Nama :Mariyati Jurusan
:Bimbingan & Konseling
Nim :2014 141 106 Mata Kuliah :Model-Model Konseling
Kelas :6/C Dosen
Pengampu :Erfan Ramadhani, M.Pd., kons.
RESUME
KONSELING
PSIKOANALISIS KLASIK (FREUD)
1.
Pengertian
konseling psikoanalisis klasik
Menurut Corey (2013:14) mengatakan bahwa dalam pandangan
psikoanalisis, sruktur kepribadian terdiri dari tida sistem yaitu, id, ego, dan superego. Ketiganya adalah nama bagi proses-proses psikologis dan
jangan di pikirkan sebagai agen-agen yang secara terpisah mengoperasikn
kepribadian. Id adalah komponen
biologis, ego adalah komponen
psikologis, sedangkan superego
merupakan komponen sosial.
Id
adalah
sistem kepribadian yang orisinal, kepribadia setiap orang hanya terdiri dari id ketika dilahirkan. Id merupakan tempat bersemayamnya naluri-naluri. Id kurang berorganisasi, buta, menuntut
dan mendesak. Id tidak bisa
menoleransi tegangan dan bekerja untuk melepaskan tegangan itu sesegera mungkin
serta untuk mencapai homeostatik. Id tidak
pernah matang dan selalu menjadi anak manja dari kepribadian, tidak berfikir,
dan hanya menginginkan atau bertindak id bersifat tidak sadar.
Ego
adalah
strukutur kepribadian yang tidak diperoleh saat lahir, tetapi dipelajari
sepanjang berinteraksi dengan lingkungannya. Ego memiliki kontak dengan dunia eksternal dari kenyataan,
merupakan eksekutif dari struktur kepribadian yang bertugas memerintah,
mengendalikan, dan mengatur. Ego
mempunyai tugas sebagai “polisi lalu lintas” antara dorongan-dorongan biologis (Id) dan tuntutan atau hati nurani yang
terbentuk dari orang tua, budaya, dan tradisi ( superego). Ego
mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor. Ego bertindak realistis dan berfikir logis dalam merumuskan
rencana-rencana tindakan bagi pemuasan kebutuhan-kebutuhan. Hubungan antara ego dengan id, adalah bahwa ego
adalah tempat bersemayamnya inteligensi dan rasionalitas yang mengawasi dan
mengendalikan impuls buta id,
sementara id hanya mengenal kenyataan
yang subyektif.
Superego, merupakan
aspek kepribadian yang berisikan nilai-nilai atau kode moral masyarakat yang di
internalisasi oleh anak melalui pedidikan orang tua. Superego
merepresentasikan hal-hal yang ideal, dan mendorong individu kepada
kesempurnaan, bukan kesenangan semata. Dapat dikatakan superego merupakan kata hati seseorang dan sebagai alat kontrol
dari dalam individu untuk menentang kehendak Id. Tempatnya pada alam sadar dan terbentuk sejak kanak-kanak lalu
terus berkembang hingga dewasa. Superego
berkaitan dengan imbalan-imbalan dan hukuman-hukuman.
2.
Karakteristik
konseling psikoanalisis klasik
Menurut Hansen (Taufik:
2016) menyebutkan Karakteristik konseling psikoanalisis klasik memandang
tingkah laku manusia didasarkan atas tiga asumsi dasar yang dapat mempengaruhi
perkembangan pribadi manusia. Ketiga asumsi tersebt dapat di jelaskan sebagai
berikut;
a. Lima
tahun pertama merupakan saat yang menentukan perkembangan manusia
Pengalamann yang di
peroleh anak pada masa umur di bawah lima tahun, khususnya pengalaman traumatis
akan dapat menimbulkan kesan negatif pada diri anak setelah mereka berkembang
menjadi dewasa, begitu juga sebaliknya. Keadaan terjadi karena pada diri mereka
akan tinggal kesan tentang keadaan dunia yang menyenangkan.
b. Dorongan
seksual merupakan kunci dalam menentukan tingkah laku individu
Menurut freud, hampir
setiap tingkah laku individu itu, muncul karena didasari oleh dorongan seksual.
Bahwa seorang mahasiswa belajar di perguruan tinggi pada dasarnya adalah dalam
rangka pemenuhan dorongan seksual. Dorongan sesksual yang dimaksudkan disini
bukanlah diarikan khusus menyangkut hubungan seksual, namun dalam arti yang lebih luas; yaitu dorongan untuk
menampilkan ke priaan dan kewanitaan. Seorang anak gadis yag memakai lipstik
bibir, rok, kalung emas, jilbab dan lain-lainnya itu adalah karena dorongan kewanitaannya.
Begitu juga halnya dengan laki-laki yang pakai peci, kemeja, memelihara
jenggot, penggulat dan sebagainya adalah juga karena dorongab seksual
kepriaannya.
c. Tingkah
laku individu banyak di kontrol oleh faktor ketidaksadaran
Tingkah laku individu
banyak di kontrol oleh faktor ketidaksadaran. Tingkah laku itu dapat terlihat
dari misalnya cara seseorang berbicara, cara duduk, cara berjalan dan
kebisaan-kebiasaannnya lainnya. Cara-cara bertingkah laku tersebut mungkin
diadopsi dari tingkah laku orang tua atau nenek moyangnya di masa lalu. Tingkah
laku yang di tampilkan itu barangkali tidak disadari oleh yang bersangkutan
dari mana ia memperolehnya. Begitu juga halnya apabila seseorang bermimpi
berada di suatu tempat yang belum pernah di kunjunginya, maka freud menganggap
hal itu sebagai tingkah laku yang tidak disadari.
3.
Teknik-teknik
konseling psikoanalisis klasik
Menurut Corey (2013:42) Terdapat 5 teknik dasar dalam
konseling psikoanalisis, yaitu :
a. Asosiasi
bebas
Asosiasi bebas merupakan teknik
utama terapi psikoanalisis. Analisis meminta kepada konseli agar membersihkan pikirannya dari
pemikiran-pemikiran dan renungan-renungan sehari-hari dan sebisa mungkin,
mengatakan apa saja yang melintas dalam pikirannya, walau menyakitkan, tidak
logis dan tidak relevan kedengarannya. Cara khas ialah konseli berbaring di
atas balai-balai sementara analisis duduk di belakangnya sehingga tidak
mengalihkan perhatian konseli pada saat aosiasi-asosiasinya mengalir bebas.
Di sini konseli diminta untuk
memanggil kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan-pelepasan
emosi yang berkaitan dengan peristiwa traumatis di masa lampau. Pada teknik
asosiasi bebas konseli mengalami proses katarsis, dimana dia mendapatkan
kebebasan untuk mengemukakan segenap perasaan dan pikiran yang terlintas di
benaknya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Biasanya dilakukan dengan
cara konseli berbaring di atas sofa sementara konselor duduk di belakang
kepalanya sehingga tidak mengganggu perhatian konseli pada saat melakukan
asosiasi bebas.
Selama proses berlangsung tugas
konselor adalah mengenali peristiwa-peristiwa yang di-repres dan dikurung oleh
konseli dalam ketidaksadarannya. Kemudian konselor menafsirkan pengalaman itu,
menyampaikannya kepada konseli dan membimbingnya ke arah peningkatan pemahaman
atas dinamika yang tidak disadari oleh konseli
b.
Penafsiran
Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam
menganalisis aosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi, retensi-retensi, dan
transferensi-tranferesensi. Penafsiran-penafsiran harus tepat waktu, sebab
konseli akan menolak penafsiran-penafsiran yang diberikan pada saat yang tidak
tepat. Sebuah aturan umum adalah bahwa
penafsiran harus disajikan pada saat
gejala yang hendak di tafsirkan itu dekat dengan kesdadarn konseli.
Dengan perkataaan lain, konselor harus menafsirkan bahan yang belum terlihat
oleh konseli, tetapi yang konseli bisa terima dan diwujudkan sebagai miliknya.
c. Analisis mimpi
Analisis mimpi adalah
prosedur untuk menyingkap bahan yang tidak disadari dan memberikan konseli
pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselasaikan. Freud
menyebut mimpi sebagai jalan istimewa menuju ketidaksadaran, sebab melalui
mimpi hasrat, kebutuhan, dan ketakutan yang tidak disadari bisa terungkap.
Mimpi memiliki 2 taraf isi yaitu isi laten dan isi manifes, isi
laten terdiri dari motif-motif yang tersembunyi dan simbolis, sebaliknya isi
manifes yaitu gambaran yang tampak dalam mimpi yang dialami oleh individu.
Tugas konselor disini adalah untuk menyingkap isi laten yang tergambar dalam
isi manifes mimpi konseli, serta mengasosiasikannya guna menyingkap makna-makna
terselubung di dalamnya.
d.
Analisis dan penafsiran resistensi
Resistensi adalah
sesuatu yang menghambat kelangsungan terapi dan mencegah konseli mengungkapkan
alasan-alasan kecemasannya. Freud berpendapat bahwa hal ini tidak bisa
dibiarkan karena akan menghambat proses konseling. Penafsiran terhadap
resistensi harus dilaksanakan untuk membantu konseli menyadari alasan-alasan
yang ada di balik resistensi dan kemudian mampu menyelesaikan konfliknya secara
realistis. Dalam konseling, konselor
membantu klien mengenali alasan-alasan klien melakukan resisitensi sebaiknya dimulai
dari hal-hal yang sangat tampak untuk menghindari penolakan atas interpretasi
konselor. Teknik-teknik
spesifik ini tidak biasa dilakukan dalam hubungan konseling, tetapi lebih
banyak digunakan dalam psikoterapi dalm membantu pasien yang mengalami psikopatologis.
e.
Analisis dan
penafsiran transferensi
Transferensi
terjadi ketika terdapat sebuah “urusan yang belum selesai” dengan orang-orang
penting di masa lalu, yang terdistorsi ke masa sekarang dan memberikan reaksi
kepada konselor sebagaimana dia bereaksi terhadap ayah atau ibunya pada masa
kanak-kanak. Di sini konselor melakukan penafsiran agar konseli mampu
menembus konflik masa lalu, dan menggarap konflik emosional yang terdapat pada
hubungan terapeutiknya bersama sang konselor.
4.
Analisis
dan penerapan konseling psikoanalisis klasik
Menurut Corey (2013:47) Penerapan dari psikoanalisis yang di anggap
sebagai suatu pandangan tentang manusia, sebagai suatu model pemahaman tingkah
laku, dan sebagai sutau mode terapi bagi para konselor dimana pendekatan dapat
diterapkan pada konseling sekolah yang berguna juga di klinik-klinik konseling
di masyarakat dan pada biro-biro pelayanan masyarakat pemerintah dan swasta
lainnya. Beberapa penerapan yang khas dari pandangan psikoanalisis mencangkup sebagai berikut;
a. Pemahaman
atas risestensi-risestensi yang mengambil bentuk pembatalan janji mendatangi
pertemuan terapi, penghentian terapi sebelum waktunya dan penolakan untuk
melihat diri sendiri.
b. Pemahan
atas peran hubungan-hubungan masa dini yang mengarah pada kelemahan dan
perkembangan yang keliru, serta menyadarkan konseli bahwa urusan yang tak selesai dapat di tembus
sehingga bisa meletakkan suaru akhir baru pada sejumlah peristiwa yang telah
menyebabkan dia kerdil secara emosional.
c. Pemahaman
atas nilai dan peran transferensi yang
muncul pada banyak hubungan konseling.
d. Memahami
bagaimana penggunaan
pertahanan-pertahanan ego yang
berlebihan bisa menjauhkan konseli dari fungsi yang efektif, dan
menyampaikan cara-cara bekerjanya
petahanan-pertahanan ego , baik dalam
hubungan konseling itu sendiri maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Referensi:
Corel. Gerald. 2013. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : REFIKA
ADITAMA
Taufik. 2016. Pendekatan
dalam Konseling. Padang : UNIVERSITAS NEGERI PADANG
Komentar
Posting Komentar