Konsep Diri
Manusia Sebagai Pribadi
“Pengukuran dalam
Konsep Diri”

Dosen pengasuh
: Maulida. YK,S.Pd, Msi
Di susun
Oleh:
1)
Nur aulia (2014 141 084)
2)
Anjali intan
sari (2014 141 )
3)
Ika ayu
oktaviani (2014 141
)
Program Studi Bimbingan Dan Konseling
Fakultas Ilmu Keguruan Dan Ilmu
Pendidikan
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT bahwa dengan Rahmat dan
Ridho-Nya saya dapat menyelesaikan Makalah Konsep Diri
Manusia Sebagai Pribadi yang berjudul “Pengukuran
Dalam Konsep Diri” sebagai tugas Mata Kuliah Semester satu.
Semoga Makalah ini dapat menambah wawasan kita semua dan dapat memenuhi
kriteria tugas yang bapak berikan serta dapat menjadi nilai tambah untuk penulis.
Tak ada yang sempurna, begitu pula dengan penulisan makalah ini. Oleh sebab itu saya menerima kritik positif dari pembaca sebagai perbaikan
bagi penulis dimasa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfat.
Akhir kata penulis ucapkan “Terima Kasih”
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................i
DAFTAR
ISI.....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang..............................................................................................1
1.2. Rumusan
Masalah.........................................................................................2
1.3. Tujuan Penulisan...........................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengukuran Dalam Konsep
Diri..........................................................
2.2 Masalah Masalah Dalam Pengukuran Konsep
Diri......................................
2.3
Teknik-Teknik
Pengukuran/Survai
Kepribadian..........................
BAB III PENUTUP
3.1 Saran.............................................................................................................7
3.2 Kesimpulan...................................................................................................7
3.3 Daftar
pustaka...............................................................................................8
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengukuran Konsep Diri
Pengenalan dan pengukuran potensi diri sangat diperlukan
bagi seorang pimpinan. Pengertian diri adalah keseluruhan dari self maupun ego
yang ada pada diri dan kepribadian. Sedangkan potensi adalah
kemampuan-kemampuan dan kualitas-kualitas yang dimiliki oleh seseorang namun
belum dipergunakan secara maksimal.
Jadi Pengenalan dan pengukuran potensi
diri adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan, kekuatan dan
daya yang ada pada diri dengan menggunakan cara, metode, dan alat ukur atau
instrument tertentu dengan aturan/tolok ukur atau karakteristik tertentu.
Adapun tujuan dari pengenalan dan pengukuran potensi diri ini adalah untuk
memberikan gambaran kepribadian seseorang, gambaran kecenderungan seseorang
dalam berperilaku, sementara manfaatnya adalah untuk mengembangkan nature
(kepribadian manusia yang terbentuk dari bawaan/lahir/bakat) dan nurture
(kepribadian manusia yang terbentuk karena pengaruh lingkungan). Sementara
metode pengukuran potensi diri dapat dilakukan melalui diri sendiri (self
assessment), melalui feedback dari orang lain dan tes-tes psikologis seperti
tes kecerdasan, tes kepribadian, tes kepemimpinan, tes kreativitas dll.
Konsep diri adalah persepsi (pandangan)
seseorang terhadap dirinya, yang terbentuk melalui pengalaman dan interaksi
dengan lingkungan dan mendapat pengaruh dari orang-orang yang dianggap penting.
Konsep diri merupakan sistem operasi komputer mental yang mengendalikan apa
yang kita pikirkan, ucapkan, lakukan dan rasakan. Konsep diri terdiri dari 3
komponen yang saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya yaitu diri ideal
(self ideal), citra diri (self image) dan harga diri (self esteem). Konsep diri
ini akan sangat mempengaruhi pengembangan diri seseorang. Sebelum melakukan
pengembangan potensi diri, diperlukan pengukuran. Pengukuran dilakukan dengan
menggunakan metode:
1. Self assessment (introspeksi)
2. Feed back : langsung dan tidak
langsung; evaluatif dan deskriptif; bermanfaat
3. Tes psikologis/kepribadian
melalui:
• Tipologi diri: Kepribadian Sanguinis Populer (ekstrovert, membicara, optimis); Kepribadian Koleris Kuat (ekstrovert, pelaku, optimis); Kepribadian Melankolis Sempurna (introvert, pemikir, pesimis); Kepribadian Phlegmatis Damai (Introvert, Pengamat, Pesimis)
• Tipologi diri: Kepribadian Sanguinis Populer (ekstrovert, membicara, optimis); Kepribadian Koleris Kuat (ekstrovert, pelaku, optimis); Kepribadian Melankolis Sempurna (introvert, pemikir, pesimis); Kepribadian Phlegmatis Damai (Introvert, Pengamat, Pesimis)
• Tingkat Kepercayaan Diri: Menciptakan
definisi diri positif, memperjuangkan keinginan yang positif, mengatasi masalah
secara positif, memiliki dasar keputusan yang positif, memiliki metode/teladan
yang positif (menghindari mencari-cari alasan, menggunakan daya imajinasi,
tidak takut gagal, berpenampilan membentuk kepercayaan diri, menyusun catatan
mengenai sukses yang diperoleh).
• Ambisi: menumbuhkan dan mengendalikan
ambisi dengan cara: miliki tujuan yang jelas dan mengacu pada tujuan tersebut,
tentukan kapan akan dikerja untuk direalisasikan, jika gagal pelajari
penyebabnya, jangan ubah tujuan hanya karna gagal, bekerjasama dengan
orang-orang yang dapat membantu tercapainya tujuan, eksploitasi gagasan untuk
merumuskan tujuan yang jelas, selalu berpikir positif.
A.
Masalah Masalah Dalam
Metologi
Pengembangan potensi diri tidak semudah dibayangkan. Ada
banyak hambatan, baik dari diri sendiri maupun lingkungan, dan yang paling
menghambat biasanya ada dalam diri seperti ketidakmampuan mengatur diri, nilai
pribadi yang tidak jelas, tujuan pribadi yang tidak jelas, pribadi yang kerdil,
kemampuan yang tidak memadai untuk memecahkan masalah, kreativitas rendah,
wibawa rendah, kemampuan pemahaman manajerial rendah, kemampuan menyelia
rendah, kemampuan latih rendah, kemampuan membina tim rendah.
Oleh krena itu, yang pertama harus
disingkirkan adalah hambatan-hambatan yang ada dalam diri sendiri. Kemudian
untuk dapat mengembangkan potensi diri, perlu diperjelas dalam pikiran seperti
apa yang kita ingin menjadi di masa yang akan datang, misalnya dengan:
menentukan sasaran yang jelas, menentukan cara menilai keberhasilan, mensyukuri
kemajuan waluapun hanya sedikit, berani mengambil resiko, perkembangan diatur
oleh diri sendiri, memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, terbuka untuk
belajar dari siapa saja, belajar dari kesalahan dan selalu bersikap realistis, jangan
hanya berbicara, tetapi kerjakan yang kita ucapkan. Sedangkan langkah-langkah
yang perlu dilakukan untuk rancangan pengembangan haruslah tertulis, karena
kalau tidak tertulis sama saja dengan angan-angan bukan tujuan.
Adapun
langkah-langkahnya yakni: menuliskan gambaran yang kita inginkan dalam
bidang-bidang, menuliskan potensi atau perilaku yang kita ingin hilangkan dan
upaya untuk menghilangkan, menuliskan potensi yang ingin kita kembangkan,
menentukan langkah-langkah kegiatan serta waktu
beberapa
masalah dalam pengukuran pencapaiannya, menentukan tolok ukur untuk nilai
keberhasilannya.Dalam testing diri , terdapat konsep diri dalam bidang minat yaitu
sebagai berikut:
1.
Tidak ada bukti stabilitas minat, terutama pada akhir
remaja, beberapa klien mengubah minat mereka secara dramatis ketika dewasa.
2.
Tes yang diberikan sebelum usia 10 atau 11 tahun tidak
akurat dalam pengukuran minat, karena siswa mungkin belum atau tidak memiliki
latar belakang pengalaman nyata.
3.
Kesuksesan kerja biasanya berkorelasi lebih pada kemampuan
daripada minat.
4.
Beberapa inventori minat mudah dipalsukan, baik intensional
maupun tidak.
5.
Suatu set tanggung jawab mungkin mempengaruhi validitas
profil individu, klien mungkin memilik opsi-opsi yang mereka anggap lebih
diinginkan secara sosial atau persetujuan.
6.
SkoR-skor tinggi tidak hanya skor-skor bernilai pada
inventori minat. Skor rendah menunjukkan apa yang orang-orang tidak sukai atau
ingin menghindari, sering lebih prediktif daripada skor tinggi.
7.
Harapan-harapan social dan tradisi-tradisi mungkin bukti
yang lebih penting daripada minat dalam menentukan nilai pekerjaan. Bias gender
merupakan perhatian terbesar dalam pengukuran minat selama beberapa decade
yang lalu, dan kebutuhan dipertimbangkan ketika seleksi instrument dan interpretasi
profil.
8.
Kelas sosial ekonomi mungkin mempengaruhi pola-pola skor
pada tes minat.
9.
Inventori mungkin menjadi alat profesi lebih daripada
area keterampilan dan semi keterampilan. Beberapa inventori adalah penting
karena mereka alat eksklusif untuk siswa perguruan tinggi.
10.
Profil mungkin menjadi datar dan sukar untuk
diinterpretasikan, Dalam situasi tertentu, seorang konselor sebaiknya
menggunakan tes dan teknik lain untuk mengukur minat.
Tes
menggunakan tipe-tipe prosedur skoring yang berbeda. Beberapa tes minat
menggunakan item-item pilihan kekuatan, dimana individu diminta untuk memilih
dari suatu set opsi (pilihan). Responden mungkin menyukai atau tidak menyukai
semua pilihan-pilihan, tetapi masih harus memilih. Prosedur skoring akan
memiliki dampak pada interpretasi hasil.
B.
Teknik-Teknik Pengukuran/Survai
Kepribadian
Dalam testing
kepribadian, menurut Koppitz (1982) terdapat beberapa teknik untuk mengukur
kepribadian yang spesifik, yaitu sebagai berikut:
1. Verbal techniques (teknik verbal)
Teknik verbal melibatkan stimuli verbal dan respon verbal,
yang dapat disampaikan (ditransmisikan) secara lisan atau tulisan. Responden
sebaiknya memiliki kecukupan keterampilan berbahasa yang bagus, mampu mendengar
atau membaca kata-kata, serta mengekspresikan dirinya sendiri secara lisan
maupun tulisan.
Teknik verbal meliputi teknik-teknik sebagai berikut:
Teknik verbal meliputi teknik-teknik sebagai berikut:
a.
Projective questions (pertanyaan proyeksi), antara lain:
-
Jika anda memulai program studi anda kembali, maukah anda masuk dalam
bidang yang sama?
-
Jika anda dapat menjadi seperti sesuatu yang anda inginkan, anda akan menjadi
apa?
-
Jika anda mempunyai tiga harapan, apa yang akan anda harapkan?
-
Apakah yang anda paling sukai mengenai sekolah?
-
Apakah yang anda paling tidak sukai tentang sekolah?
b. Sentence completion (komplesi kalimat)
Metode komplesi
kalimat merupakan tes kepribadian yang dipublikasikan oleh Rotter &
Rafferti (1950) dalam Rotter Incomplete Sentence Blank (ISB) ke dalam 3 bentuk:
sekolah menengah atas, perguruan tinggi, dan dewasa. Setiap bentuk terdiri dari
40 item, dengan membuang kalimat untuk dilengkapi responden. Dengan demikian,
responden diminta untuk menyelesaikan kalimat yang belum lengkap. Respons klien
(responden) akan mengungkapkan karakteristik kepribadian penting yang
mendasarinya. Kalimat dari responden tadi dirancang untuk menilai sikap
keluarga, teman sebaya, sekolah, pekerjaan, kecemasan, kesalahan, dan
ketidakmampuan fisik.
Koppits (1982)
menganalisa isi respons, kualitas bahasa dan struktur kalimat, perbendaharaan
kata, ejaan, serta tulisan tangan. Derajat sistem skoring ISB kalimat lengkap
pada skala poin 7 mengenai tingkatan pernyataan konflik. Respons dapat
diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu: respons tidak sehat, respons
netral, serta respons positif atau sehat.
c. Story completion (komplesi cerita)
Thomas (1937)
mengembangkan suatu set yang terdiri dari 15 cerita mengenai anak-anak secara
hipotetik pada umur dan gender yang sama sebagai responden. Sedangkan Koppits
(1982) merancang cerita-cerita untuk investigasi mimpi anak-anak, frustasi,
sikap, dan mekanisme pertahanan, dan mereka dapat dianalisis untuk tema-tema
mayor
2. Visual techniques (teknik visual)
Dengan teknik visual,
stimuli visual direpresentasikan untuk responden, yang selanjutnya memberi
respons verbal. Teknik visual dapat dilakukan dengan teknik-teknik proyektif.
Menurut Lindzey (1961) bahwa, teknik proyektif adalah sebuah instrumen yang
dianggap sangat sensitif untuk aspek-aspek perilaku yang tidak tampak atau
tidak disadari; instrumen itu memberikan kesempatan untuk mendorong berbagai
macam respons subjektif, sangat multidimensional, dan menghasilkan data respons
yang sangat kaya dan mendalam, dan subjeknya tidak menyadari maksud tes
tersebut (Sundberg, Winebarger, & Taplin, 2007:118). Dengan demikian, tes
proyektif membutuhkan lebih banyak keterampilan untuk
mengadministrasikan, mencatat, dan menskor dibanding inventori-inventori
objektif. Stimuli nya bukan berupa pernyataan dan pertanyaan tertulis,
tetapi berupa materi yang tak terstruktur dan ambigu. Selain itu, maksud tes
ini cenderung tidak jelas bagi subjek.
Tes kepribadian yang menggunakan teknik proyektif ditemukan oleh Hermann Rorschach dan dipublikasikan dalam monographnya, Psychodiagnostik pada tahun 1921. Rorschach terdiri atas 10 bercak tinta yang simetrik secara bilateral, sebagian warna hitam dan abu-abu dan sebagian berwarna, yang harus direspons oleh subjek dengan mengatakan apa yang dipersepsinya dari masing-masing bercak tinta itu. Dengan demikian, responden diminta untuk menceritakan apakah bercak tinta (inkblots) mengingatkan mereka akan sesuatu.
Penguji menyajikan masing-masing bercak tinta satu per satu dengan urutan terbalik dibanding urutan yang pertama dan meminta subjek untuk menjelaskan apa yang membuatnya mempersepsikannya seperti itu. Dengan menggunakan respons-respons tersebut, penguji atau asesor menskor respons-respons tersebut dengan melihat lokasinya (apakah subjek menggunakan seluruh bercak atau hanya hanya mempersepsi sebagian saja), determinan (apa ciri-ciri bercak yang membuat subjek mempersepsinya seperti yang dilaporkannya, misalnya bentuk, warna, shading, dan sebagainya), serta isi (misalnya manusia, hewan, anatomi, pemandangan, dan lain-lain).
Tes Rorschach berguna karena tugas-tugas perkembangan perlu melewati resistensi kesadaran responden dan membantu memperoleh informasi tentang proses ketidaksadaran. Namun, terdapat beberapa kelemahan tes Rorschach, diantaranya adalah: dampak subjektivitas klinisi dalam interpretasinya, atau kecenderungan klinisi untuk sangat menyandarkan diri pada kesan-kesan subjektif berdasarkan pengalamannya dengan instrumen tes Rorschach.
3. Drawing techniques (teknik menggambar)
Menggambar menjadi
media natural bagi anak-anak serta seniman untuk mengekspresikan dirinya serta
memberi insight (wawasan) dalam prosesnya. Menggambar merupakan teknik
proyektif dimana klien berbagi persepsi dan reaksinya kepada dunia sekitarnya.
Teknik-teknik menggambar dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Draw-a-Person Test , dikembangkan oleh Florence Goodenough untuk menilai intelegensi anak-anak, kemudian diperluas oleh Machover (1949) yang meliputi suatu petunjuk untuk evaluasi variable kepribadian. Lebih jauh, Koppitz (1968) menemukan sistem skoring dan mengembangkan suatu sistem identifikasi indicator-indikator kesulitan emosional yang berbeda.
Koppitz mengidentifikasi 30 indikator emosional dalam gambar anak-anak, dengan indikator menurut perilaku yang mereka refleksikan. Contohnya, depresi, dalam gambar anak-anak dikarakteristikkan sebagai figure yang kurus dan berlengan pendek, tetapi tanpa mata. Sikap-sikap yang dapat diidentifikasi melalui analisis gambar adalah impulsivitas, kecemasan, rasa malu, dan ketakutan.
b. Family Drawing, dapat memberi wawasan persepsi individu dalam keluarga.
Dalam Kinetic Family Drawing Test (KFD), individu diminta
untuk menggambar segala sesuatu yang dikerjakan keluarga. Tes KFD dianalisa
untuk aksi, simbol, dan gaya. Aksi menggantikan pergerakan energi antara orang
atau objek dan dapat mengindikasikan perasaan yang ditunjukkan.
Simbol-simbol diinterpretasikan sesuai teori psikoanalitik.
c. House-Tree-Person Test (HTP),
meminta individu untuk menggambar sebuah
rumah, pohon, dan orang. Hammer (1985) berpendapat bahwa, rumah
merepresentasikan arah individu dalam memandang situasi rumahnya dan hubungan
intra keluarga. Gambar pohon dianalisa melalui ukuran, bentuk, dan kualitas
batang, dahan, daun, dan dasar dimana pohon berdiri, yang merepresentasikan
kedalaman diri individu. Gambar orang merupakan representasi sadar individu dan
lingkungannya.
d. Bender Visual - Motor Gestalt Test, Second Edition (Bender Gestalt II),
mengukur keterampilan
integrasi motorik dan visual, secara umum menggantikan koordinasi mata dan
tangan, serta memori (ingatan) individu usia 3 (tiga) tahun ke atas.
Bender -Gestalt II terdiri dari 14 kartu stimulus, setiap display rancangan
yang unik. Setiap rancangan merepresentasikan rangkaian subjek tugas
untuk mereproduksi mereka pada lembaran atau kertas kosong. Bender-Gestalt II
merupakan alat yang reliable untuk menilai perkembangan visual motorik dan
digunakan sebagai suatu saringan untuk perbaikan psikologis.
4. Manipulative techniques (teknik manipulatif)
Koppitz (Drummond
& Jones, 2006:251) berpendapat bahwa, bermain dapat merupakan teknik
projektif ketika digunakan dalam material seleksi dalam sebuah lingkungan yang
bebas dari distraksi serta dalam kehadiran observer. Teknik manipulatif khusus
digunakan untuk anak yang mempunyai ketidakmampuan sosial, bahasa, budaya, atau
ketidakmampuan fisik.
Mainan adalah item natural dan familiar untuk anak-anak. Teknik manipulatif bernilai diagnostik dan terapeutik, sehingga anak-anak merasa nyaman dalam suatu lingkungan permainan. Pertunjukan boneka dapat membuat anak merasa menikmati keterlibatan observasi psikologis.
5. Objective techniques (teknik objektif)
Teknik objektif
dengan menggunakan kuesioner kepribadian paling umum digunakan, dapat digunakan
untuk individu atau kelompok dan dengan mudah dapat diadministrasi dan diskor.
Kuesioner digunakan untuk mengukur seluruh dimensi kepribadian yang
berbeda-beda, diantaranya sikap, penyesuaian, temperamen, nilai-nilai,
motivasi, perilaku moral, serta kecemasan.
Teknik objektif yang
paling sering digunakan adalah Minnesota Multiphasic Personality Inventory – 2
(MMPI-2), California Psychological Inventory, serta Millon Clinical Multiaxial
Inventory (MCMI-III).
a. Minnesota Multiphasic Personality Inventory – 2 (MMPI-2)
MMPI-2 merupakan tes
kepribadian komprehensif yang membantu klinisi dalam diagnosa gangguan mental,
dan dapat dgunakan sebagai testimoni klinisi dikarenakan pondasi empirik yang
kuat. MMPI-2 digunakan untuk individu usia 18 tahun keatas yang dapat membaca
pada minimum level 6. Tes MMPI-2 mempunyai 567 pertanyaan kebenaran /
kesalahan, dan membutuhkan waktu sekitar 60-90 menit.
Skor kasar MMPI-2 diterjemahkan ke dalam skala validitas mayor: Lie (L)/kebohongan, Infrequency (F)/ jarang terjadi, dan Correction (K)/ koreksi. MMPI-2 mempunyai beberapa skala validitas baru, yaitu Fb (unusual response inconsistency / inkonsistensi respons luar biasa), TRIN (true respons inconsistency /inkonsistensi respons kebenaran), VRI ( variable response inconsistency / inkonsistensi respons variabel). Hasil tes dianggap valid jika kurang dari 30 item tak terjawab dan skala validitas lain dalam batas normal.
Skor kasar MMPI-2 diterjemahkan ke dalam skala validitas mayor: Lie (L)/kebohongan, Infrequency (F)/ jarang terjadi, dan Correction (K)/ koreksi. MMPI-2 mempunyai beberapa skala validitas baru, yaitu Fb (unusual response inconsistency / inkonsistensi respons luar biasa), TRIN (true respons inconsistency /inkonsistensi respons kebenaran), VRI ( variable response inconsistency / inkonsistensi respons variabel). Hasil tes dianggap valid jika kurang dari 30 item tak terjawab dan skala validitas lain dalam batas normal.
b. California Psychological Inventory (CPI) oleh Bradley (1996),
dirancang sebagai
alat bantu untuk memahami perilaku psikososial orang-orang normal, untuk
menyediakan ukuran-ukuran untuk “konsep-konsep tradisional” utama dalam
kehidupan sehari-hari. CPI focus pada diagnosis dan pemahaman perilaku
interpersonal dengan populasi umum.
c. Millon Clinical Multiaxial Inventory (MCMI-III)
oleh TheodoreMillon,
digunakan untuk menilai gangguan kepribadian dan sindrom klinis. Dengan
demikian, tes MCMI tidak dimaksudkan untuk digunakan pada populasi normal,
karena konstruksi skala-skala dan norma-normanya didasarkan pada data dari para
pasien psikiatrik.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Pengenalan
dan pengukuran potensi diri adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk mengetahui
kemampuan, kekuatan dan daya yang ada pada diri dengan menggunakan cara,
metode, dan alat ukur atau instrument tertentu dengan aturan/tolok ukur atau
karakteristik tertentu. Adapun tujuan dari pengenalan dan pengukuran potensi
diri ini adalah untuk memberikan gambaran kepribadian seseorang, gambaran
kecenderungan seseorang dalam berperilaku, sementara manfaatnya adalah untuk
mengembangkan nature (kepribadian manusia yang terbentuk dari
bawaan/lahir/bakat) dan nurture (kepribadian manusia yang terbentuk karena
pengaruh lingkungan). Sementara metode pengukuran potensi diri dapat dilakukan
melalui diri sendiri (self assessment), melalui feedback dari orang lain dan
tes-tes psikologis seperti tes kecerdasan, tes kepribadian, tes kepemimpinan,
tes kreativitas.
Ada
pun hambatan,
baik dari diri sendiri maupun lingkungan, dan yang paling menghambat biasanya
ada dalam diri seperti ketidakmampuan mengatur diri, nilai pribadi yang tidak
jelas, tujuan pribadi yang tidak jelas, pribadi yang kerdil, kemampuan yang
tidak memadai untuk memecahkan masalah, kreativitas rendah, wibawa rendah,
kemampuan pemahaman manajerial rendah, kemampuan menyelia rendah, kemampuan
latih rendah, kemampuan membina tim rendah.
beberapa teknik untuk
mengukur kepribadian yang spesifik, yaitu sebagai berikut: Verbal techniques
(teknik verbal), Visual techniques (teknik visual), Drawing
techniques (teknik menggambar), Manipulative techniques (teknik
manipulatif),dan Objective techniques (teknik objektif).
DAFTAR PUSTAKA
http://konselor008.blogspot.com/2013/03/masalah-masalah-dalam-pengukuran-minat.html.
Komentar
Posting Komentar