Langsung ke konten utama

Proses Pembelajaran Anak Usia Dini



                                                                                                                                   1          


Makalah

Pendidikan Anak Usia Dini
Proses Pembelajaran Anak Usia Dini

Di Susun Oleh :
Kelompok 11
Nama Kelompok      :
1.      Mariyati                           2014 141 106
2.      Wela Wilia                      2014 141 114
3.      Sunarni                            2012 141 135
Semester/Kelas         :Empat  (4) / C
Program Studi           : Bimbingan Dan Konseling
Dosen Pengasuh       : Febriani Rotua Manulang, M.Pd
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Pgri Palembang
2015/2016

 


BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Pendidikan adalah hak warga negara, tidak terkecuali pendidikan anak usia dini merupakan hak warga negara dalam mengembangkan potensi sejak dini. Usia dini merupakan pondasi  terbaikk dalam mengembangkan kehidupan dimasa depan. Selain itu pendidikan usia dini dapat mengoptimalkan kemampuan dasar anak dalam menerima proses pendidikan di usia-usia berikutnya.
Dalam pendidikan Keberadaan guru dan siswa merupakan dua faktor yang sangat penting  dimana keduanya saling berkaitan. Kegiatan belajar siswa sangat di pengaruhi oleh kegiatan mengajar guru. Usia lahir samapai dengan memasuki pendidikan  dasar merupakan masa keemasan sekaligus masa kritis dalam tahapan kehidupan manusia, yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Masa ini merupakan masa yang tepat untuk meletakan dasar bagi kemampuan fisik, bahasa sosial,emosional, konsep diri, moral dan nilai-nilai agama.  Sehingga upaya pengembangan seluruh potensi anak usia dini harus dimulai agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara maksimal.
Pendidikan usia dini  harus mampu mengembangkan pendekatan, model dan metode pembelajaran yang mampu mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak, baik perkembangan fisik, intlektual, maupun perkembangan mental-emosionalnya. Dalam kegiatan pembelajaran usia dini harus disesuaikan dengan tingkatan umur anak. Karena setiap tingkatan umur anak mendapatkan pendidikan yang berbeda-beda sesuai usianya.
Maka dari itu kami sebagai penulis mengkaji proses  kegiatan pembelajaran anak usia dini umur 0-2 tahun, 3-6 tahun serta usia ideal anak masuk sekolah.




1.2    Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dibahas adalah:
a.    bagaimana kegiatan pembelajaran anak usia dini 0-2 tahun?
b.    Bagaimana kegiatan pembelajaran anak usia dini 3-6 tahun?
c.    Berapa usia ideal masuk sekolah?

1.3    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan yakni untuk mengetahui kegiatan pembelajaran anak usia dini 0-2 tahun, 3-6 tahun dan mengetahui usia ideal masuk sekolah.





















2
                                                                                                                                                       3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kegiatan Pembelajaran Anak Usia Dini 0-2 Tahun
            Hal yang diperlukan  untuk pembelajaran anak usia dini, bukan seperti untuk anak usia sekolah. Akan tetapi, hal yang diperlukan  disini adalah pemeberian stimulus/rangsangan. Pemberian stimulus yang paling efektif dalam usia ini adalah olahraga otak secara ringan. Stimulus/rangsangan hendaknya diberikan secara kompleks tapi ringan, mulai dari stimulus bahasa, hingga stimulus gerakan dan sentuhan.
1.      Pemberian Stimulus Yang Tepat
Pemberian ini dilakukan dengan cara pemberian stimulus bahasa dan suara. stimulus bahasa merupakan fungsi kompleks diseluruh fase fungsi perkembangan, karena bayi baru lahir akan membuka mata pertama kali didunia. Misalkan dalam islam pertama kali bayi lahir anak di adzankan dan iqomatkan. Selanjutnya berikan stimulus bahasa melalui pembicaraan, ajak bayi bicara dengan suara lembut dan bahasa yang halus. Anggaplah sang bayi seakan-akan mampu berbicara dengan kita. Lantunkan lagu-lagu dengan ritme yang indah dan teratur pula atau bisa putarkan musik.
2.      Stimulus Musik
Musik Klasik dapat memberikan rangsangan pada bayi karena kaya komponen suara atau beragam alat musik yang terabung didalamnya.
Musik disini dapat berfungsi  untuk melihat respons motorik bayi seperti terdiam kalau mendengar suara, mengedip, atau terkejut.
3.      Bermain
Permaianan akan merangsang anak mulai merangsang sensori motorik baik kasar maupun halus dengan cara mengendalikan gerakkannya serta menggali pengalaman dalam menggunakan panca indera, mengembangkan penglihatan, mendemgar suara, mengecap rasa serta merasakan sentuhan dengan benda dan pengaruh yang bisa ditimbulkan. Adapun macam-macam permainan dari usia 0-2 tahun adalah
a.    Permainan karakter warna
Permainan ini menaruhkan bentuk karakter yang berwarna di daerah sekitar bayi dimana dia dapat dengan mudah melihatnya, contohnya bola yang penuh warna dan berbentuk karakter diletakkan diatas tempat tidur bayi yang tergantung.
b.    Main dengan bagian tubuh
Dengan melalui tubuhnya sendiri, misalnya bermain jari tangan dan jari kaki. Contoh merebahkan bayi dalam posisi telentang diatas kasur, pegang kedua kaki dan dorong perlahan secara bergantian, lakukan juga dengan kedua tangannya. Manfaat kegiatan tersebut untuk menguatkan otot paha, sebagai persiapan anak untuk berjalan serta melenturkan otot-otot tangannya.
c.    Bayi berenang
Manfaat ini yaitu melatih refleks sensor dan motor karena pariasi-pariasi kecil pada perilaku refleksif dapat terjadi karena interaksi lingkungan, belajar untuk fokus.
d.   Benda bermacam ukuran
Manfaatnya adalah dapat mempengaruhi perkembangan kognitif dimana bayi lebih mudah dalam mengingat bentuk-bentuk yang ada disekitarnya atau warna-warna yang ada disekitarnya.
e.    Lilin atau malam
Manfaat ini yaitu untuk imajinasi dan kreativitas anak guna membebaskan untuk membuat sesuatu sesuai dengan imajinasi tiap anak yang nantinya akan lebih aktif dalam motorik kasar dan motorik halus.
f.     Fuzzle
Membantu perkembangan motorik kasar dan motorik halus.
g.    Story telling
Kegiatan ini untuk meningkatkan imajinasi anak sampai setiap aspek kehidupannya dalam kegiatan pembelajaran ini diminta untuk menceritakan
                                                                                                                                                             4
hal-hal yang bersifat mendidik dari aspek moral sampai sosial.
h.    Kanvas besar
Kegiatan ini untuk membebaskan anak berkreasi dalam coretannya sesuka hati.
i.      Bermain kata
Kegiatan pembelajaran ini untuk melatih otak kanan anak yang berhubungan dengan berbicara.

2.2 Kegiatan Pembelajaran Anak Usia Dini 3-6 Tahun
Strategi pembelajaran  untuk anak usia dini hendaknya menyenangkan, melibatkan unsur bermain, bergerak, bernyanyi, dan belajar. Beberapa strategi yang sering digunakan untuk pembelajaran anak usia dini antara lain :
1.    cyrcle time, pada strategi pembelajaran ini kegiatan anak-anak duduk melingkar dan guru berada ditengah lingkaran. Berbagai kegiatan, seperti membaca puisi, bermain peran, bernyanyi, bercerita, dan lain sebagainya.
2.    Sistem kalender, pembelajaran dihubungkan dengan kalender dan waktu. Guru menandai tanggal-tanggal pada kalender yang terkait dengan berbagai kegiatan seperti hari kemerdekaan, hari pahlawan, hari kartini dan hari-hari penting lainnya. Lalu, guru mendesain kegiatan belajar dengan menggunakan tema-tema sesuai dengan hari tersebut. Misalnya hari kartini, anak-anak menggunakan kebaya.
3.    Small projet, metode ini melatih anak bertanggung jawab untuk mengerjakan proyeknya. Investigasi ini  biasanya di kerjakan secara kelompok (3-4 orang) dan individu. Setiap kelompok diberi proyek kecil, misalnya anak-anak ditugaskan untuk menemukan barang-barang di suatu tempat,barang-barang tersebut sudah diatur sedemikian rupa dan mudah dikenali oleh anak-anak. Kegiatan ini semata-mata bukan untuk menemukan suatu jawaban yang benar, melainkan kegiatan ini mengajarkan anak untuk bekerja sama dan bertanggung jawab.
4.    Kelompok besar, metode ini menggunakan kelompok besar, yaitu satu kelas penuh untuk membuat sesuatu.
                                                                                  5
5.    Kunjungan, anak sangat senang melihat langsung berbagai kenyataan yang ada dimasyarakat melalui kunjungan. Kegiatan kunjungan Memberikan gambaran bagi anak akan dunia kerja nantinya.
6.    Permainan, permainan yang menarik dan tidak banyak aturan pada umumnya disukai anak-anak. Guru dapat menggunakan permainan untuk pembelajaran anak. Caranya, guru mengajarkan permainan tersebut kepada anak.  Setelah anak mampu memainkannya, guru menambahkan muatan edukatif pada permainan tersebut.
7.    Bercerita, bercerita  merupakan salah satu metode untuk mendidik anak. Berbagai nilai moral, pengetahuan, dan sejarah dan dapat disampaikan  dengan baik melalui cerita.

2.3 Usia Ideal Masuk Sekolah
          Usia anak memasuki sekolah harus diperhatikan karena kesalahan dalam menentukan waktu sikecil mulai bersekolah bisa berakibat fatal dikemudian hari.
          Peraturan dari direktorat jendral pendidikan dasar dan menengah menyebutkan bahwa sudah ada peraturan baku tentang usia anak masuk sekolah. Pada usia 4-5  tahun, anak-anak mestinya masuk tanam kanak-kanak (TK), sedangkan bangku sekolah dasar SD baru boleh didudukinya pada usia 6 tahun. Secara umum, usia ideal untuk seorang anak bisa masuk sekolah adalah diatas 6 tahun. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa anak-anak pada usia ini sudah melewati masa balita. Mereka dinilai telah siap dalam segi intlektual, emosional,sosial, dan spritual untuk berada jauh dari orang tua dan mencoba mandiri dalam belajar. Bila anak masuk SD dibawah 6 tahun, maka dikhawatirkan akan mengalami ganguan perkembangan pada usia selanjutnya.
A.  Play group
Maimunah (2009:347)  mengatakan play group adalah suatu bentuk pendidikan prasekolah alias sebelum masuk sekolah. Oleh karena itu, ada pula yang memberikan istilah play group adalah taman bermain. Usia ideal anak-anak masuk dunia play group yakni kurang lebih 3 tahun.
                                                                                                                                              6
Pada dasarnya, play group hanyalah untuk ajang sosialisasi bagi anak-anak usia dini. Hal ini karena anak-anak pada usia balita, masih membutuhkan stimulus untuk motorik halus dan motorik kasar.  Oleh karena itu, diharapkan arena pendidikan usia dini ini (play group), memiliki sarana dan prasarana untuk menstimulasi anak balita, yakni tempat dan alat bermain. Bermain bagi balita merupakan proses pembelajaran. Model pendidikan seperti ini menggunakan model permainan, baik di dalam maupun diluar ruangan. Para ahli sependapat jika sistem pengajaran play group  hanya diperuntukan untuk bermain, tidak untuk diajarkan membaca, menulis, dan berhitung.
B.  Taman kanak-kanak (TK)
Taman kanak-kanak merupakan jenjang pendidikan formal anak usia dini setelah play group.  Menurut ana surti (maimunah:2009) mengatakan usia ideal anak masuk TK yakni 4-5 tahun.
Sesuai dengan namanya TK hanyalah taman, sehingga harus menyenangkan. TK merupakan tempat anak bisa bebas berkreasi dan mengembangkan seluruh aspek yang ada dalam dirinya. TK juga peletak dasar kehidupan bersekolah, maka hal yang di utamakan pada anak adalah sikap senang disekolah.
Metode pengajaran dalam TK di antaranya sebagai berikut:
1.    Bermain
Bermain merupakan bermacam bentuk kegiatan yang memberikan kepuasan kepada diri anak yang bersifat tidak serius, lentur, dan bahan mainan yang terkandung dalam kegiatan secara imajinatif ditransformasi sepadan dengan dunia orang dewasa.
2.    Karyawisata
Berkaryawisata mempunya makna penting bagi perkembangan anak karena dapat membangkitkan minat anak pada sesuatu hal, memperluas perolehan informasi, memperkaya lingkup program kegiatan belajar anak balita yang tidak mungkin dihadirkan dikelas.

                                                                                                                                                       7
C.  Sekolah dasar (SD)
 Setelah memulai jenjang pendidikan  play group dan TK, anak sudah melalui masa balitanya. Anak yang sudah menyelesaikan pendidikan TK, rata-rata pada umumnya berusia 6-7 tahun.  Pada umumnya, anak yang memasuki usia ini sudah siap untuk bersekolah, apalagi jika si kecil sudah melalui pendidikan TK terlebih dahulu. Anak yang memasuki usia ini dinilai sudah siap dalam segi intlektual, emosional, sodial dan spritual, untuk berada jauh dari orang tua dan mencoba mandiri dalam belajar. Dengan demikian usia ideal anak masuk sekolah SD yakni pada umur 6-7 tahun.
Sementara itu, anak yang langsung SD, perlu adanya proses adaptasi terlebih dahulu dengan lingkungan sekolah. Anak perlu mengetahui bahwa disekolah ada norma dan aturan yang harus di ikuti. Kalau bisa, orang tua menjadi guru “TK” bagi anak di rumah. Artinya, orang tua harus mengajarkan ilmu pengetahuan dan gambaran dasar mengenai sekolah.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka sistem pendidikan SD yang ideal yakni sebagai berikut:
1.    Proses belajar mengajar anak kelas satu dilakukan seperti d TK, yakni bermain sambil belajar dan belajar dengan mengajak anak banyak bergerak
2.    Proses belajar mengajar di kelas dua, dilakukan secara bertahap dan bisa di ubah kearah yang lebih formal seperti kakak-kakak kelasnya. Alhasil, saat anak masuk kelas tiga, dia sudah leih siap menjadi anak pra remaja awal.
  








                                                                                                                                                                   8
                                                                                                                                                     9
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
          Peraturan dari direktorat jendral pendidikan dasar dan menengah menyebutkan bahwa sudah ada peraturan baku tentang usia anak masuk sekolah. Pada usia 4-5  tahun, anak-anak mestinya masuk tanam kanak-kanak (TK), sedangkan bangku sekolah dasar SD baru boleh didudukinya pada usia 6 tahun. Secara umum, usia ideal untuk seorang anak bisa masuk sekolah adalah diatas 6 tahun. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa anak-anak pada usia ini sudah melewati masa balita. Mereka dinilai telah siap dalam segi intlektual, emosional,sosial, dan spritual untuk berada jauh dari orang tua dan mencoba mandiri dalam belajar. Bila anak masuk SD dibawah 6 tahun, maka dikhawatirkan akan mengalami ganguan perkembangan pada usia selanjutnya.

3.2 Saran
Sebagai calon konselor ada baiknya juga kita secara bersama-sama belajar dan menambah wawasan dan pengetahuan mengenai kegiatan pembelajaran pendidikan anak usia dini umur 0-2 tahun dan 3-6 tahun serta usia ideal anak masuk sekolah. Sehingga tidak mengalami kekeliruan dalam memberikan pendidikan pada anak usia dini berdasar usia anak tesebut.



DAFTAR PUSTAKA

Hasan, maimunah. 2009. Pendidikan anak usia dini. Jogjakarta: DIVA PRESS
Ladesang, fadli. 2012. Permainan anak usia 0-2 tahun. At online http://ladesang.blogspot.co.id/2012/06/permainan-anak-usia-0-2-tahun-psikologi.html?m=1



Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS

Nama           :Mariyati                       Jurusan             :BimbinganDan Konseling Nim              :2014 141 106              Mata Kuliah      :Studi Kasus Kelas            :6/C                               Dosen Pengampu :Mirnayenti, M.Pd RESUME PENDEKATAN STUDI KASUS TUNGGAL DAN MULTI KASUS 1.     Pendekatan Umum Pendesainan Studi Kasus a.     Definisi Desain Penelitian Desain penelitian adalah keseluruha...

pemikiran Friederich Wilhelm August Froebel

BAB I PENDAHULUAN 1.1    Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang, dimana memiliki sasaran yang berperan dalam melaksanakan pembangunan disegala sektor, baik di sektor industri, perdagangan maupun di sektor pendidikan. Dalam menunjang keberhasilan pembangunan di setiap sektor, maka perlunya peranan pendidikan yang menempatkan manusia sebagai kedudukan sentral dalam pembangunan. Pentingnya peranan pendidikan dalam pembangunan di setiap sektor, maka dapat dikatakan bahwa pendidikan berperan sebagai upaya pencerdasan, pendewasaan, kemandirian manusia yang dilakukan oleh perorangan, kelompok dan lembaga. Upaya ini dimulai sejak berabad-abad silam, pola pendidikan mengalami kemajuan yang pesat berkat kerja keras para pakar pendidikan terdahulu. Adapun tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan prasekolah adalah Friederich Wilhelm August Froebel atau lebih dikenal dengan sebutan Froebel. Tokoh ini ...

Makalah Konseling Psikologi Individual

Makalah Model-Model Konseling “ Konseling Psikologi Individual ” Di Susun Oleh : Kelompok 3 Nama Kelompok   : 1.      Ayu soraya 2.      Ema kusna haryati 3.      Ika ayu oktaviani 4.      Mariyati 5.      Rahmad shadat 6.      Yogi firnando Semester/Kelas     : Enam    (6) / C Program Stud i       : Bimbingan dan Konseling Dosen Pengasuh    : Erfan Ramdhani, M.Pd., Kons, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang 201 6/2017 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha P e nyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami . Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW....