Langsung ke konten utama

MAKALAH Konsep Diri Manusia Sebagai Pribadi



Konsep Diri Manusia Sebagai Pribadi
“Pengukuran dalam Konsep Diri”
PGRI.jpg
Dosen pengasuh : Maulida. YK,S.Pd, Msi
Di susun
Oleh:

1)      Nur aulia                    (2014 141 084)
2)      Anjali intan sari         (2014 141      )
3)      Ika ayu oktaviani       (2014 141      )

Program Studi Bimbingan Dan Konseling
Fakultas Ilmu Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
2015
                                                      





KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT bahwa dengan Rahmat dan Ridho-Nya saya dapat menyelesaikan Makalah  Konsep Diri Manusia Sebagai Pribadi yang berjudul “Pengukuran Dalam Konsep Diri” sebagai tugas Mata Kuliah Semester satu.
Semoga Makalah ini dapat menambah wawasan kita semua dan dapat memenuhi kriteria tugas yang bapak berikan serta dapat menjadi nilai tambah untuk penulis.
Tak ada yang sempurna, begitu pula dengan penulisan makalah ini. Oleh sebab itu saya menerima kritik positif dari pembaca sebagai perbaikan bagi penulis dimasa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfat.
Akhir kata penulis ucapkan “Terima Kasih”




















                                                 DAFTAR ISI                                

KATA PENGANTAR.......................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang..............................................................................................1
1.2.  Rumusan Masalah.........................................................................................2
1.3.   Tujuan Penulisan...........................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1   Pengukuran Dalam Konsep Diri..........................................................
2.2  Masalah Masalah Dalam Pengukuran Konsep Diri......................................
2.3 Teknik-Teknik  Pengukuran/Survai  Kepribadian..........................
BAB III     PENUTUP
3.1   Saran.............................................................................................................7
3.2   Kesimpulan...................................................................................................7
3.3   Daftar pustaka...............................................................................................8







BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengukuran Konsep Diri
   Pengenalan dan pengukuran potensi diri sangat diperlukan bagi seorang pimpinan. Pengertian diri adalah keseluruhan dari self maupun ego yang ada pada diri dan kepribadian. Sedangkan potensi adalah kemampuan-kemampuan dan kualitas-kualitas yang dimiliki oleh seseorang namun belum dipergunakan secara maksimal.
Jadi Pengenalan dan pengukuran potensi diri adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan, kekuatan dan daya yang ada pada diri dengan menggunakan cara, metode, dan alat ukur atau instrument tertentu dengan aturan/tolok ukur atau karakteristik tertentu. Adapun tujuan dari pengenalan dan pengukuran potensi diri ini adalah untuk memberikan gambaran kepribadian seseorang, gambaran kecenderungan seseorang dalam berperilaku, sementara manfaatnya adalah untuk mengembangkan nature (kepribadian manusia yang terbentuk dari bawaan/lahir/bakat) dan nurture (kepribadian manusia yang terbentuk karena pengaruh lingkungan). Sementara metode pengukuran potensi diri dapat dilakukan melalui diri sendiri (self assessment), melalui feedback dari orang lain dan tes-tes psikologis seperti tes kecerdasan, tes kepribadian, tes kepemimpinan, tes kreativitas dll.
Konsep diri adalah persepsi (pandangan) seseorang terhadap dirinya, yang terbentuk melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan dan mendapat pengaruh dari orang-orang yang dianggap penting. Konsep diri merupakan sistem operasi komputer mental yang mengendalikan apa yang kita pikirkan, ucapkan, lakukan dan rasakan. Konsep diri terdiri dari 3 komponen yang saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya yaitu diri ideal (self ideal), citra diri (self image) dan harga diri (self esteem). Konsep diri ini akan sangat mempengaruhi pengembangan diri seseorang. Sebelum melakukan pengembangan potensi diri, diperlukan pengukuran. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan metode:
1. Self assessment (introspeksi)
2. Feed back : langsung dan tidak langsung; evaluatif dan deskriptif; bermanfaat
3. Tes psikologis/kepribadian
melalui:
• Tipologi diri: Kepribadian Sanguinis Populer (ekstrovert, membicara, optimis); Kepribadian Koleris Kuat (ekstrovert, pelaku, optimis); Kepribadian Melankolis Sempurna (introvert, pemikir, pesimis); Kepribadian Phlegmatis Damai (Introvert, Pengamat, Pesimis)
• Tingkat Kepercayaan Diri: Menciptakan definisi diri positif, memperjuangkan keinginan yang positif, mengatasi masalah secara positif, memiliki dasar keputusan yang positif, memiliki metode/teladan yang positif (menghindari mencari-cari alasan, menggunakan daya imajinasi, tidak takut gagal, berpenampilan membentuk kepercayaan diri, menyusun catatan mengenai sukses yang diperoleh).                                                                                          
• Ambisi: menumbuhkan dan mengendalikan ambisi dengan cara: miliki tujuan yang jelas dan mengacu pada tujuan tersebut, tentukan kapan akan dikerja untuk direalisasikan, jika gagal pelajari penyebabnya, jangan ubah tujuan hanya karna gagal, bekerjasama dengan orang-orang yang dapat membantu tercapainya tujuan, eksploitasi gagasan untuk merumuskan tujuan yang jelas, selalu berpikir positif.
A.          Masalah Masalah Dalam Metologi
   Pengembangan potensi diri tidak semudah dibayangkan. Ada banyak hambatan, baik dari diri sendiri maupun lingkungan, dan yang paling menghambat biasanya ada dalam diri seperti ketidakmampuan mengatur diri, nilai pribadi yang tidak jelas, tujuan pribadi yang tidak jelas, pribadi yang kerdil, kemampuan yang tidak memadai untuk memecahkan masalah, kreativitas rendah, wibawa rendah, kemampuan pemahaman manajerial rendah, kemampuan menyelia rendah, kemampuan latih rendah, kemampuan membina tim rendah.
Oleh krena itu, yang pertama harus disingkirkan adalah hambatan-hambatan yang ada dalam diri sendiri. Kemudian untuk dapat mengembangkan potensi diri, perlu diperjelas dalam pikiran seperti apa yang kita ingin menjadi di masa yang akan datang, misalnya dengan: menentukan sasaran yang jelas, menentukan cara menilai keberhasilan, mensyukuri kemajuan waluapun hanya sedikit, berani mengambil resiko, perkembangan diatur oleh diri sendiri, memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, terbuka untuk belajar dari siapa saja, belajar dari kesalahan dan selalu bersikap realistis, jangan hanya berbicara, tetapi kerjakan yang kita ucapkan. Sedangkan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk rancangan pengembangan haruslah tertulis, karena kalau tidak tertulis sama saja dengan angan-angan bukan tujuan.
Adapun langkah-langkahnya yakni: menuliskan gambaran yang kita inginkan dalam bidang-bidang, menuliskan potensi atau perilaku yang kita ingin hilangkan dan upaya untuk menghilangkan, menuliskan potensi yang ingin kita kembangkan, menentukan langkah-langkah kegiatan serta waktu
beberapa masalah dalam pengukuran pencapaiannya, menentukan tolok ukur untuk nilai keberhasilannya.Dalam testing diri , terdapat konsep diri dalam bidang minat yaitu sebagai berikut:
1.                       Tidak ada bukti stabilitas minat, terutama pada akhir remaja, beberapa klien mengubah minat mereka secara dramatis ketika dewasa.
2.                       Tes  yang diberikan sebelum usia 10 atau 11 tahun tidak akurat dalam pengukuran minat, karena siswa mungkin belum atau tidak memiliki latar  belakang pengalaman nyata.
3.                       Kesuksesan kerja biasanya berkorelasi lebih pada kemampuan daripada minat.
4.                       Beberapa inventori minat mudah dipalsukan, baik intensional maupun tidak.
5.                       Suatu set tanggung jawab mungkin mempengaruhi validitas profil individu, klien mungkin memilik opsi-opsi yang mereka anggap lebih diinginkan secara sosial atau persetujuan.
6.                       SkoR-skor tinggi tidak hanya skor-skor bernilai pada inventori minat. Skor rendah menunjukkan apa yang orang-orang tidak sukai atau ingin menghindari, sering lebih prediktif daripada skor tinggi.
7.                       Harapan-harapan social dan tradisi-tradisi mungkin bukti yang lebih penting daripada minat dalam menentukan nilai pekerjaan. Bias gender merupakan perhatian terbesar dalam pengukuran minat selama beberapa decade yang  lalu, dan kebutuhan dipertimbangkan ketika seleksi instrument dan interpretasi profil.
8.                       Kelas sosial ekonomi mungkin mempengaruhi pola-pola skor pada tes minat.
9.                       Inventori mungkin menjadi alat  profesi lebih daripada area keterampilan dan semi keterampilan. Beberapa inventori adalah penting karena mereka alat eksklusif untuk siswa perguruan tinggi.
10.                   Profil mungkin menjadi datar dan sukar untuk diinterpretasikan, Dalam situasi tertentu, seorang konselor sebaiknya menggunakan tes dan teknik lain untuk mengukur minat.
Tes menggunakan tipe-tipe prosedur skoring yang berbeda. Beberapa tes minat menggunakan item-item pilihan kekuatan, dimana individu diminta untuk memilih dari suatu set opsi (pilihan). Responden mungkin menyukai atau tidak menyukai semua pilihan-pilihan, tetapi masih harus memilih. Prosedur skoring akan memiliki dampak pada interpretasi hasil.

B.    Teknik-Teknik  Pengukuran/Survai  Kepribadian
          Dalam testing kepribadian, menurut Koppitz (1982) terdapat beberapa teknik untuk mengukur kepribadian yang spesifik, yaitu sebagai berikut:
1.    Verbal techniques (teknik verbal)
Teknik verbal melibatkan stimuli verbal dan respon verbal, yang dapat disampaikan (ditransmisikan) secara lisan atau tulisan. Responden sebaiknya memiliki kecukupan keterampilan berbahasa yang bagus, mampu mendengar atau membaca kata-kata, serta mengekspresikan dirinya sendiri secara lisan maupun tulisan.
Teknik verbal meliputi teknik-teknik sebagai berikut:
a.                   Projective questions (pertanyaan proyeksi), antara lain:
-    Jika anda memulai program studi anda kembali, maukah  anda masuk dalam bidang yang sama?
-    Jika anda dapat menjadi seperti sesuatu yang anda inginkan, anda akan menjadi apa?
-    Jika anda mempunyai tiga harapan, apa yang akan anda harapkan?
-    Apakah yang anda paling sukai mengenai sekolah?
-    Apakah yang anda paling tidak sukai tentang sekolah?

b.    Sentence completion (komplesi kalimat)
Metode komplesi kalimat merupakan tes kepribadian yang dipublikasikan oleh Rotter & Rafferti (1950) dalam Rotter Incomplete Sentence Blank (ISB) ke dalam 3 bentuk: sekolah menengah atas, perguruan tinggi, dan dewasa. Setiap bentuk terdiri dari 40 item, dengan membuang kalimat untuk dilengkapi responden. Dengan demikian, responden diminta untuk menyelesaikan kalimat yang belum lengkap. Respons klien (responden) akan mengungkapkan karakteristik kepribadian penting yang mendasarinya. Kalimat dari responden tadi dirancang untuk menilai sikap keluarga, teman sebaya, sekolah, pekerjaan, kecemasan, kesalahan, dan ketidakmampuan fisik.

Koppits (1982) menganalisa isi respons, kualitas bahasa dan struktur kalimat, perbendaharaan kata, ejaan, serta tulisan tangan. Derajat sistem skoring ISB kalimat lengkap pada skala poin 7 mengenai tingkatan pernyataan konflik. Respons dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu: respons tidak sehat, respons netral, serta respons positif atau sehat.

c.    Story completion (komplesi cerita)
Thomas (1937) mengembangkan suatu set yang terdiri dari 15 cerita mengenai anak-anak secara hipotetik pada umur dan gender yang sama sebagai responden. Sedangkan Koppits (1982) merancang cerita-cerita untuk investigasi mimpi anak-anak, frustasi, sikap, dan mekanisme pertahanan, dan mereka dapat dianalisis untuk tema-tema mayor

2.    Visual techniques (teknik visual)
Dengan teknik visual, stimuli visual direpresentasikan untuk responden, yang selanjutnya memberi respons verbal. Teknik visual dapat dilakukan dengan teknik-teknik proyektif. Menurut Lindzey (1961) bahwa, teknik proyektif adalah sebuah instrumen yang dianggap sangat sensitif untuk aspek-aspek perilaku yang tidak tampak atau tidak disadari; instrumen itu memberikan kesempatan untuk mendorong berbagai macam respons subjektif, sangat multidimensional, dan menghasilkan data respons yang sangat kaya dan mendalam, dan subjeknya tidak menyadari maksud tes tersebut (Sundberg, Winebarger, & Taplin, 2007:118). Dengan demikian, tes proyektif membutuhkan lebih banyak  keterampilan untuk mengadministrasikan, mencatat, dan menskor dibanding inventori-inventori objektif.  Stimuli nya bukan berupa pernyataan dan pertanyaan tertulis, tetapi berupa materi yang tak terstruktur dan ambigu. Selain itu, maksud tes ini cenderung tidak jelas bagi subjek.

            Tes kepribadian yang menggunakan teknik proyektif ditemukan oleh Hermann Rorschach dan dipublikasikan dalam monographnya, Psychodiagnostik  pada tahun 1921. Rorschach terdiri atas 10 bercak tinta yang simetrik secara bilateral, sebagian warna hitam dan abu-abu dan sebagian berwarna, yang harus direspons oleh subjek dengan mengatakan apa yang dipersepsinya dari masing-masing bercak tinta itu. Dengan demikian, responden diminta untuk menceritakan apakah bercak tinta (inkblots) mengingatkan mereka akan sesuatu.

               Penguji menyajikan masing-masing bercak tinta satu per satu dengan urutan terbalik dibanding urutan yang pertama dan meminta subjek untuk menjelaskan apa yang membuatnya mempersepsikannya seperti itu. Dengan menggunakan respons-respons tersebut, penguji atau asesor menskor respons-respons tersebut dengan melihat lokasinya (apakah subjek menggunakan seluruh bercak atau hanya hanya mempersepsi sebagian saja), determinan (apa ciri-ciri bercak yang membuat subjek mempersepsinya seperti yang dilaporkannya, misalnya bentuk, warna, shading, dan sebagainya), serta isi (misalnya manusia, hewan, anatomi, pemandangan, dan lain-lain).

          Tes Rorschach berguna karena tugas-tugas perkembangan perlu melewati resistensi kesadaran responden dan membantu memperoleh informasi tentang proses ketidaksadaran. Namun, terdapat beberapa kelemahan tes Rorschach, diantaranya adalah: dampak subjektivitas klinisi dalam interpretasinya, atau kecenderungan klinisi untuk sangat menyandarkan diri pada kesan-kesan subjektif berdasarkan pengalamannya dengan instrumen tes Rorschach.


3.    Drawing techniques (teknik menggambar)
Menggambar menjadi media natural bagi anak-anak serta seniman untuk mengekspresikan dirinya serta memberi insight (wawasan) dalam prosesnya. Menggambar merupakan teknik proyektif dimana klien berbagi persepsi dan reaksinya kepada dunia sekitarnya.

Teknik-teknik menggambar dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a.    Draw-a-Person Test , dikembangkan oleh Florence Goodenough untuk menilai intelegensi anak-anak, kemudian diperluas oleh Machover (1949) yang meliputi suatu petunjuk untuk evaluasi variable kepribadian. Lebih jauh, Koppitz (1968) menemukan sistem skoring dan mengembangkan suatu sistem identifikasi indicator-indikator kesulitan emosional yang berbeda.

        Koppitz mengidentifikasi 30 indikator emosional dalam gambar anak-anak, dengan indikator menurut perilaku yang mereka refleksikan.  Contohnya, depresi, dalam gambar anak-anak dikarakteristikkan sebagai figure yang kurus dan berlengan pendek, tetapi tanpa mata. Sikap-sikap yang dapat diidentifikasi melalui analisis gambar adalah impulsivitas, kecemasan, rasa malu, dan ketakutan.


b.    Family Drawing, dapat memberi wawasan persepsi individu dalam keluarga.
      Dalam Kinetic Family Drawing Test (KFD), individu diminta untuk menggambar segala sesuatu yang dikerjakan keluarga. Tes KFD dianalisa untuk aksi, simbol, dan gaya. Aksi menggantikan pergerakan energi antara orang atau  objek dan dapat mengindikasikan perasaan yang ditunjukkan. Simbol-simbol diinterpretasikan sesuai teori psikoanalitik.

c.    House-Tree-Person Test (HTP),
 meminta individu untuk menggambar sebuah rumah, pohon, dan orang. Hammer (1985) berpendapat bahwa, rumah merepresentasikan arah individu dalam memandang situasi rumahnya dan hubungan intra keluarga. Gambar pohon dianalisa melalui ukuran, bentuk, dan kualitas batang, dahan, daun, dan dasar dimana pohon berdiri, yang merepresentasikan kedalaman diri individu. Gambar orang merupakan representasi sadar individu dan lingkungannya.


d.    Bender Visual - Motor Gestalt Test, Second Edition (Bender Gestalt II),
mengukur keterampilan integrasi motorik dan visual, secara umum menggantikan koordinasi mata dan tangan, serta memori (ingatan) individu usia 3 (tiga) tahun ke atas.  Bender -Gestalt II terdiri dari 14 kartu stimulus, setiap display rancangan yang unik. Setiap rancangan merepresentasikan rangkaian subjek tugas  untuk mereproduksi mereka pada lembaran atau kertas kosong. Bender-Gestalt II merupakan alat yang reliable untuk menilai perkembangan visual motorik dan digunakan sebagai suatu saringan untuk perbaikan psikologis.

4.    Manipulative techniques (teknik manipulatif)
Koppitz (Drummond & Jones, 2006:251) berpendapat bahwa, bermain dapat merupakan teknik projektif ketika digunakan dalam material seleksi dalam sebuah lingkungan yang bebas dari distraksi serta dalam kehadiran observer. Teknik manipulatif khusus digunakan untuk anak yang mempunyai ketidakmampuan sosial, bahasa, budaya, atau ketidakmampuan fisik.

              Mainan adalah item natural dan familiar untuk anak-anak. Teknik manipulatif bernilai diagnostik dan terapeutik, sehingga anak-anak  merasa nyaman dalam suatu lingkungan permainan. Pertunjukan boneka dapat membuat anak merasa menikmati keterlibatan observasi psikologis.

5.    Objective techniques (teknik objektif)
Teknik objektif dengan menggunakan kuesioner kepribadian paling umum digunakan, dapat digunakan untuk individu atau kelompok dan dengan mudah dapat diadministrasi dan diskor. Kuesioner digunakan untuk mengukur seluruh dimensi kepribadian yang berbeda-beda, diantaranya sikap, penyesuaian, temperamen, nilai-nilai, motivasi, perilaku moral, serta kecemasan.
Teknik objektif yang paling sering digunakan adalah Minnesota Multiphasic Personality Inventory – 2 (MMPI-2), California Psychological Inventory, serta Millon Clinical Multiaxial Inventory (MCMI-III).

a.    Minnesota Multiphasic Personality Inventory – 2 (MMPI-2)
MMPI-2 merupakan tes kepribadian komprehensif yang membantu klinisi dalam diagnosa gangguan mental, dan dapat dgunakan sebagai testimoni klinisi dikarenakan pondasi empirik yang kuat. MMPI-2 digunakan untuk individu usia 18 tahun keatas yang dapat membaca pada minimum level 6. Tes MMPI-2 mempunyai 567 pertanyaan kebenaran / kesalahan, dan membutuhkan  waktu sekitar 60-90 menit.
Skor kasar MMPI-2 diterjemahkan ke dalam skala validitas mayor: Lie (L)/kebohongan, Infrequency (F)/ jarang terjadi, dan Correction (K)/ koreksi. MMPI-2 mempunyai beberapa skala validitas baru, yaitu Fb (unusual response inconsistency / inkonsistensi respons luar biasa), TRIN (true respons inconsistency /inkonsistensi respons kebenaran), VRI ( variable response inconsistency / inkonsistensi respons variabel). Hasil tes dianggap valid jika kurang dari 30 item tak terjawab dan skala validitas lain dalam batas normal.



b.    California Psychological Inventory (CPI) oleh Bradley (1996),
dirancang sebagai alat bantu untuk memahami perilaku psikososial orang-orang normal, untuk menyediakan ukuran-ukuran untuk “konsep-konsep tradisional” utama dalam kehidupan sehari-hari. CPI focus pada diagnosis dan pemahaman perilaku interpersonal dengan populasi umum. 

c.    Millon Clinical Multiaxial Inventory (MCMI-III)
oleh TheodoreMillon, digunakan untuk menilai gangguan kepribadian dan sindrom klinis. Dengan demikian, tes MCMI tidak dimaksudkan untuk digunakan pada populasi normal, karena konstruksi skala-skala dan norma-normanya didasarkan pada data dari para pasien psikiatrik.
















BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pengenalan dan pengukuran potensi diri adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan, kekuatan dan daya yang ada pada diri dengan menggunakan cara, metode, dan alat ukur atau instrument tertentu dengan aturan/tolok ukur atau karakteristik tertentu. Adapun tujuan dari pengenalan dan pengukuran potensi diri ini adalah untuk memberikan gambaran kepribadian seseorang, gambaran kecenderungan seseorang dalam berperilaku, sementara manfaatnya adalah untuk mengembangkan nature (kepribadian manusia yang terbentuk dari bawaan/lahir/bakat) dan nurture (kepribadian manusia yang terbentuk karena pengaruh lingkungan). Sementara metode pengukuran potensi diri dapat dilakukan melalui diri sendiri (self assessment), melalui feedback dari orang lain dan tes-tes psikologis seperti tes kecerdasan, tes kepribadian, tes kepemimpinan, tes kreativitas.
Ada pun hambatan, baik dari diri sendiri maupun lingkungan, dan yang paling menghambat biasanya ada dalam diri seperti ketidakmampuan mengatur diri, nilai pribadi yang tidak jelas, tujuan pribadi yang tidak jelas, pribadi yang kerdil, kemampuan yang tidak memadai untuk memecahkan masalah, kreativitas rendah, wibawa rendah, kemampuan pemahaman manajerial rendah, kemampuan menyelia rendah, kemampuan latih rendah, kemampuan membina tim rendah.
beberapa teknik untuk mengukur kepribadian yang spesifik, yaitu sebagai berikut: Verbal techniques (teknik verbal), Visual techniques (teknik visual), Drawing techniques (teknik menggambar), Manipulative techniques (teknik manipulatif),dan Objective techniques (teknik objektif).

DAFTAR PUSTAKA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS

Nama           :Mariyati                       Jurusan             :BimbinganDan Konseling Nim              :2014 141 106              Mata Kuliah      :Studi Kasus Kelas            :6/C                               Dosen Pengampu :Mirnayenti, M.Pd RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS 1.     Pendekatan Umum Pendesainan Studi Kasus a.     Definisi Desain Penelitian Desain penelitian adalah keseluruha...

pemikiran Friederich Wilhelm August Froebel

BAB I PENDAHULUAN 1.1    Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang, dimana memiliki sasaran yang berperan dalam melaksanakan pembangunan disegala sektor, baik di sektor industri, perdagangan maupun di sektor pendidikan. Dalam menunjang keberhasilan pembangunan di setiap sektor, maka perlunya peranan pendidikan yang menempatkan manusia sebagai kedudukan sentral dalam pembangunan. Pentingnya peranan pendidikan dalam pembangunan di setiap sektor, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan berperan sebagai upaya pencerdasan, pendewasaan, kemandirian manusia yang dilakukan oleh perorangan, kelompok dan lembaga. Upaya ini dimulai sejak berabad-abad silam, pola pendidikan mengalami kemajuan yang pesat berkat kerja keras para pakar pendidikan terdahulu. Adapun tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan prasekolah adalah Friederich Wilhelm August Froebel atau lebih dikenal dengan sebutan Froebel. Tokoh ini ...

Makalah Konseling Psikologi Individual

Makalah Model-Model Konseling “ Konseling Psikologi Individual ” Di Susun Oleh : Kelompok 3 Nama Kelompok   : 1.      Ayu soraya 2.      Ema kusna haryati 3.      Ika ayu oktaviani 4.      Mariyati 5.      Rahmad shadat 6.      Yogi firnando Semester/Kelas     : Enam    (6) / C Program Stud i       : Bimbingan dan Konseling Dosen Pengasuh    : Erfan Ramdhani, M.Pd., Kons, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang 201 6/2017 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha P e nyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami . Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW....