Nama :Mariyati Jurusan
:Bimbingan & Konseling
Nim :2014 141 106 Mata Kuliah :Patologi & Rehabilitas Sosial
Kelas :5/C Dosen
Pengampu :Erfan Ramadhani, M.Pd., kons.
RESUME
MEMAHAMI
MASALAH GANGGUAN MENTAL (MENTAL DISORDER)
1. Implikasi Gangguan Mental
Penampilan gangguan
mental biasanya berupa gejala-gejala sebagai berikut;
1. Banyak
konflik batin. Ada rasa tersobek-sobek oleh pikiran dan emosi yang antagonis
bertentangan. Hilangnya harga diri dan kepercayaan diri. Selalu merasa tidak
aman dan dikejar oleh suatu pikiran atau perasaan yang tidak jelas hingga ia
merasa cemas dan takut. Menjadi agresif, suka menyerang, bahkan ada yang
berusaha membunh orang lain atau melakukan usaha bunuh diri (agresivitas ke
dalam).
2. Komunikasi
sosisal terputus dan adanya disorientasi sosial. Timbul delusi-delusi yang
menakutkan atau dihinggapi delusion of
grandeur (merasa dirinya paling super). Selalu iri hati dan curiga. Ada
kalanya dihinggapi delusion of
persecution atau khayalan dikejar-kejar sehingga menjadi sangat
agresif,berusaha melakukan pengrusakan, atau melakukan destruksi diri dan bunuh
diri.
3. Ada
gangguan intelektual dan gangguan emosional yang serius. Penderita mengalami
ilusi, halusinasi berat, dan delusi. Selain itu, kurangnya pengendalian emosi
dan selalu bereaksi berlebihan(overreacting).
Selalu berusaha melarikan diri dalam dunia fantasi, yaitu dalam masyarakat semu
yang diciptakn dalam khayalan. Merasa aman dalam dunia fantasinya. Orang luar
dihukum dan dihindari sebab mereka itu dianggap” berdosa, kotor, jahat. Maka
dari itu, realitas sosial yang dihayati menjadi kacau-balau. Juga kehidupan
batinnya menjadi kalut, kusut, dan kepribadiannya pecah berantakan.
2. Masyarakat Modern dan Gangguan
Mental
Semakin
pesatnya usaha pembangunan, modernisasi, dan industrialisasi yang berakibat
semakin kompleksnya masyarakat, memunculkan banyak masalah sosial dan gangguan
mental di kota-kota besar. Makin banyak warga masyarakat yang tidak melakukan
penyesuaian diri dengan cepat terhadap macam-macam perubahan sosial. Mereka
banyak mengalami frustasi, konflik eksternal dan internl, ketengangan batin,dan
menderita gangguan mental.
Kehidupan
modern di kota-kota besar lebih menonjolkan kepentingan diri sendiri dan individualisme
sehingga mata dan hati menjadi keras membeku terhadap kondisi orang lain.
Kontak sosial menjadi longgar, orang menjadi semacam atom-atom yang terlepas
satu sama lain, dan terurai menjadi sayatan-sayatan fraksi yang mengutamakan
kebanggan atau kesombongan diri. Dalam masyarakat sedemikian ini orang selalu
merasa cemas, merasa selalu tidak aman, juga kesepian dan takut.
Selain
itu, kemajuan-kemajuan-kemajuan yang pesat disebabkan oleh perkembangan ilmu
pengtahuan, teknologi, meknisasi, industrialisasi, dan urbanisasi kehidupan
modern menjadi senakin terurai dalam spesialisasi dan dan pengotakan yang
terintergrasi. Hal tersebut mengakibatkan masyarakatnya semakin terpecah belah
dan sulit diatur. Lalu menampilkan gejala disintegrasi sosial dan disintegrasi
perorangan yang menjadi sebab utama bagi timbulnya gangguan mental.
Ditambah
pula dengan pengaruh lingkungan dan media massa, seperti koran, film, majalah,
dan iklan-iklan yang merangsang untuk menuntut standar penghasilan tinggidan
kemewahan materil. Jika semua usaha memenuhi ini tidak berhasil karena
kemampuan untuk mencapainya tidak ada, sedangkan ambisi dan tuntutan semakin
menanjak makan akan muncul rasa malu, takut, binggung, kecewa, dan rendah hati.
Muncul
pula agresivitas,ketautan,serta kecemasan yang kronis, untuk rendah diri yang
dikompensasikan dalam bentuk pola-pola yang membesar-besarkan diri dan
narsisme, serta semakin subirnya kebudayaan tegangan tinggi yang sangat
eksplosif. Karena bertumpuknya macam-macam konflik dan tegangan sosial, serta
bnayak tejadi disharmoni dan konflik sosial tanpa konsensus di tengah rakyat.
Kemudian, berlangsung proses disorganisasi pibadi dan disorganiasi sosial yang
memunculkan gangguan mental.
Perubahan
sosial yang serba cepat merupakan proses organis yang sangat dinamis, yang
menyebabkan banyak ketidak stabilan dan kurang adanya kesepakatan anatara
masing-masing anggota masyarakat mengenai pola kehidupan sehari-hari. Ini
mengakibatkan banyak individu dan kelompok yang menggunaan cara penyelesaian
msalah mengatur dan melayani kebutuhan masyarakat menjadi tidak berfungsi,
sehingga tingkah laku warga masyarakat banyak yang tidak terkendalim lalu
menjadi patologi secara psikis atau sosial. Semua itu pada hakikatnya merupakan
efek samping dari modernisasi dan perkembangan zaman.
3. Masalah Kebutuhan Manusia dan
Gangguan Mental
Setiap manusia selalu mempunyai
beragam kebutuhan untuk memepertahankan eksistensi hidupnya sehingga timbul
dorongan dan usaha untuk memenuhinya. Apabila kebutuhan-kebutuhan hidup hidup
itu terhalang maka timbul
ketegangan-ketegangan dan konflik batin yang memicu gangguan mental jika
berlangsung terus menerus.
Kebutuhan tersebut dapat dibagi dalam tiga kategori,
yaitu :
1. Kebutuhan
fisik biologis, organis, atau kebutuhan vital
2. Kebutuhan
sosial, bersifat kemanusian atau sosiokultural, dan
3. Kebutuhan
metafisis, religius, atau transendental.
Refrensi
;
Burlian, Paisol. 2016. Patologi Sosial. Jakarta. Bumi Aksara
Kartono, Kartini. 2005. Patologi Sosial. Jakarta. Rajawali Pers
Komentar
Posting Komentar