Langsung ke konten utama

MAKALAH BAHASA INDONESIA TENTANG WACANA



Tugas bahasa indonesia
pembahasan tentang wacana,kicauan wacana, dan wacana narasi
DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 11
Nama Kelompok      :
1.    Mariyati                                        2014 141 106
2.    Tuh indri                                      2014 141 083
3.    Ayu soraya                                  2014 141 101
Semerter/Kelas         : 2/ C
Mata Kuliah              : Bahasa Indonesia
Program Studi          : BIMBINGAN dan KONSELING
Jurusan                     : Ilmu Pendidikan
Dosen Pengasuh    : Yessi Fitriani, S.Pd. M.Pd

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2015



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT bahwa dengan Rahmat dan Ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan Makalah   Mata Kuliah “Bahasa Indonesiayang berjudul “pembahasan Wacana, Kicauan Wacana, Wacana Narasi ” sebagai tugas Mata Kuliah Semester Dua.
Semoga Makalah ini dapat menambah wawasan kita semua danTak ada yang sempurna, begitu pula dengan penulisan makalah ini. Oleh sebab itu penulis menerima kritik positif dari pembaca sebagai perbaikan bagi penulis dimasa yang akan datang. Semoga makalah ini bermanfat.
Akhir kata penulis ucapkan “Terima Kasih”


Palembang 12 mei 2015


penulis













DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR..............................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................ii
BAB I   PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang..............................................................................1
1.2     Rumusan Masalah........................................................................2
1.3.   Tujuan Penulisan..........................................................................2
BAB II   PEMBAHASAAN
2.1    Pembahasan Wacana...................................................................3
2.2    Kicauan Wacana............................................................................8
2.3    Wacana Narasi..............................................................................9
BAB III   PENUTUP
3.1   Kesimpulan...................................................................................13
3.2   Saran............................................................................................13
 DAFTAR PUSTAKA............................................................................14






BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang                                    
Istilah wacana berasal dari kata sansekerta yang bermakna ucapan atau tuturan. Kata wacana adalah salah satu kata yang banyak disebut seperti halnya demokrasi, hak  asasi manusia, dan lingkungan hidup. Seperti halnya banyak kata yang digunakan, kadang-kadang pemakai bahasa tidak mengetahui secara jelas apa pengertian dari kata yang digunakan tersebut. Ada yang mengartikan wacana sebagai unit bahasa yang lebih besar dari kalimat. Ada juga yang mengartikan sebagai pembicaraan. Kata wacana juga banyak dipakai oleh banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi, sosiologi, politik, komunikasi, sastra dan sebagainya.
Realitas wacana dalam hal ini adalah eksistensi wacana yang berupa verbal dan nonverbal. Rangkaian kebahasaan verbal atau language exist (kehadiran kebahasaan) dengan kelengkapan struktur bahasa, mengacu pada struktur apa adanya; nonverbal atau language likes mengacu pada wacana sebagai rangkaian nonbahasa (rangkaian isyarat atau tanda-tanda yang bermakna). Wujud wacana sebagai media komunikasi berupa rangkaian ujaran lisan dan tulis. Sebagai media komunikasi wacana lisan, wujudnya dapat berupa sebuah percakapan atau dialog lengkap dan penggalan percakapan. Wacana dengan media komunikasi tulis dapat berwujud sebuah teks, sebuah alinea, dan sebuah wacana.






1.2  RUMUSAN MASALAH
1.      Apa saja pembahasan tentang wacana?
2.   Bagaimana kicauan wacana?
3.     Apa saja pembahasan tentang wacana narasi ?

1.3   TUJUAN MAKALAH
1.     Untuk mengetahui pembahasan tentang wacana.
2.   Untuk mengetahui  kicauan wacana.
3.     Untuk mengetahui  pembahasan tentang wacana narasi .
















BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pembahasan Tentang Wacana
A.   Pengertian Wacana
Oka (1994 : 30) Memberi definisi yang pendek dan sederhana bahwa wacana merupakan satuan bahasa yang paling besar. Selain itu wahab (1991 : 128) memberi definisi wacana sebagai organisasi bahasa yang lebih luas dari kalimat atau klausa. Demikian pula Kridalaksana, mendefinisikan wacana adalah satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana merupakan satuan bahasa yang membawa amanat yang lengkap. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh, seperti novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dinyatakan bahwa wacana merupakan kelas kata benda (nomina) yang mempunyai arti sebagai berikut :
a. Ucapan; perkataan; tuturan;
b. Keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan;
c. Satuan bahasa terlengkap, realisasinya tampak pada bentuk karangan yang utuh, seperti novel, buku, atau artikel.

B.    Alat Alat Wacana
Sudah di sebutkan di atas sebuah wacana disebut baik kalau wacana itu kohesif dan koherens. Untuk membuat wacana  yang kohesif fan koherens itu dapat digunakan berbagai alat wacana, baik yang berupa aspek gramatikal maupun yang berupa aspek sematik. Atau gabungan dari kedua aspet tersebut.
Alat-alat gramatikal yang dapat di gunakan untuk membuat sebuah wacana  menjadi kohesif, antara lain, adalah
1.konjugsi, yakni alat untuk menghubung-hubungkankan bagian kalimat-kalimat atau menghubungkan paragraf-paragraf. Dengan penggunaan konjugsi ini hubungan akan lebih eksplisit dan akan menjadi lebih jelas bila di bandingkan dengan tanpa menggunakan konjugsi.
2. menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini dan  itu sebagai rujukan anaforis. Dengan menggunakan kata ganti sebagai rujukan anaforis, maka kalimat yang sama tidak perlu diulang lagi, melainkan diganti dengan kata ganti tersebut. Maka , kalimat-kalimat tersebut menjadi saling berhubungan.
3. menggunakan elipsis, yaitu penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat pada kalimat yang lain. Dengan elipsisi, karena tidak diulangnya bagian yang sama, maka wacana itu tampak menjadi lebih efektif dan penghilangan itu sendiri menjadi alat penghubung  kalimat di dalam wacana itu.
Selain dengan upaya gramatikal , sebuah wacana yang kohesif dan koherens dapat juga dibuat dengan bantuan pelbagai aspek sematik. Caranya antara lain ;
1.    Menggunakan hubungan pertentangan pada kedua bagian kalimat yang terdapat dalam wacana.
2.     Menggunakan hubungan generik-spesifik atau sebaliknya yaitu spesifik- generik.
3.    Menggunakan hubungan perbandingan antara isi kedua    bagian kalimat  atau isi antara dua buah kalimat dalam satu wacana.
4.    Menggunakan hubungan sebab-akibat diantara isi dikedua bagian kalimat atau isi antara dua buah kalimat dalam satu wacana.
5.    Menggunakan hubungan tujuan didalam isi sebuah wacana.
6.    Menggunakan hubungan rujukan yang sama  pada dua bagian kalimat  atau  pada dua kalimat dalam satu wacana.
C.   Jenis Wacana
            Wacana dapat di klafikasikan dengan berbagai cara,tergantung pada sudut pandang kita antara lain:
a.     Berdasarkan saranya wacana dapat disampaikan diklafikasikan atas
·                     Wacana lisan
·                     Wacana tulis
b.     Berdasarkan penyampaian isi wacana dapat di klafikasikan atas
·                     Wacana narasi
·                     Wacana eksposisi
·                     Wacana persuasi
·                     Wacana argumentasi
c.      Berdasarkan penggunaan bahasa dan bentuk,maka wacana dapat pula di bagi atas
·                     Wacana prosa
·                     Wacana puisi
·                     Wacana drama
d.     Berdasarkan langsung atau tidak langsungnya, maka wacana dapat pula di bagi atas
·                     Wacana langsung
·                     Wacana tidak langsung
e.     Berdasarkan sifatnya, maka wacana dapat pula di bagi atas
·                     Wacana transaksional
·                     Wacana interaksional

f.       Dari segi Penutur, maka wacana dapat pula di bagi atas
·                     Wacana monolog
·                     Wacana dialog
·                     Wacana polilog

A.    Kedudukan Wacana dalam Satuan Bahasa
Dalam satuan kebahasaan atau hierarki kebahasaan, kedudukan wacana berada pada posisi paling besar dan paling tinggi.hal ini di sebabkan karena wacana sebagai satuan gramatikal dan sekaligus objek kajian linguistik yang mengandung semua unsur kebahasaan yang di perlukan dalam segala bentuk komunikasi.
 Tiap kajian wacana akan selalu mengaitkan unsur-unsur satuan kebahasaan yang ada di bawahnya, seperti Fonem, Morfem, Kata, Frase, Klausa dan Kalimat. Di samping itu, kajian wacana juga menganalisis makna dan konteks pemakaiannya. Agar lebih jelasnya, perhatikan bagan di bawah ini ;

Wacaca

Kalimat
 

Klausa

Frasa

Kata

Morfen

 Fonem
Disamping kedudukan wacana berada pada posisi paling besar dan paling tinggi, Urutan-urutan wacana  dapat kita sejajarkan dengan urutan kata:
a.            Awal / permulaan;
b.            Tengah;
c.            Akhirr / penutup.
( Linde, 1981: 97).

E.   Unsur Unsur Wacana
Wacana memiliki dua unsur pendukunng pertama, yaitu unsur dalam (internal )dan unsur luar (eksterenal). Unsur internal berkaitan dengan aspek formal kebahasaan, sedangkan unsur eksternal berkenaan dengan hal-hal di luar wacana iyu sendiri. Kedua unsur tersebut membentuk membentuk satu kepaduan dalam suatu struktur yang utuh dan lengkap.

1.            Unsur unsur internal
Unsur internal suatu wacana terdiri dari satuan kata atau kalimat, yang di maksud dengan satuan kata adalah kata yang berposisi pada kalimat, atau yang juga di sebut dengan sebutan ‘kalimat satu kata’. Untuk menjadi satuan wacana yang besar, satuan kata atau kalimat tersebut bertalian dan bergabung membentuk wacana.

2.            Unsur unsur eksternal
Unsur eksternal  wacana adalah sesuatu yang menjadi bagian wacana , namun tidak tampak secara eksplisit. Sesuatu itu berada di luar satuan lingual wacana. Kehadirannya berfungsi sebagai pelengkap keutuhan wacana. Unsur- unsur eksternal terdiri atas implikatur, Presuposisi, referensi, inferensi, dan konteks. Analisis dan pemahaman terhadap unsur-unsur tersebut dapat membantu pemahaman tentang suatu wacana.
f.   Ciri-ciri Wacana
Ciri-ciri wacana adalah sebagai berikut:
o   Satuan gramatikal
o   Satuan terbesar, tertinggi, atau terlengkap
o   Untaian kalimat-kalimat
o   Memiliki hubungan proposisi
o   Memiliki hubungan kontinuitas, berkesinambungan
o   Memiliki hubungan koherensi
o   Memiliki hubungan kohesi
o   Rekaman kebahasaan utuh dari peristiwa komunikasi
o   Bisa transaksional juga interaksional
o   Medium bisa lisan maupun tulis
o   Sesuai dengan konteks
Syamsuddin (1992:5) menjelaskan ciri dan sifat sebuah wacana sebagai berikut.
o   Wacana dapat berupa rangkaian kalimat ujar secara lisan dan tulis atau rangkaian tindak tutur
o   Wacana mengungkap suatu hal (subjek)
o   Penyajian teratur, sistematis, koheren, lengkap dengan semua situasi pendukungnya
o   Memiliki satu kesatuan misi dalam rangkaian itu
o   Dibentuk oleh unsur segmental dan nonsegmental

2.2         KICAUAN WACANA
            GEMPA BUMI
Saya akan menceritakan pengalaman saya yang terjadi minggu kemarin yang berhubungan dengan gempa bumi. Ketika gempa bumi terjadi, saya sedang mengendarai mobil. Waktu itu saya berada dalam perjalanan pulang dari Bali.
Tiba-tiba saya merasakan adanya hentakan keras pada mobil saya. Saya pikir waktu itu ban mobil saya meletus. Saya tidak sadar jika saat itu sedang terjadi gempa bumi. Saya baru sadar ketika saya melihat tiang listrik dan telepon yang ada di kanan kiri saya ambruk, berjatuhan seperti batang korek api yang ringan. Saya juga melihat batu-batu besar berserakan di sepanjang jalan. Mobil saya terperangkap di tengah batu-batu yang berserakan tersebut. Saya tidak bisa menggeser mobil saya ke depan maupun ke belakang karena batu-batu tersebut merintangi jalan saya. Sepertinya tidak ada satupun yang dapat saya lakukan untuk meneruskan perjalanan. Karena putus asa, saya tinggalkan mobil saya dan memilih berjalan kaki menuju rumah.
Sesampainya di kampung halaman saya, saya terkejut karena tidak ada satupun yang tersisa. Semuanya rata dengan tanah. Gempa bumi tersebut ternyata membuat kerusakan yang demikian besar pada kampung saya. Meskipun demikian, saya bersyiukur karena tidak ada satupun keluarga maupun warga kampung saya yang terluka serius.

2.3         WACANA NARASI
A.           Pengertian Wacana Narasi
Narasi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam sebuah tulisan yang rangkaian peristiwa dari waktu ke waktu dijabarkan dengan urutan awal, tengah, dan akhir.

B.           Ciri-Ciri Wacana Narasi 
Menurut Keraf (2000:136)
1.            Menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan.
2.            Dirangkai dalam urutan waktu.
3.            Berusaha menjawab pertanyaan "apa yang terjadi?"
4.            Ada konfiks.
Narasi dibangun oleh sebuah alur cerita. Alur ini tidak akan menarik jika tidak ada konfiks. Selain alur cerita, konfiks dan susunan kronlogis, ciri-ciri narasi lebih lengkap lagi diungkapkan oleh Atar Semi (2003: 31) sebagai berikut:
·           Berupa cerita tentang peristiwa atau pengaalaman penulis.
·           Kejadian atau peristiwa yang disampaikan berupa peristiwa yang benar-benar terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya.
·           Berdasarkan konfiks, karena tanpa konfiks biasanya narasi tidak menarik.
·           Memiliki nilai estetika.
·           Menekankan susunan secara kronologis.
C. Unsur-Unsur Pembangun Wacana Narasi            
1. Tema adalah pokok pembicaraan yang mencadi dasar penceritaan    penulis.
2. Alur/plot adalah jalinan cerita, bagaimana cerita itu disusun,sehingga peristiwa demi peristiwa dapat terjalin dengan baik.
3. Watak/karakter berhubungan dengan perangai si pelaku atau tokoh dalam suatu narasi.
4. Suasana berhubungan dengan kesan yang ditimbulkan sehingga pembaca  dapat ikut   membayangkan       dan merasakan suasana yang  dihadapi pelaku.
5. Sudut pandang berhubungan dengan dari mana penulis memandang suatu  peristiwa.

D. Jenis-jenis wacana narasi


Narasi informatif adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah seseorang.
Narasi ekspositorik adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah seseorang. Dalam narasi ekspositorik, penulis menceritakan suatu peristiwa berdasarkan data yang sebenarnya. Pelaku yang ditonjolkan biasanya, satu orang. Pelaku diceritakan mulai dari kecil sampai saat ini atau sampai terakhir dalam kehidupannya. Karangan narasi ini diwarnai oleh eksposisi, maka ketentuan eksposisi juga berlaku pada penulisan narasi ekspositprik. Ketentuan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa yang logis, berdasarkan fakta yang ada, tidak memasukan unsursugestif atau bersifat objektif.
Narasi artistik adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat. Ketentuan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa yang logis, berdasarkan fakta yang ada, tidak memasukan unsur sugestif atau bersifat objektif.
Narasi sugestif adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat.

E.           Langkah-langkah menulis karangan wacana narasi

1.  Tentukan dulu tema dan amanat yang akan disampaikan
2.  Tetapkan sasaran pembaca
3.  Rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur
4.  Bagi peristiwa utama itu ke dalam bagian awal, perkembangan, dan akhir cerita
5.  Rincian peristiwa-peristiwa utama ke dalam detail-detail peristiwa sebagai pendukung cerita
6.  Susun tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandan










BAB III
PENUTUP
3.1   KESIMPULAN
Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap,sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan gramatikal tertinggi atau terbesar. Sebagai satuan bahasa yang lengkap,maka dalam wacana itu berarti terdapat konsep, gagsan, pikiran, ide-ide yang utuh yang bisa di pahami oleh pembaca atau pendengar, tanpa keraguan apapun. Sebagai satuan gramatikal tertinggi atau terbesar berarti wacana itu dibentuk dari kalimat atau kalimat kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal, dan syarat kewacanaan lainnya.
Wacana Narasi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam sebuah tulisan yang rangkaian peristiwa dari waktu ke waktu dijabarkan dengan urutan awal, tengah, dan akhir.
3.2   SARAN
Mahasiswa di tuntut untuk lebih dalam mempelajari pelajaran Bahasa Indonesia. Karena dengan itu dapat menambah wawasan kita. Misalnya dalam pembuatan suatu wacana, kita tidak keliru lagi. Lebih memahami unsur-unsur yang menyangkut tentang wacana.







DAFTAR PUSTAKA
Abdillah, Alek Dan HP, Achmad. 2012. Linguistik Umum. Jakarta : ERLANGGA
Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: PT RINEKA CIPTA
Ibrahim, Syukur. 1994. Ancangan Kajian Wacana. Yogyakarta: PUSTAKA BELAJAR
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Wacana. Bandung: ANGKASA
http://rachmad-sunagakure.blogspot.com/2012/05/wacana-narasi.html



Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS

Nama           :Mariyati                       Jurusan             :BimbinganDan Konseling Nim              :2014 141 106              Mata Kuliah      :Studi Kasus Kelas            :6/C                               Dosen Pengampu :Mirnayenti, M.Pd RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS 1.     Pendekatan Umum Pendesainan Studi Kasus a.     Definisi Desain Penelitian Desain penelitian adalah keseluruha...

pemikiran Friederich Wilhelm August Froebel

BAB I PENDAHULUAN 1.1    Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang, dimana memiliki sasaran yang berperan dalam melaksanakan pembangunan disegala sektor, baik di sektor industri, perdagangan maupun di sektor pendidikan. Dalam menunjang keberhasilan pembangunan di setiap sektor, maka perlunya peranan pendidikan yang menempatkan manusia sebagai kedudukan sentral dalam pembangunan. Pentingnya peranan pendidikan dalam pembangunan di setiap sektor, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan berperan sebagai upaya pencerdasan, pendewasaan, kemandirian manusia yang dilakukan oleh perorangan, kelompok dan lembaga. Upaya ini dimulai sejak berabad-abad silam, pola pendidikan mengalami kemajuan yang pesat berkat kerja keras para pakar pendidikan terdahulu. Adapun tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan prasekolah adalah Friederich Wilhelm August Froebel atau lebih dikenal dengan sebutan Froebel. Tokoh ini ...

Makalah Konseling Psikologi Individual

Makalah Model-Model Konseling “ Konseling Psikologi Individual ” Di Susun Oleh : Kelompok 3 Nama Kelompok   : 1.      Ayu soraya 2.      Ema kusna haryati 3.      Ika ayu oktaviani 4.      Mariyati 5.      Rahmad shadat 6.      Yogi firnando Semester/Kelas     : Enam    (6) / C Program Stud i       : Bimbingan dan Konseling Dosen Pengasuh    : Erfan Ramdhani, M.Pd., Kons, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang 201 6/2017 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha P e nyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami . Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW....