Nama :Mariyati Jurusan :BimbinganDan
Konseling
Nim :2014 141 106 Mata
Kuliah :Studi Kasus
Kelas :6/C Dosen
Pengampu :Mirnayenti, M.Pd
RESUME
PENYELENGGARAAN
STUDI KASUS
“PERSIAPAN
PENGUMPULAN DATA”
1.
Keterampilan-keterampilan yang diharapkan dari
peneliti studi kasus
Keterampilan yang disyaratkan guna
melaksanakan pengumpulan data studi kasus lebih berat ketimbang dalam
eksperimen dan survei. Peneliti yang betul-betul terlatih dan berpengalaman
diperlukan dalam penanganan studi kasus yang berkualitas dikarenakan adanya
interaksi yang terus-menerus antara isu-isu teoritis yang akan diteliti dan
data yang akan dikumpulkan. Selama pengumpulan data, hanya peneliti yang lebih
berpengalaman yang akan mampu memanfaatkan peluang-peluang tak terduga, selalu
selamat dari kemungkinan terperangkap dan bersikap cukup hati-hati dalam
menghadapi prosedur yang bias.
Pokok-pokok keterampilan yang
dituntut pada umumnya diketengahkan sebagai berikut:
a.
Seseorang harus mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang baik dan menginterpretasikan jawaban-jawabannya.
b.
Seseorang harus menjadi pendengar yang baik dan tak
tertangkap oleh ideology atau prakonsepnya sendiri.
c.
Seseorang hendaknya mampu menyesuaikan diri dan
fleksibel, agar situasi yang baru dialami dapat dipandang sebagai peluang dan
bukan ancaman.
d.
Seseorang harus memiliki daya tangkap yang kuat
terhadap isu-isu yang akan diteliti, apakah hal ini berupa orientasi teoritis
atau kebijakan, ataupun bahkan berbentuk eksploratoris. Daya tangkap seperti
itu mengurangi peristiwa-peristiwa yang relevan dan informasi yang harus
dipilih kea rah proporsi yang bisa dikelola.
e.
Seseorang harus tidak bias oleh anggapan-anggapan yang
sudah ada sebelumnya; termasuk anggapan-anggapan yang diturunkan dari teori.
Karena itu, seseorang harus peka dan responsive terhadap bukti-bukti yang
kontradiktif.
Masing-masing ciri ini akan
dijelaskan dibawah. Banyak diantara ciri tersebut yang masih bisa
disempurnakan; karenanya seseorang yang tak memenuhi salah satu atau lebih dari
keterampilan-keterampilan tersebut dapat mengembangkannya. Namun, setiap orang
perlu jujur dalam menilai kemampuannya sendiri.
1.
Mengajukan Pertanyaan
Pikiran ingin tahu merupakan syarat
utama selama melangsungkan pengumpulan data, dan bukan hanya sebelum dan
sesudah kegiatan itu saja. Pengumpulan data mengikuti suatu rencana, tetapi
informasi spesifik yang diperkirakan relevan tak dapat betul-betul
diprediksikan. Begitu peneliti memasuki kerja lapangan tersebut, ia harus
secara berkelanjutan melacak mengapa peristiwa-peristiwa yang bersangkutan bisa
terjadi. Jika mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang baik, peneliti akan
lelah secara mental dan emosional pada hari terakhirnya. Hal ini berbeda dengan
pengalaman pengumpulan data pada eksperimen atau survei, dimana seseorang
mungkin secara fisik lelah tetapi secara mental tidak.
Hal yang penting berkenaan dengan
pengajuan pertanyaan yang baik ialah memahami bahwa penelitian berkenaan dengan
pertanyaan dan tak harus berkenaan dengan jawaban. Jika anda adalah tipe orang
yang mudah terusik oleh sebuah pertanyaan menuju kearah kelompok besar
pertanyaan-pertanyaan baru, dan jika pertanyaan-pertanyaan ini akhirnya
mengarah ke penemuan signifikan tentang bagaimana atau mengapa suatu kenyataan,
maka anda merupakan pengaju pertanyaan yang baik.
2.
Mendengarkan
Mendengarkan meliputi pengamatan dan
perabaan yang lebih umum dan tak terbatas pada penuturan lisan. Menjadi
pendengar yang baik berarti mampu membaurkan informasi baru dalam jumlah besar
tanpa bias. Sewaktu pihak yang diwawancarai menyinggung suatu kejadian, seorang pendengar yang baik mendengarkan
kata-kata yang pasti digunakan oleh pihak yang diwawancarai, menangkap suasana
hati dan komponen-komponen sikap, serta memahami konteks-konteks yang digunakan
sebagai sudut pandang pihak yang diwawancarai.
Tipe keterampilan ini juga perlu
diaplikasikan untuk pemeriksaan bukti dokumentasi dan pembuatan observasi
langsung terhadap suatu situasi. Dalam mengulas dokumen, pertanyaan yang baik
untuk diajukan adalah apakah ada pesan penting diantara alur-alur yang
bersangkutan; inferensi-inferensi tentu saja perlu dikuatkan dengan
sumber-sumber informasi yang lain, tetapi pemikiran-pemikiran yang penting bisa
diperoleh dengan cara ini. Pendengar yang lemah bahkan bisa tak menyadari
adanya informasi di antara alur tersebut. Pendengar lain yang kurang
berpengetahuan adalah pendengar yang pikirannya tertutup atau mempunyai daya
ingat yang lemah.
3.
Penyesuaian Diri dan Fleksibilitas
Sangat sedikit studi kasus yang
berakhir tepat seperti yang direncanakan. Tak dapat dihindari keharusan adanya
perubahan-perubahan kecil/besar, mulai dari kebutuhan untuk mengidentifikasi
kasus baru yang perlu diteliti hingga keperluan untuk mengejar arah-arah yang
tak terduga. Peneliti yang cakap harus ingat tujuan awal penelitiannya, tetapi
selanjutnya harus mau mengubah prosedur atau rencananya jika ternyata terjadi
peristiwa-peristiwa yang tak terantisipasi.
Bilamana terjadi suatu perubahan,
peneliti harus memelihara perspektif yang tidak bias dan mengakui situasi tersebut dimana peneliti yang sama sekali baru mungkin
akan terlena. Bila hal ini terjadi, banyak langkah yang telah dikerjakan
termasuk desain awal studi kasus yang bersangkutan harus diulang dan didokumentasikan kembali.
4.
Memegang Teguh Isu-isu yang Akan Diteliti
Cara utama untuk tetap kukuh pada
target adalah memahami tujuan semula dari penelitian studi kasusnya sendiri.
Setiap peneliti studi kasus harus memahami isu-isu teoritis atau kebijakan
tersebut, karena keputusan harus dibuat selama fase pengumpulan data. Tanpa
memegang erat isu-isu, seseorang peneliti dapat kehilangan kunci-kunci penting
dan tidak akan mengetahui kapan suatu
penyimpangan bisa diterima atau bahkan dikehendaki. Peneliti harus mampu
mempretasikan informasi yang akan di kumpulkan dan mengetahui dengan segera.
Dalam kenyataannya, peran detektif
tersebut menawarkan beberapa pemikiran yang kaya ke dalam kerja lapangan studi
kasus.
5.
Mengurangi Bias
Semua kondisi terdahulu akan
disangkal jika peneliti hanya menggunakan studi kasus untuk memperkuat posisi
sebelumnya. Para peneliti studi kasus terutama cenderung kepada persoalan ini
karena mereka harus memahami isu-isu tersebut dan menguji kebebasan.
Sebaliknya, pembantu peneliti , walaupun mekanistik dan bahkan mungkin tidak
rapi, tidak mengenal bias kedalam penelitian tersebut. Sebuah tes terhadap
kemungkinan bias ini adalah tingkat keterbukaan peneliti studi kasus terhadap
temuan yang bertentangan. Kesimpulan-kesimpulan studi kasus harus merefleksikan
temuan-temuan yang bertentangan. Untuk menyelenggarakan suatu tes yang baik,
setiap peneliti harus melaporkan temuan-temuan terdahulunya mungkin masih pada
fase pengumpulan data. Jika penelitian bagi penemuan-penemuan yang bertentangan
tersebut dapat menghasilkan sangkalan-sangkalan yang dapat didokumentasikan,
bias yang ada akan berkurang.
2.
Latihan dan persiapan untuk studi kasus yang
spesifik
Kunci untuk memahami latihan yang
dibutuhkan untuk studi kasus yang spesifik ialah memahami bahwa setiap peneliti
harus mampu berperan sebagai peneliti senior. Karenanya, sekali berda
dilapangan, setiap pekerja lapangan studi kasus merupakan peneliti yang mandiri
dan tak dapat menggantungkan diri pada resep yang kaku guna menuntun
prilakunya. Peneliti harus mampu membuat keputusan-keputusan yang cerdas
tentang data yang akan dikumpulkan. Dalam kaitan ini, latihan untuk penelitian
suatu studi kasus sebetulnya dimulai dengan penentuan persoalan yang akan
diteliti dan pengembangan studi kasusnya. Sering kali terjadi bahwa penelitian
studi kasus harus bergantung pada peneliti ganda, disebabkan oleh tiga kondisi
berikut:
1.
Kasus tunggal mengundang pengumpulan data yang
insentif pada situs yang sama, yang membutuhkan suatu tim peneliti.
2.
Studi kasus mencakup multi kasus, dengan orang yang
berkaitan yang akan diperlakukan untuk mencakup setiap situs atau mengalir
antar situsnya.
3.
Atau kombinasi antara keduanya.
Selain itu beberapa anggota tim
peneliti mungkin belum berpartisipasi dalam penentuan masalah awal atau fase
desain penelitian dari penyelidikan yang bersangkutan. Dalam konsisi seperti
ini latihan dan persiapan formal merupakan pendahuluan yang esensial bagi kegiatan
pengumpulan data yang sebenarnya.
1.
Latihan Studi Kasus Sebagai Pengalaman Seminar
Biasanya, seminar meliputi semua
fase penelitian studi yang direncanakan, termasuk bahan-bahan pada mata ajaran,
isu-isu teoritis yang mengarah ke desain studi kasus, serta metode-metode dan
teknik-teknik studi kasus. Tujuan latihan tersebut adalah membuat semua
partisipannya memahami konsep-konsep dasar, terminologi, dan isu-isu yang
relevan terhadap penelitian yang bersangkutan. Tiap peneliti peril mengetahui:
a)
Mengapa penelitian tersebut diselenggarakan;
b)
Bukti apa yang akan dicari;
c)
Variasi-variasi apa yang dapat diantisipasi dan;
d)
Apa yang akan menjadi bukti pendukung atau
bertentangan bagi preposisi yang telah ditentukan.
Diskusi-diskusi, bukan perkuliahan,
merupakan bagian kunci dari upaya latihan, guna meyakinkan bahwa tingkat
pemahaman yang dikehendaki telah tercapai.
Pendekatan seminar terhadap latihan
studi kasus ini dapat sekali lagi bertentangan dengan latihan pewawancara
survei. Latihan survey betul-betul mencakup diskusi, tetapi hal itu pada
pokoknya menekan instrument atau kuesioner yang harus digunakan dan terjadi
dalam suatu jangka waktu pendek yang intensif. Selain itu, latihan tersebut
tidak termasuk dalam persoalan global atau konseptual penelitian yang bersangkutan,
karena pekerjaan utama pewawancara adalah mempelajari mekanisme instrumen
survei tersebut. Karenanya latihan survei jarang mencakup bacaan-bacaan di luar
isu-isu substantive tersebut, dan pewawancara survei yang bersangkutan umumnya
tak memiliki pemahaman luas tentang bagaimana data survei tersebut harus
dianalisis dan isu-isu apa yang harus diselidiki. Hasil semacam itu akan kurang
mencukupi bagi latihan studi kasus.
2.
Pengembangan dan Peninjauan Ulang Protokol (Alat
Pemandu)
Tugas pokok seminar latihan tersebut
karenanya mengembangkan suatu naskah protokol. Pada situasi ini, setiap
pendamping peneliti bisa diberi tugas satu porsi topik yang substansial untuk
dicakup studi kasusnya. Peneliti tersebut bertanggungjawab untuk meninjau ulang
bahan bacaan yang cocok pada topik ini guna menambah informasi lain yang
mungkin relevan, dan untuk mengonsep serangkaian pertanyaan awal protokol pada
topic yang bersangkutan. Dalam seminar tersebut, keseluruhan kelompok peneliti
studi kasus dapat mendiskusikan dan meninjau ulang setiap naskah protokol.
Diskusi semacam ini tak hanya akan mengarah ke penyelesaian protokol tetapi
juga akan member keyakinan bahwa setiap peneliti telah menguasai isi protokol
tersebut, karena partisipasi dalam pengembangannya.
Jika tim peneliti studi kasus
tersebut tidak berbagi tugas dalam pengembangan protokol tersebut,
pertemuan-pertemuan latihannya harus mencakup ulasan protokol tersebut secara
menyeluruh. Semua aspek protokol, apakah procedural atau substantive, perlu
didiskusikan, dan mungkin perlu juga adanya modifikasi tertentu pada protokol
tersebut.
3.
Permasalahan yang Harus Dituju
Latihan tersebut juga memiliki
tujuan menyingkap permasalahan dalam rencana studi kasus tersebut atau
kemampuan-kemampuan tim peneliti yang bersangkutan. Jika permasalahan semacam
itu betul-betul muncul, hiburannya adalah bahwa permasalahan tersebut akan lebih
menyulitkan jika tidak dikenali hingga
selanjutnya, setelah pengumpulan data tersebut dimulai. Peneliti studi kasus
yang baik karenanya harus bisa meyakinkan pada diri sendiri, selama periode
latihan tersebut bahwa permasalahan potensial itu akan bisa tersingkap.
Persoalan yang paling jelas adalah
bahwa latihan tersebut mungkin
meunjukkan kelemahan dalam desain studi kasus yang bersangkutan atau bahkan
penentuan masalah awal penelitian. Jika ini terjadi, peneliti harus bersedia
melakukan revisi walaupun diperlukan lebih banyak waktu dan usaha untuk itu.
Persoalan yang kedua ialah
pertemuan-pertemuan latihan tersebut mungkin menampilkan ketidak cocokan
diantara tim peneliti – terutama sehubungan dengan kenyataan bahwa beberapa
peneliti tak berbagi pendirian mengenai proyok. Bilamana bias semacam itu
ditemukan, salah satu cara untuk menghadapi ideology yang bertentangan adalah
menyarankan petugas lapangan agar mengumpulkan bukti yang bertentangan itu dan
menguji kebenarannya.
Persoalan yang ketiga adalah latihan
tersebut mungkin mengungkap batas waktu atau harapan yang tak dinyatakan
sehubungan dengan sumber-sumber yang tersedia.
Terakhir, latihan tersebut bisa
mengungkap bebrapa sifat positif. Proses pembentukan kelompok ini lebih dari
sekedar keramahtamahan; dan hal ini akan meyakinkan reaksi-reaksi pendukung
untuk waspada bahwa permasalahan-permasalahan yang tak diharapkan bisa muncul
selama proses pengumpulan data.
Referensi;
K.Yhin.
Robert. 2015. Studi Kasus: Desain Dan
Metode. Jakarta. RAJAWALI PERS
Komentar
Posting Komentar