Langsung ke konten utama

MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN ';INTELEGESI DAN PENDIDIKAN



MAKALAH
Inteligensi dan pendidikan
http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRha_WpjRiQ2hL9687Dxy74o4TK9oM_IlZkITunQYTPHL_TnPvmAnEOpQ4DISUSUN




Oleh:
1.               Dita Oktarina
2.      Dwy Susanti
3.      Hardiyanti Rustami
4.      Ika Ayu Oktaviani
5.      Gusti Wahyu Utami
6.      Vira Dwi Lestari
7.      Tita Aryati
8.      Yogi Vernando
PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
 2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “INTELIGENSI DAN PENDIDIKAN “
Kami mengharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Pendidikan yang penting. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.










DAFTAR PUSTAKA

Wirawan Sarwono, Sarlito,
 Pengantar Psikologi Umum/sarlitoWirawan Sarwono
-Ed.1-4.-jakarta: Rajawali Pers,2012.
X,308 hlm, 21cm
ISBN 978-979-769-257-5

Abu Ahmadi, Haji
            Psikologi umum/ H. Abu Ahmadi. – Edisi Revisi –
            Jakarta : Rineka Cipta, 2009.
            Ix, 249 hlm ; 23,5 cm.
            Bibliografi : hlm. 248
            ISBN : 978-979-518-047-0

Pengantar psikologi
            Oleh Prof. Dr.Bimo walgito

Pengantar psikologi
            Oleh Asminto Burniat, S.Psi,M.M








DAFTAR ISI
Kata Pengantar...................................................................................i
Daftar Isi.............................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................1
1.1      Latar Belakang.....................................................................1
1.2      Rumusan Masalah...............................................................1
1.3.    Tujuan.................................................................................2.
BAB II HAKIKAT INTELEGENSI........................................................3.
2.1. Hakikat Intelegensi...............................................................3.
2.2. Teori Intelegensi..................................................................5.
2.2.1 Teori General Intelligence dari Spearman......................5.
2.2.2 Teori Inteligensi dari Cattell............................................5.
2.2.3 Teori Stucture of Intellect dari Guilford..........................5
2.2.4 Teori Multiple Intelligence dari Gardner.........................6.
2.2.5 Riarchic Theory Of Intelligence dari Sternberg..............6.
BAB III PANDANGAN INTELEGENSI TENTANG PENDIDIKAN.......7
3.1 Pengaruh Inteligensi pada Belajar.........................................7
BAB IV PERANAN INTELEGENSI DALAM PENDIDIKAN...............10
4.1 Implikasi dalam Pendidikan/Pembelajaran...........................10
BAB V PENUTUP.............................................................................13
5.1  Kesimpulan..........................................................................13
5.2 Saran....................................................................................14





BAB I
PENDAHULUAN
1.1    LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita mendengar orang berbicara mengenai intelegensi sebagai faktor yang menentukan berhasil tidaknya siswa di sekolah. Pengetahuan mengenai kemampuan intelektual atau intelegensi siswa akan membantu pengajar menenetukan apakah siswa mampu mengikuti pelajaran yang diberikan serta meramalkan keberhasilan atau gagalnya siswa yang berangkutan bila telah mengikuti pengajaran yang diberikan. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa prestasi siswa tidak semata-mata ditentukan oleh tingkatan kemampuan intelektualnya.
Adapun pembahasan mengenai intelegensi itu secara tekhis pada pokoknya dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu pembahasan mengenai sifat  hakikat intelegensi dan pembahasan mengenai penyelidkan intelegensi itu sendiri. Hal pertama merupakan teoritis konsepsional, sedang yang kedua lebih kepada tekhnis metodologis.
Oleh karena itu, dalam makalah ini penyusun mencoba memaparkan beberapa hal yang terkait dengan intelegensi itu sendiri.

1.2    RUMUSAN MASALAH
1.  Apa definisi intelegensi ?
2.  Apa saja hakikat  intelegensi ?
3.  Apa saja teori intelegensi ?
4.  Apa saja pengaruh intelegensi dalam pendidikan ?
5.  Apa saja implikasi dalam pendidikan ?


1.3.  TUJUAN
               Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.   Untuk mengetahui definisi intelegensi.
2.   Untuk memahami hakikat intelegensi.
3.   Untuk memahami teori intelegensi.
4.   Untuk memahami cara pandang intelegensi dalam pendidikan

























BAB II
HAKIKAT INTELEGENSI

2.1. HAKIKAT INTELEGENSI
Perkataan inteligensi dari kata latin intelligere yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain (to organize, to relate, to bind together). Istilah inteligensi kadang-kadang atau justru sering memberikan pengertian yang salah, yang memandang inteligensi sebagai kemampuan yang mengandung kemampuan tunggal, padahal menurut para ahli inteligensi mengandung bermacam-macam kemampuan.
Namun demikian pengertian inteligensi itu sendiri memberikan berbagai macam arti bagi para ahli. Menurut panitia istilah padagogik (Walgito, 2010:210) yang mengangkat pendapat Stern yang dimaksud dengan inteligensi adalah “daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya”. Dari pengertian ini dapat dilihat bahwa Stern menitikberatkan masalah inteligensi pada soal adjustment atau penyesuaian diri terhadap masalah yang dihadapinya. Pada orang yang inteligen akan lebih cepat dalam menyelesaikan masalah-masalah baru apabila dibandingkan dengan orang yang kurang inteligen. Dalam menghadapi masalah atau situasi baru orang yang inteligen akan cepat dapat mengadakan adjustment terhadap masalah atau situasi yang baru tersebut. Thorndike (Walgito, 2010:211) mengemukakan pendapatnya bahwa orang dianggap inteligen apabila responnya merupakan respon yang baik atau sesuai terhadap stimulus yang diterimanya. Terman (Walgito, 2010:211) memberikan pengertian inteligensi sebagai ability yang berkaitan dengan hal-hal yang kongkrit dan ability yang berkaitan dengan hal-hal yang abstrak. Individu itu inteligen apabila dapat berpikir secara abstrak secara baik. Ini berarti bahwa apabila individu kurang mampu berpikir abstrak, individu bersangkutan inteligensinya kurang baik. C.P. Chaplin (Yusuf, 2006:106) mengartikan inteligensi itu sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Anita E. Woolfolk (Yusuf, 2006:106) mengemukakan bahwa menurut teoriteori lama, inteligensi itu meliputi tiga pengertian, yaitu :
1.  kemampuan untuk belajar
2.  keseluruhan pengetahuan yang diperoleh
3.  kemampuan untuk beradaptasi secara berhasil dengan situasi atau lingkungan pada umumnya.
         Selanjutnya Woolfolk mengemukakan inteligensi itu merupakan satu atau beberapa kemampuan untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan dalam rangka menyelesaikan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan Clarrade dan Stern (Arisandy, 2006:1) berpendapat bahwa inteligensi adalah menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru. David Wechsler (Arisandy, 2006:1) mengartikan inteligensi sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional dan menghadapi lingkungan secara efektif. Banyak tokoh yang mendeskripsikan inteligensi sebagai kemampuan individu memecahkan masalah (problem solving) dan ada juga pakar yang mendeskripsikan inteligensi sebagai kemampuan beradaptasi dan belajar dari pengalaman sehari-hari. Jadi, dapat kita simpulkan bahwa Inteligensi ialah kemampuan individu dalam mendayagunakan potensi yang ada pada dirinya sebagai upaya memecahkan suatu permasalahan untuk beradaptasi pada lingkungannya.

2.2. TEORI INTELEGENSI

2.2.1 Teori General Intelligence dari Spearman
          Menurut Spearman inteligensi adalah kemampuan umum yang terutama berkaitan dengan induksi hubungan atau saling hubungan. Spearman membagi kandungan inteligensi menjadi dua macam faktor, yaitu: (a) general ability (faktor g), dan (b) specific ability (faktor s). Karenanya, teori dari Spearman ini dinamakan teori dua faktor.

2.2.2 Teori Inteligensi dari Cattell
Raymond B. Cattell menyarankan teori yang banyak memengaruhi teori struktur inteligensi. Ada dua macam unsur kecerdasan umum, yaitu inteligensi yang fluid dan yang kristal. Inteligensi yang fluid sebagian besar berbentuk non verbal dan bentuk mental yang efesiensinya relatif sempit sebab menyesuaikan dengan tuntutan budaya. Unsur ini berkaitan dengan kapasitas seseorang untuk belajar dan memecahkan masalah. Sebaliknya, bentuk inteligensi yang kristal merupakan bentuk yang sudah dipelajari menggunakan inteligensi fluid dalam budaya tertentu. Unsur yang kristal ini sangat tergantung pada budaya dan digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang membutuhkan tanggapan yang telah dipelajari atau telah terbiasa.

2.2.3 Teori Stucture of Intellect dari Guilford
          Model Structure of Intellect mengklasifikasikan kemampuan intelektual menjadi tiga dimensi, yaitu: dimensi operasi, dimensi isi, dan dimensi produk. Dimensi operasi menunjuk pada macam operasi intelektual yang dituntut oleh tes. Dimensi isi menunjuk pada sifat materi atau informasi yang diajukan kepada subjek yang diukur inteligensinya. Dimensi produk menunjuk pada struktur mental yang harus diproduksi untuk mendapatkan jawaban yang benar.

2.2.4 Teori Multiple Intelligence dari Gardner
         Menurut Gardner inteligensi manusia memiliki dimensi, yaitu:
1. Linguistic intelligence, yaitu sensitivitas terhadap makna dan susunan kata-kata dan penggunaan bahasa yang bervariasi.
2. Logical-mathematical intelligence, yaitu kemampuan untuk mengerjakan rangkaian logika yang panjang dan mengenali pola dan susunan realitas.
3. Musical intelligence, yaitu sensitivitas terhadap pola musik, melodi, dan nada.

2.2.5 Riarchic Theory Of Intelligence dari Sternberg
          Sternberg memandang inteligensi manusia dapat dipisahkan kedalam proses-proses komponen yang mempengaruhi cara individu berfikir dan memecahkan masalah. Teori ini terdiri dari tiga bagian, yaitu: (a) komponen-komponen pemrosesan, (b) komponen-komponen kontekstual, (c) komponen-komponen pengalaman.









BAB III
PANDANGAN INTELEGENSI TENTANG PENDIDIKAN

3.1.  Pengaruh Inteligensi pada Belajar
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran masalah inteligensi merupakan salah satu masalah pokok. Oleh karena itu, peranan inteligensi dalam proses pendidikan ada yang menganggap demikian pentingnya sehingga dipandang menentukan dalam hal berhasil atau tidaknya seseorang dalam hal belajar, sedangkan pada sisi lain ada juga yang menganggap bahwa inteligensi tidak terlalu mempengaruhi dalam hal belajar.Namun, pada umumnya orang berpendapat bahwa inteligensi merupakan salah satu faktor penting yang ikut menentukan berhasil atau gagalnya belajar seseorang.
Menurut teori Binet dalam Sumadi Suryabrata (2004:133), sifat hakikat inteligensi ada tiga macam, yaitu:
1.   Kecenderungan untuk menetapkan dan mempertahankan (memperjuangkan) tujuan tertentu. Makin cerdas seseorang, akan makin cakaplah dia membuat tujuan sendiri, tidak menunggu perintah saja. Semakin cerdas seseorang, maka dia akan makin tetap pada tujuan itu, tidak mudah dibelokkan oleh orang lain dan suasana lain.
2.   Kemampuan untuk mengadakan penyesuaian dengan maksud mencapai tujuan. Jadi makin cerdas seseorang dia akan makin dapat menyesuaikan caracara menghadapi sesuatu dengan semestinya dan makin dapat bersikap kritis.
3.   Kemampuan untuk oto-kritik, yaitu kemampuan untuk mengkritik diri sendiri, kemampuan untuk belajar dari kesalahan yang telah dibuatnya. Makin cerdas seseorang makin dapat dia belajar dari kesalahannya, kesalahan yang telah dibuatnya tidak mudah di ulang lagi.
Seseorang yang memiliki inteligensi yang tinggi cenderung memiliki perbedaan dan kelebihan dalam menanggapi sesuatu permasalahan demi mencapai tujuannya. Pelajar yang memiliki inteligensi tinggi dalam proses belajar, dia akan lebih mudah mengatasi masalahnya dan cenderung bisa mencapai tujuan pembelajaran. Ini dikarenakan seorang pelajar yang memiliki inteligensi tinggi cenderung bisa menentukan tujuannya tanpa harus mendapatkan bimbingan lebih dari gurunya, dan dapat menyesuaikan dirinya untuk mencapai tujuan. Selain itu, seorang pelajar yang memiliki inteligensi yang tinggi memiliki kemampuan oto-kritik yang tinggi, sehingga dia bisa memperbaiki diri dari kesalahan yang ada. Sebaliknya, seorang pelajar dengan inteligensi yang rendah (pada tingkatan di bawah normal) tidak akan sama kemampuannya dalam kegiatan belajar. Bagi seorang guru dengan diketahuinya inteligensi akan mempengaruhi dalam perlakuan kepada subjek didik yang berbeda-beda tersebut.
Anak yang memiliki skor IQ di bawah 70 tidak mungkin dapat belajar dan mencapai hasil belajar seperti anak-anak dengan skor IQ normal, apalagi dengan anak-anak jenius. Kenyataan menunjukkan bahwa setiap anak memiliki tingkat inteligensi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut tampak memberikan warna di dalam kelas. Selama menerima pelajaran yang diberikan oleh guru, ada anak yang dapat mengerti dengan cepat apa yang disampaikan oleh guru, dan ada pula anak yang lamban dalam menerima pelajaran, ada anak yang cepat dan ada yang lamban dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Perbedaan individu dalam inteligensi ini perlu diketahui dan dipahami oleh guru, terutama dalam hubungannya dengan pengelompokan siswa. Selain itu, guru harus menyesuaikan tujuan pembelajarannya dengan kapasitas inteligensi siswa. Perbedaan inteligensi yang dimiliki oleh siswa membuat guru harus mengupayakan agar pembelajaran yang ia berikan dapat membantu semua siswa dengan perlakuan metode yang beragam (Khadijah, 2009:102).

















BAB IV
PERANAN INTELEGENSI DALAM PENDIDIKAN
4.1.  Implikasi dalam Pendidikan/Pembelajaran
Dalam perkembangannya inteligensi yang diimplikasikan dalam pendidikan selalu dijadikan tolak ukur dalam keberhasilan pembelajaran, implikasi dalam pendidikan menggunakan tes inteligensi yang tersusun sedemikian rupa. Menurut Sumadi Suryabrata (2004:136) dalam penggunaan tes inteligensi orang bersifat naif, yaitu menggunakan tes inteligensi tanpa mengingat kelemahan-kelemahan yang mungkin terkandung di dalamnya. Tes inteligensi dianggap sebagai sesuatu yang serba dapat menentukan, dan tes inteligensi juga dianggap dapat dipakai sebagai dasar yang kuat dalam menentukan berbagai hal mengenai kemampuan manusia. Kelemahan-kelemahan tes inteligensi tersebut secara lengkap menurut Suryabrata (2004:140) sebagai berikut.
1.  Tes inteligensi tergantung pada kebudayaan
2.  Tes inteligensi hanya cocok untuk jenis tingkah laku tertentu.
3.  Tes inteligensi hanya cocok untuk tipe kepribadian tertentu
4.  Perbandingan kecerdasan atau IQ yang merupakan hasil yang ditunjukkan
oleh tes inteligensi tidaklah semata-mata tergantung kepada keturunan Dalam pendidikan, inteligensi seseorang pelajar ditentukan berdasarkan hasil tes inteligensi, baik itu hasil belajar seorang pelajar maupun dalam penyaringan siswa baru. Selain itu tes inteligensi dalam dunia pendidikan dapat digunakan jauh lebih luas lagi, tes inteligensi dapat digunakan dalam penggolongan pelajar, dan pemilihan/penentuan jurusan.
Anak yang memiliki inteligensi abnormal, baik sangat tinggi (superior) maupun yang sangat rendah (inferior) sama-sama menimbulkan masalah bila ditinjau dari dunia pendidikan. Pentingnya makna perbedaan individual, khususnya dalam hal inteligensi, membawa kesadaran dalam dunia pendidikan akan perlunya perlakuan khusus terhadap anak didik yang tergolong memiliki tingkat inteligensi tidak biasa. Anak yang memiliki inteligensi begitu rendah sehingga kemampuan belajarnya sangat terbatas memerlukan program khusus yang memungkinkan mereka belajar dengan beban kecepatan yang sesuai dengan keterbatasan mereka. Pada sisi lain, anak yang memiliki kemampuan superior pun memerlukan program khusus yang memungkinkan mereka mengembangkan segenap potensi lebih yang mereka punyai sehingga dapat mencapai prestasi yang optimal dan tidak menimbulkan problem psikologis lain (Azwar, 2004:170). Konsep kecerdasan ganda, bila dipahami dengan baik, akan membuat semua guru memandang potensi anak lebih positif. Terlebih lagi, para guru pun dapat menyiapkan sebuah lingkungan yang menyenangkan dan memberdayakan di sekolah. Untuk mengembangkan kecerdasan unik anak-anak lewat konsep ini, yangm dibutuhkan sebenarnya sudah tersedia di lingkungan sekitar. Di sekolah, anak bisa diajak keluar kelas untuk mengamati setiap fenomena yang terjadi di dunia nyata. Konsep Multiple Intelligences juga mengajarkan kepada anak bahwa mereka bisa belajar apapun yang mereka ingin ketahui. Apapun yang ingin diketahuinya itu dapat ditemui di dalam kehidupan nyata yang dapat mereka alami sendiri. Bagi guru yang dibutuhkan hanya kreativitas dan kepekaan untuk mengasah kemampuan anak. Guru juga harus mau berpikir terbuka, keluar dari paradigm tradisional (bahwa kecerdasan hanya dilihat dari kemampuan intelektual/kognitif). Soal manfaat lingkungan untuk membantu proses belajar ini, sudah diteliti oleh beberapa orang peneliti kegiatan belajar. Ada Vernon A. Magnesen tahun 1983 dan sekelompok peneliti seperti Bobbi De Porter; Mark Reardon, dan Sarah  tahun 2000. Mereka menjelaskan bahwa kita sebenarnya mendapat pengetahuan dari apa yang kita baca (10%), dari apa yang kita dengar (20%), dari apa yang kita lihat (30%), dari apa yang kita lihat dan dengar (50%), dari apa yang kita katakana (70%) dan dari apa yang kita katakan dan lakukan (90%). Dari situ terlihat aktivitas seperti apa kita lebih banyak mendapatkan pengetahuan? Tentunya dari yang kita lihat dan dengar serta dari praktik yang kita lakukan. Belajar dengan menggunakan teori kecerdasan ganda bukan Cuma menegaskan “it’s how smart they are” tapi “It’s how they are smart!” Bukan ‘seberapa pintar anak’ tapi ‘bagaimana mereka bisa menjadi pintar’. Setelah mengulas informasi tentang inteligensi ini, kepada para pendidik hendaknya dapat memahami dengan baik tentang inteligensi yang sesungguhnya, dan dapat memanfaatkan serta mengimplikasikannya dalam pendidikan/pembelajaran. Jadi, bukan masalah seberapa tinggi tingkat inteligensi seorang anak tetapi seberapa besar usaha kita dalam memberdayakan inteligensi yang ada pada diri pelajar seoptimal mungkin. Bagi masyarakat awam, agar dapat memahami apa sebenernya intelegensi dan manfaatnya.






BAB V
PENUTUP
5.1  KESIMPULAN
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran masalah intelegensi merupakan salah satu masalah pokok, karenanya tidak mengherankan kalau masalah tersebut banyak dikupas orang baik secara khusus maupun secara sambil lalu dalam pertautan dengan perkupasan yang lain. Tentang peranan intelegensi didalam proses pendidikan ada yang menganggap demikian pentingnya sehingga di pandang menentukan dalam berhasil atau tidaknya seseorang dalam hal belajar, sedang pada sisi lain ada juga yang menganggap bahwa intelegensi merupakan tidak lebih mempengaruhi soal tersebut. inteligensi dari kata latin intelligere yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain (to organize, to relate, to bind together). Istilah inteligensi kadang-kadang atau justru sering memberikan pengertian yang salah, yang memandang inteligensi sebagai kemampuan yang mengandung kemampuan tunggal, padahal menurut para ahli inteligensi mengandung bermacam-macam kemampuan. Salah satu Teori Stucture of Intellect dari Guilford menyatakan bahwa Model Structure of Intellect mengklasifikasikan kemampuan intelektual menjadi tiga dimensi, yaitu: dimensi operasi, dimensi isi, dan dimensi produk. Dimensi operasi menunjuk pada macam operasi intelektual yang dituntut oleh tes. Dimensi isi menunjuk pada sifat materi atau informasi yang diajukan kepada subjek yang diukur inteligensinya. Dimensi produk menunjuk pada struktur mental yang harus diproduksi untuk mendapatkan jawaban yang benar.


5.2 SARAN

Penulis menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis mengharapkan masukan dan kritikan yang membangun dari para pembaca  demi kesempurnaan  makalah ini. Atas masukan kritikan dan sarannya, penulis ucapkan terima kasih.























Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS

Nama           :Mariyati                       Jurusan             :BimbinganDan Konseling Nim              :2014 141 106              Mata Kuliah      :Studi Kasus Kelas            :6/C                               Dosen Pengampu :Mirnayenti, M.Pd RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS 1.     Pendekatan Umum Pendesainan Studi Kasus a.     Definisi Desain Penelitian Desain penelitian adalah keseluruha...

pemikiran Friederich Wilhelm August Froebel

BAB I PENDAHULUAN 1.1    Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang, dimana memiliki sasaran yang berperan dalam melaksanakan pembangunan disegala sektor, baik di sektor industri, perdagangan maupun di sektor pendidikan. Dalam menunjang keberhasilan pembangunan di setiap sektor, maka perlunya peranan pendidikan yang menempatkan manusia sebagai kedudukan sentral dalam pembangunan. Pentingnya peranan pendidikan dalam pembangunan di setiap sektor, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan berperan sebagai upaya pencerdasan, pendewasaan, kemandirian manusia yang dilakukan oleh perorangan, kelompok dan lembaga. Upaya ini dimulai sejak berabad-abad silam, pola pendidikan mengalami kemajuan yang pesat berkat kerja keras para pakar pendidikan terdahulu. Adapun tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan prasekolah adalah Friederich Wilhelm August Froebel atau lebih dikenal dengan sebutan Froebel. Tokoh ini ...

Makalah Konseling Psikologi Individual

Makalah Model-Model Konseling “ Konseling Psikologi Individual ” Di Susun Oleh : Kelompok 3 Nama Kelompok   : 1.      Ayu soraya 2.      Ema kusna haryati 3.      Ika ayu oktaviani 4.      Mariyati 5.      Rahmad shadat 6.      Yogi firnando Semester/Kelas     : Enam    (6) / C Program Stud i       : Bimbingan dan Konseling Dosen Pengasuh    : Erfan Ramdhani, M.Pd., Kons, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang 201 6/2017 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha P e nyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami . Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW....