Langsung ke konten utama

Pengertian Psikologi dan Keluarga



Modul  I Mata Kuliah                       : Psikologi Perkembangan
Dosen Pengampuh                : Dwi Anggraini Hartanti, M.Pd
Ø  Pengertian Psikologi  dan Keluarga
v  PSIKOLOGI
Secara Etimologi Psikologi berasal dari kata PSYCHE yang berarti Jiwa dan LOGOS yang berarti Ilmu. Maka dapat diartikan PSIKOLOGI adalah Ilmu yang mempelajari gejala jiwa yang Nampak pada tingkah laku.
v  KELUARGA
Menurut para ahli Keluarga adalah :
Ø  Keluarga menurut sejumlah ahli adalah sebagai unit sosial-ekonomi terkecil dalam masyarakat yang merupakan landasan dasar dari semua institusi, merupakan kelompok primer yang terdiri dari dua atau lebih orang yang mempunyai jaringan interaksi interpersonal, hubungan darah, hubungan perkawinan, dan adopsi (UU Nomor 10 Tahun 1992 Pasal 1 Ayat 10; Khairuddin 1985; Landis 1989; Day et al. 1995; Gelles 1995; Ember dan Ember 1996; Vosler 1996).
Ø  Menurut U.S. Bureau of the Census Tahun 2000 keluarga terdiri atas orang-orang yang hidup dalam satu rumah tangga (Newman dan Grauerholz 2002; Rosen (Skolnick dan Skolnick 1997).
Ø  Bailon dan Maglaya
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi satu sama lainnya dalam perannya dan menciptakan dan mempertahankan suatu budaya.
Ø  Johnson’s (1992)
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan darah yang sama atau tidak, yang terlibat dalam kehidupan yang terus menerus, yang tinggal dalam satu atap, yang mempunyai ikatan emosional dan mempunyai kewajiban antara satu orang dengan orang yang lainnya.
 Dst……………………………………


Dari Pengertian dua kata tersebut, maka Psikologi Keluarga adalah Ilmu yang mempelajari gejala jiwa dalam kehidupan keluarga. Setiap keluarga terdiri dari individu-individu yang memiliki gejala jiwa dan tingkah laku yang berbeda-beda, dengan mempelajari setiap gejala jiwa yang nampak dari setiap individu anggota keluarga maka kelak setiap permasalahan yang timbul dalam sebuah keluarga dapat dintervensi dengan cara yang lebih bijak.

Ø  Fungsi Keluarga
Secara umum fungsi keluarga meliputi  pengaturan seksual, reproduksi, sosialisasi, pemeliharaan, penempatan anak dalam masyarakat,pemenuhan kebutuhan perseorangan, dan kontrol sosial

1.      Pengaturan seksual
Dapat dibayangkan kekacauan yang terjadi apabila tidak ada pengaturan seksual. Misalnya, jika anak tidak memiliki ayah yang sah, maka kewajiban – kewajiban itu menjadi kacau atau tidak dijalankan, atau bertentangan dengan kewajiban – kewajiban yang telah ditetapkan. Ayah tadi tidak dapat memelihara anaknya, dan anaknya tidak diakui  keluarga ayahnya, maka kedudukan si anak meragukan serta pengalaman sosialisasinya tidak lengkap. Oleh karena itu, pada setiap masyarakat dijumpai norma –norma keabsahan , yaitu kelahiran diluar pernikahan tidak dibenarkan. Adanya incest taboo berupa larangan hubungan seks antara kerabat yang terlalu dekat, secara sosiologis bermaksud mencegah berkembangnya persaingan seksual dikalangan keluarga sendiri yang berpotensi merusak, serta mengikat keluarga yang berbeda dalam masyarakat melalui pernikahan. Hal ini mendorong  integrasi sosial dan solidaritas yang menyeluruh. Adanya norma – norma keabsahan dan kewajiban peran dalam keluarga , sudah merupakan hukum sosial.
2.      Reproduksi
Fungsi yang banyak diharapkan oleh orang dalam membentuk keluarga adalah memiliki keturunan.  Mendapatkan keturunan dan meneruskan keturunan berkaitan dengan fungsi reproduksi. Penyaluran aktivitas seksual yang sah diatur dalam lembaga sosial ini.
Namun , berkembangnya teknologi kedokteran saat ini , selain memberikan dampak positif bagi keluarga berencana, dapat juga menimbulkan masalah yang terpisahnya kepuasan seksual dengan pembiakan. Kehadiran anggota baru dapat dipandang sebagai penunjang atau malapetaka, bagi masyarakat tani dapat dikatakan menunjang, terutama dalam penyediaan tenaga kerja. Bagi masyarakat yang kehidupannya baik seperti di Eropa, kehadiran anak dikeluarga (jumlah anak) lebih dari dua dapat mempengaruhi status sosialnya. Hal ini berkaitan dengan apa yang disebut teori kapilaritas dalam masalah kependudukan. Pandangan terhadap punya anak bermacam-macam, ada yang mengharapkan untuk jaminan bagi orang tua dimasa depan, ada yang bermotivasi agama, ada yang alasan kesehatan, dan sebagainya. Yang  jelas, disuatu negara bila alat kontraseptifnya mudah diperoleh dan banyak digunakan, ada keengganan untuk memiliki anak, maka angka senggama sebelum pernikahan menjadi meningkat (William J. Goode,1983).
3.   Fungsi  Perlindungan dan Pemeliharaan
Proteksi dan perlindungan merupakan salah satu fungsi yang harus dipenuhi oleh keluarga. Perlindungan yang dilakukan oleh keluarga baik secara fisik maupun mental. Perlindungan yang dilakukan bertujuan agar anggota keluarga memperoleh ketentraman baik  lahir dan batin. Dengan begitu anggota keluaraga akan tenteram, damai, dan terlindungi.
Jasmani :Sandang,pangan dan papan
Rohani : Kasih sayang , keamanan, pendidikan
4.   Fungsi Pendidikan
Keluarga merupakan tempat yang pertama dan utama untuk pembentukan karakter dan pribadi anak. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan paling utama dalam hal pendidikan karena  anak mengenal pendidikan pertama adalah dilingkungan keluarga dan merupakan dasar untuk perkembangan berikutnya di luar lingkungan keluarga.
Ø  Dalam mendidik anak orang tua cenderung menggunakan pola asuh tertentu. Menurut dr. Baumrind, terdapat 3 macam pola asuh orang tua yaitu Demokratis, Otoriter dan Permisif.
·         Demokratis
Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu dalam mengendalikan mereka. Orang tua dengan perilaku ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. orang tua tipe ini  juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. (Ira Petranto, 2005). Misalnya ketika orang tua menetapkan untuk menutup pintu kamar mandi ketika sedang mandi dengan diberi penjelasan, mengetuk pintu ketika masuk kamar orang tua, memberikan penjelasan perbedaan laki-laki dan perempuan, berdiskusi tentang hal yang tidak boleh dilakukan anak misalnya tidak boleh keluar dari kamar mandi dengan telanjang, sehingga orang tua yang demokratis akan berkompromi dengan anak. (Debri, 2008).
·         Otoriter
Pola asuh ini sebaliknya cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman misalnya, kalau tidak mau makan, maka tidak akan diajak bicara. Orang tua tipe ini cenderung memaksa, memerintah dan menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi dan dalam berkomunikasi biasanya bersifat satu arah. (Ira Petranto, 2005). Misalnya anaknya harus menutup pintu kamar mandi ketika mandi tanpa penjelasan,  anak laki-laki tidak boleh bermain dengan anak perempuan, melarang anak bertanya kenapa dia lahir, anak dilarang bertanya tentang lawan jenisnya. Dalam hal ini tidak mengenal kompromi. Anak suka atau tidak suka, mau atau tidak mau harus memenuhi target yang ditetapkan orang tua. Anak adalah obyek yang harus dibentuk orang tua yang merasa lebih tahu mana yang terbaik untuk anak-anaknya. (Debri, 2008).
·         Permisif
Pola asuh ini memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur/ memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka, sehingga seringkali disukai oleh anak. (Ira Petranto, 2005). Misalnya anak yang masuk kamar orang tua tanpa mengetuk pintu dibiarkan, telanjang dari kamar mandi dibiarkan begitu saja tanpa ditegur, membiarkan anak melihat gambar yang tidak layak untuk anak kecil, degan pertimbangan anak masih kecil. Sebenarnya, orang tua yang menerapka pola asuh seperti ini hanya tidak ingin konflik dengan anaknya. (Debri, 2008).
5.    Sosialisasi
Keluarga  sebagai kelompok primer yang yang di dalamnya terjadi interaksi antar anggotanya dan disitulah terjadi sosialisasi. Menurut St. Vembriarto ( 1999,38) bahwa  Proses sosialisasi adalah proses belajar dimana individu menahan,mengubah impuls-impuls dalam dirinya. Proses individu mempelajari kebiasaan sikap, ide dan pola nilai dan tingkah laku dalam masyarakat. Sifat dan kecakapan yang dipelajari dalam sosialisasi yang disusun dan dikembangkan sebagai suatu sistem dalam diri pribadinya.
Adapun penyebab pentingnya peran keluarga dalam proses sosialisasi adalah:
ü  Keluarga merupakan kelompok kecil yang beriteraksi secara face to face secara tetap sehingga perkembangan anak dapat diikuti dgn cepat oleh orang tuanya.
ü  Motivasi orang tua dalam mendidik anak sangat kuat dikarenakan anak merupakan buah cinta kasih hubungann suatu istri yang perlu untuk di jaga dan di lindungi
ü  Hubungan  sosial dalam keluarga bersifat tetap sehingga orang tua mempunyai peranan penting terhadap proses sosialisasi anak.
Manusia sebagai makhluk dalam evolusinya lebih bergantung kepada kebudayaan, dan bukan kepada naluri dan insting. Masyarakat dan kebudayaannya menjadi tergantung kepada keefektifan sosialisasi, yaitu sejauh mana anak-anak mempelajari nilai-nilai, sikap- sikap, dan tingkah laku masyarakat dan keluarganya. Oleh karena itu, masyarakat harus membentuk atau menuntut unit yang meneruskan nilai – nilai kepada generasi berikutnya. Didalam keluarga seorang anak memperoleh landasan bagi pembentukan kepribadian,sikap, perilaku, dan tanggapan emosinya. Dalam keluarga terdapat norma yang mengikat anggotanya untuk mematuhi pengaturan dalam keluarga. Keluarga dapat dijadikan sebagai pengawas bagi individu yang menjadi anggota didalamnya. Fungsi pengawasan berkaitan dengan pengendalian sosial secara preventif. Dengan pengawasan dan kontrol sosial yang baik, diharapkan setiap anggota keluarga dapat mampu menjalankan semua hak dan kewajiban dengan baik.
6.      Fungsi Afeksi dan Rekreasi
Fungsi afeksi berkaitan dengan kasih sayang, perasaan, dan emosi. Setiap anggota keluarga mempunyai hubungan yang dekat, intim, dan hangat. Fungsi afeksi dapat diperoleh seseorang dari dalam keluarganya. Dalam  lembaga sosial lain sulit ditemukan fungsi sosial yang sedekat dan sehangat fungsi dalam keluarga. Kebersamaan dalam keluarga yang dapat menimbulkan suasana  yang tentram bagi seluruh anggota keluarga sehingga  keluarga merupakan medan rekreasi bagi anggotanya.
7.     Fungsi Ekonomi
Salah satu anggota keluarga yang bertanggung  jawab untuk memenuhi kebutuhan ekonomi adalah ayah. Sebagai kepala keluarga harus dapat memenuhi kebutuhan anggotanya seperti makan, minum, pendidikan, tempat tinggal, pakaian dll. Ketika ayah belum mampu memenuhi kebutuhan seecara baik, maka anggota keluarga lain harus membantu memenuhinya.
8.      Fungsi Status Sosial
Keluarga  menunjukkan suatu dasar status kedudukan bagi anggotanya. Keluarga mewariskan kedudukannya kepada anak-anaknya. Status seseorang dalam masyarakat dapat diusahakan dengan  pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
Goode,wiliam.J.2007.Sosiologi keluarga.Jakarta: Bumi Aksara.
Hendslin,james M.2007.Sosiologi dengan pendekatan membumi.Jakarta:Erlangga.
Ira Petranto. (2005). Pola Asuh Anak. http://www.polaasuhanak.com. (Asscesed, 8th April, 12.15 pm)
Rina M. Taufik. (2007). Pola Asuh Orang Tua. http://www.tabloid_nakita.com. (Asscesed, 8th April, 12.15 pm)
Elizabeth B. Hurlock. (1999). Perkembangan Anak.  Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Theresia S. Indira. (2008).  Pola Asuh Penuh Cinta. http://www.polaasuhpenuhcinta.com
Goldenberg Irene & Goldenberg Herbert, 1999. Family Therapy: A Overview.California: Brooks/Cole Publishing Company Pacific Grove.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS

Nama           :Mariyati                       Jurusan             :BimbinganDan Konseling Nim              :2014 141 106              Mata Kuliah      :Studi Kasus Kelas            :6/C                               Dosen Pengampu :Mirnayenti, M.Pd RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS 1.     Pendekatan Umum Pendesainan Studi Kasus a.     Definisi Desain Penelitian Desain penelitian adalah keseluruha...

pemikiran Friederich Wilhelm August Froebel

BAB I PENDAHULUAN 1.1    Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang, dimana memiliki sasaran yang berperan dalam melaksanakan pembangunan disegala sektor, baik di sektor industri, perdagangan maupun di sektor pendidikan. Dalam menunjang keberhasilan pembangunan di setiap sektor, maka perlunya peranan pendidikan yang menempatkan manusia sebagai kedudukan sentral dalam pembangunan. Pentingnya peranan pendidikan dalam pembangunan di setiap sektor, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan berperan sebagai upaya pencerdasan, pendewasaan, kemandirian manusia yang dilakukan oleh perorangan, kelompok dan lembaga. Upaya ini dimulai sejak berabad-abad silam, pola pendidikan mengalami kemajuan yang pesat berkat kerja keras para pakar pendidikan terdahulu. Adapun tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan prasekolah adalah Friederich Wilhelm August Froebel atau lebih dikenal dengan sebutan Froebel. Tokoh ini ...

Makalah Konseling Psikologi Individual

Makalah Model-Model Konseling “ Konseling Psikologi Individual ” Di Susun Oleh : Kelompok 3 Nama Kelompok   : 1.      Ayu soraya 2.      Ema kusna haryati 3.      Ika ayu oktaviani 4.      Mariyati 5.      Rahmad shadat 6.      Yogi firnando Semester/Kelas     : Enam    (6) / C Program Stud i       : Bimbingan dan Konseling Dosen Pengasuh    : Erfan Ramdhani, M.Pd., Kons, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang 201 6/2017 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha P e nyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami . Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW....