MAKALAH KONSEP DIRI SEBAGAI SUATU ORGANISASI DARI SIKAP-SIKAP DIRI PEMUASAN KEBUTUHAN DAN TOLERANSI FRUSTASI. IMPLIKASI PEMUASAN KEBUTUHAN DAN CITRA DIRI DALAM KONSELING
“KONSEP DIRI SEBAGAI SUATU ORGANISASI
DARI SIKAP-SIKAP DIRI PEMUASAN KEBUTUHAN DAN TOLERANSI FRUSTASI. IMPLIKASI
PEMUASAN KEBUTUHAN DAN CITRA DIRI DALAM KONSELING”

Oleh Kelompok 4 :
1.
DIAH
TRI LESTARI 2014
141 120
2.
DWY
SUSANTI 2014
141 124
3.
HARDIYANTI
RUSTAMI 2014 141 129
4.
WELA
WILIA 2014
141 114
DOSEN
PENGASUH : MAULIDA. YK, S.Pd, M.Si
Program Studi Pendidikan Bimbingan
dan Konseling
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
UNIVERSITAS PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Konsep diri sebagai suatu organisasi
dari sikap-sikap diri pemuasan kebutuhan dan toleransi frustasi. Implikasi
pemuasan kebutuhan dan citra diri dalam konseling” meskipun banyak kekurangan
didalammya. Dan juga kami ucapkan terima kasih kepada Ibu Maulida.YK, S.Pd,
M.Si selaku dosen mata kuliah konsep diri manusia sebagai pribadi yang telah
memberikan tugas kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini
dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta bermanfaat untuk kita semua.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa
didalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab
itu, kami berharap adanya kritik dan saran.
Semoga makalah ini dapat dipahami
bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah ini yang telah disusun ini
dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami
mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenaan dan kami
mohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dimasa depan.
Palembang, Maret 2015
PENULIS
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar
Daftar
Isi
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang 1
B.
Rumusan Masalah 2
C.
Tujuan 2
BAB
II PEMBAHASAN
1. Kebutuhan Klien: Pemenuhannya Dan
Hubungannya
Dengan Citra Diri 3
a. kategori
kebutuhan 3
b. pemuasan
kebutuhan dan pengaruhnya
terhadap medan perceptual 5
c. pemuasan
kebutuhan dan toleransi frustasi 6
d. implikasi
dalam konseling 8
2.
citra diri klien 10
a. dimensi-dimensi
citra diri 10
b. peranan
citra diri 12
c. perkembangan
citra diri 12
d. implikasi
dalam konseling 15
BAB
III PENUTUP
·
Kesimpulan 17
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konsep diri merupakan
suatu bagian penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia.
Sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya.
Para ahli psikologi berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri,
sehingga terdapat beberapa pengertian. Beberapa ahli merumuskan definisi konsep
diri, menurut Burns (1993:vi) konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari
apa yang kita pikirkan orang-orang lain berpendapat mengenai kita, dan seperti
apa diri kita yang kita inginkan. Menurut Mulyana (2000:7) konsep diri adalah
pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat
informasi yang di berikan lewat informasi yang diberikan orang lain kepada
individu.
Dalam kehidupan sehari-hari secara
tidak langsung individu menilai dirinya sendiri. Penilaian terhadap diri
sendiri itu meliputi watak dirinya, orang lain dapat menghargai dirinya atau
tidak, drinya termasuk orang yang
berpenampilan menarik, cantik atau tidak. Dalam konseling terdapat pemuasan
kebutuhan dan toleransi frustasi serta implikasi pemuasan kebutuhan citra diri.
Kebutuhan-kebutuhan digolongkan dalam 2 bagian besar, yaitu kebutuhan fisik dan
kebutuhan psikologis. Aspek psikologis yang dapat terpengaruh langsung atas
pemuasan (ketakpuasan) pemenuhan kebutuhan adalah medan perceptual,
sensitifitas dan ketekunan (persistensi).
Citra pada individu bukanlah hal
yang ada dengan sendirinya, tidak pula ditentukan oleh warisan dan pembawaan.
Citra diri berkenaan dengan pandangan seseorang terhadap diri, baik tentang
fisik maupun tentang psikisnya dan pandangan terhadap diri ini adalah unik
sifatnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
sajakah kategori kebutuhan?
2. Apa
yang dimaksud dengan pemuasan kebutuhan dan pengaruhnya terhadap medan
perceptual?
3. Apa
yang dimaksud dengan toleransi frustasi dan implikasi dalam konseling
4. Apa
yang dimaksud dengan citra diri, peranan citra diri, perkembangan citra diri,
dan implikasi dalam konseling?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui apa saja teori kebutuhan
2. Untuk
mengetahui apa yang di maksud dengan pemuasan kebutuhan dan pengaruhnya
terhadap medan perceptual
3. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan toleransi frustasi dan implikasi dalam
konseling
4. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan citra diri, peranan citra diri,
perkembangan citra diri, dan implikasi dalam konseling?
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Kebutuhan Klien : Pemenuhan dan Hubungannya dengan Citra-Diri
Kepuasaan individu atas
pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya ikut serta menentukan cara individu-individu
memandang diri sendiri. Jika kebutuhan-kebutuhan yang ada itu terpenuhi secara
baik, maka terkembangkan pula citra diri yang positif. Sebaliknya, jika kebutuhan-kebutuhan
tidak terpuaskan, dapat mengakibatkan frustasi dan timbul sifat bermusuhan
sejalan dengan akibat-akibat dari citra diri yang negatif.
a. Kategori Kebutuhan
kebutuhan dapat digolongkan dalam
dua bagian besar: kebutuhan fisik dan kebutuhan psikologis. Pemenuhan secara
minimal kebutuhan fisik merupakan hal mutlak agar manusia bertahan hidup.
Hierarki jenjang kebutuhan pernah
dikemukakan oleh Maslow (1954) seebagai berikut:
1. Physical needs
2. Safety needs
3. Love needs
4. Esteem needs
5. Self actualization needs
Jajaran kebutuahn fisik, rasa aman,
cinta, harga diri, dan actualisasi diri, seperti dikemukakan Maslow itu,
sumbangannya dipandang lebih sebagai bentuk-bentuk hierarki kebutuhan daripada
sebagai penunjuk kategori khusus kebutuhan.
Kategori kebutuhan yang agak umum
dikemukakan oleh George J. Mouly, dan disadur sebagai berikut: (1) kebutuhan fisiologis, meliputi kebutuhan
makan, air, tidur, istirahat, bergerak dan seks. (2) kebutuhan psikologis, meliputi kebutuhan kasih sayang, rasa
memiliki, berprestasi, mandiri, pengakuansosial, dan kebutuhan harga diri.
Kategori kebutuhan yang lebih rinci,
dikemukakan oleh Jourard (1963) sebagai berikut:
1) kebutuhan bertahan
hidup, bersangkutan dengan perawatan dan
keamanan diri. Ini mencakup rasa aman psikologisdan rasa aman psikis. Jika
orang secara psikologis merasa terancam, maka timbul kecemasan, persepsi fisik,
dan tingkah laku menjadi tidak layak.
2) Kebutuhan fisik,
mencakup keperluan makan, minum, terhindar dari sakit, tidur, perlindungan,
(papan, sandang), dan pembuangan sisa pembakaran tubuh. Kebutuhsn sepertiini
lazimnya terpenuhi secara rutin. Namun, jika tidak maka semuanya dapat
mendominasi tingkah laku.
3) Kebutuhan cinta dean
seks, berwujud desakan untuk bercinta, dan
karenanya diperlukan kemampuan mencintai orang lain.seks dan cinta berjalinan
tapi tidak mesti demikian. Bagi orang yang menjalin cinta dan seks secara padu
dapat memperoleh esan psikologis yang kuat.
4) Kebutuhan, status,
sukses, dan harga diri, berkenaan dengan
motivasi berprestasi; jika berhasil/terpenuhi akan menimbulkan
perasaan-perasaan layak, berguna, dan rasa yakin.
5) Kebutuhan kesehatan
mental dan fisik, berkenaan dengan rasa
atau kesan nyaman dalam perasaan dan tubuh. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi
dapat mendatangkan kesakitan fisik maupun psikis.
6) Kebutuhan kebebasan,
berwujud keinginan membuat pilihan-pilihan sendiri
7) Kebutuhan akan
tantangan, berbentuk penstimulasian pertumbuhan,
menghindari kejemuan dan rasa hampa
8) Kebutuhan ketegasan
kapnitif, membantu memantapkan keyakinan yang
goyah atau saling bertentangan.
9) Kebutuhan pengalaman
yang beragam, menuntut stimulasi pribadi dan
gerakkearah suatu kehidupan yang semakin penuh daya guna.
b. Pemuasan Kebutuhan dan Pengaruhnya Terhadap Medan
Perseptual
Beberapa aspek psikologi yang dapat
terpengaruh langsung atas pemuasan (atau ketakpuasan) pemenuhan kebutuhan
adalah medan perceptual, senstifitas, dan ketekunan atau (persintensis). Akan
tetapi, atas pertimbangan relevansi bahasa, disini dikemukakan hanya yang
berkenaan dengan medan perseptual.
Di depan telah ditunjukan bahwa
pemuasan kebutuhan-kebutuhan merupakan sebagian dasar penting pembentuk citra
diri, dan cintra diri menentukan meda perseptual dan tingkahlaku. Sejalan
dengan ini boring, langfel,dan weld, menunjukkan beberapa bukti bahwa pemuasan
kebutuhan berpengaruh langsung terhadap
persepsi bagi semua proses belajar yang melibatkan suatu medan psikologis atau
imajinasi
Salah satu gejala yang
mengilustrasikan hal ini adalah gejala frustasi, hambatan pemenuhan kebutuhan.
Dalam hal ini, individu belajar dalam situasi hambatan bagi pemuasan kebutuhan,
mengadakan modivikasi cara-cara pemuasan kebutuhan dan bahkan mengorganisasikan
medan psikologisnya sendiri membatalkan niatnya memperoleh suatu dan atau
mendapatkan sesuatu alat pemuas pengganti bagi kebutuhannya.
Penolakan atas realita frustasi
merupakan gejala lain lagi. Manakala kebutuhan individu demikian kuat, individu
tidak mampu memodivikasi cara-cara pemuasan kebutuhan dan tidak pula
menentukan/menerima alat pemuasan pengganti, maka individu dapat menolak
realitas. Suatu penolakan terhadap realitas frustasi merupakan ciri dara
seluruh pantasi-pantasi dan impian-impian khayal (wishful thingking)
Pristiwa flinght from reality, lari
dari kenyataan, dalam tarafnya yang akut, dapan menetap dalam medan pengalaman
individu manakala kebutuhan-kebutuhan selalu terhalang pemuasannya. Kebanyakan
individu sering kali dapat keluar dari keadaan demikian dengan cara menata
kembalikekuatan dan tenaga guna memperkuat ego dan mendapatkan pemuas kebutuha
dalam alam realita. Akat tetapi, beberapa individu dapat hanyut dan tenggelam
dalam khayal sehingga gejala tadi menetap dalam medan pengalamannya. Dalam pristiwa itulah terjadi karakteristik alam khayal penderita
sakit mental tertentu; yaitu manakala terjadi distorsi berlebihan pada
medan-medan pengalaman pasien akibat kebutuhan yang tidak terbenuhi dalam alam
kenyataan. Pada pasien sakit jiwa, yang semula yang memiliki keinginan kuat
akan harta kekayaan dan khayalanmenetapnya itu tidak terealisasikan, hanyut
dalam medan distorsi ; dia merasa sebagai orang kaya, seolah-olah hartawan dan
seolah-olah bermikim dalam gedung mewah miliknya, meskipun sesungguhnya ia
sedan opname dalam rumah sakit jiwa.
c. Pemuasan Kebutuhan
dan Toleransi Frustasi
pencegahan atas gejala-gejala yang
tak dikehendaki di atas tentu akan jauh lebih episien ketimbang penyembuhannya.
Dua cara utama pencegahan di maksud adalah; (1) pemuasan kebutuhan, dan (2)
pembinaan tolenransi frustasi.
1) Pemuasan
kebutuhan masa kanak-kanak. Beberapa factor penting bagi pencapaian suatu rasa gembira atau bahagia
dan dapat membawa kanak-kanak ke suatu keadaan penyesuaian-bai diajukan oleh
G.H.N Lowrey, dan didapatkan sebagai berikut:
a).Keamanan dan suatu perasaan sebagai bagian/anggota
keluarga dan kelompok sosial. Setiap anak membutuhkan tidak hanya cinta tapi
juga keakraban, bimbingan penuh kasih sayan. Membiarkan anak melakukan apapun
dan kapanpun dia hendak lakukan maka pada akhirnya mesti menmbulkan perasan
bahwa orang-orang dewasa sekitanya adalah tidak menghiraukannya, dan ia
mengembangkan suatu rasa tidak aman
b).
Adaptabilitas dan belajar hidup dengan dunia sekitarnya. Pada suatu segi, ini
berarti bahwa anak menyesuaikan (komforming)
dengan kelompok. Pada sigi lain, ini bearti anak menghadapi realita. Ini
tidak bearti penerimaan penuh tampa kritik, pasrah terhadap kekuatan dari
lingkungan.
c).
Ekspresi diri dan kebebasan penunjukkan individualitas diri. Tiap anak
hendaknya diluangkan “berkhayal” dan menggunakan imajinasinya. Agaknya salah
satu kekeliruan besar metode pendidikan moderen adalah kekuatan aktivitas
terencana yang menyebabkan sedikit waktu bagai aktivitas arah diri sendiri
anak. Bimbingan bukan bearti arahan atau nasehat terencana atau konstan.
Pengalaman akan tetap merupankan guru yang paling baik, meskipun kadang-kadang
sukar.
d).
Pencapaian sukses dalam hal besar maupun kecil. Dengan mengizinkan anak
mengadakan sejumlah ekspresi diri seringkali mengantarkan anak pada penemuan
kapabilitas utamanya sendiri. Penghargaan dari pihak orang tua dan guru hendak
nya riil dan selalu sepadan dengan unjuk kerja dari tugas anak. Penghargaan
yang keliru kadang-kadang mengelabuhi anak .
2) Toleransi
frustasi. Boring, langfeld, dan weid memberi penjelasan mengenai hal ini, yang
disadur sampai akhir butir 2 ini, sebagai berikut.
Kenyataan adanya akibat negative
frustasi, hambatan pemenuhan kebutuhan, mendorong pemanfaatan suatu konsep
mengenai daya tahan terhadap frustasi atau toleransi frustasi, frustration tolerance. Toleransi
frustasi didefinisikan sebagai jumlah hambatan yang dapat ditanggung atau
ditahan tanpa menimbulkan kegagalan penyesuaian psikologis. Dengan demikian
toleransi frustasi individu merupakan kapasitas individu menahan frustasi tanpa
mendistorsikan medannya dan juga toleransi tadi mencegah ketidakmampuan
organisme memikul beban ketegangan yang lebih lama dalam situasi nyata.
Toleransi frustasi seorang individu akan
mengatasi semua hal yang mungkin meningkatkan peluang letegangan akibat suatu
frustasi yang membuat individu bereaksi secara tidak kuat menghadapi situasi.
Dengan demikian, misalnya seseorang yang mungkin mengalami frustasi atau
hambatan pemenuhan kebutuhan sampai-sampai menangis, murung, atau regresi keaneka
tingkah laku primitive, atau bahkan pribadi retak seperti dalam berbagai bentuk
penyakit mental; tetapi toleransi frustasi yang dipunyai individu dapat
mencegah dan mengatasi semua akibat negative tersebut.
Memang ada beberapa kebutuhan yang tidak
dapat ditoleransi dalam waktu sedikit lama sekalipun seperti kebutuhan primer,
yaitu lapar, haus, dan bernafas. Akan tetapi banyak lagi kebutuhan yang dapat
ditoleransi dengan baik seperti kebutuhan sekunder, yaitu untuk makan mewah,
kekayaan melimpah ruah, superioritas, dan semacamnya. Salah satu permasalahan
penting psikologi adalah menemukan kondisi-kondisi yang menentukan tidak hanya
toleransi frustasi umum melainkan juga toleransi yang khusus terhadap frustasi
kebutuhan yang berbeda-beda.
d. Implikasi dalam
Konseling
Seperti halnya dengan citra
diri yang mempunyai makna besar dalam konseling, ikhwal kebutuhan juga
mempunyai implikasi penting dalam konseling. Secara umum, ikhwal kebutuhan,
onsep-konsep yang berkenaan dengan kebutuhan dapat menjadi landasan operasional
konseling. Ini berarti bahwa konseling tersedia, sekurang-kurangnya, bagi: 1.
Upaya pemenuhan kebutuhan individu, 2. Upaya-upaya memperkuat ego individu
untuk berfungsi sebagai eksekutor, atau mempertinggi kreativitas individu,
untuk mendapatkan pemuas kebutuhan, 3. Usaha-usaha menimbulkan dan memperkuat
toleransi frustasi individu.
Secara lebih khusus, implikasi ikhwal kebutuhan dalam
konseling dapat diungkapkan dalam poin-poin berikut:
1. Tujuan
konseling dapat mengarah terutama pada pemenuhan kebutuhan terkuat individu
atau kebutuahan-kebutuhan klien yang tidak mendapat pemenuhan secara semestinya
dalam situasi natural. Beberapa konselor bahkan menempatkan pemenuhan kebutuhan
aktualisasi-diri sebagai tujuan jangka-panjang utama dalam upaya-upaya
konseling.
2. Proses
konseling yang ditandai sikap dasar konselor yang penuh penerimaan, kekraban,
sangat membantu pemenuhan kebutuhan psikologis klien, seperti kebutuhan
penghargaan, rasa aman, kasih sayang, pengakuan sosial, dan semacamnya. Pemenuhan
kebutuhan ini mempunyai dua makna:
a. Membuat
klien mengubah/menyesuaikan medan perseptualnya. Dengan pemenuhan kebutuhan
psikologis tadi klien dapat terbawa mempersepsi orang lain secara lebih
positif.
b. Membuat
klien mempersepsi diri secara lebih positif yang pada gilirannya mendatangkan
citra diri positif. Citra diri positif atau persepsi diri positif klien akan
membuat klien bertingkah laku lebih layak.
3.
Proses konseling berupaya membantu klien mengadakan adaptasi melalui penguatan toleransi frustasi atas ketakajegan
pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tetentu. Kalu pemenuhan kebutuhan merupakan
prasyarat persepsi diri dan lingkungan secara positif dan melahirkan tingkah
laku lebih layak; maka pada lain pihak, toleransi frustasi adalah kunci bagi
penyesuaian terhadap kekurangan pemenuhan kebutuhan. Di samping itu, melalui
hubungan konseling yang unik itu, klien dapat memahami dan menerima adanya
perbedaan antara kebutuhan (need)
dengan keinginan (wish).
4.
Dalam interview konseling, dari segi kebutuhan ini, konselor secara efektif
perlu memahami dan menerapkan secara kreatif pemahamannya tentang kebutuhan
terkuat pada klien (kebutuhan klien adalah unik). Pembinaan keakraban, misalnya
dapat didukung dengan pemahaman baik konselor terhadap kebutuhan khas seorang
klien yang sedang dihadapinya.
5.
Teknik-teknik proyektif (projective
techniques) merupakan suatu alat yang patut di pakai konselor untuk
menafsirkan kebutuhan dan kekurangpuasan kebutuhan tertentu klien. Ini bertolak
dari kenyataan bahwa individu senantiasa memproyeksikan kebutuhan-kebutuhannya
kedalam situasi yang dihadapinya. Musical reverie test, odor imagination test, dan
thematic apperception test adalah
alat-alat lain untuk mengukur kebutuhan berdasarkan asumsi bahwa suatu
kebutuhan yang kuat mempunyai pengaruh yang besar terhadap pengorganisasian
medan psikologi.
2. Citra Diri Klien
“Citra- Diri” berasal dari istilah self-concept,atau kadang-kadang disebut
self-image,menunjuk pada pandangan atau pengertian seseorang terhadap dirinya
sendiri. Pietrofesa dalam setiap tulisannya secara konsisten menerangkan bahwa
citra-diri meliputi semua nilai,sikap,dan keyakinan terhadap diri seseorang
dalam berhubungan dengan lingkungan,dan merupakan paduan dari sejumlah
persepsi-diri yang memengaruhi dan bahkan menentukan persepsi dan tingkah-laku.
Pietrofesa,dkk,secara singkat menulis,”The self-concept includes feeling about
self-both phisical self and psychological self-in relation to the environment.”
Atas tinjauan berbagai sumber lain,tampak para pakar sepakat bahwa citra-diri
itu berkenaan dengan pandangan seseorang terhadap diri baik tentang fisik
maupun tentang psikisnya; dan pandangan terhadap diri ini adalah unik sifatnya.
Dengan kata lain,ada kekhasan dari orang dalam citra-dirinya secara fisik dan citra
dirinya secara psikologis,dan hal demikian ini tidak lepas dari pandangan
lingkungan terhadap diri seseorang.
a. Dimensi-dimensi Citra
Diri
Lukisan
gamblang citra-diri diberikan oleh pietrofesa,dkk. ( 1978) dengan
pernyataan bahwa:
The
selft-concept can be considered a hypothetical construcht that includes three
mayor dimensions. The first dimensions is the self as seen by self...
A second dimension of the self-concept is the self
as seen by others,or ”This is how I think others see me”...
The third dimension of self-concept is the ideal
self...
Penjelasan lebih lanjut
pietrofesa dalam hal ini diadaptasikan sebagai berikut:
Dimensi
pertama citra-diri,yaitu diri sebagai dilihat oleh diri sendiri,dapat
diwujudkan dalam pernyataan-pernyataan berikut:
“Saya baik hati”
“Saya hangat dan
bersahabat”
“Saya agresif”
“Saya tidak
cermat”
Seseorang
yang underachieved (hasil rendah dibanding kemampuan) disekolah ataupun orang
yang tidak cermat memilih karier akan
memandang diri sangat tidak adekuat dan bereaksi secara tidak tepat dalam
bidang-bidang tertentu.
Dimensi
kedua citra-diri,yaitu diri sebagai dilihat oleh oang lain atau “Beginilah saya
kira orang lain memandang saya,”agaknya dapat diwujudkan dalam
ungkapan-ungkapan.
“Anda
memandang saya sebagai bersifat bersahabat”
“Kakak
memandang saya sebagai percaya-diri”
“Teman-teman
menganggap saya sebagai menarik”
“Paman
menganggap saya sebagai gegabah”
Setiap
individu juga mengembangkan sikap-sikap menurut bagaimana orang lain
memandang/menganggap dirinya,lalu dia cenderug berbuat sesuai dengan
anggapan-anggapan yang dipesepsi atau diterimanya.
Dimensi
ketiga citra-diri,yaitu diri-idaman,mengacu pada “tipe orang yang saya
kehendaki tentang diri saya.” Aspirasi-aspirasi,tujuan-tujuan,dan angan-angan,semuanya
tercermin melalui diri-idaman. Ini agaknya terungkap dalam pernyataan:
“Saya
pantasnya seorang guru”
“Saya
seperti orang tua yang baik”
“Saya
ini sepertiny akan menjadi orang kaya”
Diri
idaman dalah perlu dalam penentuan cita-cita hidup. Sudah barang tentu tujuan
atau ideal yang terlalu jauh atau sukar/tidak mungkin terjangkau merupakan
citra-diri yang tidak sehat.
Bagian
lebih khusus citra-diri, menurut Eisenberg dan Delaney berkenaan dengan apa
yang diketahui dan diyakini individu. Pandangan khusus seseorang berkenaan
dengan diri meliputi penilaian deskriftif mengenai kemampuan dan
keterbatasan,minat dan bukan minat,dan pola tingkah laku dominan. Ada dua jenis
pernyataan dalam hal ini: “some time
these self-referent statement are idiographic (me looking at self); at other
time they are nomothetic (me compared to others).” Beberapa contoh pernyataan yang idiographic (diri saya
memandang diri-sendiri) adalah:
“Saya
tidak dapat membaca dengan baik”
“Saya
senang memetik gitar,tapi tidak suka mendengarkan opera.”
Adapun
contoh pernyataan yang nomothetic (diri saya dihubungkan pada orang lain)
adalah:
“Saya
terbaik diantara teman sebaya dalam bergaul dengan lawan jenis (dan bangga atas
kemampuan itu)”
“orang-orang
sering tampak tersinggung oleh tindakan saya dan saya tidak tahu mengapa
demikian (hal ini menyusahkan saya).”
b. Peranan Citra Diri
Citra-diri,secara umum,memberikan gambaran tentang
siapa seseorang itu. ini tidak hanya meliputi perasaan terhadap diri
seseorang,melainkan mencakup pula tatanan moral,sikap-sikap,ide-ide,dan
nilai-nilai yang mendorong orang bertindak atau sebaliknya tidak bertindak.
Oleh karena citra-diri itu berbeda dari orang ke orang,maka citra-diri dapat
dianggap sebagai penunjuk pokok keunikan individu dalam bertingkah laku.
Bahwa
citra-diri merupakan penentu penting tingkah laku,dijelaskan oleh mouly dengan
kalimat:
“self-concept
is best conceived as a system of attitude toward oneself...All attitude are
important determinantsof behavior,but attitude concerning the self are much
more basic than those in which the individual is less ego-involved
and,therefore,correspondingly more potent in determining behavior.”
Citra-diri sebagai sistem sikap
pandang terhadap diri seseorang dan merupakan dasar bagi semua tingkah-laku,dijelaskan
langsung oleh Ariety (1967) bahwa “the self-concept is basic in all behavior.”
Bahwa citra-diri juga sangat menentukan tingkah laku untuk masa depan seseorang
terungkap dalam pernyataan Eisenberg dan Delaney (1977) :”A person’s view
toward self appears to be a powerfull determinant of behvior,personal decision
making,and aspirations for the future.” Aryety menjelaskan lebih lanjut bahwa
perasaan-perasaan,ide-ide,pilihan-pilihan,tindakan-tindakan manusia,mencapai
perkembangan setinggi-tingginya dalam suasana saling-hubungan sosial,tetapi
kuncinya terletak pada kedalaman hubungan pribadi. Dalam uraian ariety
ini,tertangkap kesan bahwa peranan khusus citra-diri adalah menunjukkan
gambaran mental individu-yang sehat dan yang sakit-dan yang dapat diketahui
lewat dialog antarpribadi.
Orang yang sehat citra-diri memiliki deskripsi
sikap-pandangan terhadp diri: “Saya baik-baik saja. Saya sekarang,atau
kelak,memperoleh keterampilan dasar untuk menghadapi tekanan hidup sehingga
saya yakin dapat menghadapi masalah dengan tegar.Saya mempunyai tujuan-tujuan
hidup pokok dan meskipun ada hambatan untuk mencapainya,saya optimis akan
kemampuan saya menghadapinya.
Sedangkan deskripsi sikap-pndangan orang yang tidak
sehat citra-dirinya:”saya tidak sehat. Sering kali saya meragukan kemampuan
dasar saya menghadapi situasi yang menekan dalam hidup yang mestinya saya mampu
hadapi. Kalau mengetahui akan adanya situasi menekan,itu menakutkan saya dan
jika saya hadapi diri saya secara jujur maka saya ternyata “lari” menghindari
situasi itu. Masa depan menakutkan saya karena saya benar-benar ragu apakah
saya dapat mengantarkan diri saya pada apa yang sesungguhnya saya inginkan.”
Jadi, menurut Eseinberg dan Delaney
(1977),menghargai dan menyukai diri,optimisme akan kemampuan seseorang mencapai
tujuan-tujuan pokok masa depan,dan bebas dari kecemasan yang tidak realistis
akan kegagalan merupakan ciri-ciri penting kesehatan emosional individu. Juga
kapasitas meyakini kemampuan berbuat bijak pada seseorang,patut menjadi ukuran.
c. Perkembangan
Citra-Diri
Pietrofesa,menyatakan
bahwa citra-diri cenderung terbentuk sejak dini melalui penilaian kanak-kanak
atas “penilaian orang-orang lain.” Adapun kecermatan persepsi diri,juga
berhubungan dengan kecermatan persepsi “orang lain yang berarti (significant
others).Variabel lain yang berpengaruh terhadap perkembangan citra-diri adalah
lingkungan materialistik dan lingkungan nonmaterealistik dengan karakteristik
masing-masing. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan masyarakat
matrealistik akan dipengaruhi baik oleh kelimpahan atau kekurangan
barang-barang duniawi. Sedangkan dalam masyarakat yang
nonmaterialistik,sebaliknya, akan menimbulkan pola-pola kebutuhan anggota
masyarakatnya yang sama sekali lain dan bertentangan dengan akibat lingkungan
pertama. Pengaruh masyarakat yang nonmaterialistik cenderung berisikan
pemikiran,gagasan,dan nilai-nilai seperti nilai-nilai kebaikan dan keindahan.
Konsekuensi penting dari akibat-akibat pengaruh berlainan (antara masyarakat
materialistik) adalah perbedaan letak kepekaan anak menerima persepsi orang
lain. Anak yang mempunyai citra-dii “saya kaya harta-benda”(akibat lingkungan
materialistik) akan sangat mudah terancam menghadapi penilaian tentang
kepemilikan harta-benda jika dibandingkan dengan penilaian atas kecerdasan atau ketajaman gagasan-gagasannya. Sedangkan
anak yang mempunyai citra-diri “Saya cepat-tepat membuat keputusan”(akibat
lingkungan nonmaterialistik),kepekaannya adalah dalam bidang nonmateriil.
Oleh
karena citra-diri itu tumbuh dan berkembang dalam interaksi sosialmaka
perubahan dan modifikasinya pun terjad dalam interaksi sosial,yang berlangsung
sepanjang hidup seseorang. Books (1963) menganggap bahwa “if self image is born of social interaction,then it
can be reborn of social interaction.”
Citra
diri adalah tersusun secara hierarki (Shavelson,Hubner,dan Stanton,1976). Pada
puncak umum,seperangat keyakinan yang dianut tentang diri seseorang,yaitu
keyakinan yang relatif sukar berubah. Terdapat tiga daerah utama citra-diri
bagi siswa:skolastik,sosial,dan fisik. Akhirnya,ada daerah khusus citra-diri
yang bersangkutan secara langsung dengan jenis-jenis aktivitas atau
bidang-bidang pelajaran.
Dalam
mengubah citra-diri,”relatif unggulnya ancangan yang berorientasi behavioral
bersumber dari kenyataan bahwa sumber dari kenyataan bahwa suatu perubahan
dasar objektif dan kuaat sehingga seseorang merasakan penghargaan-diri,percaya diri,dan merasa
“bermartabat”
Akan
tetapi,perubahan tingkah laku”jangka-pendek” dalam hal kemampuan (abilitas)
tidak selalu memengaruhi citra-diri.Perubahan dalam tingkah-laku verbal pada
seseorang dapat mengubah citra-diri seperti diilustrasikan,meskipun dengan
metode sangat sederhana,oleh Homme dan Tosti (1971). Dalam kasus ini,”si
berubah tingkah laku” itu adalah seorang anak yang potensi akdemiknya baik tapi
citra-diri dalam akademiknya lemah. Studi oleh Meichenbaum (1975) menunjukkn
secara jelas daya pengaruh pemikiran (dalam benak) seseorang yang dapat
membangkitkan keberfungsian seseorang. Mebantu para siswa menghentikan
pernyataan-pernyataan negatif mengenai diri mereka,dan menggantikannya dengan
pernyataan-pernyataan negatif mengenai diri mereka,dan menggantikannya dengan
pernyataan-pernyataan positif mengenai diri,dapat membantu mengubah citra-diri
mereka.
Studi-studi
korelasi menunjukkan secara substansial hubungan positif antara angka-angka
untuk kerja dengan angka-angka citra-diri. Tapi data itu tidak menyatakan bahwa
variabel mana yang secara kausal memengaruhi yang lain.
c.
Implikasi
dalam Konseling
Adanya
peluang pemodifikasian atau pengubahan citra-diri yang tidak dikehendaki pada
klien kearah citra-diri yang lebih dikehendaki mengandung implikasi sangat
penting bagi upaya-upaya konseling. Implikasi umum citra-diri klien dalam
konseling adalah hasil dua studi oleh boyd (1970) yang menemukan bahwa “The
conselees’s self-concept will determine the mehod of establishing rapport,means
of motivating the counselee,and the counseling techniques utilized.
Terdapat
pula implikasi lain yang dapat dikemukakan secara agak rinci sebagai berikut:
1).
Tujuan konseling dapat difokuskan pada pengembangan citra-diri klien. Para
konselor teori self,atau ancangan “berpusat pada pribadi” (person-centered
approach),menekankan pentingnya penyediaan dukungan konseling yang
berkesinambungan-menumbuhkan,memelihara,ataupun memodifikasi-citra diri klien.
2).
Dalam proses konseling,sejalan dengan itu,konselor haruslah melihat bagaiman
klien lihat diri sendiri dan pengalamannya sendiri,dan membicarakan
pengalaman-pengalaman klien itu. Jika dikehendaki adanya perubahan citra-diri
klien,maka konselor haruslah memahami mekanisme pembentukan citra-diri semula
pada klien yang bersangkutan. Konselor dapat menyediakan situasi-situasi
konseling yang memungkinkan klien “bercermin” melihat citra diri dan
perkembangannya,mental perseptual klien,dan tingkah-laku yang diakibatkan oleh
citra-diri klien itu.
3).
Teknik-teknik umum yang dapat digunakan oleh konselor penganut ancangan apa
pun,diantaranya,adalah perubahan lingkungan-disamping perubahan sikap-klien
–sebagai hal bermanfaat membantu klien dalam pemodifikasian citra-diri kerah
yang lebih dikehendaki.
4).
Seringkali konselor tidak dapat berlaku “pasif,” namun lebih aktif mendorong
klien sehingga klien mau mengendalikan hidup dan tingkah-lakunya,menghadapi
lingkungannya,memperkuat rasa percaya-dirirnya,untuk kemudian mengubah
lingkungannya.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Kebutuhan
dapat digolongkan menjadi 2 bagian, yaitu kebutuhan fisik dan kebutuhan
psikologis. Dan pemuasan kebutuhan berpengaruh terhadap Medan perceptual bagi
semua proses belajar yang melibatkan suatu medan psikologis/imajinasi.
Toleransi frustasi adalah sebagai jumlah hambatan yang dapat ditanggung ataub
ditahan tanpa menimbulkan kegagalan penyesuaian psikologis. Citra diri memiliki
peranan, perkembangan dan implikasi dalam konseling.
Komentar
Posting Komentar