi keluarga berada pada kemenduaan aturan keluarga tentang hubungan keluarga.
e.       Bowenian (Bowen) menganggap keluarga sebagai perasaan dan sistem hubungan, memberikan penekanan kepada internal, dan memusatkan kemacetan fungsi keluarga pada pengambilan figur orang tua ke dalam diri.
f.       Social Network (Speck, Attinev, Rueveni) lebih menekankan pada eksternal, kemacetan fungsi keluarga terletak pada j\hilangnya kepercayaan diri dalam jaringan sosial keluarga.
g.      Behavioral (Patterson) menggap keluarga sebagai sistem yang saling berpautan, hanya menekankan kepada eksternal, letak kemacetan fungsi keluarga terdapat pada belajar yang salah suai.
   http://mylifeiscounselor.blogspot.co.id/2015/03/sejarah-konseling-keluarga.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS

Nama           :Mariyati                       Jurusan             :BimbinganDan Konseling Nim              :2014 141 106              Mata Kuliah      :Studi Kasus Kelas            :6/C                               Dosen Pengampu :Mirnayenti, M.Pd RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS 1.     Pendekatan Umum Pendesainan Studi Kasus a.     Definisi Desain Penelitian Desain penelitian adalah keseluruha...

pemikiran Friederich Wilhelm August Froebel

BAB I PENDAHULUAN 1.1    Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang, dimana memiliki sasaran yang berperan dalam melaksanakan pembangunan disegala sektor, baik di sektor industri, perdagangan maupun di sektor pendidikan. Dalam menunjang keberhasilan pembangunan di setiap sektor, maka perlunya peranan pendidikan yang menempatkan manusia sebagai kedudukan sentral dalam pembangunan. Pentingnya peranan pendidikan dalam pembangunan di setiap sektor, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan berperan sebagai upaya pencerdasan, pendewasaan, kemandirian manusia yang dilakukan oleh perorangan, kelompok dan lembaga. Upaya ini dimulai sejak berabad-abad silam, pola pendidikan mengalami kemajuan yang pesat berkat kerja keras para pakar pendidikan terdahulu. Adapun tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan prasekolah adalah Friederich Wilhelm August Froebel atau lebih dikenal dengan sebutan Froebel. Tokoh ini ...

Makalah Konseling Psikologi Individual

Makalah Model-Model Konseling “ Konseling Psikologi Individual ” Di Susun Oleh : Kelompok 3 Nama Kelompok   : 1.      Ayu soraya 2.      Ema kusna haryati 3.      Ika ayu oktaviani 4.      Mariyati 5.      Rahmad shadat 6.      Yogi firnando Semester/Kelas     : Enam    (6) / C Program Stud i       : Bimbingan dan Konseling Dosen Pengasuh    : Erfan Ramdhani, M.Pd., Kons, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang 201 6/2017 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha P e nyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami . Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW....