Disusun Oleh:
1) MARIYATI (2014 141 106)
2) MERRY INDRIANI (2014 141 094)
3) TIARA ARIANTI (2014 141 123)
4) TITA (2014 141 126)
5) TUH INDRI (2014 141 )
Dosen Pengasuh:Rahmah Noviani, M.Pd
PROGRAM
STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PGRI PALEMBANG
2014
BAB
I
1. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dengan
selesai nya masa pubertas awal ,masuk lah anak dalam preode keselanjutnya,yaitu
masa pubeertas akhir atau adolesen.masa adolesen ini oleh sigmund frued di
sebut sebagai edisi kedua dari situasi oedopus.sebab relasi anak muda pada usia
ini masih mengandung banyak unsur yang rumit dan belum terselesaikan.yaitu
banyak konflik antara psikis dan kontradikti,terutama sekali pada relasi anak
muda dengan orang tua dan objek cinta nya.
Pada
masa adolesen ini terjadi preses pematangan fungsi fungsi psikis dan fisis
,yang berlangsung Secara berangsur angsur dan teratur.masa ini merupakan kunci
penutup dari perkembangan anak.pada preode ini ,anak muda masiih banyak
melakukan intropeksi diri dan merenungi diri sendiri.akhir nyaanak bisa
menemukan aku-nya.dalam artian dia mampu menemukan keseimbanga dan harmoni atau
keselarasan baru di antara sikap ke dalam diri sendiri dengan sikap luar.
menurut
para ahli ilmu jiwa,batas waktu adolesen itu ialah 17-19 tahun ati atau 17-21 tahun.perbedaan
karateristik di antara tiga fase pra
pubeertas/pruel,pubertas awal dan adolesen atau pubertas akhir antara lain
ialah sebagai berikut.
® pada masa pra pubertas(masa negatif,verneinung,trotzalter kedua)anak sering
merasakan bingung ,cemas,takut,gelisah,gelap hati,bimbang ,ragu,risau,sedih
hati,rasa rsa minder,rasa rsa tidak mampu melaksankan tugas tugas,melawan rasa-rasa ‘’besar dewasa
super’’,dan lainnya.naka tidak tahu sebab musebab dari macam macam persaan yang
menimbulkan kerisauan hati nya.
® pada masa pubertas ; anak muda
meninginkan /mendambakan sesuatu dan mencari sesuatu .namun apa sebenarnya
‘’sesuatu’’ yang di harapkan dan di cari ,dia sendiri itu tidak tahu.anak muda
yang merasa sunyi di hati ,dan merasa tidak bisa mengerti da tidak mengerti.
® pada masa adolesen; anak muda mulai
merasa mantap dan stabil .dia mengenal
aku-nya,dan ingin hidup dengan iktiqad keberanian .dia mulai memahai arah hidup
nya.dan menyadari tujuan hidupnya,ia mempunyai pendirian tertentu berdasarkan
satu pola hidup yang jelas.
1.2
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian adolesen
2.
Bagaimana sikap dan sifat adolesen
3.
Apakah harapan terhadap remaja akhir
4.
Bagaimana peranan orang tua terhadap remaja akhir
5.
Bagaiamana hubungan orang tua dan anak
1.3 Tujuan
1.
Mengetahui pengertian adolesen
2.
Memahami sikap dan sifat adolesen
3.
Mengetahui harapan terhadap ramja akhir
4.
Mengetahui peranan orang tua terhadap remaja akhir
5. Memahami hubungan orang tua dan anak
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Adolesen
tahap adolesen (remaja), yang dimulai pada saat masa
puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. Masa Remaja (adolescence)
ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. Sebagai persiapan
ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan-kecakapan
yang dimilikinya, dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan
identitas dari dirinya dan ciri-ciri yang khas
dari dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitas diri ini, pada para
remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang
dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Dorongan
pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak, sering diimbangi oleh rasa
setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Di antara
kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali mereka sangat
patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota.
Pencapaian identitas pribadi dan menghindari peran
ganda merupakan bagian dari tugas yang harus dilakukan dalam tahap ini.
Menurut Erikson masa ini merupakan masa yang mempunyai
peranan penting, karena melalui tahap ini orang harus mencapai tingkat
identitas ego, dalam pengertiannya identitas pribadi berarti mengetahui siapa
dirinya dan bagaimana cara seseorang terjun ke tengah masyarakat. Lingkungan
dalam tahap ini semakin luas tidak hanya berada dalam area keluarga, sekolah
namun dengan masyarakat yang ada dalam lingkungannya. Masa pubertas terjadi
pada tahap ini, kalau pada tahap sebelumnya seseorang dapat menapakinya dengan
baik maka segenap identifikasi di masa kanak-kanak diintrogasikan dengan
peranan sosial secara aku, sehingga pada tahap ini mereka sudah dapat melihat
dan mengembangkan suatu sikap yang baik dalam segi kecocokan antara isi dan
dirinya bagi orang lain, selain itu juga anak pada jenjang ini dapat merasakan
bahwa mereka sudah menjadi bagian dalam kehidupan orang lain. Semuanya itu
terjadi karena mereka sudah dapat menemukan siapakah dirinya.
Identitas ego merupakan kulminasi nilai-nilai ego
sebelumnya yang merupakan ego sintesis. Dalam arti kata yang lain pencarian identitas
ego telah dijalani sejak berada dalam tahap pertama yaitu tahap bayi sampai seseorang berada
pada tahap terakhir yaitu tahap tua. Oleh karena itu, salah satu point yang
perlu diperhatikan yaitu apabila tahap-tahap sebelumnya berjalan kurang lancar
atau tidak berlangsung secara baik, disebabkan anak tidak mengetahui dan
memahami siapa dirinya yang sebenarnya ditengah-tengah pergaulan dan struktur
sosialnya, inilah yang disebut dengan identity confusion atau kekacauan
identitas.
Akan tetapi di sisi lain jika kecenderungan identitas
ego lebih kuat dibandingkan dengan kekacauan identitas, maka mereka tidak
menyisakan sedikit ruang toleransi terhadap masyarakat yang bersama hidup dalam
lingkungannya. Erikson menyebut maladaptif ini dengan sebutan fanatisisme.
Orang yang berada dalam sifat fanatisisme ini menganggap bahwa pemikiran, cara
maupun jalannyalah yang terbaik. Sebaliknya, jika kekacauan identitas lebih
kuat dibandingkan dengan identitas ego maka Erikson menyebut malignansi ini
dengan sebutan pengingkaran. Orang yang memiliki sifat ini mengingkari
keanggotaannya di dunia orang dewasa atau masyarakat akibatnya mereka akan
mencari identitas di tempat lain yang merupakan bagian dari kelompok yang
menyingkir dari tuntutan sosial yang mengikat serta mau menerima dan mengakui
mereka sebagai bagian dalam kelompoknya.
Kesetiaan akan diperoleh sebagi nilai positif yang
dapat dipetik dalam tahap ini, jikalau antara identitas ego dan kekacauan
identitas dapat berlangsung secara seimbang, yang mana kesetiaan memiliki makna
tersendiri yaitu kemampuan hidup berdasarkan standar yang berlaku di tengah
masyarakat terlepas dari segala kekurangan, kelemahan, dan ketidakkonsistennya.
Ritualisasi yang nampak dalam tahap adolesen ini dapat menumbuhkan ediologi dan
totalisme Di bawah ini merupakan beberapa perkembangan yanremaja dialami oleh
seorang remaja yaitu:
Perkembangan kognitif :
Pase remaja merupakan masa pertumbuahan otak mencapai
kesempunaan sistem sarap dapat memproses impormasi berkembang lebih cepat.
Mampu
merencanakan dan mengerjakan tingkat tinggi mampu mempertmbangkan moral dan
tingkat kesadaran yang baru. Yang kemudian dengan kekuatan baru tersebut dalam
penalaran yang dimilikinya menjadikan remaja mampu berbuat pertimbangan dan
melakukan perdebatan sekitar topik-topik abstrak tentang manusia, kebaikan dan
kejahatan, kebenaran dan keadilan.
Pengembangan dalam pengambilan keputusan :
Dalam pengambilan keputusan ini remaja tua lebih
berkopenten dari pada remaja yang lebih muda, sekaligus lebih kopenen dibanding
dengan usia SD.
Perkembangan pemahaman tentang agama
:
Moral dan
agama merupak hal kognitif yang harus dibangun karena merupakan yang kognitif
dalam kajian psikologi. Karena agama merupakan sebuah kerangka moral sehingga
membuat seseorang mampu membadingkan tingkah lakunya. Masa remaja akan semakin
luas pemahan nya tentang agama sehingga dalam ulasan nya tentang kebebasan,
pemahaman dan penghayatan, memliki sifat keabtrakan. Sehingga bisa
mpertimbangkan dengan seksama melalui naluri dan intuisinya.
Pada
masa adolesen ini juga anak muda mulai menemukan nilai-nilai hidup
baru,sehingga makin jelas lah pemahan tentang keadan dirinya.ia mulai bersikap
kritis terhadap objek objek di luar diri
nya.dan ia mampu mengambil synthese di antara tanggapan tentang dunia luar
dengan dunia intern(kehiupan psikis sendiri).sesudah dia mengenal aku-nya
sendiri secara aktif dan objektif ia melibatkan diri dalam macam macam kegiatan
di dunia luar.
Sekarang
dia mencoba ‘’ mendidik diri sendiri’’.dengan memberikan isi arah arti
kehidupan nya .pada preode ini odolesen tersebut di bangunkan dasar dasar yang
denitif (menentukan,esensial),bagi proses pembentukan kepribadian
nya.sehubungan dengan pristiwa ini,bisa di nyatakan bahwa kepribadian dan nasib
orang dewasaitu banyak di pengaruhi oleh priwtiwa peritiwa dan pengalaman pada
masa adolesen ,yang di beri latar belakang
oleh pengalaman pengalaman pada masa pra pubertas dan pubertas.maka masa
adolesen itu merupakan perjuangan akhir remaja ,dan definitif menetukan corak
bentuk kedewasan nya.
masa
adolesen adalah masa peralihan dari masa remaja atau masa pemuda ke masa
dewasa.jadi merupakan masa penutup dari masa pemuda.masa ini tidak berlangsung
lama oleh karena dengan tercapainya masa ini,seseorang dalam waktu yang relatif
singat sekali telah sampai kemasa dewasa .bahkan gejalanya atau sifat sifat nya
yang tampak dalam sikap nya menyerupai sikap dan sifat orang dewasa.karena itu
dalam pembicaranan tentag sifat dan sikap orang dewasa ,ialah bahwa untuk yang
terakhir ini sifat dan sikap itu di mulai dengan kata sudah dapat.
Kebanyakan masa adolesen diukur
dengan masa prasekolah an dalah pada waktu anak telah duduk di kelas tertinggi
SLTA.mereka telah tampak sekali perbedaan dalam bertingkah laku di bandingkan
dengan adik kelas kelas nya.mungkin karena oleh merekalah yang menjadi anak
tertua di seklah itu,maka tumbuh lah
hastart untuk menunjukan bahwa
mereka bukan lagi harus berbuat seperti masa sebelumnya,melaikan cenderung untuk menunjukan kematangan
nya,baik dalam cara berfikir,berbuat bekerja,bergaul,seakan akan mereka meminta
adik adik nya mencotohnya.inilah salah
satu bukti lagi bahwa liingkungan seakli mempengaruhi keperibadian anak.
Tentu
saja tidak sama antara yang satu dengan yang lain ,dalam cara menunjukan
keperibadian nya kepada adik adik nya.hal ini juga membuktikan bahwa faktor
dasar tidak dapat di hilangkan dengan pengaruh lingkungan yang sama sekali
sama.
Di
tinjau dari proses belajar/mengajar ,anak anak
yang duduk di kelas tertinggi SLTA,tentu saja sua tidak lagi seperti
adik adik nya.melainkan sudah mulai menggunakan pikiran yang kritis ,logis,dan
rasional,sekalipun tanggung jawab kebenaran material nya masih di beban kan
kepada guru gurunya.lain hal nya bila (setahun lagi) ia telah menjadi mahasiswa
,yang mereka para mahsiswa sendiri yang harus bertanggung jawab
atas kebenaran setudi nya.sebab para
mahasiswa sudah dapat berlaku dewasa.kepadanya sudah di bebani kewajiban
unttuk mencari kebenaran terakhir,tentang masalah ,pengetahuan
,pengertian,dan kecakapan yang sesuai dengan jalan hidup dan cita cita nya
sebagai isi hidup sendiri.meraka para mahasiswa telah di bebani untuk dapat menyeleksi
pengaruh pengaruh dari luar.mereka telah di bebani untuk menyaring dan
menetukan ilmu yang mana dan dari mana ilmu itu unyuk ia ikut di bawakan.jadi
dengan kata lain mereka harus dapat hidup sendiri atas kreasi nya sendiri.
Di
ukur dengan kehidupan sosisal,terdapat perbedaan pula anatar mereka anak anak
tingkat tinggi SLTA denga para mahasiswa
.yaitu bahwa pada yang pertama ,belum di perkenankan untuk kawin,tetapi untuk
para mahasiswa peraturan semacam itu
tidak ada lagi.
2.2 Sikap Dan Sifat Adolesen
Seperti dia atas di
katakan bahwa menginjak masa adolesen,maka sikap pada umum nya,ialah bahwa
mereka mulai dapat;
a.
Menemukan
pribadi nya
Iialah
bahwa ia mulai menyadari kemampuan nya,menemukan pribadinya,menyadari
kelebihan dan kekurangan nya
sendiri,mulai dapat menempatkan diri di tengah masyarkat dengan jalan
menyesuaikan diri dengan masyarakat
tetapi tidak tenggelam didalam
masyarakat.ia mulai dapat menggunakan hak nya dan mulai mengerti kewajiban
kewajiabnya sebagai anggota masyarakat ,demi perkembangan kemajuan dan dan
pertumbuhan masyarakat,dengan jalan musyawarah.
Dengan kata lain dapat di katakan bahwa
ia mulai dapat membawakan diri nya masuk
kedalam masyarakat
b.
menetukan
cita citanya
ialah
sebagai kelanjutan dari kemapuannyauntuk
menyadari kemampuan ,menyadari kelebihan
kelebihan nya itu bagai suatu himpunan kekuatan kekuatan yang di pergunakan sebagai sarana untuk kehidupn selanjutnyaagar
dengan sarana itu ia tidak akan kehilangan hak nya untuk ikut serta bersama
sama dengan anggota masyarakat yang lain mengolah isi alam raya ini untuk
kehidupan nya.
Dengan himpunan kemampuan dan kelebihan dan kekurangan nya yang
nyata dan di sadari itu dicarikannya bentuk
tertinggi yang seimbang dengan daya
juang nya.untuk di pergunakan sebagai
pedoman hidup nya.inilah cita cita itu.
Jadi cita cita itu bagi seseorang harus jelas.ia harus yakin bahwa ia
akan dapat mencapainya.ia harus siap dengan perlengkapannya,dan mengetahui cara
cara mencapainya dan mengetahui jalan nya.
c. menggariskan jalan hidup nya
ialah
bahwa jalan yang akan di lalui di dalam perjuangan nya mencapai cita cita nya
itu.jalan ini adalah merupakan garis garis proyeksi yang di tarik dari himpunan
kemapuan dan kelebihan dan kekurangan dan kekuatan itu kearah cita cita.
Jadi garis ini merupakan garis
lurus.seperti hal nya suatu jalan selalu dalam kelurusan ,menurut satuan
pengukuran yang sesuai dengan kondisi tertentu.
Kesetian untuk melawati jalan yang lurus
yang di tentukan sediri itu akanmerupakanjaminan keselamatan seseorang di dalam
perjuangan untuk mencapai cita cita yang telah di tentukan sendiri.
Ia harus yakin seyakin yakin yakinnya
,bahwa cita cita nya akan tercapai bila jalan ygang di lalui dengan penuh
kesetian.apa pun yang akan terjadi.kalupun ia harus mati karena tekad nya untuk
melewati jalan itu,maka kematian nya bukan hal yang konyol.melainkan kematian
yang terhormat.tentu ia terus berjalan sekalipun itu di alam yang bukan
kehidupan nya.
d.
bertanggung
jawab
ialah
bahwa ia telah mengerti tentang perbedaan anatar yang benar dan salah,yang
boleh dan yang di larang,yang di anjurkan dan yang di cegah,yang baik dan
buruk,dan ia sadar bahwa yang di lakukan adalah bukan hal yang negatif dan mencoba
membina untuk melakukan hal yang positif.jadi sejak itu ia mulai melakukan apa
yang di mngertikannya teersebut.ia tidak tergoda untuk melakukan hal sama
dengan orang lain.sekalipun itu dengan jumlah yang banyak,bersikeras untuk di
anut dan di paksa dalam bentuk ancaman ataupun hukuman.bila ia melakukan hal
yang salah ia akan kembali kearah yang semesti nya,kadang juga menyadarkan
orang yang berada di jalan yang salah.dengan cara teguran.dan lzim nya hukuman.
e.
Menghimpun
norma norma sendiri
Ialah
bahwa ia telah mentukan sendiri hal hal yang berguna,dan usahanya menunjang
mencapai cita cita nya,selama norma norma itu tidak bertentangan dengan apa
yang di tuntun masyarakatnya,negara,bangsa,dan kemanusian pada umumnya.
Horma norma yang di tuntun nya menjadi satu
dan menajdi bekal untuk saran dan
senjata melindungi diri nya.
2.3 Harapan Terhadap Remaja
Harapan terhadap remaja ialah;
1.
Hendak nya para remaja mengusahan untuk
rajin belajar,belajar dengan tekun.agar bisa menyelesaikan setudi nya dan ikut
serta dalam menbangun bangsa dan negara.
2.
Hendak nya para remaja gemar
membaca,membaca literatur yang sehat dan bermutu,guna mlebarkan horison
pandangan hidup.dari orang tua di harap kanterdapat perpustakan kecil di
rumah.dengan demikian kita membina kegemaran membaca.
3.
Hendak nya para remaja mempunya
hobi.hobi tidak perlu mahal.yang penting mengasyikan.hobi hendak nya jangan
merugikan kegiatan pengisi waktu belaka,melainkan sesutau yang di kerjakan itu
penuh perhatian dan serius,sehingga dapat berkembang dan dapat pula dijadikan
sebagai usaha untuk memperkaya diri.
4.
Hendaknya para remaja mengerti dan
memahami,bahwa tuntunan mereka akan pengertian,pengakuan dan penghargan dari
orang tua harus di imbangi dengan kewajiban dan tanggug jawab terhadap orang
tua dan masyarakat.tetapi pengertian tentang kewajian dan tanggung jawab
terhadap orang tua dan masyarakat harus di berikan kepada remaja.
5.
Hendak nya remaja memahami,bahwa ada hak
dan kewajiban.ada hak istimewa ada tanggung ajawab atau utang budi,ada
kebebasan ada tanggung jawab.
6.
Hendak nya para remaja menyadarai bahaya
narkotika dan menjauhkan diri dari ajakan yang dapat menyesatkan hidup nya.dan
mereka harus sanggup menunjukan bahwa nilai nilai moral yang di junjung oleh
keluargarus menjiwai pada diri mereka.
7.
Hendak nya para remaja berusaha mengerti
keadan orang tua masing masing.
2.4 Peranan Orang Tua
Sebagai
orang tua hendaknya kita berusaha, agar apa yang merupakan kewajiban anak-anak
kita dan tuntunan kita sebagai orang tua mereka kenal dan laksanakan,sesuai dengan
kemampuan mereka dan kemampuan kita sebagai orang tua. Jika hal ini dapat kita
kerjakan, saya kira konflik dan frustasi pada kedua belah pihak dan
dihindarkan,atau paling sedikit diselesaikan.
1. “Children Learn What They Live”
Jika
kita mengakui hal ini,yakni bahwa anak-anak belajar dari apa yang mereka alami
dan dihayati,maka hendaknya orang tua berusaha menjadi contoh kepribadian yang hidup atas nilai-nilai yang tinggi. Hendaknya kehidupan keluarga conducive bagi,dan membantu, pembentukan
kepribadian-kepribadian yang kita
inginkan sebagai orang tua, sebagai warga negara yang berpedoman hidup pada
pancasila, filsafat negara.Nilai-nilai hidup,sikap,dan aspirasi-aspirasi yang
terkandung dalam pancasila hendaknya dapat dipahami, dialami dan dihayati oleh
anak-anak, karena memang dipraktikan dalam kehidupan keluarga. Misalnya, jika
kita menginginkan anak-anak kita menjunjung tinggi asas-asas demokrasi,
sehingga adanya musyawarah keluarga merupakan a must.Jika kitamenginginkan, bahwa anak-anak kita hidup atas
dasar “pola hidup sederhana”, hendaknya
keluarga hidup atas dasar ini, sekalipun harus diakui bahwa tidak mudah
menentukan apa dan bagaimana sederhana itu.
b. Prestasi Belajar
Kita
menghendaki dan menuntut, bahwa anak-anak kita belajar dangan tekun, serta
berprestasi sebaik mungkin. Hal ini hanya dapat dicapai, jika kita cukup
menunjukkan perhatian terhadap sekolah. Janganlah orang tua hanya datang ke sekolah, jika mereka merasa kepentingannya
terancam.
Kebiasaan belajar yang baik, disiplin
diri, harus sepagi mungkin kita tanamkan, karena kedua hal ini secara mutlak
harus dimiliki anak-anak kita. Kebutuhan untuk berprestasi tinggi (n-achieve-ment) harus selekas mungkin kita tanamkan pada diri
anak-anak dengan jalan meng-ekspose
mereka pada standard of excellence,
karena hanya dengan n-achievement yang tinggi kita mengembangkan jiwa dan sikap entrepreneur, kepribadian yang mau
bekerja keras serta berani menghadapi kesulitan, dan jika perlu, kesalahan demi
keberhasilan proyek-proyek yang besar.
Dalam
hal ini janganlah kita cepat-cepat melemparkan kesalahankepada sekolah atau
anak. Sebaiknya kita mengambil waktu untuk menyelidiki kemungkinan akan
sebab-sebab kemunduran atau kegagalan anak kita.
Ada
kemungkinan hal itu terjadi :
v Karena
kurikulum sekolah memang terlalu berat dan tinggi sehingga melampaui kapasitas
belajar anak kita.
v Karena
terlalu banyak tugas yang harus dikerjakan (PR) sehingga kurang tersedia waktu
untuk belajar.
v Karena
terlalu banyak waktu digunakan anak untuk kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler
atau hobi.
v Karena
anak kurang mampu mengatur waktu atau menggunakan waktu secara efesien.
v Karena
tidak ada kebiasaaan belajar pada anak dan ia kurang mampu mendisiplinkan diri.
v Karena
dari pihak orang tua tidak kontrol atau kurang perhatian atau karena sikap
acuh tak acuh terhadap prestasi belajar
anak.
v Karena
anak malas belajar, yang mungkin disebabkan oleh penyakit yang belum tampak
gejala-gejalanya.
v Karena
tekanan-tekanan emosional, sebagai akibat dari pengharapan-pengharapan yang
luar biasa (over expecta-tion) dari
pihak orang tua (disebabkan oleh
posisi),atau sebagai akibat dari perkembangan biologis yang dialami anak.
v Karena
merasa tidak diakui, tidak diakui, tidak diterimaoleh teman-teman.
v Dan
sebagainya.
Yang dibutuhkan anak dalam keadaan ini
ialah pengertian dan waktu dari pihak kita serta pujian, bila ia menunjukan
usaha yang sungguh-sungguhnia tetap tidak berhasil. Pujian dalam keadaan anak
seperti inimerupakan vitamin yang harus kita berikan, tanpa khawatir akan over dose.
Janganlah kita menambah frustasi anak,
ini hanya akan memberatkan persoalannya. Jika ternyata bahwa kegagalan anak
disebabkan oleh kemalasan atau oleh karena ia tidak mau belajar meskipun ia
mampu, maka perlu kita mengambil tindakan-tindakan tegas. Tetapi sekali lagi,
hendaknya kita melihat persoalan, dan penglihatan ini tidak hanya melalui mata
kita sebagai orang tua.
Dalam banyak hal kita hanya merusak jiwa
anak kita, oleh karena itu, kita mengharapkan anak kita hidup sesuai dengan ukuran
(standar) dan harapan yang kita tentukan demi kepentingan kita sebagai orang
tua.
1.
Kegemaran
Membaca
Untuk membina kegemaran membaca,
hendaknya kita sendiri menunjukan kegemaran itu, kegemaran membaca surat kabar,
buku,majalah yang terbaik dan bermutu. Ada baiknya sekali-kali kita mengadakan
diskusi tentang apa yang telah kita atau
mereka baca. Ini akan menambah keasyikan mereka membaca dan kita mengarahkan
apresiasi mereka terhadap literatur.
2.
Makan
Bersama
Makan
bersama dengan ayah dan ibu tidak sepele tampaknya. Makan bersama hendaknya di
jadikan suatu peristiwa atau kebiasaan yang menyenangkan, yang ditunggu-tunggu
oleh seluruh keluarga. Dalam makan bersama anak-anak belajar bagaimana
bertingkah laku pada saat dimeja makan, dan mereka belajar tentang tata cara
makan sesuai dengan yang diharapkan dari mereka.
Akan
tetapi peristiwa makan bersama ini hendaknya juga merupakan satu-satunya
kesempatan yang dapat digunakan anak anak untuk dengan bebas dan secara spontan
menceritakan pengalaman-pengalamannya di sekolah, dijalankan dan dengan
teman-temanya. Bagi orang tua hendaknya peristiwa ini merupakan suatu kesempatan yang dapat mereka pergunakan
untuk “belajar” mendengar, mau mendengar
dan biarlah si anak yang berbicara.
3. Hobi
(Hobby)
Jika
kita menghendaki bahwa anak-anak kita mempunyai hobi, hendaknya kita membantu
mereka dalam melaksanakan hobi itu,
sehingga hobi itu benar-benar berkembang. Karena hobi pada umumnya merupakan suatu kegiatan yang bersifat ekstra dan kerap kali mahal, maka
anak-anak perlu mempunyai pengertian, bahwa hobi mereka harus dapat
disesuaikan dengan uang saku mereka atau
keadaan keuangan orang tua mereka.
Di
antara begitu banyak hobi, ada yang dilangsungkan di dalam kelompok, seperti
misalnya sport,band, dan lain-lain. Hendaknya orang tua memberikan kebebasan kepada anak untuk berada
bersama-sama dengan teman-teman. Jika
hubungan antara orang tua dan anak bersifat
terbuka, dan ada banyak pengertian dan interese pada pihak orang tua,
tidak perlu para orang tua merasa terlalu khawatir akan terjadi hal-hal yang
tidak diinginkan.
Sekali-kali
jangan mereka dilepaskan tanpa kontrol sama sekali. Tetapi yakinlah bahwa
kontrol yang dijalankan dengan pengertian dan sertai dengan perasaaan bersama akan ups and down akan mereka hargai dan terima dengan segenap hati
. sikap demikian dari pihak orang tua akan sukar mereka balas dengan
perbuatan-perbuatan yang mengecewakan orang tua.
4.
Mereka Bukan Lagi Anak-anak
Orang
tua hendaknya mengakui hal ini . Kepada remaja hendaknya sudah dapat diberikan
kebebasan dalam hal-hal tertentu, Mengambil keputusan atas tanggung jawab.
Suatu hal, misalnya uang saku. Uang saku merupakan suatu hal yang sudah sangat
mereka butuhkan. Mereka harus belajar mengelola uang saku ini untuk dapat memenuhi
kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri. Mengenai uang saku itu ada beberapa hal
yang yang perlu diperhatikan :
Ø Sebaiknya
uang saku diberikan sekaligus untuk sebulan misalnya, sehingga si anak belajar
menyesuaikan uang saku dengan kebutuhan-kebutuhannya. Hendaknya kita tidak
mendikte dalam hal menggunakan uang itu.
Ø Sebaiknya
si anak tidak dibiasakan meminta uang bilamana ia memerlukan uang, walaupun ada
orang tua yang lebih menyukai sistem ini daripada “sistem bulanan”. Mereka
takut bahwa uang saku tidak digunakan dengan cara yang baik. Tetapi yang
penting dalam hal ini bukanlah uang saku itu, melainkan pengalaman belajar si
anak, dan belajar memerlukan waktu.
Ø Berapa
banyak uang saku diberikan kepada anak?Sebaiknya hal ini dibicarakan hal ini
dibicarakan dalam musyawarah keluarga tetapi yang jelas bahwa uang saku perlu
disesuikan dengan kebutuhan anak, dan ini berarti bahwa dengan bertambahnya
umur bertambah pula kebutuhan-kebutuhannya, dan bertambah juga uang sakunya.
Pengertian tentang persoalan-persoalan yang dihadapi keluarga dalam bidang
keuangan akan memperbesar penghargaan anak terhadap usaha keluarga, dalam hal
ini diperlukan keluarga yang tidak begitu besar penghasilannya.
Ø Hendaknya
anak belajar menabung dengan jalan menyisihkan sedikit dari uang sakunya.
Dengan menabung ia dapat membeli sesuatu yang tidak akan terbeli dengan satu
atau dua bulan uang saku.
Ø Hendaknya
anak tidak diberi terlalu banyak uang saku. Dengan memberi terlalu banyak uang
saku, akan mendidik anak bersikap boros, sikap kurang menghargai jerih payah
orang tua, dan dengan ini kita justru memberi kesempatan pada anak untuk
membuat hal-hal yang tidak baik, misalnya membeli ganja.Kita memberikan uang
saku karena kebutuhan anak dan karen kebutuhan kita,orang tua, untuk memberikan
pengalaman dan kesempatan belajar anak bagaimana mengelola keuangan.
5. Dating
Dalam masa ini mulaikah anak-anak
putri berhubungan dengan teman putra, anak-anak kita hendaknya menghargai
kebebasan yang diberikan kepada mereka. Untuk menjaga supaya tidak terjadi hal-hal
yang tidak kita inginkan, hendaknya kita :
Ø Menganjurkan
juga keluarga bersama dengan “pasangan”lain; dating seperti ini disebut double date.
Ø Menentukan
waktu pulang mereka. Perbatasan waktu perlu diadakan, dan hendaknya mereka
taati. Hal ini tidak perlu menimbulkan rasa tidak enak pada anak.
Jika hubungan antara orang tua dan anak
penuh pengertian, penuh pengakuan dan cinta kepada kedua belah pihak maka
keprihatinan orang tua tentang waktu akan memberikan kepada anak perasaan
menjadi aman, karena orang tua sungguh memperhatikan keselamatannya. Anak-anak
tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan orang tua terhadap mereka.
6. Pendidikan Seks
Dalam periode ini anak-anak kita, remaja
kita, sudah memerlukan pendidikan seks. Pendidikan seks yang saya maksud ini
ialah pendidikan yang berhubungan dengan perubahan fisik dan biologis yang
dialami anak dalam periode ini. Perubahan-perubahan, baik fisik maupun yang
bersifat organis dan psikis , membangkitkan pada si puber (adolesent)
perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran yang penuh dengan tanda tanya. Dan dalam
menghadapi problema ini mereka memerlukan bantuan. Kita memberikan pengertian
kepada mereka, bahwa mereka harus dapat menerima, memelihara dan menghormati
keadaan tubuh mereka, dan bahwa perubahan-perubahan ini akan menyebabkan adanya
sex-impulses, suatu “dorongan dari dalam” yang belum pernah mereka alami
sebelumnya.
Jika pendidikan seks atau penerangan
tentang seks diberikan dengan tenang dan secara terus terang pada waktu yang
tepat, saya kira putra-putri kita akan berusaha keras untuk memenuhi harapan
kita. Pandangan tentang seks dan tingkah laku para remaja kita dalam bidang ini
sangat tergantung pada cara bagaimana kita membesarkan mereka, pada pendidikan
agama yang mereka peroleh, dan pada norma-norma hidup yang diakui dan ditaati
oleh orang-orang yang merupakan teman-teman mereka bergaul.
7. Pendidikan Agama
Dalam pendidikan agama hendaknya
diusahaan agar ajaran-ajaran agama tidak hanya diketahui, melainkan juga supaya
benar-benar dipahami dan dihayati, sehingga menimbulkan keinginan besar untuk
hidup sesuai dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
2.5 Hubungan Orang Tua dan Anak
a. Keadaan Keluarga dan Pencapaian
Status Dewasa
1. pencapaian
perkembangan kepribadian dan adjustment sosial para pemuda-pemudi lebih
berhubungan dengan dan dipengaruhi oleh keadaan taraf pemuasan kebutuhan
psikologis, yang penting dalam keluarga daripada taraf sosial-ekonomi keluarga,
besar keluarga, kerapihan dan keteraturan rumah dan kecermatan orang tua.
2. Dalam
kehidupan pemuda-pemudi dalam keluarga mereka seringkali mengalami
kesulitan-kesulitan alam usahanya mencapai kedewasaan. Kesulitan-kesulitan itu
sebagian timbul dan berhubungan dengan suasan keluarga dan sebagian lagi karena
penyadaran pemudapemudi terhadap status sosialnya. Keadaan-keadaan ini antara
lain meliputi hal-hal sebagai berikut.
a. Ketidakmantapan
atau tidak stabilnya orangtua serta tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan
individual pada orangtua itu.
b. Tradisi
sosial memaksa pemuda-pemudi untuk memperpanjang masa pendidikan meeka sebelum
mereka itu terjun kedalam kehidupan orang dewasa.
c. Pemuda-pemudi
menderita dalam merasakan ketidakseimbangan perkembangan mereka, baik sebagai pribai maupun sebagai
anggota keluarga.
d. Sikap-sikap
orang dewasa yang membingungkan (tidak menunjukkan gambar yang teratur), serta
tidak menentu terhadap pemuda-pemudi yang seang mengalami perkembangan itu.
3. Keluarga
yang baik bagi pemuda-pemudi adalah keluarga yang tidak hanya member dan
membangun kesadaran pemuda-pemudi sebagai insane yang dikasihi, tetapi juga
melatih pemuda-pemudi itu supaya dapat mencapai status dewasa dalam
mengikutsertakan pemuda-pemudi itu dalam kegiatan-kegiatan keluarga. Dalam
keluarga yang demikian ituterdapat hal-hal sebagai berikut.
a. Sikap
menyambut dengan gembira terhadap sahabat-sahabat pemuda-pemudi itu.
b. Setiap
anggota keluarga mengetahui bagaimana mempergunakan waktu meeka yang baik untuk
bersama dan mengetahui pula membagi kebahagiaan.
c. Tidak
sering mempergunakan hukuman dana banyak mempergunakan usaha yang mengakibatkan
dan menguatkan keyakinan-keyakinan pemuda-pemudi akan kemampuan-kemampuannya
d. Terdapat
hubungan saling hormat menghormati, jujur, dan berada dalam suasana bersahabat.
Dalam
suasana kelurga yang demikian pemuda-pemudi dapat mencapai kedewasaan yang
tanpa mengalami gangguan-gangguan batin yang serius dan tidak mengalami
kekalutan emosional yang hebat.
b. Keadaan Keluarga dan Relasi
Orang Tua dengan Anak
1.
Berdasarkan Hasil-Hasil Penyelidikan
Ternyata Bahwa:
a. Relasi
antara orang tua dengan anak dalam keluarga menunjukkan adanya keragaman yang
luas. Oleh karena itu sukar dan berbahaya untuk menarik garis umum mengenai
hubungan-hubungan suatu penggololongan yang bersifat kaku.
b. Relasi
atar-pribadi (inter-personal) dalam setiap keluarga menunjukkan sifat-sifat
yang kompleks.
2. Gambaran Relasi Orangtua dengan Anaknya
Relasi antara orngtua dengan anak
dipengaruhi dan ditentukan pula oleh sikap orangtua itu terhadap pemuda-pemudi
(internal) dan keadaan eksternal (lahiriah) keluarga.
a. Berbagai
sikap orangtua terhadap pemuda-pemudi (gambaran relasi internal keluarga).
1. Sikap-sikap
yang berhubungan dengan afeksi dan dominasi.
a. Afeksi
yang berlebihan akan mengakibatkan orangtua bersikap:
Ø Over-possesive,
yaitu sikap orangtua yang ingin menguasai anak-anaknya. Di sini orangtualah
yang mempunyai dominasi dalam relasinya dengan anak. Orangtua ini bersemboyan:
“ ini adalah anak saya”. Karena itu dia harus mengerjakan apa saja yang saya
inginkan. Anak yang hidup dalam suasan demikian akan memiliki sifat-sifat subsmisif
(nerima) dan sensitive (perasa).
Ø Over-indulgent
atau over-solicitour yaitu sikap orangtua yang sangat memanjakan dan menurutkan
kehendak anaknya. Orangtua ini berpendapat: “saya adalah orangtua anak ini
karena itu saya akan mengerjakan dan meluluskan apa yang menjadi keinginan anak
saya”. Di sini relasi ditandai oleh adanya dominasi anak. Anak yang hidup dalam
keadaan yang demikian dapat memiliki sifat-sifat agresif, nakal, dank eras
kepala.
b. Afeksi
yang mengakibatkan orangtua bersikap sebagai berikut :
Ø Acuh
tak acuh kepada anak mereka. Anak tidak diberi kesempatan untuk mengadakan
serta menikmati hubungan-hubungan kasih saying dengan orangtuanya.
Ø Sering
menggoda anak dengan jalan mencemoohkan atau mengejek anaknya dengan
menonjol-nonjolkan cacat-cacat dan kelemahan-kelemahan anak. Relasi orangtua
dengan anak dalam hal ini diselimuti oleh suasana tegang.
c. Afeksi
atau kasih saying yang didasari oleh rasa persahabatan yang sewajarnya antara
orangtua dengan anak didik. Kesediaan menerima, keterbukaan merupakan cirri
dari hubungan yang akrab antara orangtua dan anak-anaknya.
2. Sikap-sikap orangtua yang berhubungan dengan
ambisi dan minat.
a. Sikap
orang tua yang mengutamakan sukses sosial.
b. Sikap
yang mementingkan milik keduniawian.
c. Sikap
yang mementingkan suasana keagamaan.
d. Sikap
yang mengutamakan nilai-nilai artistic, kesusasteraan, dan sebagainya.
3. Sikap
terhadap turut sertanya pemuda-pemudi dalam kegiatan bersama.
Terdapat suasana
kooperatif, kompetisi dan soliter. Suatu kerja sama dalam kompetisi sehat
merupakan hal yang berguna bagi pengalaman remaja dalam kegiatan sosialnya.
b. Keadaan
keluarga secara eksternal (lahiriah) dan keadaan structural sosial mempengaruhi
suasana keluarga yang tersedia dalam
struktur sosial tersebut.
Perbedaan
struktur sosial dapat menyebabkan perbedaan dalam relasi antara orngtua dengan
anak.
1. Masyarakat
industry modern. Dalam masyarakat seperti ini, anak sering kali kurang
melakukan relasi dengan ayahnya (mungkin pula dengan ibunya). Karena itu sering
pula suasana keluarga itu dihidupi oleh keadaan kejiwaan ibunya. Dalam keluarga
yang demikian saudara-saudara merupakan saingan bagi dirinya. Hal ini
mengkibatkan suasana koordinasi relasi yang lemah.
2. Masyarakat
pertanian. Sebaliknya yang terjadi dalam masyarakat petani. Antara dua jenis
masyarakat kota kecil, dimana terdapat relasi yang erat antara tetangga yang dekat. Hal ini mewarnai
kehidupan remaja.
3. Masyakat
yang mengenal pemisahan antara orang dewasa dengan anak. Sejak usia 8 tahun
atau 9 tahun antara jenis kelamin, yang satu dengan yang lainnya hidup
terpisah. Relasi antara orang tua dengan anak secara relatif sangat sedikit.
Oleh karena itu, suasana kehidupan pemuda-pemudi diwarnai oleh keegangan, sebab
kurang mengerti. Hal ini dapat menimbulkan banyak prasangka.
4. Kehidupan
di rumah sewaan dari orang-orang di kota-kota besar dan rumah sederhana di
desa. Di sini hidup anak dengan orang dewasa bercampur bercampuraduk tidak
karuan dan privacy (hal yang hanya menjadi rahasia orang dewasa) tidak mungkin
dipertahankan. Di sini terdapat suatu kehidupan yang terbuka. Demikianlah
seluruh proses hidup dan kehidupa yang terbuka. Demikianlah seluruh proses
hidup dan kehidupan bersifat terbuka pula dalam segala segi kehidupan. Selain
itu keadaan-keadaan eksternal itu berhubungan pula dengan keadaan financial
keluarga, kontak orangtua, dengan organisasi sosial, dan kegiatan-kegiatan
orangtua.
c. Sikap-sikap
dan tindakan orangtua yang disenangi atau tidak disenangi pemuda-pemudi.
Menurut hasil penyelidikan, umumnya sikap-sikap dan tindakan-tindakan yang
disenangi pemuda-pemudi adalah orangtua yang member waktu yang cukup banyak
untuk bersama-sama mereka, dapat memahami keadaan mereka yang berhubungan
dengan sekolah, kegemaran, pilihan teman dan sebagainya, dan memberikan
penghargaan kepada ayah atau ibu yang dapat mengurus rumah tangga. Sedangkan
sikap dan tindakan yang tidak disenangi adalah orang tua yang terlalu cerewet,
tidak mau memahami keadaan mereka, tidak
memberi waktu untuk bersama mereka, dan
sebagainya. Yang tidak disukai pada dasarnya adalah orangtua yang tidak dapat
memenuhi kebutuhan psikologis yang pokok dari pemuda-pemudi secara minimal;
yaitu kasih saying dalam arti sewajarnya.
`BAB III
3.1kesimpulan
Berakhirnya
masa pubertas awal,masuklah anak ke
preode selanjutnya,yaitu pubertas akhir atau odolesen.pada masa adolsen imi terjadi proses pematangan fungsi
fungsi psikis dan fisis,yang berlangsung secara ber angsur angsur dan
teratur.masa ini merupakan kunci penutup dari perkembangan anak.pada preode
ini,anak mudah melakukan intropeksi diri
dan merenungi diri sendiri.akhirnya ank bisa menemukan aku nya.dalam artian dia
mampu menemukan kesimbangan dan harmoni di antar sikap ke dalam diri sendiri
dengan sikap lain.
Pada
masa adolesen ini juga anak mulai menemukan nilai nilai hidup baru ,sehingga
makin jelas tentang keadaan nya diri nya.ia mulai kritis terhadap objek objek
luar bagi nya.Masa adolesen adalah masa peralihan dari masa remaja atau masa
pemuda ke awal dewasa.biasanya masa ini tidak terlalu lama karena telah sampai
ke masa dewasa awal. Kebanyakan masa adolesen di ukur pada masa jemjang di SLTA
pada tingkat kelas dua belass atau awal masuk keperguruan tinggi.
3.2 Saran
Demikianlah makalah ini kami uraikan, di
harapkan dengan adanya pembahasan makalah
ini, para remaja akhir (adolesen) khusus nya kita lebih menyadari betapa pentingnya masa
adolesen , dan kita sebagai remaja akhir bisa lebih mengetahui perubahan yang
terjadi pada diri kita dan juga menyadari kita.
Komentar
Posting Komentar