Nama :Mariyati Jurusan
:Bimbingan Dan Konseling
Nim :2014 141 106 Mata
Kuliah :BK keluarga
Kelas :5/C Dosen Pengampu :Sysca Purnamasari, M.Pd
KELUARGA SEBAGAI SISTEM
A. DEFINISI
KELUARGA
Menurut Koerner dan Fitzpatrick, definisi tentang keluarga
setidaknya dapat ditinjau berdasarkan tiga sudut pandang, yaitu ;
1. Definisi
Struktural
Keluarga didefinisikan berdasarkan kehadiran
atau ketidakhadiran anggota keluarga, seperti orang tua, anak, dan kerabat
lainnya. Definisi ini memfokuskan pada siapa yang menjadi bagian dari keluarga.
Dari perspektif ini dapat muncul pengertian tentang keluarga sebagai asal usul (families
of origin), keluarga sebagai wahana melahirkan keturunan (family of
procreation), dan keluarga batih (extended family).
2. Definisi
Fungsional
Keluarga didefinisikan dengan penekanan pada terpenuhinya
tugas-tugas dan fungsi-fungsi psikososial. Fungsi-fungsi tersebut mencakup
perawatan, sosialisasi pada anak, dukungan emosi dan materi, dan pemenuhan
peran-peran tertentu. Definisi ini memfokuskan pada tugas-tugas yang dilakukan
oleh keluarga.
3. Definisi
Struktural
Keluarga didefinisikan sebagai kelompok yang mengembangkan
keintiman melalui perilaku-perilaku yang memunculkan rasa identitas sebagai
keluarga (family identity), berupa ikatan emosi, pengalaman historis,
maupun cita-cita masa depan. Definisi ini memfokuskan pada bagaimana keluarga
melaksanakan fungsinya.
B.
STRUKTUR KELUARGA
Dari segi keberadaan anggota keluarga, maka keluarga dapat
dibedakan menjadi 2, yaitu ;
1. Keluarga
Inti
Keluarga inti adalah keluarga yang di dalamnya hanya terdapat
tiga posisi sosial, yaitu : suami-ayah, istri-ibu, dan anak-sibling.
Struktur keluarga yang demikian menjadikan keluarga sebagai orientasi bagi
anak, yaitu keluarga tempat ia dilahirkan. Adapun orang tua menjadikan keluarga
sebagai wahana prokreasi, karena keluarga inti terbentuk setelah pasangan
laki-laki dan perempuan menikah dan memiliki anak. Dalam keluarga inti hubungan
antara suami istri bersifat saling membutuhkan dan mendukung layaknya
persahabatan, sedangkan anak-anak tergantung pada orang tuanya dalam hal
pemenuhan kebutuhan afeksi dan sosialisasi.
2. Keluarga Batih
2. Keluarga Batih
Keluarga batih adalah keluarga yang di dalamnya menyertakan
posisi lain selain ketiga posisi di atas. Bentuk pertama keluarga batih yang
banyak ditemui di masyarakat adalah keluarga
bercabang (stem family). Keluarga bercabang terjadi manakala
seorang anak, dan hanya seorang, yang sudah menikah masih tinggal dalam rumah
orang tuanya. Bentuk kedua dari keluarga batih adalah keluarga berumpun (lineal family). Bentuk ini terjadi
manakala lebih dari satu anak yang sudah menikah tetap tinggal bersama kedua
orang tuanya. Bentuk ketiga dari keluarga batih adalah keluarga beranting (fully extended). Bentuk ini terjadi
manakala di dalam suatu keluarga terdapat generasi ketiga (cucu) yang sudah
menikah dan tetap tinggal bersama.
C.
RELASI DALAM KELUARGA
1.
Relasi Pasangan Suami Istri
Relasi suami istri memberikan landasan dan menentukan warna
bagi keseluruhan relasi di dalam keluarga. Kunci bagi kelanggengan perkawinan
adalah keberhasilan melakukan penyesuaian di antara pasangan. Penyesuaian ini
bersifat dinamis dan memerlukan sikap dan cara berpikir yang luwes. Terdapat
tiga indikator bagi proses penyesuaian sebagaimana diungkapkan Glenn, yakni
konflik, komunikasi, dan berbagi tugas rumah tangga. Menurut David H. Olson dan
Amy K. Olson, terdapat sepuluh aspek yang membedakan antara pasangan yang
bahagia dan yang tidak bahagia, yaitu : komunikasi, fleksibilitas, kedekatan,
kecocokan kepribadian, resolusi konflik, relasi seksual, kegiatan di waktu
luang, keluarga dan teman, pengelolaan keuangan, dan keyakinan spiritual.
Diantara sepuluh aspek tersebut, lima aspek yang lebih menonjol adalah
komunikasi, fleksibilitas, kedekatan, kecocokan kepribadian, dan resolusi
konflik. Kesalahpahaman dalam komunikasi dapat menimbulkan konflik, yang sering
terjadi karena menggunakan gaya komunikasi negatif.
Kunci kebahagiaan pasangan bukanlah menghindari konflik
melainkan bagaimana cara yang ditempuh dalam menyelesaikan konflik. Strategi
resolusi konflik pasangan dapat dibedakan menjadi yang destruktif dan
konstruktif. Dua hal yang sering kali membuat resolusi konflik tidak efektif
adalah tindakan menyalahkan orang dan mengungkit persoalan yang telah lalu.
Adapun resolusi konflik yang konstruktif dapat dilakukan dengan : (a)
menentukan pokok permasalahan; (b) mendiskusikan sumbangan masing-masing pada
permasalahan yang muncul; (c) mendiskusikan jalan keluar untuk menyelesaikan
masalah; dan (d) menentukan dan menghargai peran masing-masing terhadap
penyelesaian masalah.
2. Relasi
Orang Tua-Anak
Menurut Thompson, hubungan menjadi katalis bagi perkembangan
dan merupakan jalur bagi peningkatan pengetahuan dan informasi, penguasaan
keterampilan dan kompetensi, dukungan emosi, dan berbagai pengaruh lain
semenjak dini. Suatu hubungan dengan kualitas yang baik akan berpengaruh
positif bagi perkembangan, misalnya penyesuaian, kesejahteraan, perilaku
prososial, dan transmisi nilai. Sebaliknya, kualitas hubungan yang buruk dapat
menimbulkan akibat berupa malasuai, masalah perilaku, atau psikopatologi pada
diri anak.
Dari tinjauan psikologi perkembangan, pandangan tentang
relasi orang tua-anak pada umumnya merujuk pada teori kelekatan (attachment
theory) yang pertama kali dicetuskan oleh John Browlby. Browlby
mengidentifikasikan pengaruh perilaku pengasuhan sebagai faktor kunci dalam
hubungan orang tua-anak yang dibangun sejak usia dini. Pada masa awal
kehidupannya anak mengembangkan hubungan emosi yang mendalam dengan orang
dewasa yang secara teratur merawatnya. Menurut Chen, kualitas hubungan orang
tua-anak merefleksikan tingkatan dalam hal kehangatan (warmth), rasa
aman (security), kepercayaan (trust), afeksi positif (positive
affect), dan ketanggapan (responssiveness) dalam hubungan mereka.
Menurut Hinde relasi orang tua-anak mengandung beberapa
prinsip pokok, yaitu :
a. Interaksi
a. Interaksi
Orang
tua dan anak berinteraksi pada suatu waktu yang menciptakan suatu hubungan.
Berbagai interaksi tersebut membentuk kenangan pada interaksi di masa lalu dan
antisipasi terhadap interaksi di kemudian hari.
b. Kontribusi Mutual
Orang
tua dan anak sama-sama memiliki sumbangan dan peran dalam interaksi, demikian
juga terhadap relasi keduanya.
c. Keunikan
Setiap
relasi orang tua-anak bersifat unik yang melibatkan dua pihak, dan karenanya
tidak dapat ditirukan dengan orang tua atau dengan anak yang lain.
d. Pengharapan Masa Lalu
d. Pengharapan Masa Lalu
Interaksi
orang tua-anak yang telah terjadi membentuk suatu cetakan pada pengharapan keduanya.
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, orang tua akan memahami bagaimana
anaknya akan bertindak pada suatu situasi. Demikian pula sebaliknya anak kepada
oramg tuanya.
e. Antisipasi Masa DepanKarena relasi
orang tua-anak bersifat kekal, masing-masing membangun pengharapan yang
dikembangkan dalam hubungan keduanya.
3.
Relasi Antarsaudara
Hubungan dengan saudara dapat mempengaruhi perkembangan
individu, secara positif maupun negatif tergantung pola hubungan yang terjadi.
Pada masa kanak-kanak, pola hubungan dengan sibling dipengaruhi oleh
empat karakteristik, yaitu : jumlah saudara, urutan kelahiran, jarak kelahiran,
dan jenis kelamin. Penelitian Powell dan Steelman menemukan bahwa kombinasi
antara jumlah saudara dan jarak kelahiran yang dekat berpengaruh negatif
terhadap prestasi akademik dibandingkan dengan yang memiliki jarak kelahiran
yang jauh. Pola hubungan antara saudara kandung juga dipengaruhi oleh cara
orang tua dalam memperlakukan mereka. Perlakuan orang tua yang berbeda terhadap
anak dapat berpengaruh pada kecemburuan, gaya kelekatan, dan harga diri yang
pada gilirannya bisa menimbulkan distres pada hubungan romantis di kemudian
hari.
Menurut Dunn, pola hubungan antara saudara kandung dicirikan
oleh tiga karakteristik. Pertama, kekuatan emosi dan tidak terhambatnya
pengungkapan emosi tersebut. Emosi yang menyertai hubungan dengan saudara dapat
berupa emosi negatif maupun emosi positif. Kedua, keintiman yang membuat
antarsaudara kandung saling mengenal secara pribadi. Keintiman ini dapat menjadi
sumber bagi dukungan maupun konflik. Ketiga, adanya perbedaan sifat
pribadi yang mewarnai hubungan di antara saudara kandung. Sebagian
memperlihatkan afeksi, keperdulian, kerja sama, dan dukungan. Sebagian yang
lain menggambarkan adanya permusuhan, gangguan, dan perilaku agresif yang
memperlihatkan adanya ketidaksukaan satu sama lain.
Walaupun
berbagai penelitian menunjukkan berbagai hal negatif dalam hubungan
antarsaudara yang dikenal dengan sebutan sibling rivalry, namun
keberadaan saudara kandung juga bermanfaat, antara lain :
a.
Sebagai tempat uji coba (testing ground). Saat bereksperimen dengan
perilaku baru, anak akan mencobanya terhadap saudaranya sebelum menunjukkannya
pada orang tua atau teman sebayanya.
b.
Sebagai guru. Biasanya anak yang lebih besar, karena memiliki pengetahuan dan
pengalaman yang lebih banyak, akan banyak mengajari adiknya.
c.
Sebagai mitra untuk melatih keterampilan negoisasi. Saat melakukan tugas dari
orang tua atau memanfaatkan alokasi sumber daya keluarga, kakak beradik biasanya
akan melakukan negoisasi mengenai bagian masing-masing.
d.
Sebagai sarana untuk belajar mengenai konsekuensi dari kerja sama dan konflik.
e. Sebagai sarana untuk mengatahui manfaat dari komitmen dan kesetiaan
e. Sebagai sarana untuk mengatahui manfaat dari komitmen dan kesetiaan
f.
Sebagai pelindung bagi saudaranya.
g.
Sebagai penerjemah dari maksud orang tua dan teman sebaya terhadap adiknya.
h.
Sebagai pembuka jalan saat ide baru tentang suatu perilaku dikenalkan pada
keluarga.
D.
KEBERFUNGSIAN KELUARGA
Menurut Berns, keluarga memiliki lima fungsi dasar, yaitu :
1. Reproduksi
1. Reproduksi
Keluarga
memiliki tugas untuk mempertahankan populasi yang ada di dalam masyarakat.
2. Sosialisasi/Edukasi
2. Sosialisasi/Edukasi
Keluarga
menjadi sarana untuk transmisi nilai, keyakinan, sikap, pengetahuan,
keterampilan, dan teknik dari generasi sebelumnya ke generasi yang lebih muda.
3. Penugasan Peran Sosial
3. Penugasan Peran Sosial
Keluarga
memberikan identitas pada para anggotanya seperti ras, etnik, religi, sosial
ekonomi, dan peran gender.
4. Dukungan Ekonomi
Keluarga
menyediakan tempat berlindung, makanan, dan jaminan kehidupan.
5. Dukungan Emosi/Pemeliharaan
5. Dukungan Emosi/Pemeliharaan
Keluarga
memberikan pengalaman interaksi sosial yang pertama bagi anak. Interaksi yang
terjadi bersifat mendalam, mengasuh, dan berdaya tahan sehingga memberikan rasa
aman pada anak.
Secara umum keberfungsian keluarga merujuk pada kualitas
kehidupan keluarga, baik pada level sistem maupun subsistem, dan berkenaan
dengan kesejahteraan, kompetensi, kekuatan, dan kelemahan keluarga.
Keberfungsian keluarga dapat dinilai dari tingkat kelentingan (resiliency)
atau kekukuhan (strenght) keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan.
1.
Kelentingan
Keluarga
Pendekatan kelentingan keluarga bertujuan untuk mengenali dan
membentengi proses interaksi yang menjadi kunci bagi kemampuan keluarga untuk
bertahan dan bangkit dari tantangan kehidupan yang mengganggu. Walsh
mendefinisikan kelentingan sebagai kemampuan untuk bangkit dari penderitaan,
dengan menjadi lebih kuat dan lebih memiliki sumber daya. Terdapat tiga faktor
yang menjadi kelentingan keluarga, yaitu sistem keyakinan, pola
pengorganisasian keluarga, dan proses komunikasi dalam keluarga. Keyakinan
merupakan lensa yang digunakan untuk memandang dunia dan kehidupan. Sistem
keyakinan merupakan inti dari kelentingan keluarga yang mencakup tiga aspek,
yaitu kemampuan untuk memaknai penderitaan, berpandangan positif yang
melahirkan sikap optimis, dan keberagaman.
Pola pengorganisasian keluarga mengindikasikan adanya
struktur pendukung bagi integrasi dan adaptasi dari unit atau anggota keluarga.
Pola pengorganisasian keluarga mencakup tiga aspek, yaitu fleksibilitas,
keterhubungan (connectedness), serta sumber daya sosial ekonomi.
Komunikasi yang baik merupakan faktor yang penting bagi keberfungsian dan
kelentingan keluarga. Komunikasi mencakup transmisi, keyakinan, pertukaran
informasi, pengungkapan perasaan, dan proses penyelesaian masalah. Tiga aspek
komunikasi yang menjadi kunci bagi kelentingan keluarga adalah : (a) kemampuan
memperjelas pesan yang memungkinkan anggota keluarga untuk memperjelas situasi
krisis; (b) kemampuan untuk mengungkapkan perasaan yang memungkinkan anggota
keluarga untuk saling berbagi, saling berempati, berinteraksi serta
menyenangkan, dan bertanggung jawab terhadap masing-masing perasaan dan
perilakunya; dan (c) kesediaan berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah
sehingga yang berat sama dipikul dan yang ringan sama dijinjing.
2.
Kekukuhan
Keluarga
Kekukuhan keluarga merupakan kualitas relasi di dalam
keluarga yang memberikan sumbangan bagi kesehatan emosi dan kesejahteraan (well-being)
keluarga. Defrain dan Stinnett mengidentifikasi enam karakteristik bagi
keluarga yang kukuh, sebagai berikut :
a. Memiliki Komitmen
Setiap anggota keluarga memiliki komitmen untuk saling
membantu meraih keberhasilan, sehingga semangatnya adalah "satu untuk
semua, semua untuk satu". Intinya adalah terdapat suatu kesetiaan terhadap
keluarga dan kehidupan keluarga menjadi prioritas.
b. Terdapat Kesediaan untuk Mengungkapkan
Apresiasi
Setiap orang menginginkan apa yang dilakukannya diakui dan
dihargai, karena penghargaan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia.
Ketahanan keluarga akan kukuh manakala ada kebiasaan mengungkap rasa terima
kasih. Setiap anggota keluarga dapat melihat sisi baik dari anggota lainnya,
dan selalu terbuka untuk mengakui kebaikan tersebut.
c. Terdapat Waktu untuk Berkumpul Bersama
Keluarga yang kukuh memiliki waktu untuk melakukan kegiatan
bersama dan sering melakukannya. Misalnya makan bersama, bermain bersama, dan
bekerja bersama. Secara berkala keluarga melakukan aktivitas di luar rutinitas,
misalnya rekreasi. Seringnya kebersamaan membantu anggota keluarga untuk
menumbuhkan pengalaman dan kenangan bersama yang akan menyatukan dan menguatkan
mereka
d. Mengembangkan Spiritualitas
Ikatan spiritual memberikan arahan, tujuan, dan perspektif.
Ibarat ungkapan, keluarga-keluarga yang sering berdoa bersama akan memiliki
rasa kebersamaan.
e. Menyelesaikan Konflik serta Menghadapi Tekanan dan Krisis dengan efektif
Setiap keluarga pasti mengalami konflik, namun keluarga yang kukuh akan bersama-sama menghadapi masalah yang muncul bukannya bertahan untuk saling berhadapan sehingga masalah tidak terselesaikan. Ketika keluarga ditimpa krisis, keluarga yang kukuh akan bersatu dan menghadapinya bersama-sama dengan saling memberikan kekuatan dan dukungan.
e. Menyelesaikan Konflik serta Menghadapi Tekanan dan Krisis dengan efektif
Setiap keluarga pasti mengalami konflik, namun keluarga yang kukuh akan bersama-sama menghadapi masalah yang muncul bukannya bertahan untuk saling berhadapan sehingga masalah tidak terselesaikan. Ketika keluarga ditimpa krisis, keluarga yang kukuh akan bersatu dan menghadapinya bersama-sama dengan saling memberikan kekuatan dan dukungan.
f. Memiliki Ritme
Keluarga yang kukuh memiliki rutinitas, kebiasaan, dan
tradisi yang memberikan arahan, makna, dan struktur terhadap mengalirnya
kehidupan sehari-hari. Mereka memiliki aturan, prinsip yang dijadikan pedoman.
Ritme atau pola-pola dalam keluarga ini akan memantapkan dan memperjelas peran
keluarga dan harapan-harapan yang dibangunnya. Harmoni dan ritme mungkin
berubah sebagai hasil dari kreativitas, akan tetapi tetap saja hasilnya adalah
musik yang indah.
SUMBER
:
Lestari, Sri. 2012. Psikologi Keluarga : Penanaman Nilai dan Penanganan
Konflik dalam Keluarga. Jakarta : Kencana.
Lestari, Sri. 2012. Psikologi Keluarga : Penanaman Nilai dan Penanganan
Konflik dalam Keluarga. Jakarta : Kencana.
Komentar
Posting Komentar