Langsung ke konten utama

NAKALAH Konsep diri manusia sebagai pribadi “konsep diri”



Konsep diri manusia sebagai pribadi
“konsep diri”
Dosen pengasuh : Maulida. YK,S.Pd, Msi
Di susun
Oleh:

1)      MARIYATI                (2014 141 106)
2)      MERRY INDRIANI  (2014 141 098)
3)      FATMA AGUSTINA (2014 141 125)
4)      AYU SORAYA           (2014 141 101)

Program Studi Bimbingan Dan Konseling

Kata Pengantar
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya.serta shalawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni al-qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia. sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul ”Konsep Diri ” sebagai tugas mata kuliah “Konsep Diri Manusia Sebagai Pribadi”.
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1.      Maulida YK, SP.d, Msi selaku dosen mata kuliah
2.      orang tua dan keluarga yang selalu men-support
3.      teman-teman yang membantu kami
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.


Palembang, 23 maret 2015


Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang............................................................................................1
1.2.  Rumusan Masalah.......................................................................................1
1.3.   Tujuan Penulisan........................................................................................2
1.4   Manfaat Makalah.......................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1   pengertian konsep diri...............................................................................3
2.2 dimensi dimensi konsep diri........................................................................5
2.3 peranan konsep diri......................................................................................7
2.4 implikasi dan perkembangan konsep diri dalam konseling.........................8
BAB III     PENUTUP
3.1   Saran...........................................................................................................11
3.2   Kesimpulan.................................................................................................11
3.3   Daftar pustaka............................................................................................12





Fakultas Ilmu Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
Salah satu penentu dalam keberhasilan perkembangan adalah konsep diri. Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya.
Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang. Perkembangan yang berlangsung kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan.
            Segala keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu memandang kualitas kemampuan yang dimiliki. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit untuk diselesaikan, maka dari itu sangatlah penting untuk seorang perawat memahami konsep diri. Memahami diri sendiri terlebih dahulu baru bisa memahami klien.

1.2         Rumusan Masalah

·                Bagaimana defenisi konsep diri?
·                Bagaimana dimensi-dimensi  konsep diri?
·                Bagaimana peranan konsep diri?
·                Bagaimana Implikasi dan Perkembangan Konsep diri?

1.3         Tujuan Pembelajaran
·                Memahami defenisi konsep diri
·                Memahami dimensi-dimensi  konsep diri
·                Memahami peranan konsep diri
·                Memahami implikasi dan perkembangan konsep diri
1.4         Manfaat
·                       Mahasiswa dapat mengetahui  defenisi konsep diri
·                       Mahasiswa dapat mengetahui  dimensi-dimensi  konsep diri
·                       Mahasiswa dapat mengetahui  peranan konsep diri
·                       Mahasiswa dapat mengetahui  implikasi dan perkembangan konsep diri


                                                      







BAB II
PEMBAHASAN
2.1     Pengertian Konsep Diri
·                Menurut Burns (1982),
 konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita sendiri. Sedangkan Pemily (dalam Atwater, 1984), mendefisikan konsep diri sebagai sistem yang dinamis dan kompleks diri keyakinan yang dimiliki seseorang tentang dirinya, termasuk sikap, perasaan, persepsi, nilai-nilai dan tingkah laku yang unik dari individu tersebut.
·           Stuart dan Sudeen (1998),
                   konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain.
·           Seifert dan Hoffnung (1994)
                   mendefinisikan konsep diri sebagai “suatu pemahaman mengenai diri atau ide tentang konsep diri.“
·           Cawagas (1983)
                   menjelaskan bahwa konsep diri mencakup seluruh pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya, kelebihannya atau kecakapannya, kegagalannya, dan sebagainya.
·           Santrock (1996)
                   menggunakan istilah konsep diri mengacu pada evaluasi bidang tertentu dari konsep diri.
·           Atwater (1987)
                   menyebutkan bahwa konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dirinya.
·                Mulyana (2000:7)
 Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu.

·                Hurlock (1990:58)
 memberikan pengertian tentang konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya.

·         William D. Brooks
 bahwa  pengertian konsep diri  adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita.

·         Centi (1993:9)
mengemukakan  konsep diri tidak lain tidak bukan adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana kita harapkan.

·         Secara Umum
Konsep diri didefinisikan sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu
Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya.
Dari beberapa pendapat dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya.

2.2       Dimensi –Dimensi  Konsep Diri
Menurut Fitts (1971), konsep diri ini terbagi menjadi 2 dimensi pokok yaitu:
1.Dimensi Internal
Dimensi Internal adalah keseluruhan penghayatan pribadi sebagai kesatuan yang unik. Penilaian diri berdasarkan dimensi internal ini meliputi penilaian seseorang terhadap identitas dirinya, kepuasan diri dan tingkah lakunya. Dimensi ini terdiri dari 3 bentuk:
a. Diri identitas ( identity self)
Diri sebagai identitas merupakan aspek dasar dari konsep diri. Dalam diri identitas, terkumpullah seluruh label dan symbol yang dipergunakan seseorang untuk menggambarkan dirinya yang didasarkan pada pertanyaan : “Siapakah saya?”. Label yang melekat pada diri seseorang dapat berasal dari orang lain atau orang itu sendiri. Semakin banyak label yang dimiliki seseorang, maka semakin terbentuklah orang itu untuk mencari jawaban tentang identitas dirinya. Diri identitas dapat mempengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan lingkungan dan juga dengan dirinya sendiri. Dengan demikian, diri identitas mempunyai hubungan dengan diri pelaku dan hubungan ini umumnya berlaku timbal balik, seperti yang dikemukakan oleh Fitts (1971).

b. Diri perilaku (behaviour self)
Diri pelaku merupakan persepsi seseorang terhadap tingkah lakunya atau caranya bertindak, yang terbentuk dari suatu tingkah laku biasanya diikuti oleh konsekuensi-konsekuensi dari luar diri, dari dalam diri sendiri atau dari keduanya. Konsekuensi menentukan apakah suatu tingkah laku cenderung dipertahankan atau tidak. Disamping itu juga menetukan apakah tingkah laku tersebut akan diabstraksikan, disimbolisasikan dan dimasukkan kedalam diri identitas seseorang. Contohnya, seorang anak kecil mempunyai dorongan untuk berjalan. Ketika ia bisa berjalan ia merasa puas, dan lama kelamaan kemampuan berjalan serta kesadaran bahwa ia bisa berjalan merupakan label baru yang ada dalam diri identitasnya. Tindakkan berjalan itu sendiri merupakan bagian dari diri pelakunya.

c. Diri penerimaan  atau penilaian ( judging self )
Penilaian diberikan terhadap label-label yang ada dalam identitas diri pelaku secara terpisah, contohnya, seseorang menggambarkan dirinya tinggi dan kuat (identitas diri); selain itu gambaran diri juga disertai perasaan suka atau tidak suka terhadap bentuk tubuhnya. Seseorang merasa tegang dan letih (diri pelaku); ia juga memikirkan apakah perasaannya baik atau tidak. Selain itu, penilaian juga dapat diberikan kepada kedua macam bagian diri sekaligus. Misalnya, seseorang berkata, saya melakukan ini dan saya nakal”. Hal ini berarti orang tersebut memberikan label secara keseluruhan dirinya, bukan terhadap tingkah laku tertentu. Atau orang itu bisa juga mengatakan, “saya melakukan ini, tetapi saya bukan orang yang biasa berbuat demikian”. Hal ini berarti bahwa orang itu tidak setuju dengan tingkah lakunya.
2. Dimensi eksternal
Pada dimensi eksternal, individu menilai dirinya melalui hubungan dan aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya serta hal-hal diluar dirinya dimensi ini merupakan suatu hal yang luas, misalnya diri berkaitan dengan sekolah, organisasi, agama dan sebagainya. Dimensi ini dibedakan atas 5 bentuk yaitu:

a.Diri Fisik (Physical self)
Diri Fisik merupakan persepsi seseorang terhadap keadaan fisik, kesehatan, penampilan diri dan gerak motoriknya.

b. Diri Moral-Etik (Moral-Ethic self)
Diri moral etik merupakan persepsi seseorang tentang dirinya ditinjau dari standar pertimbangan nilai-nilai moral dan etika. Hal ini seperti bagaimana hubungan orang tersebut dengan Tuhan, rasa puas seseorang terhadap kehidupan beragamanya, nilai-nilai moral yang dianutnya, dan perasaan sebagai orang jahat atau orang baik.

c.  Diri Personal (Personal self),
Diri personal merupakan perasaan individu terhadap nilai-nilai pribadi, terlepas dari keadaan fisik dan hubungannya dengan orang lain dan sejauhmana ia merasa adekuat sebagai pribadi.

d.  Diri Keluarga (Family self),
Diri keluarga merupakan perasaan dan harga diri seseorang sebagai anggota keluarga dan teman-teman dekatnya. Sejauhmana dirinya merasa adekuat sebagai anggota keluarga dan teman-teman.

e.  Diri Sosial (Social self),
Diri sosial merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya dalam berinteraksinya dengan orang lain dalam lingkungan yang lebih luas.


2.3       peranan konsep diri
Perilaku individu dipengaruhi dengan konsep diri yang dimilikinya.  Perilaku yang ditampakan pada individu mencerminkan konsep diri sebagai perwujudan atas persepsi tentang dirinya. Pudjiyogyanti (1993) menjelaskan peranan konsep diri dalam perilaku manusia yaitu ;
a.                   konsep diri  berperan dalam menjaga keselarasan batin  (inner consistency). Munculnya ketidakeselarasan batin  pada manusia akan menimbulkan rasa tidak menyenangkan, misal antara perasaan dan pikiran saling bertentangan.
b.                   pandangan  dan  sikap  individu  berpengaruh dalam memahami pengalaman hidupnya. misal, satu peristiwa akan dipahami berbeda oleh individu yang berbeda karena masing- masing memiliki pandangan dan sikap berbeda pula.
c.                    konsep diri mempengaruhi dan mengarahkan perilaku individu dalam mencapai harapan dan tujuan hidup.Peranan penting konsep diri dalam perilaku manusia karena dalam kenyataan individu selalu berusaha menjaga keseimbangan, mengalami pengalaman baru, dan kebutuhan mencapai prestasi.
Konsep diri dapat disimpulkan sebagai pandangan, persepsi, pemikiran pada diri individu yang berfungsi untuk menduga perilaku individu baik aspek mental, sosial, motivasi, prestasi, kelemahan dan kekuatannya.

2.4 Implikasi Perkembangan Konsep Diri Peserta Didik Terhadap Pendidikan

           Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa konsep diri merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan psikososial peserta didik. Konsep diri memengaruhi perilaku peserta didik dan akan mempunyai hubungan yang sangat menentukan proses pendidikan dan prestasi belajar peserta didik. Berikut ini adalah beberapa strategi yang mungkin dapat dilakukan guru dalam mengembangkan dan meningkatkan konsep diri peserta didik.

a.         Membuat siswa merasa mendapat dukungan dari guru.
Dukungan dari guru dapat ditunjukkan dalam bentuk dukungan emosional (emotional support), seperti ungkapan empati, kepedulian, perhatian, dan umpan balik, dan dapat pula berupa dukungan penghargaan (esteem support), seperti melalui ungkapan hormat (penghargaan) positif terhadap siswa, dorongan untuk maju atau persetujuan dengan gagasan dan perbandingan positif antara satu siswa dengan siswa lainnya.

b.             Membuat siswa merasa bertanggung jawab.
Memberi kesempatan kepada siswa untuk membuat keputusan sendiri atas perilakunya dapat diartikan sebagai upaya guru untuk memberi tanggung jawab kepada siswa. Tanggung jawab ini akan mengarahkan sikap positif siswa terhadap diri sendiri, hal ini juga menunjukkan adanya penghargaan guru terhadap perilaku siswa, sehingga siswa merasa dirinya mempunyai peranan dan diikutsertakan dalam kegiatan pendidikan
.
c.              Membuat siswa merasa mampu.
 Guru harus berpandangan bahwa semua siswa pada dasarnya memiliki kemampuan, hanya saja mungkin belum dikembangkan. Dengan sikap dan pandangan positif terhadap kemampuan siswa ini, maka siswa juga akan berpandangan positif terhadap kemampuan dirinya.

d.             Mengarahkan siswa untuk mencapai tujuan yang realistis.
Dalam upaya guru agar meningkatkan konsep diri siswa harus membentuk siswa untuk menetapkan tujuan yang hendak dicapai serealistis mungkin, yakni tujuan yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki siswa tersebut. Penetapan tujuan yang realistis ini dapat dilakukan dengan mengacu pada pencapaian prestasi di masa lampau, sehingga siswa akan terbantu untuk bersikap positif terhadap kemampuan dirinya sendiri.



e.   Membantu siswa menilai diri mereka secara realistis.
Guru perlu membantu siswa menilai prestasi mereka secara realistis, karena cenderung siswa yang pada saat mengalami kegagalan akan menilai dirinya secara negatif, dengan memandang dirinya sebagai orang yang tidak memiliki kemampuan. Salah satu cara membantu siswa menilai diri mereka secara realistis adalah dengan membandingkan prestasi siswa pada masa lampau dan prestasi siswa saat ini agar dapat membangkitkan motivasi, minat, dan sikap siswa terhadap seluruh tugas di sekolah.

f.   Mendorong siswa agar bangga dengan dirinya secara realistis.
 Guru semestinya     membantu dalam mengembangkan konsep diri siswa agar bangga dengan prestasi yang telah dicapainya. Ini penting, karena perasaan bangga atas prestasi yang dicapai merupakan salah satu kunci untuk menjadi individu yang lebih positif dalam memandang kemampuan yang dimiliki.











BAB III
PENUTUP
3.1         KESIMPULAN
            Konsep diri adalah cara seseorang untuk melihat dirinya secara utuh dengan semua ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu dalam berhubungan dengan orang lain. Sangatlah penting bagi seorang perawat untuk memahami konsep diri terlebih dahulu harus menanamkan dalam dirinya sendiri sebelum melayani klien, sebab keadaan yang dialami klien bisa saja mempengaruhi konsep dirinya, disinilah peran penting perawat selain memenuhi kebutuhan dasar fisiknya yaitu membantu klien untuk memulihkan kembali konsep dirinya.
Ada beberapa komponen konsep diri yaitu dimensi dimensi konsep diri,peranan konsep diri,perkembangan dan implikasi konsep diri dalam konseling.

3.2         SARAN
            Untuk membangun konsep diri, kita harus belajar menyukai diri sendiri, mengembangkan pikiran positif, memperbaiki hubungan interpersonal ke yang lebih baik, sikap aktif yang positif, dan menjaga keseimbangan hidup.
Semua yang kita lakukan pasti ada manfaatnya begitu juga dalam memahami konsep diri, kita menjadi bangga dengan diri sendiri, percaya diri penuh, dapat beradaptasi dengan lingkungan, dan mencapai sebuah kebahagiaan dalam hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Tarwoto,2004, Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika
Mubarak Wahid Iqbal SKM, Cahyatin Nurul S. Kep,2008,  Kebutuhan Dasar Manusia, Jakarta: EGC



2015
                                                      


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS

Nama           :Mariyati                       Jurusan             :BimbinganDan Konseling Nim              :2014 141 106              Mata Kuliah      :Studi Kasus Kelas            :6/C                               Dosen Pengampu :Mirnayenti, M.Pd RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS 1.     Pendekatan Umum Pendesainan Studi Kasus a.     Definisi Desain Penelitian Desain penelitian adalah keseluruha...

pemikiran Friederich Wilhelm August Froebel

BAB I PENDAHULUAN 1.1    Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang, dimana memiliki sasaran yang berperan dalam melaksanakan pembangunan disegala sektor, baik di sektor industri, perdagangan maupun di sektor pendidikan. Dalam menunjang keberhasilan pembangunan di setiap sektor, maka perlunya peranan pendidikan yang menempatkan manusia sebagai kedudukan sentral dalam pembangunan. Pentingnya peranan pendidikan dalam pembangunan di setiap sektor, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan berperan sebagai upaya pencerdasan, pendewasaan, kemandirian manusia yang dilakukan oleh perorangan, kelompok dan lembaga. Upaya ini dimulai sejak berabad-abad silam, pola pendidikan mengalami kemajuan yang pesat berkat kerja keras para pakar pendidikan terdahulu. Adapun tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan prasekolah adalah Friederich Wilhelm August Froebel atau lebih dikenal dengan sebutan Froebel. Tokoh ini ...

Makalah Konseling Psikologi Individual

Makalah Model-Model Konseling “ Konseling Psikologi Individual ” Di Susun Oleh : Kelompok 3 Nama Kelompok   : 1.      Ayu soraya 2.      Ema kusna haryati 3.      Ika ayu oktaviani 4.      Mariyati 5.      Rahmad shadat 6.      Yogi firnando Semester/Kelas     : Enam    (6) / C Program Stud i       : Bimbingan dan Konseling Dosen Pengasuh    : Erfan Ramdhani, M.Pd., Kons, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang 201 6/2017 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha P e nyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami . Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW....