Langsung ke konten utama

RESUME PENYELENGGARAAN STUDI KASUS “PELAKSANAAN PENGUMPULAN DATA”



Nama          :Mariyati                      Jurusan            :BimbinganDan Konseling
Nim                        :2014 141 106             Mata Kuliah    :Studi Kasus
Kelas          :6/C                             Dosen Pengampu :Mirnayenti, M.Pd

RESUME
PENYELENGGARAAN STUDI KASUS
“PELAKSANAAN PENGUMPULAN DATA”

1.        Enam sumber bukti
Enam sumber bukti yang dapat dijadikan fokus bagi pengumpulan data studi kasus adalah: dokumen, rekaman arsip, wawancara, observasi langsung, observasi pemeran, serta perangkat fisik. Masing-masing teknik pengumpulan data tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.
a.      Dokumentas
Informasi dokumenter tentunya relevan untuk setiap topik studi kasus. Tipe informasi ini bisa menggunakan berbagai bentuk dan hendakmnya menjadi objek rencana-rencana pengumpulan data yang eksplisit. Sebagai contoh, pertimbangkan jenis dokumen berikut:
1)   Surat, memorandum, dan pengumuman resmi;
2)   Agenda, kesimpulan-kesimpulan pertemuan, dan laporan-laporan peristiwa tertulis lainnya;
3)   Dokumen-dokumen administratif – proposal, laporan kemajuan, dan dokumen-dokumen intern lainnya;
4)   Penelitian-penelitian atau evaluasi-evaluasi resmi pada situs yang sama; dan
5)   Kliping-kliping baru dan artikel-artikel yang muncul dimedia massa.
Manfaat dari tipe-tipe dokumen ini dan yang lain tidaklah selalu disandarkan pada keakuratan atau kekurang biasannya. Memang dokumen perlu digunakan secara hati-hati dan tidak asal diterima sebagaimana adanya dari tempat asalnya. Untuk studi kasus, penggunaan dokumen yang paling penting adalah mendukung dan menambah bukti dari sumber-sumber lain. Pertama, dokumen membantu memverifikasi ejaan dan judul atau nama yang benar dari organisasi-organisasi yang telah disinggung dalam wawancara. Kedua, dokumen dapat menambah rincian spesifik lainnya guna mendukung informasi dari sumber-sumber lain. Ketiga, inferensi dapat dibuat dari dokumen-dokumen.
Banyak yang kritis terhadap ketergantungan studi kasus kepada dokumen. Hal ini karena peneliti studi kasus salah anggapan terhadap jenis dokumen tertentu seolah-olah dokumen tersebut pasti berisi kebenaran yang tak dapat diragukan. Dalam kenyataannya, masih perlu dilakukan tinjauan terhadap dokumen yang ada guna memahami bahwa dokumen itu ditulis untuk beberapa tujuan dan audiens yang spesifik. Dengan kata lain, peneliti studi kasus merupakan pengamat untuk kepentingan orang lain, dan bukti dokumenternya mencerminkan suatu komunikasi antar kelompok yang berupaya mencapai beberapa tujuan.
b.    Rekaman Arsip
Pada banyak studi kasus, rekaman arsip bisa merupakan hal yang relevan. Ini meliputi:
1)   Rekaman layanan dalam suatu periode waktu tertentu
2)   Rekaman keorganisasian pada suatu periode waktu tertentu
3)   Peta dan bagan karakteristik geografis suatu tempat
4)   Daftar nama dan komoditi lain yang relevan
5)   Data survei
6)   Rekaman-rekaman pribadi
Rekaman-rekaman arsip ini dan lainnya dapat digunakan bersama-sama dengan sumber informasi yang lain dalam pelaksanaan studi kasus. Namun, tak seperti bukti documenter, kegunaan arsip akan bervariasi pada studi kasus lainnya. Pada beberapa penelitian, rekaman tersebut beitu penting sehingga bisa menjadi objek perolehan kembali analisis yang luas, pada penelitian lainnya mungkin hanya sepintas relevansinya.
Bila bukti arsip dianggap relevan, peneliti harus berhati-hati untuk menentukan kondisi yang menghasilkan bukti yang bersangkutan beserta keakuratannya. Terkadang bisa bersifat kuantitatif, tetapi jumlah tidak bisa dianggap suatu keakuratan. Umumnya rekaman arsip dihasilkan untuk tujuan spesifik dan audiens yang spesifik pula, dan kondisi ini harus dihargai sepenuhnya agar kegunaan rekaman arsip yang bersangkutan bisa diinterpretasikan secara tepat.
c.    Wawancara
Merupakan sumber informasi yang esensial bagi studi kasus. Wawancara bisa mengambil beberapa bentuk. Yang paling umum, wawancara studi kasus bertipe open minded, dimana peneliti dapat bertanya kepada responden kunci tentang fakta-fakta suatu peristiwa disamping opini mereka mengenai perisitiwa yang ada. Pada beberapa situasi, peneliti bahkan bisa meminta mengetengahkan pendapatnya sendiri terhadap peristiwa tertentu dan bisa menggunakan proporsi tersebut sebagai dasar penelitian selanjutnya. Tentu saja, peneliti perlu berhati-hati dari ketergantungan yang berlebihan kepada seorang informan kunci, terutama karena kemungkinan adanya pengaruh hubungan antar pribadi. Suatu cara yang rasional untuk mengatasinya adalah mengendalikan sumber-sumber bukti lain untuk mendukung keterangan informan-informan tersebut dan menelusuri bukti yang bertentangan sehati-hati mungkin.
Tipe wawancara yang kedua adalah wawancara yang fokus, dimana responden diwawancarai dalam waktu yang pendek. Dalam kasus semacam ini, wawancara tersebut bisa tetap open minded dan mengasumsikan cara percakapan namun pewawancara tak perlu mengikuti serangkaian pertanyaan tertentu yang diturunkan dari protokol studi kasusnya. Dalam situasi ini, pertanyaan spesifik harus disusun dengan hati-hati agar peneliti terlihat tampak aneh terhadap topik tersebut dan mungkin responden memberikan komentar yang segar tentang hal yang bersangkutan.
Tipe wawancara yang ketiga memerlukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih terstruktur, sejalan dengan survei. Survei semacam itu dapat didesain sebagai bagian dari studi kasus. Tipe survei ini akan meliputi prosedur sampling maupun instrument seperti yang digunakan dalam survei umumnya, dan selanjutnya akan dianalisis dengan cara yang sama. Perbadaannya terletak pada peran survei dalam kaitannya dengan sumber-sumber bukti yang lain.
Secara keseluruhan, wawancara merupakan bukti yang esensial bagi studi kasus, karena umumnya berkenaan dengan urusan kemanusiaan, ini harus dilaporkan dan diinterpretasikan melalui penglihatan pihak yang diwawancarai, dan para responden yang mempunyai informasi dapat memberikan keteranga penting dengan baik dalam situasi yang berkaitan.
d.   Observasi Langsung
Dengan membuat kunjungan lapangan terhadap situs studi kasus, peneliti menciptakan kesempatan untuk observasi langsung. Dengan asumsi bahwa fenomena yang diamati tidak asli historis, beberapa pelaku atau kondisi lingkungan sosial yang relevan akan tersedia untuk observasi. Observasi semacam itu berperan sebagai sumber bukti lain bagi suatu studi kasus.
Observasi tersebut mulai dari pengumpulan data yang formal hingga yang kausal. Yang paling formal, protokol observasi dapat dikembangkan sebagai bagian protokol studi kasus, dan peneliti yang bersangkutan bisa diminta untuk mengukur peristiwa tipe prilaku tertentu dalam periode waktu tertentu di lapangan. Yang kurang formal, observasi langsung bisa dilakukan selama melangsungkan kunjungan lapangan termasuk kesempatan-kesempatan selama pengumpulan bukti lain seperti pada wawancara.
Bukti observasi seringkali bermanfaat untuk memberikan informasi tambahan tentang topik yang akan deteliti.  Untuk meningkatkan reliabilitas bukti observasi, prosedur umum ialah memiliki lebih dari satu pengamat dalam membuat jenis observasi formal dan kausal. Karenanya, jika sumber yang ada memungkinkan, penyelidikan suatu studi kasus hendaknya memungkinkan penggunaan multipengamat.
e.    Observasi Partisipan
Observasi partisipan adalah bentuk observasi khusus dimana peneliti tidak hanya menjadi pengamat yang pasif, melainkan juga mengambil berbagai peran dalam situasi tertentu dan berpartisipasi dalam peristiwa-peristiwa yang akan diteliti.
Observasi disamping memberikan peluang tertentu yang tidak seperti biasanya guna pengumpulan data kasus, juga mengandung persoalan-persoalan besar. Peluang yang paling berbeda berkenaan dengan kemampuan peneliti untuk mendapatkan akses terhadap peristiwa-peristiwa atau kelompok-kelompok yang tidak mungkin bisa sampai pada penelitian ilmiah. Hanya melalui observasi partisipan manipulasi semacam itu bisa terjadi seperti penggunaan dokumen, rekaman arsip, dan wawancara yang kesemuanya mengasumsikan peneliti sebagai pihak yang pasif. Manipulasi tersebut tak akan persis manipulasi dalam eksperimen, tetapi bisa menghasilkan banyak jenis situasi untuk tujuan pengumpulan data.
Persoalan-persolaan pokok yang berkaitan dengan observasi partisipan harus menghadapi bias potensial yang dihasilkannya. Pertama, peneliti memiliki kemampuan yang kurang untuk bekerja sebagai pengamat luar dan mungkin pada suatu saat harus mengasumsikan porsi-porsi atau peran-peran pembelaan yang bertentangan dengan minat-minat terhadap praktik-praktik ilmiah yang baik. Kedua, pengamat partisipan cenderung mengikuti suatu fenomena yang telah diketahui umum dan menjadi pendukung kelompok atau organisasi yang akan diteliti, jika dukungan semacam itu belum ada. Ketiga, peran partisipan mungkin membutuhkan terlalu banyak perhatian terhadap peran pengamat.
f.     Perangkat fisik
Perangkat fisik atau kultural yaitu peralatan tknologi, alat atau instrument, pekerjaan seni, atau beberapa bukti fisik lainnya. Perangkat itu bisa dikumpulkan atau diobservasi sebagai bagian dari kunjungan lapangan dan telah digunakan secara luas dalam penelitian antropologi.
Perangkat fisik mempunyai relevansi kurang potensial dalam studi kasus. Namun, bila relevan perangkat tersebut bisa menjadi komponen penting dalam keseluruhan kasus bersangkutan.






2.        Tiga prinsip pengumpulan data
Keuntungan dari enam bukti di atas dapat dimaksimalkan jika tiga prinsip berikut di ikuti;
a.    Menggunakan Multisumber Bukti
Salah satu sumber bukti tertentu dari yang telah disebutkan sering dijadikan satu-satunya landasan bagi keseluruhan penelitian. Penggunaan sumber secara terisolasi mungkin merupakan fungsi dari cara dimana sumber-sumber itu bisa dipahami. Karenanya dalam beberapa peristiwa peneliti menyatakan desain penelitiannya dengan mengidentifikasi baik persoalan yang harus diselidiki maupun memilih sumber bukti tunggalnya.
a)    Rasional Penggunaan Multi sumber Bukti
Pendekatan sumber bukti tunggal tidak disarankan dalam penyelenggaraan studi kasus. Sebaliknya, peluang utama dari pengumpulan data studi kasus terletak pada peluang untuk menggunakan berbagai sumber bukti. Peluang menggunakan multisumber bukti tersebut jauh melebihi strategi penelitian lainnya seperti eksperimen, survey atau historis. Masing-masing strategi ini dapat dimodifikasi guna menciptakan strategi gabungan dimana berbagai sumber bukti tampak lebih relevan. Penggunaan multisumber bukti dalam studi kasus member peluang kepada peneliti untuk mengarahkan diri pada isu-isu historis, sikap dan observasi yang lebih luas.
b)   Tuntutan Penggunaan Multisumber Bukti
Setiap peneliti perlu mengetahui bagaimana cara penyelenggaraan semua jenis pengumpulan data.  Jika salah satu dari teknik tak dipergunakan sebagaimana mestinya, kesempatan untuk memperhatikan cakupan permasalah yang lebih luas, atau untuk menetapkan garis-garis penyatuan temuan, mungkin menjadi lepas. Salah satu caranya ialah harus bekerja dalam suatu organisasi penelitian yang lebih multidisipliner ketimbang hanya terbatas pada jurusan tertentu saja. Cara yang lain adalah menganalisis tulisan-tulisan tentang metodologi dari berbagai ilmu sosial dan mempelajari kelebihan dan kelemahan berbagai teknik pengumpulan data sebagaimana digunakan oleh peneliti berpengalaman. Cara selanjutnya yaitu mendesain penelitian-penelitian perintis yang berlainan yang akan member kesempatan untuk mempraktikkan teknik-teknik yang berbeda.
b.    Menciptakan Data Dasar Studi Kasus
Strategi studi kasus harus belajar dari praktik yang digunakan dengan strategi yang lain, dimana dokumen umumnya terdiri atas dua kumpulan yang terpisah yaitu: (1) data atau bukti dasar, dan (2) laporan peneliti. Dengan studi kasus, perbedaan antara data dasar yang terpisah dan laporan studi kasus tidak menjadi praktik yang melembaga. Yang lebih sering terjadi, data studi kasus sinonim dengan bukti yang disajikan dalam laporan studi kasus yang bersangkutan, dan pembaca yang kritis tidak menemukan sumber jika ingin menelusuri data dasar yang mengarah ke kesimpulan studi kasus tersebut. Pokok persoalan bahwa setiap proyek studi kasus harus mendorong pengembangan data dasar formal yang dapat diungkapkan kembali, agar pada prinsipnya peneliti lain dapat meninjau kembali bukti tersebut secara langsung, tak terbatas pada laporan tertulis yang ada. Dengan cara ini data dasar akan benar-benar meningkatkan reliabilitas keseluruhan studi kasus. Persoalan pengembangan data dasar digambarkan dalam kaitannya dengan empat komponen dibawah ini.
a.    Catatan-catatan Studi Kasus
b.    Dokumen Studi Kasus
c.    Bahan-bahan Tabulasi
d.   Narasi
c.    Memelihara Rangkaian Bukti
Prinsip ii harus diikuti guna meningkatkan reliabilitas informasi studi kasus. Ini didasarkan atas pemahaman yang mirip dengan  yang digunakan dalam penelitian kriminologi.
Prinsip ini dimaksudkan untuk memungkinkan pengamat dalam lingkup yang lebih luas mengikuti asal-muasal bukti sejak dari pertanyaan awal penelitian hingga konklusi akhir studi kasus yang bersangkutan. Selain itu, pengamat luas harus dapat melacak langkah-langkah kea rah mana saja. Tidak adanya bukti yang asli akan menghilangkan makna. Jika tujuan utama tercapai, studi kasus akan mengarah ke persoalan metodologis dalam menetapkan validitas konstruk, dan dengan demikian bisa meningkatkan keseluruhan kualitas dari kasus tersebut.
Perhatikan sekenario berikut. Anda telah membaca konklusi dari suatu laporan studi kasus, dan ingin mengetahui lebih banyak tentang asal muasal konklusi tersebut, dan melacak ulang proses penelitiannya.
Pertama, laporan itu sendiri harus sudah memuat sifat yang efisien tentang proporsi-proporsi yang relevan dari data dasar studi kasusnya. Kedua, data dasar tersebut menurut pengawasan hendaknya menyatakan bukti actual dan menunjukkan keadaan dimana bukti itu dikumpulkan. Ketiga, keadaan ini hendaknya konsisten dengan prosedur yang spesifik dan pertanyaan-pertanyaan yang terdapat didalam protocol studi kasusnya, untuk menunjukkan bahwa pengumpulan datanya betul-betul telah mengikuti prosedur yang ditetapkan sebelumnya. Terakhir, tulisan protocol harus menunjukkan keterkaitan antara isi protocol dan pertanyaan awal penelitiannya



Referensi;
K.Yhin. Robert. 2015. Studi Kasus: Desain Dan Metode. Jakarta.  RAJAWALI PERS


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS

Nama           :Mariyati                       Jurusan             :BimbinganDan Konseling Nim              :2014 141 106              Mata Kuliah      :Studi Kasus Kelas            :6/C                               Dosen Pengampu :Mirnayenti, M.Pd RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS 1.     Pendekatan Umum Pendesainan Studi Kasus a.     Definisi Desain Penelitian Desain penelitian adalah keseluruha...

pemikiran Friederich Wilhelm August Froebel

BAB I PENDAHULUAN 1.1    Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang, dimana memiliki sasaran yang berperan dalam melaksanakan pembangunan disegala sektor, baik di sektor industri, perdagangan maupun di sektor pendidikan. Dalam menunjang keberhasilan pembangunan di setiap sektor, maka perlunya peranan pendidikan yang menempatkan manusia sebagai kedudukan sentral dalam pembangunan. Pentingnya peranan pendidikan dalam pembangunan di setiap sektor, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan berperan sebagai upaya pencerdasan, pendewasaan, kemandirian manusia yang dilakukan oleh perorangan, kelompok dan lembaga. Upaya ini dimulai sejak berabad-abad silam, pola pendidikan mengalami kemajuan yang pesat berkat kerja keras para pakar pendidikan terdahulu. Adapun tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan prasekolah adalah Friederich Wilhelm August Froebel atau lebih dikenal dengan sebutan Froebel. Tokoh ini ...

Makalah Konseling Psikologi Individual

Makalah Model-Model Konseling “ Konseling Psikologi Individual ” Di Susun Oleh : Kelompok 3 Nama Kelompok   : 1.      Ayu soraya 2.      Ema kusna haryati 3.      Ika ayu oktaviani 4.      Mariyati 5.      Rahmad shadat 6.      Yogi firnando Semester/Kelas     : Enam    (6) / C Program Stud i       : Bimbingan dan Konseling Dosen Pengasuh    : Erfan Ramdhani, M.Pd., Kons, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang 201 6/2017 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha P e nyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami . Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW....