Langsung ke konten utama

MAKALAH bahasa indonesia TENTANG syarat-syarat kalimat, subjek dan predikat, kesatuan dan kesepadanan



Tugas bahasa indonesia
“ syarat-syarat kalimat, subjek dan predikat, kesatuan dan kesepadanan”
DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 7
Nama Kelompok         :
1.      Diah Tri Lestari                                         2014 141 120
2.      Dwy Susanti                                             2014 141 124
3.      Nur Aulia                                                   2014 141 129
Kelas                           : 2 C
Program Studi             : PENDIDIKAN BIMBINGAN KONSELING
Jurusan                        : Ilmu Pendidikan
Dosen Pengasuh          : Yessi Fitriani, S.Pd. M.Pd

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2015


KATA PENGANTAR
            Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “ Syarat-syarat kalimat, Subjek dan Predikat, Kesepadanan dan Kesatuan ” meskipun banyak kekurangan didalammya. Dan juga kami ucapkan terima kasih kepada Ibu Yessi Fitriani, S.Pd, M.Pd selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah memberikan tugas kepada kami.
            Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta bermanfaat untuk kita semua. Kami juga menyadari  sepenuhnya bahwa didalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik dan saran.
            Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah ini yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenaan dan kami mohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dimasa depan.

Palembang,      April 2015


PENULIS


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
                 Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi yang digunakan manusia dengan sesama anggota masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa yang digunakan hendaknya dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan, diinginkan atau dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar dan pembaca. Kalimat yang dapat mencapai sasarannya secara baik disebut dengan kalimat efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainanya secara tepat dan dapat di pahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Supaya kalimat yang dibuat dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat unsure yaqng digunakan harus lengkap dan eksplisit artinya unsure-unsur kalimat seharusnya  ada yang  tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya unsure-unsur yang seharusnya  tidak ada tidak perlu di munculkan.
B. Rumusan Masalah
1.    apa saja syarat-syarat kalimat?
2.    apa yang dimaksud dengan subjek dan predikat?
3.    apa yang dimaksud dengan kesepadanan dan kesatuan?
C. Tujuan Pembahasan
1.  Agar tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan bahasa Indonesia sehingga menjadi baik dan  benar.
2.  mengetahui syarat-syarat kalimat dalam bahasa.


BAB II
PEMBAHASAN

A. SYARAT-SYARAT KALIMAT
1.   Kalimat yang lugas
                   Kalimat yang lugas dapat diwujudkan dengan
a. Apa adanya
        kelimat yang menyatakan apa adanya atau tidak berbelit-belit atau berbunga-bunga, misalnya terdapat pada kalimat (1), (2), (3), dan (4). Sedangkan kalimat (1a),(2a),(3a),dan (4a) tidak memenuhi persyaratan ini . simak dan bandingkan !
1)     Bu Menteri datang berkebaya merah
2)     Beliau banyak memelihara kucing
3)     Pagi-pagi sekali para pedagang itu telah berangkat ke pasar
4)     Kami akan meneliti adanya hubungan antara tindakan korupsi dan kemerosotan ekonomi nasional .
       Bandingkan dengan kalimat
1a. Bu Menteri datang dengan mengenakan baju kebaya berwarna merah
2a. Beliau banyak memelihara binatang yang bentuknya seperti harimau kecil
3a. Sebelum matahari bersinar terang di ufuk timur para pedagang itu telah berangkat ke pasar
4a. Kami akan mengadakan penelitian mengenai adanya hubungan antara  tindak perbuatan korupsi dengan kemerosotan ekonomi nasional.
                                            
b. Hemat  Kata
        kalimat yang lugas dapat juga diwujutkan dengan menghemat penggunaan kata-kata . maksudnya, ada kata-kata yang ditanggalkan tidak akan mengganggu makna atau arti dari kalimat tersebut. Kata-kata yang dapat ditanggalkan, antara lain adalah
1.  Kata-kata hari, tanggal, bulang, tahun, pukul atau jam.simak contoh kalimat berikut:
·      Ujian susulan akan diadakan pada hari senin tanggal 14 bulan juni tahun 2010
          Kalau kata-kata hari, tanggal, bulan, tahun, dan pukul ditanggalkan, maka kalimat-kalimat diatas menjadi
·      Ujian susulan akan diadakan seni 14 juni 2010

2. Menaggalkan kata dari dan dari pada yang tidak perlu
·  Pidato dari Presiden akan disiarkan ulang nanti malam
   Kalau kata dari pada kalimat diatas ditanggalkan maka kalimat tersebut menjadi
·  Pidato Presiden akan disiarkan ulang nanti malam
3. Tidak menggunakan kata penanda jamak ( seperti semua, banyak, beberapa, sekalian, dan para) bersama-sama sekaligus dengan bentuk ulang yang menyatakan jamak.      Simak dulu contoh berikut
·  Banyak pohon-pohan bertumbangan  ketika menjadiagin rebut semalam.
            Agar menjadi lugas,kalimat-kalimat itu harus direvisi menjadi:
·  Banyak pohon bertumbangan ketika terjadi angin rebut semalam. Atau pohon-pohon bertumbangan ketika terjadi angin ribut semalam
4. Menaggalkan kata hipernim (superortdinat) dari kata yang menjadi hiponimnya (subordinatnya). Simak contoh berikut:
·  Sayuran diangkut ke Kota dengan menggunakan kendaran truk
                        Kata kendaraan pada kalimat tersebut adalah hipernim dari kata truk. Untuk kalimat tersebut menjadi lugas maka hendaknya kata-kata hipernim ditanggalkan; sehingga kalimatnya menjadi
·      Sayuran diangkut ke Kota dengan menggunakan truk

c. Tidak Bermakna Kias
        kalimat lugas dapat diujudkan dengan tidak menggunakan kata-kata atau frase-frase yang bermakna kias atau bermakna idiomatis.contoh :
·      Sebelum menjadi sasaran amukan masa, pencopet itu telah diamankan polisi.
                        Kata diamankan pada kalimat diatas adalah bermakna kias, maka sebaiknya diganti dengan kata diselamatkan.Sehingga dapat direvisi menjadi kalimat berikut
·      Sebelum menjadi sasaran amukan masa pencopet itu telah diselamatkan polisi.
d. Bebas dari Ketaksaan
        kalimat lugas harus bebas dari ketaksaan atau keambiguan. contoh
·      Minggu lalu kami bertemu paus .
        Kalimat itu menjadi ambigu karena dapat di taksirkan bermakna (a) kami bertemu pemimpin tertinggi agama katolik yang berdomisili di vatikan roma; atau (b) Kami bertemu sejenis ikan besar yang disebut ikan paus. Kalimat itu menjadi ambigu karena kekurangan kontek atau konteknya tidak lengkap untuk menjadi tidak ambigu, kalau yang diinginkan bermakna (a) maka konteknya harus ditambah menjadi minggu lalu ketika berkunjung ke roma kami bertemu Paus. Jika yang dimaksud dengan makna (b) Maka konteksnya menjadi minggu lalu, ketika berlayar di lautan luas itu, kami bertemu paus.
e. Bernalar
        kelugasan kalimat dapat pula diwujudkan dengan memperhatikan penalaran isi kalimat. Maksudnya isi kalimat tersebut harus masuk akal, bisa diterima logika.

2. Kalimat yang Gramatikal

                                Kalimat lugas yang di bicarakan pada subbab di atas sebenarnya sudah termasuk kalimat grametikal. Namun dalam subbab ini perlu lagi di bicarakan bagaimana kalimat yang grametikal itu, berkenaan dengan adanya kasus sejumlah kalimat yang tidak grametikal. Kalimat yang grametikal berarti kalimat yang memenuhi kaidah-kaidah natau aturan-aturan grametika atau tatabahasa Kaidah grametika menyangkut masalah kata, pembentukan kata (berimbuhan, kata ulang, kata gabung) dan penggunaannya serta masalah struktur yang penyusunan kalimat. Berikut di bicarakan sejumlah kasus kalimat yang lazim di temukan dalam penggunaan bahasa dalam masyarakat lalu bagaimana perbaikannya sehingga menjadi kalimat dalam bahasa ilmiah.
a. Subjektif dan Predikat pada Kalimat Mayor
        Setiap kalimat mayor (kalimat lengkap) yang akan menjadi kalimat pokok pada paragraf harus memiliki unsure subjek (S) dalam unsur predikat (P). Simak kalimat-kalimat berikut!
(1)  Dalam diskusi ilmiah itu membahas masalah kesamaa jender dalam masyarakat   Indonesia
     Kalimat diatas tidak ada saluran unsur subjeknya, sebab kita bias  ditanya: siapa yang membahas maslah kesamaan jender itu? Kalimat (1) itu baru memiliki subjek kalau kita depan atau preposisi dalam di tinggalkan, sehingga kalimatnya menjadi seperti kalimat (1a). Atau dapat juga dijadikan kalimat pasif dengan mengganti kata membahas yang berupa verba aktif dengan kata dibahas yang berupa verba pasif, sehingga kalimatnya menjadi kalimat (1b) berikut.
(1a) Diskusi ilmiah itu membahas masalah kesamaan jender
(1b) Dalam diskusi ilmiah itu dibahas masalah kesamaan jender
        Subjektif pada kalimat (1a) itu adalah diskusi ilmiah itu dan predikatnya adalah membahan, sedangkan masalah kesamaan jender menjadi objeknya. Lalu, dalam kalimat (1b) unsur dalam diskusi ilmiah itu adalah keterangan tempat; di bahas adalah predikat dan masalah kesamaam jender adalah objek.
b. Predikat dan Objek Harus Erat
      Antara predikat dan objek tidak boleh ada unsure lain atau objek harus selalu langsung berada di sebelah kanan predikat. Sekarang coba simak kalimat-kalimat berikut!
               (1) Para anggota DPR sibuk membicarakan tentang bahanyanya     video porno pada masyarakat luas
      Predikat pada kalimat (1) adalah sibuk membicarakan dan objeknya adalah bahayanya video porno. Kita lihat antara predikat dan objek ada kata tentang. Maka agar kalimatnya menjadi kalimat (1) itu grametika tentang itu grametika kata tentang itu harus di tanggalkan sehingga kalimatnya menjadi kalimat (1)
(1) Para anggotanya DPR sibuk membicarakan bahayanya video porno pada masyarakat
c. Tempat Keterangan Tambahan
      Keterangan tambahan harus terletak langsung di sebelah kanan unsure yang di terangkan
d. Pelaku verba pasif
        Frase verba pada kalimat pasif yang pelakunya kata ganti orang (seperti saya, kami, dan mereka) harus  mengikuti pola aspek +  pelaku + verba.
e. Tanpa Kalimat Inversi
        Jangan menggunakan bentuk kalimat inverensi. Maksudnya, predikat tidak boleh berada di sebelah kiri subjek.
f. Konstruktur Sintesis
        Harus menggunakan konstruksi sintesis, bukan konstruksi analitas.
g. Konjungsi pada Kalimat Majemuk
        Setiap kalimat majemuk, baik kalimat, majemuk subornatif, maupun kalimat majemuk koordinati memiliki konjungsi.Mengapa? Bila tidak ada kunjungi hubngan kalimat itu bias di tafsirkan memiliki lebih dari satu hubungan (ambigu).
h. Kata Dan Lain-Lain
        Dalam perincian dari kata seperti, misalnya, contohnya, antara lain atau umpamanya Jangn gunakan kata dan lain-lain (dll) atau dan sebagainya (dsb).
i. Bukan Kunjungansi Korelatif
        Pada kalimat mejemuk subordinatif hanya ada satu konjungsi.


j. Tanpa Anteseden Kosong
        Jangan membuat kalimat beranteseden kosong, yaitu dengan kata-kata di mana, dari mana, yang mana, hal mana, kepada siapa, dari siapa, dan apa yang.
k. Kata Kerja Bantu (Kopula)
        Kata kerja bantu (kopula) yaitu adalah hanya di gunakan pada kalimat yang subjek atau predikatnya berupa fase yang relatif panjang.
l.  Ide Pokok pada Induk Kalimat
        Ide pokok (atau gagasan pokok, pikiran pokok) harus ditempatkan pada induk kalimat, bukan pada anak kalimat. Mengapa? Karena anak kalimat biasanya hanya member keterangn waktu (keterangan sebab,atau keterangan lain).
m.Tanpa Penumpukan Ide (Pikiran)
        Hindari Penumpukan idea tau pikiran pada sebuah kalimat yang panjang yang penuh dengan anak kalimat atau berbagi keterangan tambahan.
n. Kalimat yang Efektif
      Yang di maksud dengan kalimat yang efektif adalah kalimat yang menyampaikan “pesan” kepada pembaca persis sepert yang ingin disampaikan oleh penulis.
o. Bentuk yang Sejajar (Pararel)
        Yang di maksud bentuk-betuk yang sejajar adalah penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sejajar adalah penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sama dalam sususnan seterial. Bila sebuah ide (gagasan) dalam sebuahnkalimat di nyatakan dengan kata benda (misalny bentuk pe-an, atau ke-an. Demikan juga bila suatu ide (gagasan) dinyatakan dengan kata kerja bentuk me- atau bentuk di Kesejajaran ini akan dapat membantu memberi kejelasan kalimat secara keseluruhan.
p. Penekanan atau Penegasan
        Setiap kalimat berisi ide (gagasan) pokok. Lalu inti dari ide itu ingin ditekankan atau ditonjolkan.

q. Gaya Penuliasan Kalimat Pasif

        Demikian berbagai hal yang patut di perhatikan dalam penyusunan kalimat untuk bahasa ilmiah. Satu hal lagi yang perlu di perhatikan adalah bahwa gaya penulisan dalam bahasa untuk karanagan ilmiah adalah dengan menggunakan gaya kalimat pasif, bukan gaya aktif.
B. SUBJEK DAN PREDIKAT
1. SUBJEK
                        Subjek (s) adalah bagian-bagian kalimat yang menunjuk pelaku, tokoh, sosok, sesuatu hal, atau suatu masalah yang menjadi pokok pembicaraan. Sebagian besar S diisi oleh kata benda frasa nominal, klausa, atau frasa verbal. Perhatikan contoh berikut ini.
1.    Ayahku sedang melukis.
2.    Meja direktur besar.
3.    Yang berbaju batik dosen saya.
4.    Berjalan kaki menyehatkan badan.
5.    Membangun jalan layang sangat mahal.

                        Kata-kata yang dicetak tebal pada kalimat (1) - (5)  adalah S.contoh S yang diisi oleh kata benda adalah kalimat (1); S yang diisi oleh frasa benda adalah kalimat (2); S yang diisi oleh klausa adalah kalimat (3); dan S yang diisi oleh frasa verbal adalah halimat (4) dan (5).
Kaidah bahasa Indonesia yang mensyaratkan setiap kata, frasa, dan klausa pembentuk S harus merujuk pada benda (konkret atau abstrak).pada contoh diatas, kendatipun jenis kata yang mengisi S pada kalimat (3), (4), dan (5) bukan kata benda, namun hakikat fisiknya tetap merujuk pada benda. Bila kmita menunjuk pelaku pada kalimat (3) dan (4) yang berbaju batik dan yang berjalan kaki, tentulah berupa orang (benda). Demikian juga yang membangun jalan laying yang menjadi S pada kalimat (5), secara implisit juga merujuk pada hasil membangun yang tidak lain adalah benda juga. Di samping itu, kalau diselami lebih dalam, sebenarnya ada dua nomina yang dilesapkan pada awal kalimat (3) dan (5), yaitu orang pada awal kalimat (3) dan perbuatan pada awal kalimat (4) dan (5).
                        Selain ciri tersebut, S dapat juga dikenali dengan cara bertanya dengan memakai kata Tanya siapa (yang) … atau apa (yang) … kepada P. kalau ada jawaban yang logis atas pertanyaan yang diajukan, itulah S.jika ternyata jawabannya tidak atau tidak logis, berarti “kalimat” itu tidak mempunyai S. inilah contoh “kalimat” yang tidak mempunyai S karena tidak ada atau tidak jelas pelakunya.
1.    *Bagi siswa sekolah dilarang masuk.
2.    *Di sini melayani resep obat generic.
3.    *Melamun sepanjang malam.
Kalau ditanya kepada P, siapa yang dilarang masuk pada contoh (1), jawabannya adalah bagi siswa sekolah; siapa yang melayani resep obat generik pada contoh (2), jawabannya adalah disini; dan siapa yang melamun sepanjang malam pada contoh (3), jawabannya malah tidak ada. Jawaban atas pertanyaan kepada P untuk contoh (1) dan (2) tadi terasa tidak logis, bukan ?
Contoh (1) baru menjadi kalimat jika kata bagi tidak diikutsertakan. Contoh (2) baru menjadi kalimat jika ditempatkan nomina, misalnya kami untuk menggantikan di sini. Contoh (3) harus menyertakan nomina atau pronomina misalnya Anita atau Dia, untuk mengisi tempat sebelum kata melamun. Karena itu contoh (1) - (3) belum memenuhi syarat sebagai kalimat karena subjeknya tidak/belum jelas. Khusus contoh (3) akan menjadi kalimat jika bentuk itu merupakan jawaban suatu pertanyaan, misalnya: Apa yang dilakukannya? .
2. PREDIKAT
                        Predikat (P)  adalah bagian kalimat yang memberi tahu melakukan perbuatan (action) apa S, yaitu pelaku/tokoh atau sosok di dalam suatu kalimat. P dalam klaimat adalah pernyataan tentang jumlah sesuatu yang dimiliki oleh S. satuan bentuk pengisi P dapat berupa kata atau frasa, sebagian besar berkelas verba atau ajektiva, tetapi dapat juga nemeralia, nomona, atau frasa nominal. Perhatikan contoh berikut ini,
1.    Kuda merumput.
2.    Ibu sedang tidur siang.
3.    Putri Indonesia cantik jelita.
4.    Kota Jakarta dalam keadaan aman.
5.    Kucingku belang  tiga.
6.    Robby mahasiswa baru.
7.    Rumah pak Hartawan lima.
Bagian kalimat dicetak tebal dalam contoh (1)  – (7) adalah P. kata merumput pada kalimat (1) member tahu pekerjaan kuda. Frasa sedang tidur siang pada kalimat (2) memberitahu perbuatan ibu; cantik jelita pada kalimat (3) member tahu keadaan putri indonesai; dalam keadaan aman pada kalimat (4) member tahu situasi kota Jakarta; belang tiga pada kalimat (5) member tahu cirri kucingku; mahasiswa baru pada kalimat (6) member tahu status Robby; dan lima pada kalimat (7) member tahu jumlah rumah Pak Hartawan. Sekali lagi harap diperhatikan P dalam kalimat (1) – (7) tidak hanya berupa kata (merumput, lima), tetapi juga berupa Frasa/kelompok kata (sedang tidur siang, cantik jelita, dalam keadaan aman, belang tiga, dan mahasiswa baru).
Contoh (1), (2), dan (3) di bawah ini belum memiliki P karena tidak ada kata-kata yang menunjuk perbuatan dan sifat/keadaan pelakunya.
(1)  * anak yang gendut lagi lucu itu …
(2)  * kantor yang terletak di jalan Gatot Subroto …
(3)  * Bandung yang dikenal sebagai kota kembang …
Seandainya pun contoh (1), (2), (3) ditulis persis seperti lazimnya kalimat normal, diawali dengan huruf Kapital dan diakhiri dengan satu tanda intonasi final, di dalamnya tetap tida ada satu kata pun yang berfungsi sebagai P. Tidak ada jawaban atas pertanyaan melakukan apa anak yang gendut lagi lucu (pelaku) pada contoh(1); tidak ada jawaban atas pertanyaan kenapa atau ada apa dengan kantor di jalan Gatot Subroto dan bandung yang dikenal sebagai kota kembang pada contoh (2) dan (3). Karena tidak ada informasi tentang tindakan, sifat, atau keadaan yang dituntut oleh P, contoh (1), (2), (3) tidak mengandung P. Karena itu, rangkaian kata-kata yang cukup panjang pada contoh (1), (2), (3) itu belum membentuk kalimat melainkan baru membentuk frasa (dalam hal ini frasa nominal).
C. KESEPADANAN DAN KESATUAN
            Kalimat Efektif harus memenuhi syarat diantaranya :
1. KESEPADANAN
                        Yang dimaksud dengan kesepadanan adalah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.
a.  Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas. Ketidakjelasan subjek dan predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak efektif. Kejelesan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek.
Contoh :
1.  Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (Salah)
2.  Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (Benar)
b.  Tidak terdapat subjek yang ganda.
Contoh :
1.  Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen.
2.  Soal itu saya kurang jelas.
        Kalimat-kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara berikut.
1.  Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen.
2.  Soal itu bagi sya kurang jelas.
c.   Kata penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
            Contoh :
1.  Kami dating agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
2.  Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.
Perbaikan kalimat-kalimat ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, ubahlah kalimat itu menjadi kalimat majemuk dan Kedua gantilah ungkapan penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antar kalimat, sebagai berikut.
1.  Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
atau
Kami datang agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
2.  Kakaknya membeli sepeda motor Honda, sedangkan dia membeli sepeda motoe Suzuki.
atau
Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Akan tetapi, dia membeli sepeda motor Suzuki.
d.  Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
            Contoh :
1.  Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu.
2.  Sekolah kami yang terletak di depan bioskop Gunting.
Perbaikannya adalah sebagai berikut.
1.  Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.
2.  Sekolah kami terletak di depan bioskop Gunting.
2. KESATUAN
                        Yang dimaksud kesatuan adalah terdapatnya satu ide pokok dalam sebuah kalimat. Dengan stu ide itu kalimat boleh panjang atau pendek, menggabungkan lebih dari satu unsur pilihan, bahkan dapat mempertentangkan unsur pilihan yang satu dan yang lainnya asal kan ide atau gagasan kalimatnya satu. Artinya, dalam setiap kalimat hanya ada satu maksud utama penulis/pembicara, dan maksud itu harus dapat dikenali dan dipahami oleh pembaca/pendengar.
Contoh kalimat yang tidak jelas kesatuan gagasannya :
1.    Pembangunan gedung sekolah baru pihak yayasan dibantuoleh bank yang memberikan kredit. (terdapat subjek ganda dalam satu kalimat).
2.    Dalam pembangunan sangat berkaitan dengan stabilitas politik. (memakai kata depan yang salah gagasan kalimat menjadi kacau).
3.    Berdasarkan agenda sekretaris manajer personalia akan memberi pengarahan kepada pegawai baru. (tidak jelas siapa yang member pengarahan).
Contoh kalimat yang jelas kesatuan gagasannya :
1.    Pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberi kredit untuk membangun gedung sekolah baru.
2.    Pembangunan sangat berkaitan dengan stabilitas politik.
3.    Berdasarkan agenda, sekretaris manager personalia akan memberi pengarahan kepada pegawai baru. Atau
Berdasarkan agenda sekretaris, manager personalia akan memberi pengarahan kepada pegawai baru.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
       Dalam suatu kalimat harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat kalimat adalah Bersifat lugas, Mematuhi kaedah-kaedah gramatika, Efektivitas kalimat-kalimatnya terpenuhi, Kosakata yang digunakan, selain kosakata baku, juga sesuai dengan kaedah pemilihan kata (diksi): dan istilah-istilah yang digunakan sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuni, Kalimat-kalimat yang bebas dari ketaksaan (ambiguity), Bebas dari makna kias dan pigura bahasa, Mematuhi persyaratan penalaran, Mematuhi dan menerapkan kaedah-kaedah yang berlaku (saat ini adalah Ejaan Bahasa Indinesia Yang Disempurnakan disingkat EYD).
       Dan didalam kalimat harus ada subjek dan predikat. Di dalam kalimat ada yang namanya kalimat efektif, di dalam kalimat efektif terdapat unsure kesepadanan dan kesatuan. Kesepadanan adalah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik. Sedangkan kesatuan adalah terdapatnya satu ide pokok dalam sebuah kalimat. Dengan satu ide itu kalimat boleh panjang atau pendek, menggabungkan lebih dari satu unsur pilihan, bahkan dapat mempertentangkan unsur pilihan yang satu dan yang lainnya asal kan ide atau gagasan kalimatnya satu.
B. SARAN
            Diharapkan setelah mempelajari bahasan ini, maka diharapkan agar kita bisa menulis kalimat dengan baik dan benar sesuai dengan syarat-syarat kalimat.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, E. Zainal dan Tasai, S. Amran. 2010. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: Akademika Pressindo.
Chaer, Abdul. 2011. Ragam Bahasa Ilmiah. Jakarta: Rineka Cipta.
Finoza, Lamuddin. 2009. Komposisi Bahasa Indonesia. Yogyakarta:
          Diksi Insan Mulia.


 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS

Nama           :Mariyati                       Jurusan             :BimbinganDan Konseling Nim              :2014 141 106              Mata Kuliah      :Studi Kasus Kelas            :6/C                               Dosen Pengampu :Mirnayenti, M.Pd RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS 1.     Pendekatan Umum Pendesainan Studi Kasus a.     Definisi Desain Penelitian Desain penelitian adalah keseluruha...

pemikiran Friederich Wilhelm August Froebel

BAB I PENDAHULUAN 1.1    Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang, dimana memiliki sasaran yang berperan dalam melaksanakan pembangunan disegala sektor, baik di sektor industri, perdagangan maupun di sektor pendidikan. Dalam menunjang keberhasilan pembangunan di setiap sektor, maka perlunya peranan pendidikan yang menempatkan manusia sebagai kedudukan sentral dalam pembangunan. Pentingnya peranan pendidikan dalam pembangunan di setiap sektor, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan berperan sebagai upaya pencerdasan, pendewasaan, kemandirian manusia yang dilakukan oleh perorangan, kelompok dan lembaga. Upaya ini dimulai sejak berabad-abad silam, pola pendidikan mengalami kemajuan yang pesat berkat kerja keras para pakar pendidikan terdahulu. Adapun tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan prasekolah adalah Friederich Wilhelm August Froebel atau lebih dikenal dengan sebutan Froebel. Tokoh ini ...

Makalah Konseling Psikologi Individual

Makalah Model-Model Konseling “ Konseling Psikologi Individual ” Di Susun Oleh : Kelompok 3 Nama Kelompok   : 1.      Ayu soraya 2.      Ema kusna haryati 3.      Ika ayu oktaviani 4.      Mariyati 5.      Rahmad shadat 6.      Yogi firnando Semester/Kelas     : Enam    (6) / C Program Stud i       : Bimbingan dan Konseling Dosen Pengasuh    : Erfan Ramdhani, M.Pd., Kons, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang 201 6/2017 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha P e nyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami . Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW....