MAKALAH
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
“KOGNITIVISME
DAN PENDIDIKAN”
DI
SUSUN OLEH :
KELOMPOK
6
Nama
Kelompok :
1. Popi
Wardiman 2014 141 082
2. Lili
Triani Putri 2014 141 096
3. Mariyati
2014 141 106
4. Anjali
Intan Sari 2014 141 115
5. Fatma
Agustina 2014 141 125
6. Merlin
Anggraini 2014 141 130
7. Veni
Cahya Ningrum 2014 141 135
Semester/Kelas :
Dua (2) / C
Mata Kuliah :
Psikologi Pendidikan
Program Studi :
Bimbingan Dan Konseling
Dosen Pengasuh :
Adrianus Dedy, S.Fil, M.Pd
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PGRI PALEMBANG
2015
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat serta karunia-Nya dan tak lupa pula shalawat serta salam dihanturkan kepada Rasulullah Saw sehingga team penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Kognitivisme dan Pendidikan”. Makalah ini
di susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah “Psikologi Pendidikan”
Team penulis mengharapkan makalah ini dapat
memberikan informasi kepada kita semua tentang kognitivisme dan Pendidikan yang penting. Kami
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu diharapkan demi kesempurnaan makalah
ini.
Akhir kata, team penulis sampaikan terima kasih kepada semua
pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini. Semoga Allah SWT
senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin
Palembang, 17
Mei 2015
Team Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.........................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................1
1.1 Latar
Belakang.....................................................................................1
1.2 Rumusan
Masalah...............................................................................2
1.3. Tujuan Penulisan.................................................................................2
BAB II HAKEKAT KOGNITIVISME...............................................................1
BAB III PANDANGAN KOGNITIVISME DALAM
PENDIDIKAN....................5
3.1 Teori Perkembangan Belajar Kognitif Menurut
Piaget....................5-6
3.2 Teori
Belajar Kognitif Menurut Burner.............................................6-7
3.3 Teori Belajar Kognitif Menurut Ausubel...........................................7-8
3.3 Teori Belajar Kognitif Menurut
Gestalt.............................................9-7
BAB IV PERAN KOGNITIVISME DALAM
PENDIDIKAN............................10
BAB
V PENUTUP........................................................................................11
3.1 Saran................................................................................................11
3.2 Kesimpulan.......................................................................................11
DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Banyak
Negara mengakui bahwa persoalan pendidikan merupakan persoalan yang pelik.
Negara sebagai lembaga yang menguayakan kecerdaskan kehidupan bangsa merupakan
tugas negara yang amat penting. Namun, di negara-negara berkembang adopsi
system pendidikan sering mengalami kesulitan untuk berkembang. Cara
dan sistem pendidikannya sering menjadi kritik dan kecaman. Adanya perubahan
sistem pendidikan setiap adanya perubahan mentri pendidikan juga turut mempengaruhi
kualitas pendidikan yang ada di Indonesia.
Pada makalah
ini akan dikaji tentang pandangan kognitif dalam kegiatan pembelajaran. Teori
Kognitif lebih menekankan bahwa belajar lebih banyak ditentukan karena adanya
usaha dari setiap individu dalam upaya menggali ilmu pengetahuan melalui dunia
pendidikan. Penataan kondisi tersebut bukan sebagai penyebab terjadinya proses
belajar bagi anak didik, tetapi melalui penggalian ilmu pengetahuan secara
pribadi ini diarahkan untuk memudahkan anak didik dalam proses belajar.
Keaktifan siswa menjadi unsur yang amat penting dalam menentukan kesuksesan
belajar. Aktivitas mandiri merupakan salah satu faktor untuk mencapai hasil
yang maksimal dalam proses belajar dan pembelajaran. Para pendidik (Guru) dan
para perancang pendidikan serta pengembang program-program pembelajaran perlu
menyadari akan pentingnya pemahaman terhadap hakikat belajar dan
pembelajaran. Teori belajar dan pembelajaran seperti teori kognitif penting
untuk dimengerti dan diterapkan sesuai dengan kondisi dan konteks pembelajaran
yang dihadapi.
Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan hakekat
koginitivisme, Pandangan Kognitivisme Dalam Pendidikan, peranan kognitivisme
dalam pendidikan.
.1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa hakekat
koginitivisme?
2.
Bagaimana
Pandangan Kognitivisme dalam Pendidikan?
3.
Bagaimankah peranan
kognitivisme dalam pendidikan?
1.3 Rumusan
Masalah
1. Untuk
Mengetahui Apa Hakekat Koginitivisme.
2. Untuk
Mengetahui Pandangan Kognitivisme dalam Pendidikan
3. Untuk
Mengetahui Peranan Kognitif
Dalam Kegiatan Pembelajaran
BAB II
HAKEKAT KOGINITIVISME
Secara etimologi istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya
adalah pengertian, mengerti. Dalam artian yang luas Cognition adalah perolehan,
penataan, dan penggunaan pengetahuan. Didalam perkembangan selanjutnya,
kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia atau
konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku
mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka,
pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk
kejiwaan yang berpusat diotak juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan
afeksi (perasaan) yang berkaitan dengan rasa.
Kognitif
bisa diartikan sebagai pikiran. Kognitif merupakan suatu proses yang terjadi
secara internal di dalam pusat susunan syaraf pada saat manusia sedang
berfikir. Teori ini menjelaskan bahwa dalam belajar terjadi proses bagaimana orang-orang
berfikir. Sehingga dapat dikatakan bahwa belajar melibatkan proses berfikir
yang kompleks. Teori kognitif menekankan peranan struktur ingatan dan pengetahuan
terhadap proses penerimaan, pemrosesan, penyimpanan dan pemanggilan kembali
informasi dari pada hasil belajar siswa itu sendiri. Trianto (2007) menyatakan bahwa perkembagan kognitif sebagian besar
ditentukan oleh proses meniru dan berinteraksi dengan lingkungan. Menurut
Budiningsih (2005), model belajar kognitif sering disebut sebagai model
perseptual dan menyatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi
serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya.
Teori kognitif berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal
yang menyangkut ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan aspek-aspek
kejiwaan lainnya (Budiningsih, 2005). Menurut Hitipeuw (2009), teori kognitif
berpandangan bahwa belajar adalah proses perubahan pada struktur kognitif
seseorang individu sebagai hasil konstruksi pengetahuan yang bersifat
individual dan internal.
Suciati dan Irawan (2001) menyatakan bahwa teori belajar kognitif mengutamakan perubahan persepsi dan pemahaman melalui struktur kognitif
(pengalaman dan pengetahuan yang tertata) yang berasal dalam diri masing-masing
individu. Sehingga proses belajar akan berjalan baik bila materi pelajaran
beradaptasi secara maksimal dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh
siswa.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya teori
belajar kognitif adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental
yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif
dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan,
pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan
berbekas.
BAB III
PANDANGAN KOGNITIVISME DALAM PENDIDIKKAN
3.1 Teori Perkembangan
Kognitif Menurut Piaget
Piaget
adalah seorang tokoh psikologi
kognitif yang besar pengaruhnnya terhadap perkembangan pemikiran para pakar
kognitif lainnya. Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetic, yaitu suatu proses
yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan system saraf. Dengan makin
bertambahnya umur seseorang, maka semakin komplekslah susunan sel sarafnya dan
makin meningkat pula kemampuannya. Piaget tidak melihat perkembangan kognitif
sebagai suatu yang dapat didefinisikan secara kuantitatif. Ia menyimpulkan
bahwa daya pikir daya berpikir atau kekuatan mental anak yang berbeda
usia akan berbeda pula secara kualitatif
Jean Piaget mengklasifikasikan
perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap
a.
Tahap sensory
– motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada
usia 0-2 tahun, Tahap ini diidentikkan dengan kegiatan motorik dan persepsi
yang masih sederhana.
b.
Tahap pre
– operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia
2-7 tahun. Tahap ini diidentikkan dengan mulai digunakannya symbol atau bahasa
tanda, dan telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak
abstrak.
c.
Tahap concrete
– operational, yang terjadi pada usia 7-11 tahun. Tahap ini dicirikan
dengan anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak
sudah tidak memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasif.
d. Tahap formal
– operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia
11-15 tahun. Ciri pokok tahap yang terahir ini adalah anak sudah mampu berpikir
abstrak dan logisdengan menggunakan pola pikir “kemungkinan”.
Dalam pandangan Piaget, proses adaptasi seseorang
dengan lingkungannya terjadi secara simultan melalui dua bentuk proses,
asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi jika pengetahuan baru yang diterima
seseorang cocok dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang
tersebut. Sebaliknya, akomodasi terjadi jika struktur kognitif yang
telah dimiliki seseorang harus direkonstruksi / di kode ulang disesuaikan
dengan informasi yang baru diterima.
Dalam teori perkembangan kognitif ini Piaget juga
menekankan pentingnya penyeimbangan (equilibrasi) agar seseorang dapat
terus mengembangkan dan menambah pengetahuan sekaligus menjaga stabilitas
mentalnya. Equilibrasi ini dapat dimaknai sebagai sebuah keseimbangan antara
asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar
dengan struktur dalamya. Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari
disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi
3.2 Teori
Belajar kognitif Menurut Bruner
Bruner
menekankan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan,
atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupan. Bruner
meyakini bahwa pembelajaran tersebut bisa muncul dalam tiga cara atau bentuk,
yaitu: enactive, iconic dan simbolic.
Pembelajaran enaktif mengandung sebuah kesamaan dengan
kecerdasan inderawi dalam teori Piaget. Pengetahuan enaktif
adalah mempelajari sesuatu dengan memanipulasi objek, melakukan pengatahuan
tersebut daripada hanya memahaminya. Anak-anak didik sangat mungkin paham
bagaimana cara melakukan lompat tali (‘melakukan’ kecakapan tersebut), namun
tidak terlalu paham bagaimana menggambarkan aktifitas tersebut dalam kata-kata,
bahkan ketika mereka harus menggambarkan dalam pikiran. Pembelajaran
ikonik merupakan pembelajaran yang melalui gambaran dalam bentuk ini,
anak-anak mempresentasikan pengetahuan melalui sebuah gambar dalam benak
mereka. Anak-anak sangat mungkin mampu menciptakan gambaran tentang pohon
mangga dikebun dalam benak mereka, meskipun mereka masih kesulitan untuk
menjelaskan dalam kata-kata. Pembelajaran simbolik, ini merupakan
pembelajaran yang dilakukan melalui representasi pengalaman abstrak (seperti
bahasa) yang sama sekali tidak memiliki kesamaan fisik dengan pengalaman
tersebut. Sebagaimana namanya, membutuhkan pengetahuan yang abstrak, dan karena
simbolik pembelajaran yang satu ini serupa dengan operasional formal dalam
proses berpikir dalam teori Piaget.
3.3
Teori
Belajar kognitif Menurut Ausubel
Menurut Ausubel, siswa akan belajar dengan baik jika
“pengatur kemajuan (belajar)” atau advance organizer didefinisikan dan
dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa. Pengatur kemajuan belajar
adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi (mencakup) semua isi pelajaran
yang akan diajarkan kepada siswa.
David Ausubel merupakan salah satu tokoh ahli
psikologi kognitif yang berpendapat bahwa keberhasilan belajar siswa sangat
ditentukan oleh kebermaknaan bahan ajar yang dipelajari. Ausubel menggunakan istilah “pengatur lanjut”
(advance organizers) dalam penyajian informasi yang dipelajari peserta
didik agar belajar menjadi bermakna.
Selanjutnya dikatakan bahwa
“pengatur lanjut” itu terdiri dari bahan verbal di satu pihak, sebagian lagi
merupakan sesuatu yang sudah diketahui peserta didik di pihak lain. Dengan
demikian kunci keberhasilan belajar
terletak pada kebermaknaan bahan ajar
yang diterima atau yang dipelajari oleh siswa.. Ausubel tidak setuju
dengan pendapat bahwa kegiatan belajar
penemuan lebih bermakna dari pada kegiatan belajar. Dengan ceramahpun asalkan
informasinya bermakna bagi peserta didik, apalagi penyajiannya sistimatis akan
diperoleh hasil belajar yang baik pula.
Ausubel mengidentifikasikan empat kemungkinan tipe belajar, yaitu (1) belajar dengan penemuan
yang bermakna, (2) belajar dengan ceramah yang bermakna, (3) Belajar dengan
penemuan yang tidak bermakna, dan (4) belajar dengan ceramah yang tidak
bermakna. Dia berpendapat bahwa menghafal berlawanan dengan bermakna, karena belajar dengan menghafal, peserta
didik tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh itu dengan pengetahuan
yang telah dimilikinya. Dengan demikian bahwa belajar itu akan lebih
berhasil jika materi yang dipelajari bermakna.
3.4 Teori
Belajar Kognitif Menurut Teori Gestalt
Berikut
adalah aplikasi teori belajar kognitif menurut teori gestalt dalam proses
pembelajaran:
1. Pengalaman
tilikan (insight); Tilikan bisa disebut juga pemahaman mengamati. Dalam
proses belajar, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu
mengenal keterkaitan unsur-unsur suatu objek atau peristiwa.
2. Pembelajaran
yang bermakna (meaningful learning); dalam hal ini unsur-unsur yang
bermakna akan sangat menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran.
Hal ini akan sangat bermanfaat dan membantu peserta dalam menangani suatu
masalah. Jadi, hal-hal yang dipelajari para peserta didik hendaknya memiliki
makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
3. Perilaku
bertujuan (pusposive behavior);suatu perilaku akan terarah pada tujuan.
Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika para peserta didik mengerti
tujuan yang ingin dicapainya. Jadi, hendaknya para guru membantu para peserta
didik untuk memahami arah dan tujuannya.
4. Prinsip
ruang hidup (life space); perilaku individu memiliki hubungan dengan
tempat dan lingkungan dia berada. Jadi, materi yang diajarkan harusnya
berhubungan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan individu.
5. Transfer dalam belajar; yaitu proses
pemindahan pola tingkah laku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi
lain. Transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian objek dari
satu konfigurasi ke konfigurasi lain dalam tata susunan yang tepat. Transfer
belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip
pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan
dalam memecahkan masalah pada situasi lain.
BAB IV
PERANAN KOGNITIVISME DALAM PENDIDIKAN
1) Memusatkan perhatian kepada cara berpikir atau
proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya. Guru harus memahami proses
yang digunakan anak sehingga sampai pada hasil tersebut. Pengalaman-pengalaman
belajar yang sesuai dikembangkan, dengan memperhatikan tahap fungsi kognitif
dan jika guru penuh perhatian terhadap pendekatan yang digunakan siswa untuk
sampai pada kesimpulan tertentu, barulah dapat dikatakan guru berada dalam
posisi memberikan pengalaman yang dimaksud.
2) Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri
dan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar. Dalam kelas, Piaget menekankan
bahwa pengajaran pengetahuan jadi (ready made knowledge) anak didorong
menetukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
3) Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam
hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa
tumbuh dan melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu
berlangsung pada kecepatan berbeda. Oleh karena itu guru harus melakukan upaya
untuk mengatur aktifitas di dalam kelas yang terdiri atas individu-individu ke
dalam kelompok-kelompok kecil siswa daripada aktifitas dalam bentuk klasikal.
4) Mengutamakan peran siswa untuk saling berinteraksi.
Menurut Piaget, pertukaran gagasan-gagasan tidak dapat dihindari untuk
perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat diajarkan secara
langsung, namun perkembangannya dapat disimulasi.
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Teori belajar kognitif adalah teori
belajar yang lebih mengutamakan proses pembelajarannya dibandingkan dengan
hasil yang dicapai. Teori belajar kognitif adalah teori belajar yang paling
banyak digunakan di Indonesia. Teori ini merupakan kritik dari teori-teori yang
telah ada sebelumnya seperti teori behavioristik, para tokoh kognitivisme
kurang setuju bahwa belajar hanya proses antara stimulus dan respons
yang tersusun secara mekanistik. Yang terpenting di dalam teori kognitiv adalah
insight atau pemahaman terhadap situasi yang ada di lingkungan sehingga
individu mampu memecahkan permasalahan yang dihadapinya dan juga bagaimana
individu berpikir (thinking).
5.2 SARAN
Hendaknya
pengetahuan tentang kognitif siswa perlu dikaji secara mendalam oleh para calon
guru dan para guru demi menyukseskan proses pembelajaran di kelas. Tanpa
pengetahuan tentang kognitif siswa, guru akan mengalami kesulitan dalam
membelajarkannya di kelas, yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas
proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas. Karena faktor kognitif
yang dimiliki oleh siswa merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi
keberhasilan proses pembelajaran di kelas. Faktor kognitif merupakan jendela
bagi masuknya berbagai pengetahuan siswa melalui kegiatan belajar baik secara
mandiri maupun secara kelompok
DAFTAR PUSTAKA
Heri Rahyubi. 2012. Teori-teori Belajar dan
Aplikasi Pembelajaran Motorik. Jawa Barat: Referens
Upton penney. 2012. Psikologi perkembangan. Jakarta: ERLANGGA
http://advae.blogspot.com/2014/10/makalah-pendidikan-tentang-teori.html
Komentar
Posting Komentar