Langsung ke konten utama

RESUME MEMAHAMI MASALAH GANGGUAN MENTAL



Nama   :Mariyati                      Jurusan                                    :Bimbingan Dan Konseling
Nim     :2014 141 106             Mata Kuliah                 :Patologi & Rehabilitas Sosial
Kelas   :5/C                              Dosen Pengampu         :Erfan Ramadhani, M.Pd., kons.

RESUME
MEMAHAMI MASALAH GANGGUAN MENTAL

1.    Memahami dan mengetahui definisi gangguan mental
Gangguan mental menurut perspektif diagnostic and statistical manual of mental disorder (DSM). Adanya gangguan klinis yang bermakna berupa sindrom atau pola perilaku dan psikologi, gejala klinis tersebut  menimbulkan “penderitaan” (disstress), antara lain, dapat berupa rasa nyeri, tidak nyaman, tidak tentram, dan disfungsi organ tubuh. Di samping itu, juga menimbulkan gejala “disabilitas” (disability) dalam aktivitas kehidupan sehari-hari yang biasa dan diperlukan untuk perwatan diri dan kelangsungan hidup.
Menurut kartini kartono (Pasiol Burian : 2016), ganguan mental merupakan bentuk gangguan dan kekacauan fungsi mental yang di sebabkan oleh kegagalan bereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi kejiwaan atau mental terhadap stimulus eksternal dan ketegangan-ketegangan sehingga muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur pada satu bagian, satu organ, atau sistem kejiwaan. Gangguan mental itu merupakan totalitas kesatuan daripada ekspresi mental yang patologis terhadap stimulus sosial yang di kombinasikan dengan faktor-faktor penyebab sekunder lainnya.

2.    Mengetahui penyebab gangguan mental
Menurut Luh Ketut Suryani (Pasiol Burlian : 2016) mengatakan bahwa munculnya gangguan mental (jiwa) terjadi karena tiga faktor yang bekerja sama sebagai berikut;
1.    Faktor biologis
Gangguan mental dari faktor biologi dibuktikan dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh ilmu kedokteran dan psikiater seperti, perbedaan-perbedaan neurotransmiter, biokimia, anatomi otak, dan faktor genetik yang ada hubungannyadengan gangguan mental. Gangguan mental sebagian besar dihubungkan dengan adanya neurotransmiter di otak.
Pembuktian ini menyataka bahwa gangguan mental merupakan penyakit di dalam studi keluarga. Pada studi ini didapatkan bahwa pada keluarga penderita gangguan efektif , lebih banyak menderita gangguan efektif daripda skizofrenia. Skizofrenia erat hubungannya dengan faktor genetik, tetapi psikosis paranoid tidak hubungannya dengan faktor genetik.
Meskipun beberapa peneliti tidak dapat membuktikan hubungan darah mendukung etiologi genetik, hal ini merupakan langkah pertama yang perlu dalam membangun kemungkinan keterangan genetik. Apabila salah satu orang tua mengalami skizofrenia, kemungkinan 15% anaknya mengalami skizofrenia.
 Sementara itu, apabila kedua orang tua menderita, 35-68% anaknya menderita skozofrenia. Kemungkinan skizofrenia meningkat apabila orang tua, anak dan saudara kandung menderita skizofrenia.  Pendapat ini di dukung oleh slater (1996), yang mengatakan angka prevalensi skizofrenia lebih tinggi pada anggota keluarga yang individunya sakit dibandingkan denga angka prevalensi penduduk umumnya.
2.    Faktor psikologis
Hubungan antara peristiwa hidup yang mengancam dan gangguan mental sangat kompleks, tergantung dari situasi, individu, dan kondisi orang itu. Bergantung juga pada bantuan teman dan tetangga selama periode stres. Struktur sosial, perubahan sosial dan tingkat sosial yang dicapai sangat bermakna dalam pengalaman hidup seseorang.
Kepribadian merupakan bentuk ketahanan relatif dari situasi interpersonal yang berulang-ulang khas untuk kehidupan manusia. Perilaku yang sekarang bukan merupakan ulangan imfulsif dari riwayat waktu kecil, tetapi merupakan retensi pengumpulan dan pengambilan kembali.
Setiap penderita yang mengalami gangguan mental fungsional memperlihatkan kegagalan  yang mencolok dalam satu atau beberapa fase perkembangan akibat tidak kuatnya hubungan personal dengan keluarga, lingkungan sekolah, atau dengan masyarakat sekitarnya. Gejala yang diperlihatkan oleh seseorang merupakan perwujudan dari pengalaman lampau, yaitu pengalaman masa bayi sampai dewasa.
3.    Faktor sosiokultural
Adapun timbulnya gangguan mental yang disebabkan oleh sosiokultural dan psikologis yaitu sebagai berikut;
a.    Konflik dengan standar sosial dengan norma etis
Standar dan norma etis merupakan peranan penting dalam memelihara dan mengawetkan masyarakat. Norma etis yaitu jaminan kelestarian hidup manusia, serta mengamankan komunikasi dan lalu lintas kehidupan, perlu ditegakan peraturan untuk membedakan hal yang salah dan hal yang benar, juga hal-hal yang di inginkan dan hal yang harus di tolak.
Namun, sehubungan dengan hal diatas, banyak orang orang yang merasa terbentur atau dihambat oleh macam-macam peraturan, norma dan standar sosial. Mereka mengalami frustasi hebat, mental yang kacau, lalu tergangu kesehatan mentalnya. Bahkan banyak pula peraturan, hukum formal, dan norma etis yang di salahgunakan oleh para penguasa dan para pejabat untuk menindas rakyat kecil sehingga menyebarkan kebingungan, ketegangan, ketakutan, penderitaan, dan kesengsaraan. Dengan sendirinya, semua hal tersebut menjadi penyebab timbulnya macam-macam bentuk gangguan mental.
b.    Konflik budaya
Pertemuan antara beragam budaya kadang kala  berjalan secara lancar, damai, tenang dan lancar. Akan tetapi, sering juga diiringi dengan bentrokan, pertentangan, dan konflik-konflik serius sehingga menimbulkan konflik budaya. Konflik budaya juga sering mengakibatkan shock dan banyak kebingungan sehingga orang sulit melakukan adaptasi terhadap perubahan sosial yang berlansung.  Konflik budaya dapat berupa;
i.      Konflik batin dalam diri pribadi
ii.    Konflik individu  dengan masyarakat
iii.  Konflik antar nilai-nilai dengan lingkah laku dua kelompok atau lebih.
Dalam suasana yang penuh konflik itu, banyak tekanan dan paksaan yang sifatnya menindas sehingga orang selalu diliputi ketakukan, dan tidak terintegrasi kehidupannya.
c.    Masa transisi
Masa transisi yaitu proses berlangsungnya loncatan-loncatan dari satu periode satu ke periode lain dan ditandai dengan adanya banyak  perubahan. Pada saat demikian banyak terjadi kemelut dan kegoncangan sebagai akibat tidak berlakunya norma-norma sosial dan politik lama dan mantapnya norma-norma baru. Dengan demikian, kontrol dan sanki sosial menjadi kendur dan kekuatan hukum tidak di taati.  Orang bertingkah semaunya sendiri, dengan masing-masing, juga mendorong dan melanggar hak-hak orang lain.
Selain itu, longgarnya kontrol dan sanki sosial disebabkan terjadinya urbanisasi.
d.   Memanjaknya aspirasi materil
Pada zaman modern dengan aspirasi materil yang tinggi ini banyak yang memperebutkan status sosial tinggi, khususnya dengan cara-cara yang tidak sehat dan kurang wajar. Kebudayaan zaman modern banyak dicirikan dengan kebudayaan materil. Artinya kebahagian hidup di ukur dengan aspirasi  materil seperti, uang, kekayaan, dan kemewahan hidup.
Dengan pemikiran tersebut menyebabkan timbulnya ketegangan dan konflik-konflik terbuka dan tertutup,  serta konflik internal dan eksternal dalam usaha mencapai tujuan hidup tersebut.  Sehingga unsur seperti ini menjadi persemaian yang subur bagi tumbuhnya gangguan mental dan macam-macam penyakit mental lainnya.
e.    Keluarga yang tidak normal
Apabila keluarga mengalami disfungsi, maka hal ini menimbulkan rasa tidak aman secara emosional. Batin mereka sangat mendera dan tertekan. Timbul rasa malu terhadap lingkungan atas perbuatan orang tuanya tersebut. Muncul pula rasa bersalah serta kecewa dan menyesal. Semuanya menimbulkan kepedihan dan kesengsaraan batin yang hebat sehingga banyak terjadi konflik batin yang serius dan mereka pada umumnya mengalami gangguan mental dengan satu atau dua dari ciri penyimpangan yang khas.
f.     Proteksi yang berlebihan
Proteksi yang berlebihan terkhusus yang di lakukan orang tua terhadapa anaknya mengakibatkan anak kurang berani  dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup setiap harinya. Anak menjadi tidak mampu berdiri sendiri, selalu merasa ragu dan bimbang, serta tidak mempunyai kepercayaan diri dan menjadi anak yang lemah secara mental. Ia juga tidak mempunyai kemauan sedikitpun ubtuk berbuat sesuatu jika tidak ada ayah atau ibu didekatnya.
Ada pula orang tua yang sibuk, sehingga orang tuanya memanjakan anaknya denga cara memberi kemewahan yang berlebihan. Anak-anak semacam ini banyak menjadi rusak dan sangat manja. Pada umumnya akibat hal tersebut, berkembanglah nafsu berkuasa yang menyala-nyala, dan selalu ingin mendominasi lingkungannya. Karena tingkah laku tersebut meresaka selalu di hadapkan dengan sanki hukum dan sosial, atau menjadi masalah sosial. Biasanya mereka tidak mampu atau tidak sanggup menghadapi kesulitan hidupnya betapa pun kecilnya itu. Akhirnya, mereka banyak mengalami konflik baik secara eksternal maupun internal atau batun yang serius.
g.    Anak-anak yang ditolak
Penolakan yang terjadi pada anak biasanya disebabkan oleh pasangan orang tua yang tidak dewasa secara psikis, yang tidak mau bertanggung jawab sebagai ayah dan ibu. Melainkan mereka menggap anak sebagai beban dan rintangan bagi karier dan ambisi orang tuanya. Sehingga berkembanglah keengganan, kecemasan, kebencian, dendam dan kecewaan. Kemudian muncul terdensi sekludif untuk mengasingkan diri, serta menjadi apatis dan putus asa, ingin melakukan kejahatan serta bersikap sadis terhadap siapapun terutama anaknya sendiri. Anak-anak yang diabaikan, ditelantarkan, ditolak bahkan diperlakukan dengan kejam. Pada akhirnya anak-anak yang di “asuh”  oleh orang tua yang demikian banyak yang melakukan tindakan kriminal, asosial, atau menderita gangguan mental.

h.    Cacat jasmani
Anak-anak yang mempunyai cacat jasmani, biasanya merasa malu dan menderita batin. Masa depannya merasa suram tanpa harapan dan dirinya selalu dibayangi rasa ketakukan, dan kebimbangan sehingga kondisi sistem sarafnya selalu dalam keadaan tegang dan kacau. Karena perasaan-perasaan negatif tersebut mental menjadi anak menjadi terganggu dan kehidupan emosionalnya tidak stabil. Sehingga mereka mudah tersinggung, mudah bersedih hati, dan berputus asa dan lain-lain. Ada kalanya hal tersebut menghasilkan tingkah laku menyimpang bahkan mengalami gangguan mental.
i.      Lingkungan sekolah yang tidak menguntungkan
Kondisi-kondisi yang kurang menguntungkan mengakibatkan anak tidak suka sekolah. Namun demikian, mereka tidak berani melarikan diri atau kabur dari sekolah karena takut akan kemarahan orang tuanya dan guru-gurunya. Lalu timbullah gangguan emosional dan konflik batin, juga konflik dengan guru-guru dan kawan-kawan sekolah. Semua ini menjerumuskan anak-anak pada kekalutan mental atau terganggunta mental.
j.      Pengaruh buruk dari orang tua
Tindak kekrasan, teror dan kriminal yang banyak dilakukan biasanya didorong oleh konflik batin yang tidak terpecahkandan didukung oleh reaksi-kompensatoris dari perasaan-perasaan inferior rendah diri, dalam usaha mereka menuntut pengakuan terhadap dirinya. Jika semua ini berlangsung lama dan tidak bisa diselesaikan dengan baik, biasanya peristiwa tersebut menjadi penyebab utama macam-macam gangguan mental yang parah dan jamak.

3.    Memahami penyebab menderitanya gangguan menta berdasarkan perspektif teoritis
Beberapa teori yang menyatakan sebab-sebab banyaknya gangguan mental dari perspektif teoritis yaitu sebagai berikut;
1.    Teori kompleksitas sosial
Teori ini menyatakan bahwa di dalam masyarakat modern sebagai produk dari pesatnya proses urbanisasi dan industrulisasi, orang sulit mengadakan adaptasi terhadap masyarakat yang serba otomatis, terpecah-pecah, dan selalu berubah. Timbullah rasa tidak mampu mengejar kemajuan zaman. Semua itu memudahkan munculnya gangguan mental.
2.    Teori konflik kultural dan teori disosiasi-sosial.
Teori ini menerangkan bahwa masyarakat modern merupakan satu high tension culture penuh unsur ketegangan, persaingan, serta konflik terbuka atau tersembunyi. Konflik-konflik sosial ini mempersempit orang untuk mengembangkan aspirasi dan ambisinya. Frustasi dalam pencapaian tujuan tertentu memudahkan berkembangnya fantasi, delusi, ilusi, ketegangan batin, dam disosial sosial yang menimbulkan gangguan-gangguan tingkah laku dalam proses sosialisasi pada banyak orang.
3.    Teori imitasi
Teori ini menyatakan bahwa banyak tingkah laku menyimpang, neurotik, dan psikis primer diperoleh dan dipelajari secara langsung atau tidak langsung dari orang tua itu sendiri. Misalnya, anak-anak yang dibiasakan untuk menjadi kejam, hiperagresif, atau selalu tidak percaya terhadap orang lain.

Sumber:
Burlian, Paisol. 2016. Patologi Sosial. Jakarta: Bumi Aksara
Kartono, Kartini. 2005. Patologi Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS

Nama           :Mariyati                       Jurusan             :BimbinganDan Konseling Nim              :2014 141 106              Mata Kuliah      :Studi Kasus Kelas            :6/C                               Dosen Pengampu :Mirnayenti, M.Pd RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS 1.     Pendekatan Umum Pendesainan Studi Kasus a.     Definisi Desain Penelitian Desain penelitian adalah keseluruha...

pemikiran Friederich Wilhelm August Froebel

BAB I PENDAHULUAN 1.1    Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang, dimana memiliki sasaran yang berperan dalam melaksanakan pembangunan disegala sektor, baik di sektor industri, perdagangan maupun di sektor pendidikan. Dalam menunjang keberhasilan pembangunan di setiap sektor, maka perlunya peranan pendidikan yang menempatkan manusia sebagai kedudukan sentral dalam pembangunan. Pentingnya peranan pendidikan dalam pembangunan di setiap sektor, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan berperan sebagai upaya pencerdasan, pendewasaan, kemandirian manusia yang dilakukan oleh perorangan, kelompok dan lembaga. Upaya ini dimulai sejak berabad-abad silam, pola pendidikan mengalami kemajuan yang pesat berkat kerja keras para pakar pendidikan terdahulu. Adapun tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan prasekolah adalah Friederich Wilhelm August Froebel atau lebih dikenal dengan sebutan Froebel. Tokoh ini ...

Makalah Konseling Psikologi Individual

Makalah Model-Model Konseling “ Konseling Psikologi Individual ” Di Susun Oleh : Kelompok 3 Nama Kelompok   : 1.      Ayu soraya 2.      Ema kusna haryati 3.      Ika ayu oktaviani 4.      Mariyati 5.      Rahmad shadat 6.      Yogi firnando Semester/Kelas     : Enam    (6) / C Program Stud i       : Bimbingan dan Konseling Dosen Pengasuh    : Erfan Ramdhani, M.Pd., Kons, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang 201 6/2017 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha P e nyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami . Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW....