KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Puji rasa syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang
mana telah memberikan kenikmatan kepada kita semua, sehingga penyusun dapat
menyelesaikan Makalah ini, yang berjudul “ETIKA, MORAL, dan AKHLAK”.
Sholawat serta Salam senantiasa tercurahkan kepada baginda kita Nabi
Besar Muhamad SAW. Yang telah membawa umatnya dari zaman jahiliah menuju zaman
Islamiah.
Bergema seiring nada mengalunkan kata hati yang senantiasa
mengungkapkan getaran jiwa, Penyusun dengan penuh kesadaran diri bahwa dalam
penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, hal ini dengan
keterbatasan kemampuan dan kedangkalan ilmu yang kami miliki. Dalam kesempatan
ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dan pihak yang turut
membantu terselesainya makalah ini.
Akhirnya kepada
Illahi kita berharap dan berdo’a, semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi
penyusun dan umumnya bagi pembaca.
Amiin
Palembang, Maret 2015
PENULIS
PEMBAHASAN
A.
KONSEP ETIKA, MORAL DAN AKHLAK
1.
Pengertian Etika
Etika
berasal dari bahasa Yunani Kuno, yang terdiri dari
kata "ethikos", berarti
"timbul dari kebiasaan” adalah segala sesuatu dimana dan bagaimana cabang
utama filsafat
yang mempelajari nilai
atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan
konsep seperti benar, salah, baik, buruk,
dan tanggung
jawab.
St. John of Damascus (abad
ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis (practical
philosophy).
Etika dimulai bila manusia
merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan
akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita
tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika,
yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
2. Etika Dibagi Atas
Dua Macam
a. Etika deskriptif
Etika yang berbicara mengenai suatu fakta yaitu
tentang nilai dan pola perilaku manusia terkait dengan situasi dan realitas
yang membudaya dalam kehidupan masyarakat.
b.
Etika Normatif
Etika yang memberikan penilaian serta himbauan kepada
manusia tentang bagaimana harus bertindak sesuai norma yang berlaku. Mengenai
norma norma yang menuntun tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari hari. (http://nurdinfivers1.blogspot.com/2014/02/makalah-agama-tentang-etika-moral-dan.html,
08:03)
Dari
kutipan di atas dapat kita simpulkan bahwa etika dalam keseharian sering
dipandang sama denga etiket, padahal sebenarnya etika dan etiket merupakan dua
hal yang berbeda. Dimana etiket adalah suatu perbuatan yang harus dilakukan.
Sementara etika sendiri menegaskan bahwa suatu perbuatan boleh atau tidak.
Etiket juga terbatas pada pergaulan. Di sisi yang lain etika tidak bergantung
pada hadir tidaknya orang lain. Etiket itu sendiri bernilai relative atau tidak
sama antara satu orang dengan orang lain. Sementara itu etika bernilai absolute
atau tidak tergantung dengan apapun. Etiket memandang manusia dipandang dari
segi lahiriah. Sementara itu etika manusia secara utuh.
Dengan
ciri-ciri yang demikian itu, maka etika lebih merupakan ilmu pengetahuan yang
berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk
dikatakan baik atau buruk. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola
tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia.
3. Etika Memiliki
Peranan Atau Fungsi Diantaranya Yaitu:
a.
Dengan etika seseorang
atau kelompok dapat mengemukakan penilaian tentang perilaku manusia
b.
Menjadi alat kontrol
atau menjadi rambu-rambu bagi seseorang atau kelompok dalam melakukan suatu
tindakan atau aktivitasnya sebagai mahasiswa
c.
Etika dapat
memberikan prospek untuk mengatasi kesulitan moral yang kita hadapi sekarang.
d.
Etika dapat menjadi
prinsip yang mendasar bagi mahasiswa dalam menjalankan aktivitas
kemahasiswaanya.
e. Etika menjadi penuntun agar dapat bersikap sopan,
santun, dan dengan etika kita bisa di cap sebagai orang baik di dalam
masyarakat. (http://nurdinfivers1.blogspot.com/2014/02/makalah-agama-tentang-etika-moral-dan.html, 08:03)
Dari
kutipan di atas dapat di simpulkan bahwa etika memiliki beberapa peranan dan
fungsi diantaranya yaitu, dengan adanya kita dapat menilai perilaku manusia,
mengontrol tindakan atau aktivitas
manusia, dan penuntun agar dapat bersikap sopan, santun. Dengan adanya
etika dalam kehidupan sehari-hari kita maka kita bisa di cap sebagai orang yang
baik di dalam masyarakat.
4. Etika Dalam
Penerapan Kehidupan Sehari-hari
a. Etika bergaul dengan orang lain
1)
Hormati perasaan
orang lain, tidak mencoba menghina atau menilai mereka cacat.
2)
Jaga dan
perhatikanlah kondisi orang, kenalilah karakter dan akhlaq mereka, lalu
pergaulilah mereka, masing-masing menurut apa yang sepantasnya.
3)
Bermuka manis dan
senyumlah bila anda bertemu orang lain. Berbicaralah kepada mereka sesuai
dengan kemampuan akal mereka.
4)
Berbaik sangkalah
kepada orang lain dan jangan memata-matai mereka.
5)
Memaafkan kekeliruan
mereka dan jangan mencari-cari kesalahan-kesalahannya, dan tahanlah rasa benci
terhadap mereka. (http://nurdinfivers1.blogspot.com/2014/02/makalah-agama-tentang-etika-moral-dan.html, 08:03)
Jadi dari kutipan diatas dapat kami
simpulkan bahwa saat bergaul dengan orang lain kita harus ada etika, seperti
menghormati perasaan orang lain, menjaga dan memperhatikan orang lain,
senyumlah saat kita bertemu orang lain, dan jangan mencari kesalahan mereka dan
tahanlah rasa benci terhadap mereka supaya mereka merasa di hormati..
b.
Etika bertamu
1)
Untuk orang yang mengundang:
v Jangan hanya mengundang
orang-orang kaya untuk jamuan dengan mengabaikan orang-orang fakir.
v Jangan anda membebani tamu
untuk membantumu, karena hal ini bertentangan dengan kewibawaan.
v Jangan kamu menampakkan
kejemuan terhadap tamumu, tetapi tampakkanlah kegembiraan dengan kahadirannya,
bermuka manis dan berbicara ramah.
v Hendaklah segera menghidangkan
makanan untuk tamu, karena yang demikian itu berarti menghormatinya.
v Disunnatkan mengantar tamu
hingga di luar pintu rumah. Ini menunjukkan penerimaan tamu yang baik dan penuh
perhatian.
2)
Bagi tamu:
v Hendaknya tidak membedakan
antara undangan orang fakir dengan undangan orang yang kaya, karena tidak
memenuhi undangan orang faqir itu merupakan pukulan (cambuk) terhadap
perasaannya.
v Jangan tidak hadir
sekalipun karena sedang berpuasa, tetapi hadirlah pada waktunya.
v Bertamu tidak boleh lebih
dari tiga hari, kecuali kalau tuan rumah memaksa untuk tinggal lebih dari itu.
v Hendaknya pulang dengan
hati lapang dan memaafkan kekurang apa saja yang terjadi pada tuan rumah.
Jadi dari kutipan diatas dapat kami simpulkan bahwa dalan
bertamu harus ada etika, Baik untuk orang yang mengundang maupun bagi tamu.
Etika bagi orang yang mengundang adalah kita jangan hanya mengundang tetapi
kita harus memberi minum, makan, jangan memasang muka yang masam, dan di
harapkan kita mengantarkan tamu kita sampai depan pintu saat dia selesai
bertamu. Dan etika bagi yang bertamu adalah kita tidak boleh membedakan antara
undangan orang fakir dan orang kaya, kita juga tidak boleh bertamu lebih dari 3
hari kecuali kalau tuan rumah memaksa untuk tinggal lebih dari itu, dan saat
pulang hendaklah dengan hati yang lapang dan memaafkan kekurangan apa saja yang
terjadi pada tuan rumah.
c.
Etika di jalan
1)
Berjalan dengan sikap
wajar dan tawadlu, tidak berlagak sombong di saat berjalan atau mengangkat
kepala karena sombong atau mengalihkan wajah dari orang lain karena takabbur.
2)
Memelihara pandangan
mata, baik bagi laki-laki maupun perempuan.
3)
Menyingkirkan
gangguan dari jalan. Ini merupakan sedekah yang karenanya seseorang bisa masuk
surga.
4)
Menjawab salam orang
yang dikenal ataupun yang tidak dikenal.
d. Etika makan dan minum
1)
Berupaya untuk
mencari makanan yang halal.
2)
Hendaknya mencuci
tangan sebelum makan jika tangan kamu kotor, dan begitu juga setelah makan untuk
menghilangkan bekas makanan yang ada di tanganmu.
3)
Hendaklah kamu puas
dan rela dengan makanan dan minuman yang ada, dan jangan sekali-kali
mencelanya.
4)
Hendaknya jangan
makan sambil bersandar atau dalam keadaan menyungkur.
5)
Hendaklah makan dan
minum yang kamu lakukan diniatkan agar bisa dapat beribadah kepada Allah, agar
kamu mendapat pahala dari makan dan minummu itu.
6)
Hendaknya memulai
makanan dan minuman dengan membaca Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulillah.
7)
Tidak
berlebih-lebihan di dalam makan dan minum.
Jadi dari kutipan diatas dapat kami simpulkan bahwa etika
juga ada dalam berjalan dan pada saat makan dan minum. Contoh etika pada saat
berjalan adalah berjalan dengan sikap yang wajar dan tidak sombong,menjaga
pandangan, menyingkirkan gangguan yang ada di jalan dan menjawab salam orang
yang di kenal maupun orang yang tidak dikenal. Dan contoh etika pada saat makan
dan minum adalah memakan makanan yang halal, membaca bismilah sebelum makan dan
diakhiri dengan mengucapkan Alhamdulillah, tidak berlebih-lebihan di dalam
makan dan minum, hendaklah meniatkan semua yang kita makan karena beribadah
kepada Allah supaya kita mendapat pahala, jangan makan sambil bersandar atau
menyungkur, jangan sekali-kali mencela makanan yang kita makan kita harus
mensyukurinya dan jangan lupa juga mencuci tangan sebelum makan karena bisa
saja tangan kita kotor dan begitu juga setelah makan hendaknya kita
membersihkan tangan dari bekas makanan.
e. Etika
berbicara
1)
Hendaknya pembicaraan
selalu di dalam kebaikan.
2)
Menghindari
perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kamu berada di fihak yang benar dan
menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku adalah penjamin sebuah
istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan)
sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa
saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda". (HR. Abu Daud dan
dinilai hasan oleh Al-Albani).
3)
Menghindari sikap
memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara. Di dalam hadits Jabir
Radhiallaahu 'anhu disebutkan: "Dan sesungguhnya manusia yang paling aku
benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak
bicara, orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun".
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun? Nabi menjawab:
"Orang-orang yang sombong". (HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh
Al-Albani).
4)
Tenang dalam
berbicara dan tidak tergesa-gesa.
5)
Menghindari perkataan
jorok (keji).
6)
Jangan membicarakan
sesuatu yang tidak berguna bagimu.
7)
Jangan memonopoli
dalam berbicara, tetapi berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.
8)
Menghindari perkataan
kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari
kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat
mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.
Dari kutipan di atas dapat kami
simpulkan bahwa etika juga saat kita berbicara. Misalnya, hendaknya pembicaraan
selalu di dalam kebaikan menghindari perdebatan dan saling membantah,
sekali-pun kamu berada di fihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta
sekalipun bercanda. Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku adalah penjamin sebuah
istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan)
sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa
saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda". (HR. Abu Daud dan
dinilai hasan oleh Al-Albani). Menghindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di
dalam berbicara. Di dalam hadits Jabir Radhiallaahu 'anhu disebutkan: "Dan
sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari
Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih dan
orang-orang yang mutafaihiqun". Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulllah,
apa arti mutafaihiqun? Nabi menjawab: "Orang-orang yang sombong".
(HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani). Tenang dalam berbicara dan
tidak tergesa-gesa. Menghindari
perkataan jorok (keji). Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagimu. Jangan memonopoli dalam berbicara, tetapi berikanlah
kesempatan kepada orang lain untuk berbicara. Menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang
menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain
dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan
dan pertentangan.
f. Etika
menjenguk orang sakit
1)
Untuk orang yang berkunjung (menjenguk):
v Hendaknya tidak lama di
dalam berkunjung, dan mencari waktu yang tepat untuk berkunjung, dan hendaknya
tidak menyusahkan si sakit, bahkan berupaya untuk menghibur dan
membahagiakannya.
v Mendo`akan semoga cepat
sembuh, dibelaskasihi Allah, selamat dan disehatkan.
v Mengingatkan si sakit untuk
bersabar atas taqdir Allah SWT.
2)
Untuk orang yang sakit:
v Hendaknya segera bertobat
dan bersungguh-sungguh beramal shalih.
v Berbaik sangka kepada Allah, dan selalu
mengingat bahwa ia sesungguhnya adalah makhluk yang lemah di antara makhluk
Allah lainnya, dan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak
membutuhkan untuk menyiksanya dan tidak mem-butuhkan ketaatannya.
v Hendaknya cepat meminta
kehalalan atas kezhaliman-kezhaliman yang dilakukan olehnya, dan segera
mem-bayar/menunaikan hak-hak dan kewajiban kepada pemi-liknya, dan menyampaikan
amanat kepada yang berhak menerimanya.
Dari kutipan diatas dapat kami simpulkan bahwa etika juga ada pada saat
kita menjenguk orang sakit. Yaitu baik bagi orang yang berkunjung maupun untuk
orang yang sakit. Etika untuk orang yang sakit misalnya tidak menyusahkan orang
yang sakit, mendo’akan supaya cepat sembuh dan selalu mengingatkan dia untuk
selalu bersabar atas takdir Allah SWT. Dan adapun etika untuk orang yang sakit
adalah berbaik sangka kepada Allah, hendaknya segera bertaubat dan
bersungguh-sungguh beramal shaleh.
g. Etika
Berkomunikasi Lewat Telepon
1)
Hendaknya penelpon memulai pembicaraannya dengan ucapan Assalamu’alaikum,
karena dia adalah orang yang datang, maka dari itu ia harus memulai pembicaraannya dengan salam
dan juga menutupnya dengan salam.
2)
Pilihlah waktu yang tepat untuk berhubungan via telepon, karena manusia
mempunyai kesibukan dan keperluan, dan mereka juga mempunyai waktu tidur dan
istirahat, waktu makan dan bekerja.
3)
Jangan memperpanjang pembicaraan tanpa alasan, karena khawatir orang yang
sedang dihubungi itu sedang mempunyai pekerjaan penting atau mempunyai janji
dengan orang lain.
4)
Maka hendaknya wanita berhati-hati, jangan berbicara diluar kebiasaan dan
tidak melantur berbicara dengan lawan jenisnya via telepon, apa lagi
memperpanjang pembicaraan, memperindah suara, memperlembut dan lain sebagainya.(http://nurdinfivers1.blogspot.com/2014/02/makalah-agama-tentang-etika-moral-dan.html,
08:03)
Dari
kutipan diatas dapat kami simpulkan bahwa etika memiliki peranan dan fungsi
yang sangat penting. Diantaranya dengan adanya etika kita dapat menilai
seseorang, etika juga bisa menjadi alat kontrol bagi seseorang atau kelompok
dalam melakukan suatu tindakan dan etika juga bisa menjadi penuntun agar dapat
bersikap sopan, santun, dan dengan adanya etika kita bisa di cap sebagai orang
yang baik di dalam masyarakat.
Didalam
kehidupan sehari-hari, kita harus ada etika. Baik didalam bergaul,bertamu, di
jalan, saat makan dan minum, saat kita berbicara, saat kita menjenguk orang
sakit, saat berkomunikasi lewat telepon dan pada saat apapun kita harus ada
etika.
2.
Pengertian Moral
Adapun
arti moral dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari
kata mos yang berarti adat kebiasaan. Di dalam kamus umum bahasa Indonesia
dikatan bahwa moral adalah pennetuan baik buruk terhadap perbuatan dan
kelakuan. Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu
istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai,
kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar,
salah, baik atau buruk. (http://nurdinfivers1.blogspot.com/2014/02/makalah-agama-tentang-etika-moral-dan.html,
08:03)
Berdasarkan kutipan tersebut diatas, dapat dipahami
bahwa moral adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap
aktifitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah. Jika pengertian etika dan moral tersebut dihubungkan
satu dengan lainnya, kita dapat mengetakan bahwa antara etika dan moral memiki
objek yang sama, yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan manusia selanjutnya
ditentukan posisinya apakah baik atau buruk.
Namun demikian dalam beberapa hal antara etika dan
moral memiliki perbedaan. Pertama, kalau dalam pembicaraan etika, untuk
menentukan nilai perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolak ukur akal
pikiran atau rasio, sedangkan moral tolak ukurnya yang digunakan adalah
norma-norma yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung di masyarakat. Dengan
demikian etika lebih bersifat pemikiran filosofis dan berada dalam
konsep-konsep, sedangkan etika berada dalam dataran realitas dan muncul dalam
tingkah laku yang berkembang di masyarakat. Dengan demikian tolak ukur yang digunakan dalam moral
untuk mengukur tingkah laku manusia adalah adat istiadat, kebiasaan dan lainnya
yang berlaku di masyarakat.
3.
Perbedaan Antara Etika dan Moral
Etika dan moral sama artinya tetapi
dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral atau moralitas dipakai
untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian
system nilai yang ada. Kesadaran moral
a.
serta pula
hubungannya dengan hati nurani yang dalam bahasa asing disebut conscience,
conscientia, gewissen, geweten, dan bahasa arab disebut dengan qalb, fu'ad.
Dalam kesadaran moral mencakup tiga hal, yaitu:Perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral.
b.
Kesadaran moral dapat juga berwujud rasional dan objektif, yaitu suatu
perbuatan yang secara umumk dapat diterima oleh masyarakat, sebagai hal yang
objektif dan dapat diberlakukan secara universal, artinya dapat disetujui
berlaku pada setiap waktu dan tempat bagi setiap orang yang berada dalam
situasi yang sejenis.
c.
Kesadaran moral dapat pula muncul dalam bentuk kebebasan.
Berdasarkan pada uraian diatas, dapat sampai pada
suatu kesimpulan, bahwa moral lebih mengacu kepada suatu nilai atau system
hidup yang dilaksanakan atau diberlakukan oleh masyarakat. Nilai atau sitem
hidup tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai yang akan memberikan harapan
munculnya kebahagiaan dan ketentraman. Nilai-nilai tersebut ada yang berkaitan
dengan perasaan wajib, rasional, berlaku umum dan kebebasan. Jika nilai-nilai
tersebut telah mendarah daging dalam diri seseorang, maka akan membentuk
kesadaran moralnya sendiri. Orang yang demikian akan dengan mudah dapat
melakukan suatu perbuatan tanpa harus ada dorongan atau paksaan dari luar.
4. Pengertian Akhlak
Secara bahasa kata akhlak atau khuluk bisa diartikan budi
pekerti, kebiasaan, perangai muruah, atau segala sesuatu yang sudah menjadi
tabiat. Adapun pengertian akhlak dari segi istilah menurut Ibnu Maskawaih sebagaimana yang di kutip
Abuddin Nata (1997 : 3)adalah : sifat yang tertanam dalam jiwa yang
mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Definisi tersebut senada dengan yang di kemukakan oleh Imam Al-Ghazali yaitu
akhlak adalah sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan segala
perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran maupun
pertimbangan. (Zuhdiyah, M.AG, 2009 : 208)
Dari kutipan diatas dapat kita
simpulkan bahwa akhlak merupakan sifat yang tertanam didalam diri manusia yang
mendorong manusia untuk melakukan suatu perbuatan. Setiap manusia pasti
memiliki akhlak, yaitu akhlak yang baik maupun akhlak yang buruk dan akhlak
tersebut sudah tertanam dalam jiwa manusia dan menimbulkan segala perbuatan
dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran maupun pertimbangan.
a. Macam-Macam
Akhlak
1. Akhlak kepada Allah
a.
Beribadah kepada
Allah.
b.
Berzikir kepada Allah.
c.
Berdo’a kepada Allah.
d.
Tawakal kepada Allah.
e.
Tawaduk kepada Allah.
f. Rendah hati di hadapan Allah.
2.
Akhlak terhadap Rasulullah,
a.
Mengikuti atau menjalankan sunnah Rosul
b.
Bersholawat Kepada Rosul
Jadi dari kutipan diatas dapat kami simpulkan bahwa
akhlak kepada Allah adalah melaksanakan perintah Allah untuk menyembahNya
sesuai dengan perintah-Nya. Seorang muslim beribadah membuktikan ketundukkan
terhadap perintah Allah, mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi, baik
diucapkan dengan mulut maupun dalam hati. Berzikir kepada Allah melahirkan ketenangan
dan ketentraman hati, memohon apa saja kepada Allah. Do’a merupakan inti
ibadah, karena ia merupakan pengakuan akan keterbatasan dan ketidakmampuan
manusia, sekaligus pengakuan akan kemahakuasaan Allah terhadap segala sesuatu. berserah
diri sepenuhnya kepada Allah dan menunggu hasil pekerjaan atau menanti akibat
dari suatu keadaan. Mengakui bahwa dirinya rendah dan hina di hadapan Allah
Yang Maha Kuasa, oleh karena itu tidak layak kalau hidup dengan angkuh dan
sombong, tidak mau memaafkan orang lain, dan pamrih dalam melaksanakan ibadah
kepada Allah.
Mengikuti atau menjalankan sunnah
Rosul Mengacu kepada sikap, tindakan, ucapan dan
cara Rasulullah menjalani hidupnya atau garis-garis perjuangan/ tradisi yang
dilaksanakan oleh Rasulullah. Sunnah merupakan sumber hukum kedua dalam islam,
setelah Al-Quran. Bersholawat Kepada
Rosul, Mengucapkan puji-pujian kepada Rosulullah S.A.W . Sesungguhnya
Tuhan beserta para malaikatnya semua memberikan Sholawat kepada Nabi (dari
Allah berarti memberi rakhmat, dan dari malaikat berarti memohonkan ampunan).
Hai orang-orang beriman, ucapkanlah Sholawat kepadanya (AQ Al Ahzab : 56).
3. Akhlak kepada diri sendiri
a. Sabar yaitu perilaku seseorang terhadap dirinya
sendiri sebagai hasil dari pengendalian nafsu dan penerimaan terhadap apa yang
menimpanya.
b. Syukur yaitu, sikap berterima kasih atas pemberian
nikmat Allah yang tidak bisa terhitung banyaknya.
c.
Tawaduk yaitu, rendah
hati, selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang tua, muda, kaya atau
miskin
Jadi dari kutipan
diatas dapat kami simpulakan bahwa akhlak kepada diri sendiri itu meliputi Sabar,
yaitu prilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil dari pengendalian
nafsu dan penerimaan terhadap apa yang menimpanya. Sabar diungkapkan ketika
melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan ketika ditimpa musibah. Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas pemberian
nikmat Allah yang tidak bisa terhitung banyaknya. Syukur diungkapkan dalam
bentuk ucapan dan perbuatan. Syukur dengan ucapan adalah memuji Allah dengan
bacaan alhamdulillah, sedangkan syukur dengan perbuatan dilakukan dengan
menggunakan dan memanfaatkan nikmat Allah sesuai dengan aturan-Nya. Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa
saja yang dihadapinya, orang tua, muda, kaya atau miskin. Sikap tawaduk
melahirkan ketenangan jiwa, menjauhkan dari sifat iri dan dengki yang menyiksa
diri sendiri dan tidak menyenangkan orang lain.
4. Akhlak kepada
keluarga
Akhlak terhadap keluarga adalah mengembangkan kasih
sayang di antara anggota keluarga yang diungkapkan dalam bentuk komunikasi.
Akhlak kepada ibu bapak adalah berbuat baik kepada keduanya dengan ucapan dan
perbuatan.
Dari kutipan diatas dapat kami simpulkan bahwa berbuat baik kepada ibu bapak dibuktikan
dalam bentuk-bentuk perbuatan antara lain : Menyayangi dan mencintai ibu bapak sebagai bentuk terima kasih dengan
cara bertutur kata sopan dan lemah lembut, Mentaati perintah, Meringankan
beban, serta, Menyantuni mereka jika sudah tua dan tidak mampu lagi berusaha,
tidak berbicara kasar kepada kedua orang tua, menjaga perasaan orang tua,
menyayangi mereka sepenuh hati dan tidak membuat hati mereka sakit karena
perbuatan maupun perkataan kita.
4.
Akhlak kepada sesama manusia
a) Akhlak terpuji (Mahmudah)
1) Husnuzan
Berasal dari
lafal husnun (baik) dan Adhamu (Prasangka). Husnuzan berarti
prasangka, perkiraan, dugaan baik. Lawan kata husnuzan adalah suuzan yakni
berprasangka buruk terhadap seseorang . Hukum kepada Allah dan rasul nya wajib,
wujud husnuzan kepada Allah dan Rasul-Nya antara lain:
·
Meyakini dengan
sepenuh hati bahwa semua perintah Allah dan Rasul
Nya Adalah untuk kebaikan manusia.
·
Meyakini dengan
sepenuh hati bahwa semua larangan agama pasti berakibat
buruk.
Jadi dari kutipan diatas dapat kami simpulkan bahwa hukum
husnuzon kepada Allah dan Rasul-Nya adalah wajib sedangkan Hukum husnuzan
kepada manusia mubah atau jaiz (boleh dilakukan). Husnuzan kepada sesama
manusia berarti menaruh kepercayaan bahwa dia telah berbuat suatu kebaikan.
Husnuzan berdampak positif berdampak positif baik bagi pelakunya sendiri maupun
orang lain.
2) Tawaduk
Tawaduk
berarti rendah hati. Orang yang tawaduk berarti orang yang merendahkan diri
dalam pergaulan. Lawan kata tawaduk adalah takabur. Allah berfirman , Dan
rendahkanlah dirimu terhadap keduanya, dengan penuh kasih sayang dan
ucapkanlah, ”Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah
mendidik aku pada waktu kecil.” (Q.S. Al Isra/17:24) Ayat
ini menjelaskan perintah tawaduk kepada kedua orang tua.
3) Tasamu
Artinya sikap tenggang rasa, saling
menghormati dan saling menghargai sesama manusia. Allah berfirman, ”Untukmu
agamamu, dan untukku agamaku (Q.S.Alkafirun/109: 6). Ayat tersebut menjelaskan bahwa masing-masing pihak
bebas melaksanakan ajaran agama yang diyakini.
4) Ta’awun
Beribadah
kepada Allah, yaitu Ta’awun berarti tolong menolong, gotong royong, bantu
membantu dengan sesama manusia. Allah berfirman, ”...dan tolong menolonglah
kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat
dosa dan permusuhan...”(Q.S. Al Maidah/5:2).
Dari kutipan diatas
dapat kami simpulkan bahwa tawaduk adalah rendah hati, orang yang tawaduk
adalah orang yang merendahkan diri dalam pergaulan. Sedangkan tasamu adalah
sikap tenggang rasa, saling menghormati, dan saling menghargai sesame manusia. Beribadah
kepada Allah yaitru ta’awun berarti tolong menolong, gotong royong bantu
membantu dengan sesame manusia. Jadi tawaduk, tasamu, dan ta’awun adalah salah
satu akhlak tepuji (mahmudah).
b) Akhlak tercela
(Mazmumah)
1) Hasad
Artinya iri hati, dengki. Iri berarti
merasa kurang senang atau cemburu melihat orang lain beruntung. Allah
berfirman, ”Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan
Allah kepada sebagian kamu atassebagian yang lain.(Karena) bagi laki-laki ada
bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari
mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya...” (Q.S.
AnNisa/4:32)
2) Dendam
Dendam yaitu keinginan keras yang
terkandung dalam hati untuk membalas kejahatan. Allah berfirman, ”Dan jika kamu
membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang
ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhlah itulah yang
terbaik bagi orang yang sabar” (Q.S. An Nahl/16:126)
3) Gibah dan Fitnah
Membicarakan kejelekan orang lain dengan
tujuan untuk menjatuhkan nama baiknya. Apabila kejelekan yang dibicarakan
tersebut memang dilakukan orangnya dinamakan gibah. Sedangkan apabila kejelekan
yang dibicarakan itu tidak benar, berarti pembicaraan itu disebut fitnah. Allah
berfirman, ”...dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang
lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah
mati? Tentu kamu merasa jijik...” (Q.S. Al Hujurat/49:12).
4) Namimah
Adu domba atau namimah, yakni menceritakan
sikap atau perbuatan seseorang yang belum tentu benar kepada orang lain dengan
maksud terjadi perselisihan antara keduanya. Allah berfirman, ”Wahai
orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa
suatu berita maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu
kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu
itu.” (Q.S. Al Hujurat/49:6).
(http://punyamuazir.blogspot.com/2013/12/pentingnya-akhlak-moral-dan-etika.html, 08:02)
Dari kutipan diatas dapat kami
simpulkan bahwa akhlak tercela terbagi menjadi hasad, dendam, gibah/fitnah dan
namimah. Hasad artinya iri hati, dengki.
Iri berarti merasa kurang senang atau cemburu melihat orang lain beruntung.
Dendam yaitu keinginan keras yang terkandung dalam hati untuk membalas
kejahatan. Gibah/fitnah yaitu Membicarakan
kejelekan orang lain dengan tujuan untuk menjatuhkan nama baiknya. Sedangkan namimah
sering juga di sebut dengan adu domba yaitu menceritakan sikap atau perbuatan
seseorang yang belum tentu benar kepada orang lain dengan maksud terjadi
perselisihan antara keduanya.
b. Karakteristik Akhlak dalam Ajaran Islam
Islam
memiliki dasaar-dasar konseptual tentang akhlak yang komprehensif dan menjadi
karakteristik yang khas. Di antara karakteristik tersebut adalah :
1.
Akhlak
meliputi hal-hal yang bersifat umum dan terperinci.
2.
Akhlak bersifat menyeluruh.
3.
Akhlak
sebagai buah iman.
4.
Akhlak
menjaga konsistensi dengan tujuan akhlak tidak membenarkan cara-cara mencapai
tujuan yang bertentangan dengan syariat sekalipun dengan maksud untuk mencapai
tujuan yang baik.
5.
Bersifat
mutlak dan menyeluruh.
6.
Melengkapkan
dan menyempernakan tuntutan.
7.
Bersifat
sederhana dan seimbang.
8.
Mencakupi
suruhan dan larangan.
9.
Bersih
dalam pelaksanaan.
Karakteristik
di atas sejalan pula dengan apa yang di katakan Imam Al-Ghazali, bahwa akhlak
tidak dapat di pisahkan dari soal kejiwaan. Karena menurutnya akhlak
diibaratkan sebagai hai’ah (sikap, sifat) yang melekat pada jiwa yang dari
padanya timbul ‘af’al (perilaku) dengan mudah tanpa hajat kepada
pemikiran/pertimbangan untuk melakukannya, atau sudah menjadi kebiasaan jiwa.
(Zuhdiyah, M. AG, 2009 : 213).
Dari
kutipan diatas dapat kami simpulkan bahwa akhlak meliputi hal-hal yang bersifat
umum dan terperinci, bersifat mutlak dan menyeluruh, bersifat sederhana dan
seimbang serta bersih dalam pelaksanaan. Jadi akhlak sangat menentukan apa yang
kita lakukan setiap hari baik itu bagus maupun itu buruk.
c.Tujuan Akhlak
Tujuan akhlak adalah mencapai
kebahagiaan hidup umat manusia dalam kehidupannya, daik di dunia maupun di
akhirat. Jika seseorang dapat menjaga kualitas muamalah ma’allah ( hubungan
dengan Allah)dan mu’amalah mu’annas ( hubungan dengan dengan sesama manusia),
insyaallah akan memperoleh ridho-Nya. Orang yang mendapat rido Allah niscaya
akan memperoleh jaminan kebahagiaan hidup baik duniawi maupun ukhrawi.
(Zuhdiyah, M. AG, 2009 : 216)
Jadi dari kutipan
diatas dapat kami simpulkan bahwa akhlak sangat menentukan kehidupan kita baik
di dunia maupun di akhirat. Akhlak yang baik akan membawakan kita ke tempat
yang baik dan akhlak yang buruk akan membawa kita ke tempat yang buruk pula.
B. KARAKTERISTIK ETIKA ISLAM
1.
Definisi Karakter
Karakter (khuluk) merupakan suatu keadaan jiwa dimana
jiwa bertindak tanpa di pikir atau di pertimbangkan secara mendalam dan
bertolak dari watak. Misalnya pada orang yang gampang sekali marah karena
hal paling kecil atau takut menghadapi insiden yang paling sepele. Juga
pada orang yang terkesiap berdebar-debar di sebabkan suara yang amat lemah yang
menerpa gendang telinganya atau ketakutan lantaran mendengar suata berita
atau tertawa berlebih-lebihan hanya karena suatu hal yang amat sangat biasa
yang telah membuatnya kagum, atau sedih sekali cuma karena suatu hal yang tak
terlalu memprihatinkan yang telah menimpanya. Kedua tercipta melalui kebiasaan dan latihan. Pada mulanya keadaan
ini terjadi karena di pertimbangkan dan dipikirkan, namun kemudian melalui
praktek terus-menerus menjadi karakter. karenanya para cendikiawan klasik
sering berbeda pendapat mengenai karakter. (http://punyamuazir.blogspot.com/2013/12/pentingnya-akhlak-moral-dan-etika.html, 08:02)
Dari kutipan diatas dapat
kami simpulkan bahwa Sebagian berpendapat bahwa karakter di miliki oleh jiwa
yang tidak berpikir (nonrasional). Sementara yang lain berkata bahwa bisa juga
karakter itu milik jiwa yang berpikir (rasional). Ada yang berpendapat bahwa
karakter itu alami sifatnya, dan juga dapat berubah cepat atau lamban melalui
disiplin serta nasihat-nasihat yang mulia. Pendapat yang terakhir inilah yang
kami dukung karena sudah kami kaji secara langsung. Adapun pendapat pertama
akan menyababkan tidak berlakunya fakultas nalar, tertolaknya segala bentuk
norma dan bimbingan, tunduknya (kecendrungan ) orang kepada kekejaman dan
kelalaian, serta banyak remaja dan anak berkembang liar tanpa nasihat dan
pendidikan. Ini tentu saja sangat negatif.
2. Karakteristik Etika Islam
Didalam islam, etika yang diajarkan dalam islam berbeda
dengan etika filsafat. Etika Islam memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.
Etika Islam mengajarkan dan menuntun manusia
kepada tingkah laku yang baik dan menjauhkan diri dari tingkah laku yang buruk.
b.
Etika Islam menetapkan bahwa yang menjadi
sumber moral, ukuran baik dan buruknya perbuatan seseorang didasarkan kepada
al-Qur’an dan al-Hadits yang shohih.
c.
Etika Islam bersifat universal dan
komprehensif, dapat diterima dan dijadikan pedoman oleh seluruh umat manusia
kapanpun dan dimanapun mereka berada.
d.
Etika Islam mengatur dan mengarahkan fitrah
manusia kejenjang akhlak yang luhur dan mulia serta meluruskan perbuatan
manusia sebagai upaya memanusiakan manusia.
(http://depeberbagiilmu.blogspot.com/2013/12/makalah-agama-islam-akhlak-etika-dan.html,
02/20/2015. 07:32 AM)
Dari kutipan diatas dapat kami simpulkan
bahwa dalam islam sudah diajarkan cara bertingkah laku dengan yang baik dan
menjauhkan perilaku yang buruk. Etika islam dijadikan pedoman oleh seluruh umat
manusia kapanpun dan dimanapun mereka berada. Etika islam mengatur dan
mengarahkan fitrah manusia kejenjang akhlak yang luhur dan mulia serta
meluruskan perbuatan manusia sebagai upaya memanusiakan manusia. Etika
adalah sebuah tatanan perilaku berdasarkan suatu sistem tata nilai suatu masyarakat
tertentu. Moral adalah secara etimologis berarti adat kebiasaan,susila. Jadi
moral adalah perilaku yang sesuai dengan ukuran-ukuran tindakan yang oleh umum
di terima, meliputi kesatuan sosial/lingkungan tertentu. Sedangkan akhlak
adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk tentang
perkataan/perbuatan manusia lahir dan batin.
C. HUBUNGAN TASAWUF
DENGAN AKHLAK
Tasawuf adalah proses
pendekatan diri kepada Tuhan (Allah) dengan cara mensucikan hati. Hati yang
suci bukan hanya bisa dekat dengan Tuhan malah dapat melihat Tuhan (al-Ma’rifah). Dalam tasawuf disebutkan
bahwa Tuhan Yang Maha Suci tidak dapat didekati kecuali oleh hati yang suci. (http://punyamuazir.blogspot.com/2013/12/pentingnya-akhlak-moral-dan-etika.html, 08:02)
Jadi dari kutipan diatas
dapat kami simpulkan bahwa ilmu akhlak menjelaskan mana nilai yang baik dan
mana yang buruk juga bagaimana mengubah akhlak buruk agar menjadi baik secara
zahiriah yakni dengan cara-cara yang nampak seperti keilmuan, keteladanan,
pembiasaan, dan lain-lain maka ilmu tasawuf menerangkan bagaimana cara
menyucikan hati , agar setelah hatinya suci yang muncul dari perilakunya adalah
akhlak al-karimah. Perbaikan akhlak, menurut ilmu tasawuf, harus berawal dari
penyucian hati.
Dalam kacamata akhlak,
tidaklah cukup iman seseorang hanya dalam bentuk pengakuan, apalagi kalau hanya
dalam bentuk pengetahuan. Yang “kaffah”
adalah iman, ilmu dan amal. Amal itulah yang dimaksud akhlak . Tujuan yang
hendak dicapai dengan ilmu akhlak adalah kesejahteraan hidup manusia de dunia
dan kebahagian hidup di akhirat. Dari satu segi akhlak adalah buah dari tasawuf
(proses pendekatan diri kepada Tuhan), tapi dari sisi lain akhlak pun merupakan
usaha manusia secara “zahiriyyah” dan “riyadhah.
D. INDIKATOR MANUSIA BERAKHLAK
Indikator
manusia berakhlak (husn al-khuluq), kata Al-Ghazali, adalah tertanamnya
iman dalam hatinya. Sebaliknya manusia yang tidak berakhlak (su’u al-khuluq)
adalah manusia yang ada nifaq di dalam hatinya. Nifaq artinya
sikap mendua dalam Tuhan. Tidak ada kesesuaian antara hati dan perbuatan. Iman
bagaikan akar dari sebuah tumbuhan. Sebuah pohon tidak akan tumbuh pada akar
yang rusak dan kropos. Sebaliknya sebuah pohon akan baik tumbuhnya bahkan
berbuah jika akarnya baik. Amal akan bermakna jika berpangkal pada iman, tetapi
amal tidak membawa makna apa-apa apabila tidak berpangkal pada iman. Demikian
juga amal tidak bermakna apabila amal tersebut berpangkal pada kemunafikan.
Hati orang beriman itu bersih, di dalamnya ada pelita yang bersinar dan hati
orang kafir itu hitam dan malah terbalik. (http://punyamuazir.blogspot.com/2013/12/pentingnya-akhlak-moral-dan- etika.html,
08:02)
Dari
kutipan diatas dapat kami simpulkan bahwa Manusia berakhlak adalah manusia yang
suci dan sehat hatinya, sedangkan manusia tidak berakhlak adalah manusia yang
kotor dan sakit hatinya. Namun sering kali manusia tidak sadar kalau hatinya
sakit. Kalaupun dia sadar tentang kesakitan hatinya, ia tidak berusaha untuk
mengobatinya. Padahal penyakit hati jauh lebih berbahaya ketimbang penyakit
fisik. Seseorang yang sakit secara fisik jika penyakitnya tidak dapat diobati
dan disembuhkan ujungnya hanya kematian. Kematian bukanlah akhir dari segala
persoalan melainkan pintu yang semua orang akan memasukinya. Tetapi penyakit
hati jika tidak disembuhkan maka akan berakhir dengan kecelakaan di alam keabadian. Taat akan perintah Allah, juga tidak mengikuti
keinginan syahwat dapat mengkilaukan hati, sebaliknya melakukan dosa dan
maksiat dapat menghitamkan hati. Barang siapa melakukan dosa, hitamlah hatinya
dan barang siapa melakukan dosa tetapi menghapusnya dengan kebaikan, tidak akan
gelaplah hatinya hanya cahaya itu berkurang.
Dengan
mengutip beberapa ayat Al Qur’an dan Hadits, selanjutnya Al-Ghazali
mengemukakan tanda-tanda manusia beriman, diantaranya :
a. Manusia beriman adalah manusia yang khusu’ dalam
shalatnya
b. Berpaling dari hal-hal yang tidak berguna (tidak ada
faedahnya)
c. Selalu kembali kepada Allah
d. Mengabdi hanya kepada Allah
e. Selalu memuji dan mengagungkan Allah
f. Bergetar hatinya jika nama Allah disebut
g. Berjalan di muka bumi dengan tawadhu’ dan tidak
sombong
h. Bersikap arif menghadapi orang-orang awam
i. Mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya
sendiri
j. Menghormati tamu
k. Menghargai dan menghormati tetangga
l. Berbicara selalu baik, santun dan penuh makna
m. Tidak
banyak berbicara dan bersikap tenang dalam menghadapi segala persoalan
n. Tidak menyakiti orang lain baik dengan sikap
maupun perbuatan
Sufi
yang lain mengungkapkan tanda-tanda manusia berakhlak, antara lain Memiliki
budaya malu dalam interaksi dengan sesamanya, tidak menyakiti orang lain,
banyak kebaikannya, benar dan jujur dalam ucapannya, tidak banyak bicara tapi
banyak bekerja, penyabar, hatinya selalu bersama Allah, tenang, suka berterima
kasih, ridha terhadap ketentuan Allah , bijaksana, hati-hati dalam bertindak,
disenangi teman dan lawan, tidak pendendam, tidak suka mengadu domba, sedikit
makan dan tidur, tidak pelit dan hasad, cinta karena Allah dan benci karena
Allah. (http://punyamuazir.blogspot.com/2013/12/pentingnya-akhlak-moral-dan-etika.html, 08:02)
Dari
kutipan diatas dapat kami simpulkan bahwa ketika Rasulullah ditanya tentang
perbedaan mukmin dan munafik, Rasulullah menjawab, orang mukmin keseriusannya
dalam shalat, puasa dan ibadah sedangkan orang munafik kesungguhannya dalam
makan minum layaknya hewan. Hatim al-‘Asam seorang ulama tabi’in menambahkan,
bahwa indikator mukmin adalah manusia yang sibuk dengan berfikir dan hikmah,
sementara munafik sibuk dengan obsesi dan panjang angan-angan, orang mukmin
putus harapan terhadap manusia kecuali pada Allah. Sebaliknya orang munafik
banyak berharap kepada sesama manusia dan bukan kepada Allah. Mukmin merasa
aman dari segala sesuatu kecuali dari Allah, munafik merasa takut oleh segala
sesuatu kecuali oleh Allah. Mukmin berani mengorbankan hartanya demi agamanya
sedangkan munafik berani mengorbankan agamanya demi hartanya. Mukmin menangis
dan berbuat baik, munafik berbuat jahat dan tertawa terbahak-bahak. Mukmin
senang berkhalawat (bersemedi) sedang munafik senang keramaian. Mukmin menanam
dan menjaga agar tidak terjadi kerusakan, munafik menuai dan mengharap
keuntungan. Mukmin memerintah dan melarang (amar ma’ruf nahi munkar)
untuk kekuasaan, maka kerusakannlah yang terjadi.
Kalau
akhlak dipahami sebagai pandangan hidup, maka manusia berakhlak adalah manusia
yang menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam hubungannya dengan
Tuhan, sesama makhluk dan alam dalam arti luas.
E. Aktualisasi Akhlak dalam Kehidupan Bermasyarakat
1. Akhlak Terhadap sesama Makhluk,
a. Tafakur (Berfikir)
Salah satu ciri khas manusia yang
membedakanya dari makhluk yang lain, bahwa manusia adalah makhluk yang
berpikir. Dengan kemampuan itulah manusia bisa meraih berbagai kemajuan,
kemanfaatan, dan kebaikan.
b. Memanfaatkan Alam
Kedudukan manusia di bumi ini bukanlah
sebagai penguasa yang sewenang-wenang, tetapi sebagai khalifah yang mengemban
amanat Allah. Karena itu, segala pemanfaatan manusia atas bumi ini harus
dengan penuh tanggung jawab dan tidak menimbulkan kerusakan. Sebab, Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Dalam
ilmu akhlak dijelaskan bahwa kebiasaan yang baik harus diperhatikan dan
disempurnakan, serta kebiasaan yang buruk harus dihilangkan, karena merupakan
faktor yang sangat penting dalam membentuk karakter manusia berakhlak.
Al-Ghozali menjelaskan bahwa mencapai akhlak yang baik ada tiga cara;
1. Akhlak merupakan anugrah
dan rahmat Allah, yakni orang memiliki akhlak baik secara alamiah
(bi-althabi;ah wa al-fitroh). Sesuatu yang diberikan Allah kepada seseorang
sejak ia dilahirkan.
2. Mujahadah, selalu
berusaha keras untuk merubah diri menjadi baik dan tetap dalam kebaikan, serta
menahan diri dari sikap putus asa.
3. Riyadloh, adalah melatih
diri secara spiritual untuk senantiasa dzikir (ingat) kepada Allah. (http://punyamuazir.blogspot.com/2013/12/pentingnya-akhlak-moral-dan- etika.html,
08:02)
Jadi
dari kutipan diatas dapat kami simpulkan bahwa kita harus berupaya semaksimal
mungkin untuk memiliki akhlak (akhlak karimah) dan berupaya dapat menjauhi
akhlak jelek (akhlak sayiah). Jika kita ingin memiliki Negara yang baldatun
thoyibatun warobun ghofur (Negara yang, baik, makmur, dan senantiasa dalam
ampunan-Nya) kuncinya adalah masyarakat, bangsa tersebut harus berakhlak baik.
Jika tidak, kehancuran dan kehinaan akan meliputi masyarakat, bangsa tersebut. Al-Ghozali
juga berpendapat bahwa upaya mengubah akhlak buruk adalah kesadaran seseorang
akan akhlaknya yang jelek. Ada empat cara untuk dapat membantu seseorang
mengubah akhlaknya yang jelek menjadi baik, caranya sebagai berikut;
1.Menjadikan
murid seorang pembimbing spiritual (syekh).
2.Minta
bantuan seorang yang tulus, taat, dan punya pengertian.
3.Berupaya
unuk mengetahui kekurangan diri kita dari sesorang yang tidak senang (benci)
dengan kita.
4.Bergaul
bersama orang banyak dan memisalkan kekurangan yang ada pada orang lain bagaikan yang ada pada
kita.
Sedangkan
menurut Achmad Amin, upaya mengubah kebiasaan buruk sebagaimana yang dikutip
Ishak solih (1990) adalah hal-hal sebagai berikut ini;
1.Menyadari
perbuatan buruk, dan bertekad untuk meninggalkannya.
2.Mencari
Waktu yang baik untuk mengubah kebiasaan itu untuk mewujudkan niat atau tekad
semula.
3.Menghindari
diri dari segala yang dapat menyebabkan
kebiasaan buruk itu terulang lagi.
KESIMPULAN
Etika menurut filasafat dapat
disebut sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan
memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal
pikiran. moral adalah penetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.
Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu
perbuatan, kelakuan, sifat dan perangkai dinyatakan benar, salah, baik,
buruk,layak atau tidak layak,patut maupun tidak patut.
Akhlak adalah hal yang terpenting
dalam kehidupan manusia karena akhlak mencakup segala pengertian tingkah laku,
tabi'at, perangai, karakter manusia yang baik maupun yang buruk dalam
hubungannya dengan Khaliq atau dengan sesama makhluk.
Ketiga
hal tersebut (etika, moral dan akhlak) merupakan hal yang paling penting
dalam pembentukan akhlakul karimah seorang manusia. Dan manusia yang paling baik
budi pekertinya adalah Rasulullah S.A.W. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu
seorang sahabat yang mulia menyatakan: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam adalah manusia yang paling baik budi pekertinya.” (HR.Bukhari
dan Muslim).
DAFTAR PUSTAKA
-(http://depeberbagiilmu.blogspot.com/2013/12/makalah-agama-islam-akhlak-etika-dan.html,
02/20/2015. 07:32 AM)
Zuhdiyah,
2009, pendidikan agama islam pada perguruan tinggi.
Komentar
Posting Komentar