Nama :Mariyati Jurusan
:Bimbingan & Konseling
Nim :2014 141 106 Mata Kuliah :Patologi & Rehabilitas Sosial
Kelas :5/C Dosen
Pengampu :Erfan Ramadhani, M.Pd., kons.
RESUME
MEMAHAMI
MASALAH GANGGUAN MENTAL (MENTAL DISORDER)
1. Mengetahui
stigma-stigma gangguan mental
Stigma berasal dari
kecendrungan manusia untuk menilai orang lain. Berdasarkan penilaian itu,
kategorisasi tidak berdasarkan sebenarnya sesuai dengan fakta, tetapi apa pada
yang masyarakat anggap sebagai tidak pantas, luar biasa, memaulakan, dan tidak
dapat di terima. Stigmasisasi dapat terjadi kepada semua aspek kehidupan
manusia. Semua orang dapat dikenai stigma oleh karena sesuatu yang berhubungan
dengan penyakit, cacat sejak lahir, gangguan mental, pekerjaan, dan status
ekonomi bahkan prefensi seksual.
Ganguan mental yang
memiliki kemungkinan lebih besar untuk dikenai stigma adalah jenis gangguan
mental yang menunjukan
abnormalitas/penyimpangan pada pola perilkunya. Stigma yang lebih memberatkan
yaitu gangguan mental yang lebih mempengaruhi fisik seseorang daripada gangguan
mental yang tidak mempengaruhi penampilan fisik seseorang.
Dari beberapa pendapat
ahli kesehatan mental, faktor utama yang menyebabkan stigma gangguan mental
yaitu;
a. Adanya
miskonsepsi mengenai gangguan mental karena kurangnya pemahaman mengenai
gangguan mental sehingga muncul anggapan bahwa gangguan mental identik denga
“gila,” dan
b. Adanya
prediksi secara psikologis sebagian masyarakat untuk percaya pada hal-hal yang
gaib sehingga ada asumsi bahwa gangguan mental di sebabkan oleh hal-hal yang
bersifat supranatural, seperti makhluk halus, setan, roh jahat, atau pengaruh
sihir/santet. Akibat prediksi tersebut, gangguan mental dianggap bukan urusan
medis.
Berikut
beberapa teori yang menelatarbelakangi timbulnya stigma gangguan mental;
a.
Teori demenologi
Menurut
kartini kartono teori demonolgi ada dua tipe yaitu
1.
Tipe
gangguan mental yang jahat, gangguan mental yang di anggap berbahaya,
bisa merugikan dan membunuh orang lain.
2.
Tipe gangguan mental yang baik, di
anggap sebagai penyakit suci. Karena anggapan beberapa mantan penderita ayan
diperbolehkan memberikan pengobatan kepada pasien-pasien melalui doa-doa,
sembahyang, dan penebusan dosa.
Teori
demenologi merupakan landasan yang digunakan untuk menjelaskan sebab terjadinya
abnormalitas pada pola perilaku manusia yang dikaitkan dengan pengaruh
supranatural, hal-hal yang gaib, atau yang dikenal yang model demonologi. Model
demonologi ini dapat di klasifikasi etiologi penyakit yang didasarkan kepada
kepercayaan yang ada dan hampir selalu ada dalam semua sistem kesehatan
masyarakat. Dikenal dengan etiologi
personalistik, yaitu keadaan sakit yang di pandang sebab adanya campur tangan
perantara seperti makhluk halus, jin, setan, atau roh-roh tertentu. Etiologi
personalistik ini digunakan untuk membedakan kepercayaan mengenai penyakit yang
ditimbulkan oleh adanya gangguan sistem dalam tubuh manusia yang disebabkan
oleh kesalah dalam mengkonsumsi makanan, pengaruh lingkungan, kebiasaan hidup,
atau yang dikenal dengan etiologi naturalistik.
b.
Teori labelling
Prinsip
labelling yaitu;
1.
Berprilaku normal atau tidak normal,
menyimpang atau tidak menyimpang tergantung pada bagaimana orang lain
menilainya. Penilaian itu di tentukan oleh kategorisasi yang sudah melekat pada
pemikiran orang lain. Segala sesuatu yang dianggap tidak masuk dalam
kategori-kategori yang sudah dianggap baku oleh masyarakt otomatis akan
dianggap menyimpang. Oleh karena itu,
orang dianggap sakit jiwa hanya karena berpakaian atau bertindak “aneh”
pada suatu tempat/suasana tertentu.
2.
Penilaian itu berubah dari waktu kewaktu
sehingga orang yang hari ini di katakan sakit bisa dinyatakan sehat beberapa
tahun kemudian, atau sebaliknya.
Para
ahli sosio-budaya juga berpendapat bahwa apabila labelling ‘penyakit mental’
digunakan, maka sulit untuk dihilangkannya. Labelling,
juga mempengaruhi pada bagaimana seseorang memberikan respons pada yang
bersangkutan. Peluang-peluang kerja tertutup bagi mereka, persahabat mungkin
bisa putus, dan orang yang dijuluki “sakit mental” makin lama makin diasingkan
oleh masyarakat.
Menurut
ahli sosio-budaya radikal memperlakukan orang sebagai ‘orang yang menderita
sakit mental’ sama juga dengan menjatuhkan martabat mereka, karena menolak
mereka untuk lebih bertanggung jawab dalam menangani hidup dan memecahkan
masalah-masalah mereka sendiri.
2. Usaha-usaha
preventif untuk mengatasi gangguan mental
Adapun usaha-usaha yang
dapat dilakukan untu mencegah atau meminimalkan gangguan mental yaitu sebagai
berikut;
a. Perbaiki
kebiasaan makan, bernafas, tidur, seks. Semuanya harus seimbang, jangan
menuruti kemauan tanpa batas, hindari udara kotor dan debu.
b. Bicarakan
kesulitan jika ada masalah. Uraikan masalah yang sering menggangu batin, jangan
disimpan dan disembunyikan. Uraikan masalah dengan orang yang terpercaya.
c. Hindari
kesuliat untuk sementara waktu.
d. Hindari
konflik yang serius, termasuk konflik dengan lingkungan.
e. Terima
kritik dengan lapang dada.
f. Lakukan
kebaikan dan pupuk rasa sosial.
g. Salurkan
kemarahan sebagai tingkah laku pada yang positif.
h. Jangan
anggap diri super, atau merasa takut
untuk memutuskan sesuatu karena merasa tidak dapat mencapainya.
i. Sadari
keterbatasan berfikir atau menyadari bahwa kita memiliki keterbatasan.
j. Tunjukan
sikap religius dengan selalu
memelihara jiwa yang bersih.
3. Bagaimana
upaya pembinaan mental dalam perspektif islam
Pembinaan dapat
dilakukan sejak masa kecil, karena pengalaman yang dilalui baik disadari maupun tidak disadari nantinya
akan membentuk kepribadian seseorang. Apabila pengalaman di waktu kecil banyak
didapat nilai agama, kepribadiannya akan mempunyai unsur-unsur yang baik.
Demikian sebaliknya, jika nilai-nilai yang diterimanya jauh dari nilai agama
unsur-unsur kpribadiannya akan jauh dari agama dan akan menjadi guncang. Nilai
positif yang tetap dan tidak berubah adalah nilai agama. Sedangkan nilai sosial
dan moral yang didasarkan bukan pada agama biasanya
akan mengalami perubahan dengan perkembangan masyarakat itu sendiri.
Orang yang merasa tidak
tenang, aman, serta tentram dalam hatinya adalah orang yang sakit rohani atau
mentalnya. Para psikiater mengatakan bahwa
setiap manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar tertentu untuk
melangsungkan proses kehidupannya secara
lancar. Kebutuhan tersebut ialah kebutuhan rohani dan jasmani. Akan tetapi
dalam sehari-hari tak jarang dijumapai manusia tak mampu menahan keinginan bagi
terpenuhinya kebutuhan untuk dirinya. Sehingga menyebabkan adanya pertentangan
dengan batin. Pertentangan ini menimbulkan ketidakseimbangan dalam kehidupan
rohani, yang didalam kesehatan mental disebut dengan kekusutan rohani atau
kekusutan fungsional.
Bentuk kekusutan
fungsional ini bertingkat, yaitu psikopat, psikoneurosis, dan psikotis. Psikoneurosis ditandai dengan tidak mengikuti
tuntunan-tuntunan masyarakat. Pengidap
psikoneurosis menunjukan perilaku yang menyimpang. Sementara itu, psikotis
dinilai mengalami kekusutan mental yang berbahaya sehingga memerlukan perawatan
yang khusus.
Pendekatan agama ini
dapat dirujuk dari Al-Quran itu sendiri. Di anatara konsep terapi gangguan
mental ini adalah firman Allah SWT dalan Q.S Yunus:57 berikut
“wahai manusia, sesungguhnya sudah datang dari Tuhanmu Alquran yang
mengandung pengajaran, penawar bagi penyakit jiwa, tuntunan serta rahmat bagi
orang-orang yang beriman”.
Kesehaan mental adalah
suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenag, aman, dan tentram. Upaya untuk
menemukan ketenangan batin dapat dilakukan dengan penyesuaian diri secara
resignasi diri sepenuhnya kepada Tuhannya. Agama merupakan salah salah satu
bentuk perilaku yang sangat mempengaruhi keseharian seseorang. Dengan dasar
keyakinan akan ajaran agama, seseorang akan berusaha mengubah dan bertingkah
laku sesuai dengan ajaran agamanya.
Ada dua cara untuk
menghadapi tekanan psikologis tinggi agar kembali ke tekanan yang norma, yaitu
sebagai berikut;
1. Ilmu
pengetahuan
Orang
rentas terkena stres yaitu orang yang mempunyai masalah yang berat, namun
perkembangan ilmunya tidak imbang. Dengan kekuatan ilmu pengetahuan sesorang akan berusaha menjawab
tantangan dan rintangan yang datang
2. Agama
dan kepercayaan
Ada
satu pertahanan kuat yang dimiliki
seseorang yaitu, agama. Agama merupakan
sandaran dan pertahanan terakhir untuk mengahdapi tekanan yang dihadapi. Dengan
demikian, seseorang yang tidak bisa menjawab tantngan dan tidak mempunyai
pertahanan yang kuat , akan jatuh kedalam stres yang berat.
Ini
menunjukan bahwa agama dapat mengembalikan tekanan kehidupan kearah normal.
Tetapi alangkah baiknya jika kedua benteng itu (ilmu dan agama) dimiliki oleh
setiap orang sehingga dapat terhindar dari stress yang berat.
Sumber:
Burlian, Paisol. 2016. Patologi
Sosial. Jakarta: Bumi Aksara
Kartono, Kartini.
2005. Patologi Sosial. Jakarta: Raja Grafindo
Persada
Komentar
Posting Komentar