Nama :Mariyati Jurusan
:Bimbingan & Konseling
Nim :2014 141 106 Mata Kuliah :Model-Model Konseling
Kelas :6/C Dosen
Pengampu :Erfan Ramadhani, M.Pd., kons.
RESUME
KONSELING ANALISIS TRANSAKSIONAL
1.
Pengertian konseling analisis transaksional
Transaksional adalah hubungan komunikasi antara seseorang
dengan orang lain. Dengan demikian model analisis transaksionalis lebih banyak
diterapkan dalam susasa kelompok yaitu suasana diamana terdapat hubungan dengan
orang lain. Hal yang di analisis, menyangkut analisis, menyangkut komunikasi
antara dua orang atau lebih yang meliputi bagaimana bentuk, cara dan isi
komunikasi mereka. Dari hasil analisis dapat di tarik kesimpulan apakah
transaksi yang berjalan dapat berlangsung secara benar dan tepat atau dalam keadaan tidak baik dan tidak
tepat, wajar atau tidak wajar. Bentuk, cara dan isi komunikasi itu akan
mencerminkan ada atau tidakknya masalah yang sedang di alami oleh individu yang
bersangkutan.
Untuk keperluan mendalami masalah klien dalam suatu sesi
konseling, di lakukanlah analisis terhadap transaksi-transaksi yang mereka
lakukan selama ini dengan orang lain. Karena fokus perhatian model ini pada
masalah transaksi tersebut, maka nama model ini disebut dengan analisis transaksional
atau seringkali disebut juga dengan analisis tutur kata.
Pandangan model analisis transaksional tentang hakikat
manusia adalah bahwa pada dasarnya manusia mempunyai dorongan-dorongan untuk
memperoleh sentuhan. Sentuhan yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah. Sentuhan
itu dapat juga dalam bentuk isyarat, dengan cara pandangan, dengan cara
senyuman dan lain-lain sebagainya. Sentuhan dapat dilakukan dalam kelembutan
dan diiringi dengan kontak kejiwaan.
Cara individu memperoleh sentuhan melalui transaksi, itulah yang menjadi
kepribadian orang tersebut. Penampilan kepribadian seseorang terbentuk melalui
naskah hidup dan naskah hidup itu terbentuk sejak awal usia muda.
2.
Karakteristik konseling analisis
transaksional
Adapun unsur struktur kepribadian
itu terdiri dari:
1.
Ego state child
Pernyataan ego dengan ciri
kepribadian anak-anak seperti bersifat manja, riang, lincah dan rewel. Tiga
bagian dari ego state child ini ialah:
a)
Adapted child (kekanak-kanakan), Unsure
ini kurang baik ditampilkan saat komunikasi karena banyak orang tidak menyukai
dan hal ini menujukkan ketidak matangan dalam sentuhan.
b)
Natural child (anak yang alamiah), Natural
child ini banyak disenangi oleh orang lain karena sifatnya yang alamiah dan tidak
dibuat-buat serta tidak berpura-pura, dan kebanyakan orang senang pada saat
terjadinya transaksi.
c) Little
professor, Unsur ini ditampilkan oleh seseorang untuk membuat suasana riang
gembira dan menyenangkan padahal apapun yang dilakukannya itu tidaklah
menunjukkan kebenaran.
2.
Ego state parent
Ciri kepribadian yang diwarnai oleh
siafat banyak menasehati, memerintah dan menunjukkan kekuasaannya. Ego state
parent ini terbagi dua yaitu:
a)
Critical
parent, Bagian ini dinilai sebagai bagian kepriadian yang kurang
baik, seperti menujukkan sifat judes, cerewet, dll.
b)
Nurturing
parent, Penampilan ego state seperti ini baik seperti
merawat dan lain sebagianya.
3.
Ego state adult,
Berorientasi kepada fakta dan selalu
diwarnai pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana. Dengan demikian untuk kita
ketahui bahwasanya dalam tiap individu ego state yang tiga diatas selalu ada
yang berbeda Cuma kadarnya saja. Berapa banyak ego state yang ada dalam
individu akan mempengaruhi tingkah lakuorang tersebut.
Hansen (dalam Taufik, 2016:112)
membagi kebutuhan psikologis manusia menjadi tiga bagian menurut analisis
transaksional yaitu:
1.
Kebutuhan
akan memperoleh rangsangan
Sentuhan yang diberika bisa bersifat
jasmaniah(salaman, tepukan,belaian), rohaniah (perhatian, senyuman, sapaan),
positif (pujian, sanjungan)maupun negative(ejekan, cemoohan, hinaan). Sentuhan akan memberikan warna tersendiri bagi
individu, jika sentuhan itu bersifat sistematis maka anak-akan menerima apa
adanya. Misalnya anak yang biasa mendengar kata-kata kasar dari orang tua,
apabila dia tidak mendengar kata-kata tersebut maka ia akan merasakan keanehan.
2.
Kebutuhan
untuk menstruktur waktu
Enam bentuk hubungan yang dipilih
seseorang dalam mencari sentuhan;
a.
With drawl
b.
Ritual
c. Pas time
d.
Activity
e. Games
f. Intimacy
3.
Kebutuhan
untuk memperoleh posisi hidup
Analisis transaksional menurut
A.Harris dalam Taufik (2009) membagi empat posisi hidup yang sering dipilih
oleh seseorang yaitu;
a.
Saya OK kamu OK
b.
Saya OK kamu tidak OK
c.
Saya tidak OK kamu OK
d.
Saya tidak OK kamu tidak OK
3.
Teknik-teknik konseling analisis
transaksional
Secara umum Teknik-teknik yang dapat
dipilih dan diterapkan dalam Analisis Transaksional, yaitu:
1.
Permission (Pemberian Kesempatan),
dalam konseling kesempatan ini diberikan kepada kilen untuk; 1) menggunakan
waktunya secara efektif tanpa melakukan ritual pengunduran diri; 2) mengalami
semua status ego yang biasanya dilakukan dengan mendorong klin menggunakan
kemampuan Status Ego Dewasa untuk menikmati kehidupan; 3) tidak memainkan
permainan dengan cara tidak membiarkan klian memainkannya.
2.
Proteksi, klien mungkin akan merasa
ketakutan setelah ia menerima kesempatan untuk menghentikan perintah-perintah
orang tua dan menggunakan Status Ego Dewasa dan Status Ego Anak.
3.
Potensi, Seorang konselor ahli sihir , melainkan orang tahu
apa yang akan dilakukan dan kapan melakukannya. Oleh karena itu kemampuan
konselor terletak pada keahliannya, sehingga keterampilan tersebut efektif
secara optimal.Teknik Khusus menurut berne terdiri atas delapan teknik yaitu:
Interogasi, Spesifikasi, Konfrontasi, Eksplanasi, Illustrasi, Konfirmasi,
Interprestasi, Kristalisasi.
4.
Analisis dan
penerapan konseling analisis transaksional dalam konseling
Konsep-konsep
teori transaksional analisis sangat bermanfaat bagi konselor dalam menemukan
aspek-aspek yang dominan berpengaruh dalam diri klien terurama dalam hubungan
sosiallnya. Konselor dalam menganalisis masalah klienn dapat dnegan cara
melihat bagaimana klien tersebut bertransaksi selama ini dengan orang lain
dalam lingkungannya. Kesengjangan-kesenjangan dalam transaksi dapat diperbaiki
melalui perubahan ego state yang digunakan dalam bertransaksi. Konsep konsep
transaksi analisis lebih banyak digunakan dalam kegiatan konseling kelompok.
Referensi:
Prayitno. 1998. Konseling
Pancawaskita Kerangka Konseling Eklektik. Padang : UNIVERSITAS NEGERI
PADANG
Taufik. 2016. Pendekatan
dalam Konseling. Padang : UNIVERSITAS NEGERI PADANG
Komentar
Posting Komentar