
Inteligensi
dan pendidikan

Oleh:
1.
Dita
Oktarina
2.
Dwy
Susanti
3.
Hardiyanti
Rustami
4.
Ika
Ayu Oktaviani
5.
Gusti
Wahyu Utami
6.
Vira
Dwi Lestari
7.
Tita
Aryati
8.
Yogi
Vernando
PROGRAM
STUDI BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “INTELIGENSI DAN PENDIDIKAN “
Kami mengharapkan makalah ini dapat
memberikan informasi kepada kita semua tentang Pendidikan yang penting. Kami
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima
kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah
ini. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
DAFTAR
PUSTAKA
Wirawan
Sarwono, Sarlito,
Pengantar Psikologi Umum/sarlitoWirawan
Sarwono
-Ed.1-4.-jakarta: Rajawali Pers,2012.
X,308 hlm, 21cm
ISBN 978-979-769-257-5
Abu
Ahmadi, Haji
Psikologi umum/ H. Abu Ahmadi. –
Edisi Revisi –
Jakarta : Rineka Cipta, 2009.
Ix, 249 hlm ; 23,5 cm.
Bibliografi : hlm. 248
ISBN : 978-979-518-047-0
Pengantar
psikologi
Oleh Prof. Dr.Bimo walgito
Pengantar
psikologi
Oleh Asminto Burniat, S.Psi,M.M
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar...................................................................................i
Daftar
Isi.............................................................................................ii
BAB
I PENDAHULUAN.......................................................................1
1.1 Latar
Belakang.....................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...............................................................1
1.3. Tujuan.................................................................................2.
BAB
II HAKIKAT INTELEGENSI........................................................3.
2.1.
Hakikat Intelegensi...............................................................3.
2.2.
Teori Intelegensi..................................................................5.
2.2.1 Teori General Intelligence dari Spearman......................5.
2.2.2 Teori Inteligensi dari Cattell............................................5.
2.2.3 Teori Stucture of
Intellect dari Guilford..........................5
2.2.4 Teori Multiple
Intelligence dari Gardner.........................6.
2.2.5 Riarchic Theory Of Intelligence
dari Sternberg..............6.
BAB III PANDANGAN
INTELEGENSI TENTANG PENDIDIKAN.......7
3.1 Pengaruh Inteligensi pada Belajar.........................................7
BAB IV PERANAN INTELEGENSI
DALAM PENDIDIKAN...............10
4.1 Implikasi dalam Pendidikan/Pembelajaran...........................10
BAB V PENUTUP.............................................................................13
5.1 Kesimpulan..........................................................................13
5.2 Saran....................................................................................14
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR
BELAKANG
Dalam kehidupan
sehari-hari seringkali kita mendengar orang berbicara mengenai intelegensi
sebagai faktor yang menentukan berhasil tidaknya siswa di sekolah. Pengetahuan
mengenai kemampuan intelektual atau intelegensi siswa akan membantu pengajar
menenetukan apakah siswa mampu mengikuti pelajaran yang diberikan serta
meramalkan keberhasilan atau gagalnya siswa yang berangkutan bila telah
mengikuti pengajaran yang diberikan. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa
prestasi siswa tidak semata-mata ditentukan oleh tingkatan kemampuan
intelektualnya.
Adapun
pembahasan mengenai intelegensi itu secara tekhis pada pokoknya dapat dibedakan
menjadi dua golongan yaitu pembahasan mengenai sifat hakikat
intelegensi dan pembahasan mengenai penyelidkan intelegensi itu sendiri. Hal
pertama merupakan teoritis konsepsional, sedang yang kedua lebih kepada tekhnis
metodologis.
Oleh karena
itu, dalam makalah ini penyusun mencoba memaparkan beberapa hal yang terkait
dengan intelegensi itu sendiri.
1.2
RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi intelegensi ?
2. Apa saja hakikat intelegensi ?
3. Apa saja teori intelegensi ?
4. Apa saja pengaruh intelegensi dalam
pendidikan ?
5. Apa saja implikasi dalam pendidikan
?
1.3. TUJUAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut:
1.
Untuk
mengetahui definisi intelegensi.
2.
Untuk
memahami hakikat intelegensi.
3.
Untuk
memahami teori intelegensi.
4.
Untuk
memahami cara pandang intelegensi dalam pendidikan
BAB II
HAKIKAT INTELEGENSI
2.1. HAKIKAT INTELEGENSI
Perkataan inteligensi dari kata latin intelligere
yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan
yang lain (to organize, to relate, to bind together). Istilah
inteligensi kadang-kadang atau justru sering memberikan pengertian yang salah,
yang memandang inteligensi sebagai kemampuan yang mengandung kemampuan tunggal,
padahal menurut para ahli inteligensi mengandung bermacam-macam kemampuan.
Namun demikian pengertian inteligensi
itu sendiri memberikan berbagai macam arti bagi para ahli. Menurut panitia
istilah padagogik (Walgito, 2010:210) yang mengangkat pendapat Stern yang
dimaksud dengan inteligensi adalah “daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru
dengan menggunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya”. Dari pengertian ini
dapat dilihat bahwa Stern menitikberatkan masalah inteligensi pada soal adjustment
atau penyesuaian diri terhadap masalah yang dihadapinya. Pada orang yang
inteligen akan lebih cepat dalam menyelesaikan masalah-masalah baru apabila dibandingkan
dengan orang yang kurang inteligen. Dalam menghadapi masalah atau situasi baru
orang yang inteligen akan cepat dapat mengadakan adjustment terhadap
masalah atau situasi yang baru tersebut. Thorndike (Walgito, 2010:211)
mengemukakan pendapatnya bahwa orang dianggap inteligen apabila responnya merupakan
respon yang baik atau sesuai terhadap stimulus yang diterimanya. Terman
(Walgito, 2010:211) memberikan pengertian inteligensi sebagai ability yang
berkaitan dengan hal-hal yang kongkrit dan ability yang berkaitan dengan
hal-hal yang abstrak. Individu itu inteligen apabila dapat berpikir secara abstrak
secara baik. Ini berarti bahwa apabila individu kurang mampu berpikir abstrak,
individu bersangkutan inteligensinya kurang baik. C.P. Chaplin (Yusuf,
2006:106) mengartikan inteligensi itu sebagai kemampuan menghadapi dan
menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Anita E.
Woolfolk (Yusuf, 2006:106) mengemukakan bahwa menurut teoriteori lama,
inteligensi itu meliputi tiga pengertian, yaitu :
1. kemampuan
untuk belajar
2. keseluruhan
pengetahuan yang diperoleh
3. kemampuan
untuk beradaptasi secara berhasil dengan situasi atau lingkungan pada umumnya.
Selanjutnya
Woolfolk mengemukakan inteligensi itu merupakan satu atau beberapa kemampuan
untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan dalam rangka menyelesaikan masalah
dan beradaptasi dengan lingkungan Clarrade dan Stern (Arisandy, 2006:1)
berpendapat bahwa inteligensi adalah menyesuaikan diri secara mental terhadap
situasi atau kondisi baru. David Wechsler (Arisandy, 2006:1) mengartikan
inteligensi sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan untuk bertindak secara
terarah, berpikir secara rasional dan menghadapi lingkungan secara efektif. Banyak
tokoh yang mendeskripsikan inteligensi sebagai kemampuan individu memecahkan
masalah (problem solving) dan ada juga pakar yang mendeskripsikan inteligensi
sebagai kemampuan beradaptasi dan belajar dari pengalaman sehari-hari. Jadi,
dapat kita simpulkan bahwa Inteligensi ialah kemampuan individu dalam mendayagunakan
potensi yang ada pada dirinya sebagai upaya memecahkan suatu permasalahan untuk
beradaptasi pada lingkungannya.
2.2. TEORI INTELEGENSI
2.2.1 Teori General Intelligence
dari Spearman
Menurut
Spearman inteligensi adalah kemampuan umum yang terutama berkaitan dengan
induksi hubungan atau saling hubungan. Spearman membagi kandungan inteligensi
menjadi dua macam faktor, yaitu: (a) general ability (faktor g), dan (b)
specific ability (faktor s). Karenanya, teori dari Spearman ini dinamakan teori
dua faktor.
2.2.2
Teori Inteligensi dari Cattell
Raymond
B. Cattell menyarankan teori yang banyak memengaruhi teori struktur
inteligensi. Ada dua macam unsur kecerdasan umum, yaitu inteligensi yang fluid dan yang kristal. Inteligensi yang
fluid sebagian besar berbentuk non
verbal dan bentuk mental yang efesiensinya relatif sempit sebab menyesuaikan
dengan tuntutan budaya. Unsur ini berkaitan dengan kapasitas seseorang untuk
belajar dan memecahkan masalah. Sebaliknya, bentuk inteligensi yang kristal
merupakan bentuk yang sudah dipelajari menggunakan inteligensi fluid dalam budaya tertentu. Unsur yang
kristal ini sangat tergantung pada budaya dan digunakan untuk menyelesaikan
tugas-tugas yang membutuhkan tanggapan yang telah dipelajari atau telah
terbiasa.
2.2.3 Teori Stucture of Intellect
dari Guilford
Model
Structure of Intellect mengklasifikasikan kemampuan intelektual menjadi tiga
dimensi, yaitu: dimensi operasi, dimensi isi, dan dimensi produk. Dimensi
operasi menunjuk pada macam operasi intelektual yang dituntut oleh tes. Dimensi
isi menunjuk pada sifat materi atau informasi yang diajukan kepada subjek yang
diukur inteligensinya. Dimensi produk menunjuk pada struktur mental yang harus
diproduksi untuk mendapatkan jawaban yang benar.
2.2.4
Teori Multiple Intelligence dari Gardner
Menurut Gardner inteligensi manusia
memiliki dimensi, yaitu:
1. Linguistic
intelligence, yaitu sensitivitas terhadap makna dan susunan kata-kata dan
penggunaan bahasa yang bervariasi.
2. Logical-mathematical
intelligence, yaitu kemampuan untuk mengerjakan rangkaian logika yang panjang
dan mengenali pola dan susunan realitas.
3. Musical
intelligence, yaitu sensitivitas terhadap pola musik, melodi, dan nada.
2.2.5
Riarchic Theory Of Intelligence dari Sternberg
Sternberg memandang inteligensi manusia dapat dipisahkan
kedalam proses-proses komponen yang mempengaruhi cara individu berfikir dan
memecahkan masalah. Teori ini terdiri dari tiga bagian, yaitu: (a) komponen-komponen
pemrosesan, (b) komponen-komponen kontekstual, (c) komponen-komponen
pengalaman.
BAB III
PANDANGAN INTELEGENSI TENTANG PENDIDIKAN
3.1. Pengaruh
Inteligensi pada Belajar
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran
masalah inteligensi merupakan salah satu masalah pokok. Oleh karena itu,
peranan inteligensi dalam proses pendidikan ada yang menganggap demikian
pentingnya sehingga dipandang menentukan dalam hal berhasil atau tidaknya
seseorang dalam hal belajar, sedangkan pada sisi lain ada juga yang menganggap
bahwa inteligensi tidak terlalu mempengaruhi dalam hal belajar.Namun, pada
umumnya orang berpendapat bahwa inteligensi merupakan salah satu faktor penting
yang ikut menentukan berhasil atau gagalnya belajar seseorang.
Menurut teori Binet dalam Sumadi
Suryabrata (2004:133), sifat hakikat inteligensi ada tiga macam, yaitu:
1. Kecenderungan
untuk menetapkan dan mempertahankan (memperjuangkan) tujuan tertentu. Makin
cerdas seseorang, akan makin cakaplah dia membuat tujuan sendiri, tidak
menunggu perintah saja. Semakin cerdas seseorang, maka dia akan makin tetap
pada tujuan itu, tidak mudah dibelokkan oleh orang lain dan suasana lain.
2. Kemampuan
untuk mengadakan penyesuaian dengan maksud mencapai tujuan. Jadi makin cerdas
seseorang dia akan makin dapat menyesuaikan caracara menghadapi sesuatu dengan
semestinya dan makin dapat bersikap kritis.
3. Kemampuan
untuk oto-kritik, yaitu kemampuan untuk mengkritik diri sendiri, kemampuan
untuk belajar dari kesalahan yang telah dibuatnya. Makin cerdas seseorang makin
dapat dia belajar dari kesalahannya, kesalahan yang telah dibuatnya tidak mudah
di ulang lagi.
Seseorang yang memiliki inteligensi yang
tinggi cenderung memiliki perbedaan dan kelebihan dalam menanggapi sesuatu
permasalahan demi mencapai tujuannya. Pelajar yang memiliki inteligensi tinggi
dalam proses belajar, dia akan lebih mudah mengatasi masalahnya dan cenderung
bisa mencapai tujuan pembelajaran. Ini dikarenakan seorang pelajar yang
memiliki inteligensi tinggi cenderung bisa menentukan tujuannya tanpa harus
mendapatkan bimbingan lebih dari gurunya, dan dapat menyesuaikan dirinya untuk
mencapai tujuan. Selain itu, seorang pelajar yang memiliki inteligensi yang
tinggi memiliki kemampuan oto-kritik yang tinggi, sehingga dia bisa memperbaiki
diri dari kesalahan yang ada. Sebaliknya, seorang pelajar dengan inteligensi
yang rendah (pada tingkatan di bawah normal) tidak akan sama kemampuannya dalam
kegiatan belajar. Bagi seorang guru dengan diketahuinya inteligensi akan
mempengaruhi dalam perlakuan kepada subjek didik yang berbeda-beda tersebut.
Anak yang memiliki skor IQ di bawah 70
tidak mungkin dapat belajar dan mencapai hasil belajar seperti anak-anak dengan
skor IQ normal, apalagi dengan anak-anak jenius. Kenyataan menunjukkan bahwa
setiap anak memiliki tingkat inteligensi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut
tampak memberikan warna di dalam kelas. Selama menerima pelajaran yang
diberikan oleh guru, ada anak yang dapat mengerti dengan cepat apa yang
disampaikan oleh guru, dan ada pula anak yang lamban dalam menerima pelajaran,
ada anak yang cepat dan ada yang lamban dalam menyelesaikan tugas-tugas yang
diberikan. Perbedaan individu dalam inteligensi ini perlu diketahui dan
dipahami oleh guru, terutama dalam hubungannya dengan pengelompokan siswa.
Selain itu, guru harus menyesuaikan tujuan pembelajarannya dengan kapasitas inteligensi
siswa. Perbedaan inteligensi yang dimiliki oleh siswa membuat guru harus
mengupayakan agar pembelajaran yang ia berikan dapat membantu semua siswa dengan
perlakuan metode yang beragam (Khadijah, 2009:102).
BAB IV
PERANAN INTELEGENSI DALAM PENDIDIKAN
4.1. Implikasi
dalam Pendidikan/Pembelajaran
Dalam perkembangannya inteligensi yang
diimplikasikan dalam pendidikan selalu dijadikan tolak ukur dalam keberhasilan pembelajaran,
implikasi dalam pendidikan menggunakan tes inteligensi yang tersusun sedemikian
rupa. Menurut Sumadi Suryabrata (2004:136) dalam penggunaan tes inteligensi
orang bersifat naif, yaitu menggunakan tes inteligensi tanpa mengingat
kelemahan-kelemahan yang mungkin terkandung di dalamnya. Tes inteligensi
dianggap sebagai sesuatu yang serba dapat menentukan, dan tes inteligensi juga
dianggap dapat dipakai sebagai dasar yang kuat dalam menentukan berbagai hal
mengenai kemampuan manusia. Kelemahan-kelemahan tes inteligensi tersebut secara
lengkap menurut Suryabrata (2004:140) sebagai berikut.
1. Tes
inteligensi tergantung pada kebudayaan
2. Tes
inteligensi hanya cocok untuk jenis tingkah laku tertentu.
3. Tes
inteligensi hanya cocok untuk tipe kepribadian tertentu
4. Perbandingan
kecerdasan atau IQ yang merupakan hasil yang ditunjukkan
oleh tes inteligensi tidaklah semata-mata
tergantung kepada keturunan Dalam pendidikan, inteligensi seseorang pelajar
ditentukan berdasarkan hasil tes inteligensi, baik itu hasil belajar seorang
pelajar maupun dalam penyaringan siswa baru. Selain itu tes inteligensi dalam
dunia pendidikan dapat digunakan jauh lebih luas lagi, tes inteligensi dapat
digunakan dalam penggolongan pelajar, dan pemilihan/penentuan jurusan.
Anak yang memiliki inteligensi abnormal,
baik sangat tinggi (superior) maupun yang sangat rendah (inferior) sama-sama
menimbulkan masalah bila ditinjau dari dunia pendidikan. Pentingnya makna
perbedaan individual, khususnya dalam hal inteligensi, membawa kesadaran dalam
dunia pendidikan akan perlunya perlakuan khusus terhadap anak didik yang
tergolong memiliki tingkat inteligensi tidak biasa. Anak yang memiliki
inteligensi begitu rendah sehingga kemampuan belajarnya sangat terbatas
memerlukan program khusus yang memungkinkan mereka belajar dengan beban
kecepatan yang sesuai dengan keterbatasan mereka. Pada sisi lain, anak yang
memiliki kemampuan superior pun memerlukan program khusus yang memungkinkan mereka
mengembangkan segenap potensi lebih yang mereka punyai sehingga dapat mencapai
prestasi yang optimal dan tidak menimbulkan problem psikologis lain (Azwar,
2004:170). Konsep kecerdasan ganda, bila dipahami dengan baik, akan membuat
semua guru memandang potensi anak lebih positif. Terlebih lagi, para guru pun
dapat menyiapkan sebuah lingkungan yang menyenangkan dan memberdayakan di sekolah.
Untuk mengembangkan kecerdasan unik anak-anak lewat konsep ini, yangm dibutuhkan
sebenarnya sudah tersedia di lingkungan sekitar. Di sekolah, anak bisa diajak
keluar kelas untuk mengamati setiap fenomena yang terjadi di dunia nyata. Konsep
Multiple Intelligences juga mengajarkan kepada anak bahwa mereka bisa belajar
apapun yang mereka ingin ketahui. Apapun yang ingin diketahuinya itu dapat
ditemui di dalam kehidupan nyata yang dapat mereka alami sendiri. Bagi guru
yang dibutuhkan hanya kreativitas dan kepekaan untuk mengasah kemampuan anak.
Guru juga harus mau berpikir terbuka, keluar dari paradigm tradisional (bahwa
kecerdasan hanya dilihat dari kemampuan intelektual/kognitif). Soal manfaat
lingkungan untuk membantu proses belajar ini, sudah diteliti oleh beberapa
orang peneliti kegiatan belajar. Ada Vernon A. Magnesen tahun 1983 dan
sekelompok peneliti seperti Bobbi De Porter; Mark Reardon, dan Sarah tahun 2000. Mereka menjelaskan bahwa kita
sebenarnya mendapat pengetahuan dari apa yang kita baca (10%), dari apa yang
kita dengar (20%), dari apa yang kita lihat (30%), dari apa yang kita lihat dan
dengar (50%), dari apa yang kita katakana (70%) dan dari apa yang kita katakan
dan lakukan (90%). Dari situ terlihat aktivitas seperti apa kita lebih banyak
mendapatkan pengetahuan? Tentunya dari yang kita lihat dan dengar serta dari
praktik yang kita lakukan. Belajar dengan menggunakan teori kecerdasan ganda
bukan Cuma menegaskan “it’s how smart they are” tapi “It’s how they
are smart!” Bukan ‘seberapa pintar anak’ tapi ‘bagaimana mereka bisa
menjadi pintar’. Setelah mengulas informasi tentang inteligensi ini, kepada
para pendidik hendaknya dapat memahami dengan baik tentang inteligensi yang sesungguhnya,
dan dapat memanfaatkan serta mengimplikasikannya dalam pendidikan/pembelajaran.
Jadi, bukan masalah seberapa tinggi tingkat inteligensi seorang anak tetapi
seberapa besar usaha kita dalam memberdayakan inteligensi yang ada pada diri
pelajar seoptimal mungkin. Bagi masyarakat awam, agar dapat memahami apa
sebenernya intelegensi dan manfaatnya.
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Dalam dunia
pendidikan dan pengajaran masalah intelegensi merupakan salah satu masalah
pokok, karenanya tidak mengherankan kalau masalah tersebut banyak dikupas orang
baik secara khusus maupun secara sambil lalu dalam pertautan dengan perkupasan
yang lain. Tentang peranan intelegensi didalam proses pendidikan ada yang
menganggap demikian pentingnya sehingga di pandang menentukan dalam berhasil
atau tidaknya seseorang dalam hal belajar, sedang pada sisi lain ada juga yang
menganggap bahwa intelegensi merupakan tidak lebih mempengaruhi soal tersebut. inteligensi
dari kata latin intelligere yang berarti mengorganisasikan,
menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain (to organize, to
relate, to bind together). Istilah inteligensi kadang-kadang atau justru
sering memberikan pengertian yang salah, yang memandang inteligensi sebagai
kemampuan yang mengandung kemampuan tunggal, padahal menurut para ahli
inteligensi mengandung bermacam-macam kemampuan. Salah satu Teori Stucture of
Intellect dari Guilford menyatakan bahwa Model Structure of Intellect
mengklasifikasikan kemampuan intelektual menjadi tiga dimensi, yaitu: dimensi
operasi, dimensi isi, dan dimensi produk. Dimensi operasi menunjuk pada macam
operasi intelektual yang dituntut oleh tes. Dimensi isi menunjuk pada sifat
materi atau informasi yang diajukan kepada subjek yang diukur inteligensinya.
Dimensi produk menunjuk pada struktur mental yang harus diproduksi untuk
mendapatkan jawaban yang benar.
5.2
SARAN
Penulis
menyadari banyak terdapat kekeliruan dalam penulisan makalah ini, maka penulis
mengharapkan masukan dan kritikan yang membangun dari para pembaca demi
kesempurnaan makalah ini. Atas masukan kritikan dan sarannya, penulis
ucapkan terima kasih.
Komentar
Posting Komentar