BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Bimbingan dan Konseling merupakan
salah satu bidang pelayanan yang perlu dilaksanakan di dalam program
pendidikan. Kebutuhan pelaksanaan bimbingan dan konseling berlatar belakang
beberapa aspek, yaitu aspek psikologis, sosiologis, kultural, dan paedagogis.
Siswa sebagai subjek didik, merupakan pribadi-pribadi yang unik dengan segala
karakteristiknya. Sebagai pribadi yang unik, terdapat masalah perkembangan
individu, perbedaan individu, kebutuhan individu, penyesuaian diri, dan
belajar.
Derasnya perubahan sosial dan makin
kompleksnya keadaan masyarakat akan meningkatkan derajat rasa tidak aman bagi
remaja dan pemuda. Perubahan ini membawa pengaruh besar terhadap perikehidupan
dan perkembangan anak-anak dan remaja. Atas keadaan tersebut, sekolah sebagai
suatu lembaga pendidikan formal harus bertanggung jawab untuk mendidik dan
menyiapkan siswa agar berhasil menyesuaikan diri di masyarakat dan mampu
memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya.
Mugiarso, Heru. 2009. Bimbingan
dan Konseling. Semarang : Unnes Press.
Dalam
bimbingan dan konseling terdapat organisasi dan administrasi BK di sekolah Organisasi
bimbingan konseling di sekolah dalam pengertian umum adalah suatu wadah atau
badan yang mengatur segala kegiatan untuk mencapai tujuan bimbingan secara
bersama-sama. Sebagai suatu badan, banyak ahli menawarkan model atau pola
organisasi mana yang cocok diterapkan disekolah. Akan tetapi pola organisasi
yang dipilih harus berdasarkan atas kesepakatan bersama diantara pihak-pihak
yang terkait di sekolah yang dilanjutkan dengan usaha-usaha perencanaan untuk
mencapai tujuan, pembagian tugas, pengendalian proses dan penggunaan
sumber-sumber bimbingan.
Bimbingan
dan konseling tidak akan dapat dilaksanakan tanpa organisasi yang baik dan
sempurna. Tanpa organisasi itu berarti tidak adanya koordinasi dan perencanaan,
sasaran yang cukup jelas, control dan kepemimpinan yang berwibawa, tegas dan
bijaksana. Dengan arti lain suatu organisasi yang baik ditandai oleh adanya
dasar dan tujuan organisasi, personalia dan perencanaan yang matang.
Struktur organisasi pelayanan bimbingan dan konseling
pada setiap satuan pendidikan tidak mesti sama.
B. Rumusan Masalah
adapun rumusan masalah ini adalah:
1. bagaimana
organisasi dan administrasi BK disekolah
2. apa
saja hambatan dalam organisasi dan administrasi BK disekolah
C. Tujuan Penulisan
adapun tujuan penulisan ini adalah:
1. untuk
mengetahui organisasi dan administrasi BK disekolah
2. untuk
mengetahui hambatan dalam organisasi dan administrasi BK disekolah
D.
Metode
Penelitian
Adapun teknik yang digunakan untuk
pengumpulan data yaitu teknik observasi langsung (pengamatan), wawancara dengan
Guru Bimbingan dan Konseling, dan data yang diperoleh disajikan dalam bentuk
poin-pin dan narasi. Setelah data tersaji, penulis melakukan analisis secara
cermat dan melakukan kajian pustaka mengenai permasalahan tersebut.
BAB II
KAJIAN
TEORITIS
Landasan Bimbingan
Konseling:
A.
SKB Mendikbud dan KA BAKN No. 0433/P/1993 dan
No. 25 tahun 1993
·
Pasal 1 ayat 4 : Guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas,
tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan Bimbingan dan
Konseling kepada sejumlah peserta didik.
·
Pasal 1 ayat 10 : Penyusunan program Bimbingan dan Konseling adalah
membuat perencanaan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam bidang bimbingan
pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karier.
·
Pasal 1 ayat 13 : Analisis evaluasi Bimbingan dan Konseling adalah
hasil evaluasi pelaksanaan Bimbingan dan Konseling yang mencakup layanan
orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, konseling perorangan,
bimbingan kelompok dan bimbingan pembelajaran serta kegiatan pendukungnya.
·
Pasal 1 ayat 14 : Tindak lanjut pelaksanaan Bimbingan dan Konseling
adalah kegiatan menindaklanjuti hasil analisis evaluasi tentang layanan
evaluasi, informasi, penempatan dan penyaluran, konseling perorangan, bimbingan
kelompok dan bimbingan pembelajaran serta kegiatan pendukungnya.
B.
PP No. 38/1992
·
Pasal 1 ayat 2 : Tenaga pendidik adalah tenaga kependidikan yang
bertugas membimbing, mengajar dan melatih peserta didik.
·
Pasal 1 ayat 3 : Tenaga pembimbing adalah tenaga pembimbing yang
bertugas membimbing peserta didik.
·
Pasal 2 ayat 2 : Tenaga pendidik terdiri atas pembimbing, pengajar
dan pelatih.
C.
PP No. 29/1990 pasal 27 ayat 1
Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam upaya
menekan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan.
1. Pengertian Organisasi
Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah
Organisasi bimbingan konseling di sekolah
dalam pengertian umum adalah suatu wadah atau badan yang mengatur segala
kegiatan untuk mencapai tujuan bimbingan secara bersama-sama. Sebagai suatu
badan, banyak ahli menawarkan model atau pola organisasi mana yang cocok
diterapkan disekolah. Akan tetapi pola organisasi yang dipilih harus
berdasarkan atas kesepakatan bersama diantara pihak-pihak yang terkait di
sekolah yang dilanjutkan dengan usaha-usaha perencanaan untuk mencapai tujuan,
pembagian tugas, pengendalian proses dan penggunaan sumber-sumber bimbingan.
Bimbingan dan konseling tidak akan dapat
dilaksanakan tanpa organisasi yang baik dan sempurna. Tanpa organisasi itu
berarti tidak adanya koordinasi dan perencanaan, sasaran yang cukup jelas,
control dan kepemimpinan yang berwibawa, tegas dan bijaksana. Dengan arti lain
suatu organisasi yang baik ditandai oleh adanya dasar dan tujuan organisasi,
personalia dan perencanaan yang matang.
Struktur organisasi pelayanan bimbingan dan
konseling pada setiap satuan pendidikan tidak mesti sama. Masing-masing
disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan yang bersangkutan. Meskipun
demikian, struktur organisasi bimbingan konseling pada setiap satuan pendidikan
hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a)
Menyeluruh, yaitu mencakup unsur-unsur
penting yang terlibat di dalam sebuah satuan pendidikan yang ditujukan bagi
optimalnya bimbingan dan konseling.
b)
Sederhana, maksudnya dalam pengambilan
keputusan/kebijaksanaan jarak antara pengambil kebijakan dengan pelaksananya
tidak terlampau panjang. Keputusan dapat dengan cepat diambil tetapi dengan
pertimbangan yang cermat, dan pelaksanaan layanan/ kegiatan bimbingan dan
konseling terhindar dari urusan birokrasi yang tidak perlu.
c)
Luwes dan terbuka, sehingga mudah menerima
masukan dan upaya pengembangan yang berguna bagi pelaksanaan dan tugas-tugas
organisasi, yang semuanya itu bermuara pada kepentingan seluruh peserta didik.
d)
Menjamin berlangsungnya kerja sama,
sehingga semua unsur dapat saling menunjang dan semua upaya serta sumber dapat
dikoordinasikan demi kelancaran dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan
konseling untuk kepentinga peserta didik.
e)
Menjamin terlaksananya pengawasan,
penilaian dan upaya tindak lanjut, sehingga perencanaan pelaksanaan dan
penilaian program bimbingan dan konseling yang berkualitas dapat terus
dilakukan.
f)
Pengawasan dan penilaian hendaknya dapat
berlangsung secara vertikal (dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas), dan
secara horizontal (penilaian sejawat).
2.
Pola Organisasi Pelayanan Bimbingan dan
Konseling
Manajemen
bimbingan dan konseling di sekolah agar bisa berjalan seperti yang diharapkan
perlu didukung oleh adanya organisasi yang jelas dan teratur. Organisasi yang
demikian itu secara tegas mengatur kedudukan, tugas dan tanggung jawab
para personil sekolah yang terlibat. Organisasi tersebut tergambar dalam
struktur atau pola organisasi yang bervariasi yang tergantung pada keadaan
dan karakteristik sekolah masing-masing.
BAB III
HASIL OBSERVASI
Hasil
wawancara kami dengan guru BK yang ada di sekolah yaitu ibu Amrina Jaya S.Pd dengan
tujuan untuk mengetahui program BK dan pelaksanaannya. Berikut pertanyan yang
kami berikan :
1.
Secara umum organisasi administrasi
bimbingan dan konseling disekolah.
A. Personel
dalam kerja BK disekolah ?
Ø Kepala
sekolah
Ø Wakil kepala
sekolah
Ø Guru mata pelajaran
Ø Wali kelas
Ø Staf TU
Ø Koordinator
Bk disekolah
B. Mekanisme
kerja personel BK disekolah ?
Ø Kepala
sekolah, bertugas mengawasi peroses pelaksanaan program BK yang ada di SMP
Negeri 7 Palembang.
Ø Wakil kepala
sekolah, bertugas untuk membantu kepala sekolah dalam mengawasi proses jalannya
program bk di SMP 7 Negeri Palembang.
Ø Guru mata
pelajaran, bertugas memberikan mempersilahkan atau
memberikan izin kepada siswa siswi yang ada dikelas untuk melakukan kegiatan
konseling dengan konselor yang ada di SMP 7 Negeri Palembang.
Ø Wali kelas,
bertugas sebagai guru yang pertama kali membimbing siswa dikelas yang
dipegangnya, karena wali kelas adalah orang tua kedua dari siswa tersebut. Jika
walikelas sudah tidak sanggup lagi mengatasi masalah siswa dialih tangankan
kepada konselor yang ada di SMP Negeri 7 Palembang.
Ø Staf TU,
bertugas membantu konselor untuk memberika biodata siswa yang ada di SMP Negeri
7 Palembang.
Ø Coordinator konselor,
bertugas untuk bertukar fikiran mengenai masalah-masalah siswa yang
dihadapinya.
C. Sarana
dan prasarana Bk yang ada di SMP N 7
Palembang ?
Ø ruang BK, tempat penyimpanan data,
ruang konseling, lemari untuk menyimpan
data, laci khusus menyimpan data, meja dan kursi.
D. Angaran biaya
untuk pelaksanaan BK di SMP Negeri 7 Palembang ?
Ø Merupakan
dana dari sekolah dan pribadi konselor.
2.
Konsep dasr BK yang ada di SMP
Negeri 7 Palembang ?
Ø Konsep dasar
BK yang digunakan adalah Bk pola 17+ yang diantaranya adalah sebagai berikut:
Ø 10 layanan
BK
Ø 7 fungsi BK
Ø Landasan BK
Ø 4 bidang BK
Ø 5 kegiatan
pendukung BK
3.
Bagaimana kedudukan BK di SMP Negeri
7 Palembang dalam sistem pendidikan ?
Ø Kedudukan Bk
di SMP Negeri 7 Palembang dalam dunia pendidikan sangatlah penting, karena
kalau disekolah tidak ada BK yang berperan aktif dalam dunia pendidikan akan mati sekolah
tersebut. BK merupakan “Jantung Hatinya
Sekolah”
4.
Bagaimana peroposionalisai BK di SMP
Negeri 7 Palembang ?
Ø Semua guru
BK yang ada di SMP tersebut lulusan dari S1 BK.
Ø Guru BK
sudah melaksanakan tuganya sesuai dengan pembagian tugasnya masing-masing.
Ø Pengetahuan
guru BK yang ada di SMP Negeri 7 palembang tidak hanya didapatkan dari jenjang
pendidikan yang ditempuh, tetapi juga didapatkan dari seminar-seminar,
organisasi tentang BK yang ada diluar sekolah dan mengikuti pelatihan-pelatihan
BK.
5.
Bagaimana karakteristik dan
kebutuhan siswa/siswi di SMP Negeri 7 Palembang ?
Ø Karakteristik
dan kebutuhan siswa/siswi bisa dilihat dari tingkatan kelas, masalah pribadi siswa/siswi
dan tingkatan siswa aktif dan pasif yang ada di SMP Negeri 7 Palembang.
6.
Bagaimana penyusunan program Bk yang
ada diSMP Negeri 7 Palembang ?
Ø Dalam
penyusunan program BK, bahwa penyusunan program dilakukan oleh seluruh guru BK
yang ada diwilah kota palembang. Namun, materi yang diberikan kepada
siswa/siswi sesuai dengan kebutuh siwa.
7.
Bagaimana cara mengevaluasian
program, proses, dan hasil BK di SMP Negeri 7 Palembang ?
Ø Guru Bk
dapat mengamati partisipasi dan aktivitas siswa dalam kegiatan layanan
bimbingan.
Ø Mengungkapkan
pemahaman siswa atas bahan-bahan yang disajikan atau pemahaman siswa atas
masalah yang dialaminya.
Ø Selanjutnya
mengungkapkan kegunaan layanan bagi siswa dan perolehan siswa sebagai hasil
dari partisipasinya.
Ø Dapat
mengamati perkembangan siswa dari waktu ke waktu.
Ø Mengungkapkan
kelancaran proses dan suasanan penyelengaraan kegiatan layanan.
8.
Bagaimana supervisi konseling di SMP
Negeri 7 Palembang ?
Ø Kepala
sekolah tidak terlalu paham dalam bimbingan konseling jadi, kepala sekolah
mempercayakan semua kegiatan BK di SMP Negeri 7 Palembang diserahkan semuanya
kepada konselor-konselor yang ada di sekolah tersebut.
9.
Bagaimana teknologi informasi BK di
SMP Negeri 7 Palembang ?
Ø Teknologi
yang ada di SMP tersebut fasilitasnya belum memadai dikarenakan sekolah tidak
menyediakan teknoli informasi yang di butuhkan oleh BK disekolah. tidak semua kegiatan
BK mengunakan teknologi, misalnya penyimpanan data siswa yang masih mengunakan
loker atau lemari yang seharusnya disimpan didalam komputer.
10.
Apa kendala dan hambatan disaat
melakukan kegiatan BK di SMP Negeri 7 Palembang ?
Ø Masalah
waktu
Ø Ketika
seorang guru BK ingin melaksanakan suatu layanan tetapi waktu yang tidak
memadai atau mencukupi disaat pemberian layanan kepada siswa. Layanan
yang tidak sesuai dengan kebutuhan
·
Ketika seorang guru BK ingin
melaksanakan suatu layanan tetapi ada siswa yang lebih membutuhkan untuk
penyelesaian masalah pribadi siswa.
Ø Kurangnya
guru BK
·
Guru Bk di SMP Negeri 7 Palembang
berjumlah empat orang, dikatakan masih kuranya guru Bk dikarenakan satu gu BK
hanya memegang 150 siswa, tetapi karena jumlah siswa yang lumayan cukup banyak
jadi guru BKnya masih kurang dan perlu ditambah satu atau dua orang guru BK
lagi.
Ø Sarana dan
prasarana yang kurang memadai
·
Sarana dan prasarana yang ada di
sekolah tersebut tidak disediakan secara maksimal oleh pihak sekolah, misalnya
pihak sekolah tidak menyediakan komputer terlalu banyak untuk pelaksanaan
kegiatan atau program BK di sekolah tersebut. Lalu disekolah itu belum
tersedianya koneksi internet untuk memberikan layanan kepada siswa.
BAB
IV
ANALISIS
Setelah
kami melakukan wawancara di SMP Negeri 7
Palembang maka tentang organisasi dan administrasi di sekolah. Kami
menyimpulkan bahwa di sekolah ini organisasi dan administrasinya sudah cukup
baik. Namun dalam organisasi dan administrasi di sekolah ini masih memiliki
hambatan-hambatan dalam melaksanakannya kegiatan BK disekolah tersebut
diantaranya adalah sebagai berikut:
Ø Masalah
waktu
Ø Ketika
seorang guru BK ingin melaksanakan suatu layanan tetapi waktu yang tidak
memadai atau mencukupi disaat pemberian layanan kepada siswa. Layanan
yang tidak sesuai dengan kebutuhan
·
Ketika seorang guru BK ingin
melaksanakan suatu layanan tetapi ada siswa yang lebih membutuhkan untuk
penyelesaian masalah pribadi siswa.
Ø Kurangnya
guru BK
·
Guru Bk di SMP Negeri 7 Palembang
berjumlah empat orang, dikatakan masih kuranya guru Bk dikarenakan satu gu BK
hanya memegang 150 siswa, tetapi karena jumlah siswa yang lumayan cukup banyak
jadi guru BKnya masih kurang dan perlu ditambah satu atau dua orang guru BK
lagi.
Ø Sarana dan
prasarana yang kurang memadai
·
Sarana dan prasarana yang ada di
sekolah tersebut tidak disediakan secara maksimal oleh pihak sekolah, misalnya
pihak sekolah tidak menyediakan komputer terlalu banyak untuk pelaksanaan
kegiatan atau program BK di sekolah tersebut. Lalu disekolah itu belum
tersedianya koneksi internet untuk memberikan layanan kepada siswa.
Dengan adanya hambatan dan kendala
yang ada di SMP Negeri 7 Palembang tersebut, sekolah diharapkan dapat
memberikan fasilitas yang lebih melengkapi sarana dan prasarana BK yang ada
disekolah.
BAB V
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari hasis wawancara dengan guru BK yang ada di SMP Negeri 7
Palembang dapat kami ber empat simpulkan bahwa, Bimbingan dan Konseling
merupakan salah satu bidang pelayanan yang perlu dilaksanakan di dalam program
pendidikan. Organisasi bimbingan konseling di sekolah dalam
pengertian umum adalah suatu wadah atau badan yang mengatur segala kegiatan
untuk mencapai tujuan bimbingan secara bersama-sama. Sebagai suatu badan,
banyak ahli menawarkan model atau pola organisasi mana yang cocok diterapkan
disekolah. Akan tetapi pola organisasi yang dipilih harus berdasarkan atas
kesepakatan bersama diantara pihak-pihak yang terkait di sekolah yang
dilanjutkan dengan usaha-usaha perencanaan untuk mencapai tujuan, pembagian
tugas, pengendalian proses dan penggunaan sumber-sumber bimbingan.
Dengan adanya organisasi dan administrasi
BK yang ada disekolah dapat membantu untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas
BK yang ada disekolah terutama untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas BK
yang ada di SMP Negeri 7 Palembang.
LAMPIRAN KEGIATAN OBSERVASI DI SMP NEGERI 7 PALEMBANG
Gambar I: foto bareng ibu Amrina Jaya, S.Pd

Komentar
Posting Komentar