MAKALAH
PSIKOLOGI ABNORMAL DAN KLINIS
“MOOD DISORDER”
DI
SUSUN OLEH :
KELOMPOK
6
Nama
Kelompok :
1. Yogi
pernando 2014 141 119
2. Mariyati
2014 141 106
3. Sekar
ageng suciati 2014 141 106
4. Diah
agustina 2014 141 117
5. Putri
agustini 2014 141 118
Semerter/Kelas :
3/ C
Mata Kuliah :
Psikologi Abnormal Dan Klinis
Program Studi : BIMBINGAN dan KONSELING
Jurusan :
Ilmu Pendidikan
Dosen Pengasuh :Nurlela
, M.Pd
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PGRI PALEMBANG
2015
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT bahwa dengan Rahmat dan
Ridho-Nya. Serta Shalawat beserta salam kita
sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman
hidup yakni al-qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia. Penulis dapat menyelesaikan Makalah Mata Kuliah “Psikologi
Abnormal Dan Klinis ” yang berjudul “Mood Disorder” sebagai tugas Mata Kuliah
Semester Tiga.
Semoga Makalah ini dapat menambah wawasan kita semua. Tidak ada yang sempurna, begitu pula dengan penulisan makalah
ini. Oleh sebab itu penulis menerima kritik
positif dari pembaca sebagai perbaikan bagi penulis dimasa yang akan datang.
Semoga makalah ini bermanfat.
Akhir kata penulis ucapkan “Terima Kasih”.
Palembang, 21
Oktober 2015
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................2
1.3. Tujuan
Penulisan...................................................................................2
BAB II PEMBAHASAAN
2.1 Pengertian Mood Disorder.....................................................................3
2.2 Jenis Gangguan Suasana
Hati................................................................3
2.3 Mekanisme
Mood Disorder...................................................................5
2.4 Faktor Penyebab Mood Disorder............................................................7
2.5 Terapi Untuk Gangguan Suasana Hati...................................................8
2.6 Gejala Gangguan Mood Depresi..........................................................10
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan...........................................................................................11
3.2 Saran.....................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam
menjalani hidup ini, setiap orang pasti akan mengalami situasi apa pun.
Bahagia, sedih, beruntung, bosan, kecewa, semuanya akan datang silih berganti.
Kondisi apa pun itu, yang perlu dilakukan bukan menghindari atau menyesali tapi
menghadapinya. Setiap persoalan pasti ada solusi. Kita hanya dituntut satu hal,
yaitu berusaha. Berusaha untuk mencapai yang terbaik dan berusaha untuk
menyelesaikan persoalan dengan cara yang baik. Begitupun dalam menghilangkan
bad mood, selalu ada cara yang bisa dilakukan.
Bad mood
memang tidak bisa dihindari, namun jangan sampai suasana hati ini merusak
aktivitas yang sudah menjadi kewajiban. Karena jika sudah terserang bad mood,
biasanya akan timbul rasa malas yang luar biasa dan pastinya hari-hari akan
dipenuhi dengan kejengkelan dan pikiran-pikiran yang kurang baik.
Jika suasana
hati seperti ini datang menghampiri, segera kendalikan diri dan temukan suasana
hati positif. Yang perlu dilakukan hanyalah mengelola dan memastikan porsi good
mood agar lebih besar dibanding bad mood.
1.2 Rumusan Masalah
a) Apa Pengertian Mood Disorder!
b) Apa Saja Jenis Gangguan Suasana Hati!
c) Bagaimana Mekanisme Mood
Disorder!
d) Apa Saja Faktor Penyebab Mood Disorder!
e) Bagaimana Terapi Untuk Gangguan Suasana
Hati!
1.3 Tujuan Masalah
a) Untuk Mengetahui Pengertian Mood
Disorder?
b) Untuk Mengetahui Jenis Gangguan Suasana
Hati?
c) Untuk
Mengetahui Mekanisme Mood Disorder?
d) Untuk Mengetahui Faktor
Penyebab Mood Disorder?
e) Untuk Mengetahui Terapi Untuk Gangguan
Suasana Hati?
BAB II
PEMBAHAN
2.1 Pengertian
Mood Disorder
Gangguan
hati (mood disorder) disebut juga gangguan afektif. Pengertian mood atau
suasana hati mengacu pada emosi yang berlaman lama mencakup peranana murung
maupun kegembiraan. Disebut gangguan mood karena terjadi ketidaknormalan dalam
suasana hati yaitu berupa kemurungan hebat (depresi) atau kegairahan atau
kegembiraan yang abnormal.
2.2 Jenis Gangguan Suasana Hati
DSM IV membedakan gangguan suasana hati ada dua,
yaitu unipolar (satu kutub) dan bipolar (dua kutub).
a)
Gangguan
unipolar
Gangguan unipolar terdiri dari gangguan
depresi utama (Major Depressive Disorder) dan Gangguan Dysthylania. Ciri
yang menonjol dari gangguan Depresi Utama adalah suasana hati yang murung.
Penderita mengalami gejala yang disebut “depressive triad” yaitu mempunyai
pandangan yang buruk tentang diri sendiri. Diri sendiri dipandang tidak
berharga, pengalaman sehari-hari dan interaksi sosial dianggap menyebalkan dan
masa depan dipandang dengan pesimistis. Penderita merasa putus asa, tidak ada
semangat dan apatis.
Dalam DSM IV dikemukakan paling sedikit harus ada 5
gejala atau lebih dan berlangsung minimal 2 minggu untuk memenuhi kriteria
Gangguan Depresi Utama yaitu;
- Suasana hati murung sepanjang hari sebagaimana dilaporkan oleh penderita (merasa sedih atau hampa) atau dari observasi orang lain (terlihat menangis).
- Menurunnya minat dan kesenangan pada semua aktivitas secara mencolok.
- Menurunnya atau bertambahnya berat badan secara mencolok (lebih dari 5 persen dari berat badan dalam sebulan; berkurangnya atau bertambahnya selera makan).
- Mengalami gangguan tidur: insomnia (tidak bisa tidur) atau hipersomnia (terlalu banyak tidur).
- Agitasi atau meningkatnya psikomotor (misalnya tidak bisa duduk dengan tenang); retardasi atau melambatnya psikomotor (misalnya gerakan tubuh yang lambat).
- Merasa kelelahan atau kehilangan tenaga.
- Merasa tidak berharga atau merasa bersalah.
- Menurunnya kemampuan untuk berfikir, konsentrasi dan mengambil keputusan.
- Sering muncul pikiran ingin mati atau bunuh diri.
Penting untuk mengenali perbedaan
antara depresi klinis dengan sussana hati berkabung, misalnya karena kematian
orang yang sangat dekat. DSM IV menganjurkan bahwa diagnosa depresi utama
diberikan jika kematian pasangan lebih dari dua bulan dan penderita masih
menunjukkan gejala depresi seperti kriteria diatas. Disamping kriteria
disamping kategori depresi utama, juga dikenal kategori depresi pertengahan
atau Dysthimia yang berada diantara depresi utama dan suasana hati normal.
Gangguan depresi merupakan gangguan
suasana hati yang serius. Gangguan ini lebih banyak ditemuui pada wanita
daripada pria. Menurut penelitian salah satu alasannya adalah bahwa pria lebih
banyak melakukan kegiatan yang mampu mengalihkannya dari depresi. Sebaliknya
wanita mempunyai keterbatasan untuk melakukan berbagai aktivitas yang mampu
mengalihkan perhatian dari depresi.
Depresi bisa juga terjadi pada anak
dan remaja. Pada remaja depresi biasa- nya berhubungan dengan kegelisahan,
tingkah laku negativistik dan aktivitas antisosial. Depresi pada orang lanjut
usia biasanya disebabkan oleh kematian pasangan. Beda dengan kehilangan pada
orang dewasa, kehilangan pada usia tua biasanya tidak tergantikan. Depresi
berpengaruh kuat terhadap kehidupan seseorang. Penderita ada yang mengatasinya
dengan penyalahgunaan obat-obatan seperti alkohol.
Menurut penelitian, proses biokomia
dalam otak berperan dalam per- kembangan gangguan depresi. Zat yang penting
adalah amine biogenik yang bertindak sebagai neurotransmitter yaitu
mentransmisikan impuls dari neuron satu ke neuron lainnya. Depresi berhubungan
dengan berkurangnya catecholamin di otak.Walaupun faktor biologis berpengaruh,
faktor psikososial misalnya kejadian kehidupan yang menimbulkan stres merupakan
faktor penting dalam berkembang- nya gangguan suasana hati.
b)
Gangguan
Bipolar
Gangguan bipolar terdiri dari gangguan
Manic-Depresiv dan Gangguan Cyclotymia. Penderita bipolar yaitu
Manic-Depresiv mengalami kegairahan yang ekstrem yang disebut episode mania
bergantian dengan depresi hebat sebingga membentuk siklus emosi yang tidak bisa
diramalkan (ibarat naik roller-coaster). Beda dengan gangguan unipolar diatas
yaitu penderita mengalami depresi serius tanpa ada pergantian ke suasana hati
kegairahan mania.
DSM IV memberikan kriteria episode
mania sebagai adanya masa kegairah- an yang berlangsung lama yang terlihat
dari 3 atau lebih gejala berikut:
- Menurunnya kebutuhan untuk tidur, misalnya merasa sudah beristirahat setelah tidur 3 jam saja.
- Lebih banyak berbicara dari biasanya.
- Ide yang meloncat-loncat atau pikiran berkejaran.
- Perhatian mudah beralih ke hal lain.
- Peningkatan aktivitas dalam bidang sosial, pekerjaan, sekolah atau seksual.
- Keterlibatan yang berlebihan dalam aktivitas yang menyenangkan namun berakibat buruk misalnya berfoya-foya, melakukan investasi bisnis yang merugikan.
Bentuk gangguan suasana hati bipolar
yang lebih ringan yang tidak cukup hebat untuk dimasukkan ke dalam episode
mania disebut hipomania (berbeda dalam durasi yaitu lebih pendek dan
intensivitasnya yaitu lebih ringan). Pada hipomania, perubahan suasana hati
tampak jelas tetapi tidak terlalu hebat seperti dalam mania.
Sedangkan Cyclothymia meruapakn
jenis gangguan suasana hati bipolar yang lebih ringan. Penderita cyclothymia
mengalami hipomania dan depresi. Disebutkan diatas bahwa biokimia dalam otak
berperan dalam berkembangnya gangguan depresi. Begitu juga pada mania.
Diakatakan bahwa mania berhubungan dengan kelebihan catecholamin di otak.
2.3 Mekanisme Mood Disorder
mekanisasi
(menciptakan mekanisme pertahanan-diri) untuk menghadapi peristiwa yang sudah
tak bisa diantisipasi. Mekanisme ini dapat kita kelompokkan menjadi dua, yaitu:
a)
Mekanisme internal
Mekanisme internal itu intinya adalah upaya kita menciptakan pikiran,
perasaan, dan keyakinan yang membuat kita menjadi lebih kuat dan lebih
tercerahkan. Mekanisme internal ini bahkan lebih berperan ketimbang mekanisme
eksternal dalam mengkondisikan seseorang menjadi depresi atau tidak. Dalam
prakteknya, belum tentu orang yang di penjara itu lebih depresif ketimbang
orang yang bebas. Belum tentu orang yang namanya dan gambarnya dijadikan
sasaran tudingan dan hinaan di media atau demo itu lebih depresif. Bisa ya dan
bisa tidak, atau bahkan malah bisa semakin matang, tergantung mekanisme
internalnya.
b)
Mekanisme eksternal
Mekanisme eksternal yang bisa kita lakukan antara lain: mengatur (to
manage), mengubah, memperbaiki, atau pindah ke situasi baru. Tapi ini
men-syaratkan kemampuan, kemantapan, dan tangggung jawab. Jika itu belum
sanggup kita jalankan, maka yang bisa kita lakukan adalah menciptakan mekanisme
internal. Jumlah dan bentuk mekanisme internal yang diciptakan Tuhan untuk
mempertahankan hidup itu sangat tak terbatas, dari mulai menciptakan interpretasi
baru, opini baru, definisi baru, makna baru, refleksi baru, sikap baru dan
seterusnya.
Semua dukungan itu hanya akan kita dapatkan setelah ada pondasi yang
kuat, yaitu:
1.
Munculnya dorongan untuk berubah ke
arah yang lebih baik
2.
Menyadari adanya kebutuhan untuk
berubah.
Jika dua hal ini tidak ada, mungkin
semua pintu akan tertutup. Dari laporan penelitian beberapa ahli diakui bahwa
yang membuat orang tak kunjung bisa menguasai mood-nya adalah karena
orang itu tidak menyadari adanya kebutuhan untuk mengubah dirinya. Bahkan
mungkin merasa itulah yang benar.
Berpikir Hidup Ini Hanya Sekali!
Tidak semua
perubahan hidup yang kita nilai sangat fundamental itu harus dimulai dari
pemikiran yang canggih, pintar, dan kompleks. Itulah hebatnya keadilan Tuhan.
Adakalnya bisa dimulai dari pemikiran yang sederhana, yang tidak hanya
diketahui oleh para profesor, dan mungkin salah. Contohnya adalah berpikir
“Hidup ini hanya sekali”. Untuk kita, ini salah karena hidup itu dua kali,
tidak ada kalimat yang canggih di situ, dan tak ada teori yang
melatarbelakanginya. Tapi, jika kita berhasil menggunakannya untuk
mengantisipasi munculnya gaya hidup yang depresif, hasilnya akan canggih.
Dengan berpikir seperti itu, kita akan segera sadar, untuk apa kita membiarkan
diri larut dan hanyut ke dalam gaya hidup yang depresif, wong hidup
hanya seperti mampir ngombe (numpang minum) saja? Kenapa nggak kita
nikmati saja hidup yang hanya sekali ini dengan sekian mekanisme yang bisa kita
buat? “Gitu aja kok repot?”, mengenang ucapan Gus Dur semasa masih
hidup.
2.4 Faktor
Penyebab mood disorder
Berdasarkan
Institut Nasional Kesehatan Mental Amerika Serikat (USA Government's National
Institute of Mental Health) atau NIMH. disorder tidak hanya disebabkan oleh
faktor tunggal saja, melainkan dari banyak faktor yang secara bersama-sama
memicu terbentuknya penyakit ini. Sebenarnya, penyebab mood disorder mungkin
beragam antara individu yang satu dengan yang lain. Akan tetapi, banyak
penelitian yang menunjukkan kontribusi genetik dan pengaruh lingkungan memiliki
peran besar dalam penyakit ini.
a)
Faktor
Genetik
Gen bawaan
merupakan salah satu faktor penyebab bipolar disorder. Seseorang yang lahir
dari orang tua yang salah satunya merupakan pengidap bipolar disorder memiliki resiko
mengidap penyakit yang sama sebesar 15%-30% dan bila kedua orang tuanya
mengidap bipolar disorder, maka 50%-75% anak-anaknya beresiko mengidap bipolar
disorder. Kembar identik dari seorang pengidap bipolar disorder memiliki resiko
tertinggi kemungkinan berkembangnya penyakit ini daripada yang bukan kembar
identik.
Penelitian mengenai pengaruh faktor genetis pada bipolar disorder pernah dilakukan dengan melibatkan keluarga dan anak kembar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 10-15% keluarga dari pasien yang mengalami gangguan bipolar disorder pernah mengalami satu episode gangguan mood (Gherson, 1990, dalam Davison, Neale, & Kring, 2004).
Penelitian mengenai pengaruh faktor genetis pada bipolar disorder pernah dilakukan dengan melibatkan keluarga dan anak kembar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 10-15% keluarga dari pasien yang mengalami gangguan bipolar disorder pernah mengalami satu episode gangguan mood (Gherson, 1990, dalam Davison, Neale, & Kring, 2004).
b)
Faktor lingkungan
Bipolar
disorder tak hanya dipengaruhi oleh gen saja, tetapi juga didorong oleh faktor
lingkungan. Penderita penyakit ini cenderung mengalami faktor pemicu munculnya
penyakit yang melibatkan hubungan antar perseorangan atau peristiwa-peristiwa
pencapaian tujuan (reward) dalam hidup. Contoh dari hubungan perseorangan
antara lain jatuh cinta, putus cinta, dan kematian sahabat. Sedangkan peristiwa
pencapaian tujuan antara lain kegagalan untuk lulus sekolah dan dipecat dari
pekerjaan.
Selain itu,
seorang penderita bipolar disorder yang gejalanya mulai muncul saat masa ramaja
kemungkinan besar mempunyai riwayat masa kecil yang kurang menyenangkan seperti
mengalami banyak kegelisahan atau depresi. Selain penyebab diatas, alkohol,
obat-obatan, dan penyakit lain yang diderita juga dapat memicu munculnya mood
disorder.
2.5
Terapi Untuk Gangguan Suasana Hati
a) Terapi-terapi Psikologis untuk Depresi
1. Terapi Psikodinamik
Disebabkan depresi dianggap berasal
dari perasaan akan kehilangan yang kemudian direpres dan juga kemarahan yang
secara tidak disadari diarahkan ke diri sendiri, maka terapi psikoanalis
mencoba untuk membantu pasiennya memperoleh insight mengenai konflik yang
direpres dan mendorong pelepasan kemarahan yang selama ini diarahkan ke dalam
dirinya. Tujuan dari terapi psikoanalis adalah untuk membuka motivasi
tersembunyi tentang depresi pasien. Pasien seringkali menyalahkan dirinya
sendiri atas kurangnya kasih sayang yang diberikan orang tua dan kemudian
me-repres keyakinan tersebut. Terapis harus membimbing pasiennya untuk
mengkonfrontasi kenyataan dan membantu pasien untuk menyadari rasa bersalah
yang tidak berdasar tersebut. Selain itu juga membebaskan pasien dari
lingkungan masa kecilnya yang penuh dengan tekanan.
Terdapat pula terapi interpersonal
(IPT) dari Klerman dan Weissman’s yang dapat mengatasi gangguan depresi dengan
menekankan pada peningkatan kemampuan interpersonal atau sosial, serta
interaksi dengan orang lain. Terapi tersebut lebih kepada terapi kelompok yang
menekankan pada pemahaman yang baik mengenai masalah interpersonal yang
mendorong depresi. Pasien dibebaskan untuk mendiskusikan berbagai masalah
interpersonal saat ini dan bukan masa lampau.
b.
Terapi Cognitive-Behavioral
Depresi terjadi karena skema yang
negatif dan kesalahan dalam proses berpikir. Terapis mencoba mempersuasi pasien
depresi untuk mengubah pandangan tentang dirinya sendiri dan peristiwa. Terapis
juga meminta pasien untuk memperhatikan pernyataan pribadinya dan
mengidentifikasi semua pola pikirnya yang menyebabkan depresi agar dapat
membuat asumsi yang lebih positif serta realistis. Dapat pula dikembangkan
metode Ellis’s rational emotive dan analisis Beck. Melalui metode tersebut,
pasien dapat diminta untuk melakukan hal positif ketika mengalami depresi atau
terapis memberikan aktivitas pada pasien yang berkaitan dengan pengalaman akankesuksesan
dan membuat pasien berpikir positif mengenai dirinya sendiri. Dengan demikian
pendekatannya adalah melakukan perubahan struktur kognitif dengan cara mempersuasi
pasien memperoleh perbedaan dalam berpikir.
c. Terapi-terapi
Psikologis untuk Gangguan Bipolar
Intervensi cognitive-behavioral
dapat dilakukan dengan target pada pemikiran dan perilaku interpersonal yang
buruk pada saat mood mudah berpindah sehingga lebih efektif. Selain itu,
pemberian pengetahuan mengenai gangguan bipolar dan treatment-nya juga dapat
meningkatkan ketaatan penyembuhan dengan menggunakan lithium, dimana membantu
mengurangi mood yang mudah berpindah dan membuat kehidupan pasien lebih stabil
(Craighead et al., 1998; Peet & Harvey, 1991; Vant Gent, 2000, dalam Davison,
Neale, & Kring, 2004). Masalah yang timbul adalah pasien cenderung
kehilangan insight tentang perilaku mereka yang tidak sesuai dan cenderung
merusak. Hal itu membuat intervensi juga perlu dilakukan pada keluarga dengan
mengajarkan mereka tentang gangguan dan bagaimana harus memperlakukan pasien
serta menciptakan suasana yang mendukung kesembuhan pasien. Dapat pula dilakukan
family-focused treatment (FFT), yaitu pemberian pengetahuan pada keluarga
mengenai gangguan, meningkatkan komunikasi dalam keluarga, dan melatih
kemampuan untuk menyelesaikan masalah (Miklowitz,
2001; Miklowitz & Goldstein, 1997, dalam Davison, Neale, & Kring,
2004). Kombinasi antara terapi obat dan terapi ini lebih efektif dibandingkan
menggunakan terapi obat saja.
d. Terapi-terapi Biologis untuk Gangguan Mood
1. Electroconvulsive therapy (ECT)
Meskipun masih kontrovesial, ECT
yang dikemukakan oleh Cerletti dan Bini dianggap merupakan pengobatan yang
paling optimal untuk depresi yang parah. Elektroda dengan kekuatan antara 70-130
volt diletakkan pada setiap sisi kepala memungkinkan untuk melewati kedua
hemisfer otak, metode ini adalah bilateral ECT. Namun, saat ini lebih sering
diletakkan pada satu hemisfer saja (kiri) untuk mengurangi efek samping pada
kognisi, seperti hilangnya memori. Dulu, pasien melalui ECT dalam keadaan sadar
sehingga terkadang dapat menimbulkan tulang patah. Saat ini, pasien diberikan
bius singkat dan suntikan relaksasi otot sebelum dilakukan ECT. Mekanisme kerja
dari ECT tidak diketahui. Secara umum, ECT mengurangi aktivitas metabolisme dan
sirkulasi darah ke otak. Biasanya dilakukan setelah terapi lainnya mengalami
kegagalan.
2. Drug therapy
Umumnya, obat-obatan lebih sering
digunakan untuk mengatasi gangguan mood. Namun tidak dapat diterapkan pada setiap
pasien dan efek samping yang ditimbulkan biasanya serius.
a. Terapi Obat untuk Gangguan Depresi :
Obat-obat utama untuk depresi adalah
1) Tricyclics, seperti imipramine (Tofranil), dan
amitriptyline (Elavil).
2) Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs),
seperti fluoxetine (Prozac) dan sertraline (Zoloft).
3) Monoamine oxidase (MAO)
inhibitors, seperti tranylcypromine (Parnate).
Dari ketiga jenis obat tersebut, MAO
inhibitors memiliki efek samping yang paling besar sehingga yang paling banyak
digunakan adalah dua jenis obat yang lainnya. Penggunaan obat antidepresan ini
biasanya juga dikombinasikan dengan penggunaan terapi lainnya. Obat
antidepresan biasanya digunakan untuk depresi.
2.6 Gejala
Gangguan Mood Depresi
a) kemurungan, kesedihan,
kelesuan, hilangnya gairah hidup, tidak ada semangat, merasa tidak berdaya,
perasaan bersalah atau berdosa, tidak berguna dan putus asa.
b) gejala penyerta : sulit konsentrasi
dan daya ingat menurun, nafsu makan dan berat badan menurun, ganggua tidur
disertai mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan, agitasi /retardasi motorik
(gelisah atau perlambatan gerakan, hilangnya perasaan senang, meninggalkan
hobi, kreatifitas dan produktifitas menurun, gangguan seksual, pikiran tentang
kematian dan bunuh diri. salah satu gejala dari gangguan depresi adaalah bunuh
diri, sebanyak 40% penderita depresi mempunyai ide untuk bunuh diri, dan hanya
lebih kurang 15% saja yang sukses melakukannya. angka bunuh diri pada remaja AS
dalam satu tahun antara 1,7-5,9% dan untuk selama hidup antara 3,0-7,1%.
diperkirakan 12% dari kematian pada kelompok anak dan remaja di AS disebabkan
karena bunuh diri. Di Indonesia kasus bunuh diri pada anak belum diketahui
persentasenya.
BAB II
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gangguan hati (mood disorder) disebut juga gangguan
afektif. Pengertian mood atau suasana hati mengacu pada emosi yang berlaman
lama mencakup peranana murung maupun kegembiraan. Disebut gangguan mood karena
terjadi ketidaknormalan dalam suasana hati yaitu berupa kemurungan hebat
(depresi) atau kegairahan atau kegembiraan yang abnormal.
Berdasarkan
Institut Nasional Kesehatan Mental Amerika Serikat (USA Government's National
Institute of Mental Health) atau NIMH. disorder tidak hanya disebabkan oleh
faktor tunggal saja, melainkan dari banyak faktor yang secara bersama-sama
memicu terbentuknya penyakit ini. Sebenarnya, penyebab mood disorder mungkin
beragam antara individu yang satu dengan yang lain. Akan tetapi, banyak
penelitian yang menunjukkan kontribusi genetik dan pengaruh lingkungan memiliki
peran besar dalam penyakit ini.
Gejala Gangguan Mood Depresi meliputi kemurungan, kesedihan, kelesuan,
hilangnya gairah hidup, tidak ada semangat, merasa tidak berdaya, perasaan
bersalah atau berdosa, tidak berguna dan putus asa. Gejala penyerta : sulit
konsentrasi dan daya ingat menurun, nafsu makan dan berat badan menurun,
ganggua tidur disertai mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan, agitasi /retardasi
motorik (gelisah atau perlambatan gerakan, hilangnya perasaan senang, meninggalkan
hobi, kreatifitas dan produktifitas menurun, gangguan seksual, pikiran tentang
kematian dan bunuh diri.
3.2 Saran
Sebagai
konselor sebaiknya memberikan pelayanan dan mencegah agar si peserti didik
tidak mengalami mood disorder.
DAFTRA
PUSTAKA
Supratinya,A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal.Yogyakarta: Kanisius
http://dokumen.tips/documents/makalah-mood-disorder-55ab52320e016.html
https://hamdanjuwaeni.wordpress.com/2010/05/24/gangguan-suasana-hati-mood/
http://fikylee.blogspot.co.id/2012/05/keunikan-mood.html?m=1
http://aswendoaswendo.blogspot.co.id/2012/08/mood-disorder-dan-suicide-bunuh-diri.html
Komentar
Posting Komentar