LAPORAN INDIVIDU PRAKTEK BIMBINGAN DAN KONSELING LUAR SEKOLAH DI KANTOR KELURAHAN SILABERANTI KEC. JAKA BARING
LAPORAN
INDIVIDU
PRAKTEK
BIMBINGAN DAN KONSELING LUAR SEKOLAH
DI
KANTOR KELURAHAN SILABERANTI KEC. JAKA BARING
STUDI KASUS “MR” KECANDUAN NGELEM SEJAK
LULUS SD
Di
susun Oleh :
NAMA : MARIYATI
NIM : 2014 141 106
SEMESTER : 7.C
JURUSAN :
ILMU PENDIDIKAN
PRODI :
PENDIDIKAN BIMBINGAN DAN KONSELING
DOSEN
PEMBIMBING : M. Ferdiansyah, M.Pd, Kons.
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PGRI PALEMBANG
2017
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
wr.wb
Dengan
menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami panjatkan
puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami. Shalawat
dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi
Muhammad SAW. Sehingga laporan ini dapat di selesaikan dengan baik dan tempat pada waktunya. Laporan ini bertujuan untuk melengkapi persyaratan dalam pelakasanaan
tugas program Praktik Bimbingan
Konseling Luar Sekolah (BKLS) pada Jurusan Ilmu Pendidikan. Program Studi
Pendidikan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan di Kantor Kelurahan Silaberanti
Kec. Jakabaring (Pecahan Seberang Ulu I) Palembang, di mulai
tanggal 7 November s.d 19 Desember 2017.
Bimbingan Konseling Luar Sekolah (BKLS) merupakan
salah satu mata kuliah yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa Program Studi Bimbingan
Konseling, disamping itu juga merupakan salah satu
kegiatan intrakurikuler yang harus dilaksanakan di mahasiswa yang mencakup
latihan mengajar maupun tugas-tugas pendidikan terbimbing dan terpadu untuk
menerima masukan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis
mengucapkan terimakasih yang setulus-tulusnya kepada :
1.
Rektor Universitas PGRI Palembang, Bapak
Dr Dr. H. Bukman Lian M.M., M.Si.
2.
Dekan FKIP Universitas PGRI Palembang, Ibu Dra. Misdalina M.Pd
3.
Ketua Jurusan Imu Pendidikan, Ibu Dr. Hj. Taty Fauzi,
M.Pd
4.
Ketua Program Studi Pendidikan Bimbingan dan
Konseling serta
selaku Dosen Pembimbing Praktik Bimbingan Konseling Luar Sekolah (BKLS), Bapak
M. Ferdiansyah, M.Pd. Kons.
5.
Kepala Kantor Kelurahan Silaberanti Kec. Jakabaring, Ibu Rita Asmara S.E
6.
Mentor Praktik Bimbingan Konseling Luar Sekolah (BKLS), Bapak Meko Ginta
S.E
7.
Seluruh Staf Kantor Kelurahan Silaberanti Kec. Jakabaring).
8.
Orangtua dan Keluarga Penulis yang tercinta yang
telah memberikan dukungan, baik moril maupun materil.
9.
Rekan-rekan Praktik Bimbingan Konseling Luar Sekolah (BKLS) atas kerjasamanya selama melaksanakan BKLS.
10.
Konseli Studi Kasus Praktik Bimbingan Konseling Luar Sekolah (BKLS).
Penulis
menyadari didalam penulisan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan dan
kesalahan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
membangun untuk dijadikan masukan dimasa yang akan datang.
Akhir kata, penulis
mengharapkan semoga Laporan Praktik Bimbingan Konseling Luar Sekolah (BKLS) ini
dapat bermanfaat untuk kita semua, khususnya bagi mahasiswa Program Studi
Pendidikan Bimbingan dan Konseling.
Palembang, Desember 2017
Penulis,
PENULIS
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL.............................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN................................................................................ ii
KATA PENGATAR............................................................................................. iii
DAFTAR ISI .... v
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................................................. 1
1.2 Permasalahan.............................................................................................. 1
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 2
1.4 Manfaat........................................................................................................ 3
BAB II GAMBARAN UMUM
TEMPAT PRAKTIK............................................
2.1 Historis dan Geografis................................................................................
2.2 Organisatoris dan Lain-lain.........................................................................
BAB III KEGIATAN
PENAGANAN KASUS...................................................... ....
BAB IV PENUTUP...............................................................................................
4.1 Kesimpulan.................................................................................................
4.2 Saran
DOKUMENTASI
LAMPIRAN
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Pendidikan pada dasarnya dapat
menjadikan seseorang memiliki pengetahuan yang luas, memiliki kecerdasan yang
tinggi, memiliki tingkah laku yang baik, memiliki rasa percaya diri dan mandiri
dalam membuat sebuah keputusan dan bertanggung jawab. Sehubungan dengan hal ini
pendidik/ konselor yang baik adalah orang yang dapat memanfaatkan sarana yang
tersedia, mampu menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan kepada peserta didik.
Universitas PGRI Palembang merupakan
salah satu lembaga pendidikan tinggi yang menghasilkan tenaga pendidik yang
baik dan professional. Berbagai keterampilan dan pengetahuan harus dikuasai
oleh guru dan pendidik tersebut.
Bimbingan
dan Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara
perorangan maupun kelompok, agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam
bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karir,
melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma – norma
yang berlaku. saat ini, Bimbingan dan Konseling mulai dikembangkan dan
dibutuhkan dalam setiap lembaga, instansi pemerintah dan pranata sosial. Hal
itu disebabkan karena disetiap lembaga, instansi dan pranata sosial sering
timbul persoalan atau masalah yang menuntut diperlukannya bantuan untuk
membantu mengentaskan masalah tersebut.
Untuk
menjadi konselor yang professional, maka mahasiswa jurusan Bimbingan dan
Konseling memerlukan latihan dalam bentuk tindakan nyata dalam suatu proses
Bimbingan dan Konseling. Dengan dimasukkannya kurikulum
Praktik Lapangan Bimbingan dan Konseling Luar Sekolah dalam proses perkuliahan
maka mahasiswa diberi kesempatan untuk mengaplikasikan berbagai layanan
Bimbingan dan Konseling sesuai dengan kebutuhan lembaga, instansi diluar
lingkungan sekolah. Demi terciptanya guru BK yang professional,
mahasiswa BK sebagai calon guru BK wajib
mengikuti BK di Luar Sekolah (BKLS).
BK Luar Sekolah (BKLS) merupakan suatu proses pembelajaran dalam program kependidikan yang
dirancang untuk melatih mahasiswa sebagai calon seorang guru BK untuk menguasai kompetensi guru BK secara utuh dan integral melalui magang pada
lembaga di luar sekolah. BK Luar Sekolah (BKLS) juga
memberikan bekal kepada mahasiswa sebagai calon seorang guru BK agar mempunyai kompetensi, seperti memahami
secara mendalam seorang klien yang hendak dilayani, menguasai landasan teoritik
bimbingan dan konseling, mampu untuk menyelenggarakan
bimbingan dan konseling kepada klien yang sifatnya memandirikan, mengembangkan pribadi dan profesionalitas yang
berkelanjutan, memiliki daya saing sesuai dengan tuntutan pembangunan nasional
dan kemajuan IPTEK, serta mampu
menerapkannya dalam situasi yang nyata. Dengan demikian BK Luar Sekolah (BKLS) sangatlah
besar manfaatnya bagi calon guru BK untuk
digunakan sebagai sarana menimba ilmu demi terciptanya tenaga guru BK yang professional. Hal ini sesuai dengan visi dan misi, dimana visi seorang konseling menghendaki
terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang
membahagiakan melalui tesedianya pelayanan bantuan dalam pemberian dukungan
perkembangan dan pengentasan masalah agar individu berkembang secara optimal,
mandiri dan bahagia. Sedangkan misi konseling terdiri dari misi pendidikan,
misi pengembangan, dan misi pengentasan
masalah.
Adapaun Sasaran Praktik BK diLuar
sekolah (BKLS) yang di
tetapkan oleh universitas PGRI Palembang, Fakultas Ilmu Pendidikan, Program
Studi BK adalah masyarakat ada diluar lembaga pendidikan
seperti di Kantor Kelurahan, Lembaga Swadaya Masyarakat, KUA, Balai
Pemasyarakatan, Pengadilan Agama, Panti Sosial dan lain sebagainya. Dalam
praktik BKLS ini mahasiswa melakukan Studi Kasus melalui tahapan observasi dan
melakukan penanganan kasus melalui tahapan-tahapan konseling.
Individu memiliki masalah yang
bervariasi, permasalahan yang dihadapi bersifat pribadi, social, belajar, atau
karir. Analisa Studi Kasus berkaitan dengan permasalahan individu maupun
kelompok yang memiliki gejala dan karakteristik yang dianggap menyimpang
sehingga membutuhkan penyelesaian dengan menggunakan metode-metode bimbingan
dan konseling. Metode yang dapat digunakan seperti teknik pengumpulan data,
diagnosis, prognosis, dan treatment.
B. Permasalahan
Konselor professional harus mampu
menguasai bidang ilmu pengetahuan yang sesuai dengan profesinya. Kemampuan
tersebut tidak hanya pada kemampuan akademik saja. Tantangan bagi konselor
professional adalah harus mampu mempraktekkan ilmu pengetahuannya pada
masyarakat luas baik disekolah maupun diluar sekolah. Keterampilan konselor
tidak hanya didapatkan dari lingkungan kampus saja sehingga kegiatan BKLS
merupakan salah satu kegiatan yang mutlak harus ditempuh oleh mahasiswa
Bimbingan dan Konseling agar mampu membantu individu dalam menyelesaikan
berbagai permasalahan dan mampu membimbing individu menjadi lebih mandiri.
Pada
kesempatan ini kami ditempatkan untuk melaksanakan
BK diluar sekolah
(BKLS) sebuah lembaga KESBANGPOL yaitu Kantor Kelurahan
Silaberanti, kecamatan Jaka Baring. Dalam hal ini kami di beri
kesempatan praktek selama 40 hari terhitung dari 7 November Sampai 19 Desember 2017.
Dalam Bimbingan dan Konseling
Luar Sekolah ini praktikum dituntut untuk membantu individu yang mengalami
suatu masalah agar individu tersebut menjadi individu yang mandiri dan mampu
menghadapi masalah yang sedang dihadapi.
Untuk diperlukan kesiapan
mental sebagai mahasiswa untuk menghadapi kliensecara menyeluruh mudah-mudahan
dengan adanya Bimbingan dan Konseling Luar Sekolah mahasiswa dapat mempersiapkan diri baik
mental maupun spiritual menghadapi bermacam-macam permasalah di masa yang akan
datang.
C. Tujuan
dan Manfaat
1. Tujuan
a. Bagi
Mahasiswa
I. Tujuan Umum
Secara umum
tujuan Praktik Lapangan Bimbingan dan Konseling Luar Sekolah adalah
meningkatkan wawasan, ketrampilan, dan sikap mahasiswa dalam melaksanakan
layanan Bimbingan dan Konseling pada berbagai instansi maupun lembaga
pendidikan non-formal lainnya, instansi pemerintah atau swasta.
II.
Tujuan
Khusus
Tujuan khusus dalam praktik BK Luar Sekolah (BKLS) antara lain:
a) Untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam merancang
program satuan layanan dan layanan pendukung BK pada komunitas masyarakat,
lembaga pemerintah, swasta, dan lembaga kemasyarakatan untuk kurun waktu
tertentu dengan memperhatikan lokasi praktek
b) Untuk memasyarakatkan dan menggerakkan kerja sama
dengan pihak terkait untuk penyelenggaraan program BK yang komprehensif.
c) Untuk memberikan pelayanan Bimbingan dan Konseling
pada masyarakat di lokasi praktik.
d)
Melatih
mahasiswa BK sebagai calon konselor sehingga mampu mengembangkan diri sesusai dengan tuntutan perkembangan
kemajuan di masyarakat.
e)
Agar dapat
memperoleh ilmu pengetahuan, keterampilan, kemampuan, nilai-nilai dan sikap yang diperlukan
untuk membantu proses pemberian bantuan di bidang bimbingan dan konseling.
f)
Agar mampu menerapkan ilmu pengetahuan di manapun
berada dengan professional.
g)
Agar dapat mempelajari berbagai permasalahan yang ada
secara langsung beserta penyelesaiannya.
b. Bagi
Konseli
a) Konseli
dapat memahami
perkembangan diri sesuai dengan tingkat perkembangan.
b) Konseli
dapat memutuskan sesuatu keputusan secara mandiri dan konseli mampu mempertanggungjawabkan
keputusannya.
c) Dapat meringankan beban konseli apabila kembali ke masyarakat
d) Konseli
mampu melanjutkan
hidupnya pada arah yang lebih
baik lagi dan masyarakat
dapat menerima
kembali konseli yang bermasalah.
e) Dapat
menumbuhkan rasa percaya diri pada konseli sehingga dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
2. Manfaat
Manfaat BK di Luar Sekolah (BKLS) antara lain:
1. Bagi masyarakat pada umumnya, dapat mencegah dan
mengatasi terjadinya masalah-masalah sosial dan pribadi yang dapat memicu konflik
sosial sebagai akibat dari perubahan situasi dan kondisi kehidupan masyarakat.
2. Bagi masyarakat kelompok usia produktif dan usia
sekolah, dapat mencegah terjadinya masalah kehidupan belajar dan karier dalam
masyarakat yang tidak memperoleh layanan bimbingan dan konseling di pendidikan
formal.
3. Bagi mahasiswa dapat memperluas jangkauan layanan,
menambah pemahaman dan keterampilan yang dibutuhkan untuk pengembangan
profesionalisme sebagai calon konselor ataupun sebagai calon guru bimbingan dan
konseling.
4.
Bagi
lembaga, khususnya FKIP Universitas Palembang, dapat menjadi jembatan dalam
bermitra dengan masyarakat dalam kerangka pelaksanaan tridharma perguruan
tinggi.
BAB
II
GAMBARAN
UMUM KELURAHAN SILABERANTI
KECAMATAN
JAKA BARING
A. Historis dan Geografis
2.1.1
Sejarah kelurahan silaberanti kec. Jaka baring Palembang
Kelurahan Silaberanti
Kecamatan jaka baring terletak di Jalan Silaberanti, kelurahan ini merupakan
kelurahan pemekaran dari 8 Ulu yang berlangsung pada kurun waktu dua setengah
tahun, yang tepatnya pada 27 Februari 1996. Yang kemudian Kecamatan Seberang
Ulu (SU) I pecah lagi sejak tanggal 11 Agustus 2017 menjadi kecamatan Jaka
Baring. Kantor kecamatan Jaka Baring untuk sementara ini beralamatkan di Danau
OPI, yang terdiri dari kelurahan 15 Ulu, Kelurahan Tuan Kentang, 8 Ulu, 9/10
Ulu Dan Kelurahan Silaberanti. Adapun kantor kelurahan silaberanti beralamatkan
di Jl.Silaberanti No.37 RT.28 RW.07 Telp. 0711 511182 Palembang 30252, adapun
Kelurahan ini pernah dipimpin oleh seorang lurah yang diantaranya bernama:
|
No.
|
Nama Lurah yang Pernah / Menjabat
|
Lama Masa Jabatan
|
|
1
|
Drs.
Chotman Silmy
|
8 Tahun, 6 Bulan
|
|
2
|
Indrasari
|
1 Tahun
|
|
3
|
Saharudin,
S.Sos
|
2 Tahun
|
|
4
|
Drs.
Edwin Effendi
|
2 Tahun
|
|
5
|
Muzaltri
|
2 Tahun
|
|
6
|
Naro
Aswani, S.H, M.Si
|
5 Tahun
|
|
7
|
Rita
Asmara, S.E
|
Sekarang
|
2.1.2 Data monografi Kantor kelurahan silaberanti
A.
BIDANG PEMERINTAHAN
1. Luas Dan Batas Wilayah
Luas Kelurahan : 324 Ha
Sebelah Utara : 8,9/10 Ulu
Sebelah Selatan : Plaju Darat
Sebelah Barat : 8 Ulu
Sebelah Timur : 13 Ulu
2. Keadaan Geografis
Dataran Tinggi : -
Dataran Rendah : 324 Ha
3. Orbitrasi (Jarak Dari Pusat
Pemerintahan)
a. Jarak Dari Pusat Pemerintahan
Kecamatan : 3 Km
b. Jarak Dari Pusat Pemerintahan
Kota :
5 Km
I.
PERTANAHAN
1.
Tanah
Kas Kelurahan : 20 X 20 M
2.
Tanah
Bersertifikat : -
3.
Tanah
Belum Bersetifikat : -
II.
KEPENDUDUKAN
1.
a.
Jumlah Penduduk Menurut Kelamin
1) Laki-Laki : 7.693 Orang
2) Perempuan : 8. 079 Orang
b. Jumlah Kepala Keluarga : Kk
c. Kewarganegaraan
1)
WNI : 16. 042 Orang
2) WNA :
- Orang
2.
Jumlah
Penduduk Menurut Kewarganegaraan
1)
Islam
: 15.964 Orang
2)
Kristen :
78 Orang
3)
Katolik :
- Orang
4)
Budha : 2 Orang
5)
Hindu : 1 Orang
3.
Jumlah
Penduduk Menurut Usia
1) 0-6 : 490 Orang
2) 7-12 : 877 Orang
3) 13-15 : 729 Orang
4) 16-20 : 527 Orang
5) 21-25 : 898 Orang
6) 26 Keatas : 1.115 Orang
4.
Jumlah
Penduduk Menurut Pendidikan
1) Lulusan SD : 2.675 orang
2) Lulusan SMP : 2.060 ORANG
3) LULUSAn SMA : 1.805 0rang
4) Lulusan Sarjana : 845 orang
5.
Jumlah
penduduk menurut mata pencaharian
1) PNS :
245 Orang
2) Wiraswasta : 261 Orang
3) TNI/POLRI : 127 Orang
4) Buruh :
1.591 Orang
5) Pensiunan : 201 Orang
6.
Jumlah
penduduk menurut mutasi
1) Meninggal : 11 orang
2) Lahir :
8 orang
3) Datang : 9 orang
4) Pergi :
22 orang
III. JUMLAH PERANGKAT KELURAHAN
1)
SEKLUR : 1 Orang
2)
Kasi : 3 Orang
3)
Staf : 5 Orang
IV. JUMLAH RT/RW
1)
RW
: 6 RW
2)
RT :
43 RT
V. PAJAK BUMI DAN BANGUNAN
1) Jumlah WP : 3.679 Orang
2) Jumlah SPPT : 3.679 Orang
3) Jumlah Ketetapan : Rp. 200.830.077.-
4) Jumlah Realisasi : Rp. 899.511.211,-
VI. KEAMANAN KELURAHAN
1) Jumlah Hansip : 6 Orang
2) Alamat Pemadam Kebakaran : 3 Orang
3) Pos Kamling : 5
Orang
B. BIDANG PEMBANGUNAN
I.
AGAMA
Saranan
Peribadahan
1) Jumlah Masjid : 9 Buah
2) Jumlah Musholah : 17 Buah
3) Jumlah Gereja : - Buah
4) Jumlah Wiraha : - Buah
5) Jumlah Pura : - Buah
II.
KESEHATAN
1) Rumah Sakit Pemerintah : - Buah
2) Rumah Sakit Swasta : - Buah
3) Jumlah Klinik Kb : 1 Buah
4) Jumlah Akseptor : 5.822 Buah
5) Jumlah Posyandu : 12 Buah
6) Jumlah Puskesmas Pembantu : 1 Buah
III. SARANA PENDIDIKAN
1.
TK
Negeri : - Buah
2.
TK
Swasta :
3 Buah
3.
SD
Negeri : 3 Buah
4.
SD
Swasta : 1 Buah
5.
SMP
Negeri : 3 Buah
6.
SMP
Swasta : - Buah
7.
SMA
Negeri :- Buah
8.
SMA
Swasta : 1 Buah
9.
PT
Negeri : - Buah
10.
PT
Swasta : 1 Buah
IV.
SARANA
OLAHRAGA/KEBUDAYAAN
1) Jumlah Sarana Olahraga :- Buah
2) Jumlah Sarana Kesehatan :- Buah
3) Jumlah Sarana Sosial :- Buah
V.
INDUSTRI
1) Jumlah Jenis Usaha Industri : 8 Jenis
2) Jumlah Usaha Industri : 23 Buah
VI. PERTANIAN
1) Padi :
-Ton
2) Sayur : -
3) Buah-Buahan :-
VII.
PERIKANAN
1) Jumlah Jenis Usaha Perikanan : - Jenis
2) Jumlah Usaha Perikanan : - Ha
3) Jumlah Hasil Perikanan : Ha
VIII. PERTERNAKAN
1) Jumlah Jenis Usaha Perternakan : - Jenis
2) Jumlah Binatang Ternah : - Ekor
IX. PERDAGANGAN/JASA
1) Jumlah Jenis Sarana Perdagangan : Ruko Jenis
2) Jumlah Sarana Perdagan :
12 Buah
X. PEREKONOMIAN
1) Jumlah Sarana Jenis Koperasi : I Jenis
2) Jumlah Sarana Koperasi : 1 Buah
XI. PERUMAHAN
1) Rumah Permanen : 300 Buah
2) Rumah Semi Permanen : 1.200 Buah
3) Rumah Non Permanen : 1.800 Buah
XII.
KELEMBAGAAN
KELURAHAN
1) JUMLAH PENGURUS LPMK :
35 ORANG
2) JUMLAH KADER PENGEMBANGAN : 6 ORANG
3) PKK
a. Jumlah Kader Penggerak Pkk : 21 Orang
b. Jumlah Kader Pkk : 60 Orang
C. BIDANG KEMASYARAKATAN
I.
AGAMA
1) Majelis Taklim : 9 Kelompok
2) Majelis Gereja : - Kelompok
3) Majelis Budha : - Kelompok
4) Majelis Hindu : - Kelompok
II.
ORGANISASI
1.
Pramuka
Gudep : 135
2.
Lsm : 1
3.
Kelompok
Pkk : 43
4.
Dasa
Wisma : 43
KEPALA KELURAHAN
SILABERANTI
RITA ASMARA
NIP. 1974060519950320002
|
2.2.1 Struktur
Kelurahan Silaberanti
2.2.2
Tugas dan Fungsi Pegawai Kelurahan Silaberanti
Agar kegiatan kelurahan berjalan
dengan baik, maka diperlukan pembagian tugas kepada para personil kelurahan
Silaberanti. Adapun pembagian tugasnya sebagai berikut:
1. Peraturan Walikota Palembang No. 24
tahun 2010 tentang tugas pokok, fungsi, dan uraian tugas kecamatan
2. Peraturan Walikota Palembang N0. 25
tahun 2010 tentang tugas pokok, fungsi, dan uraian tugas kecamatan
BAB
III
KEGIATAN
PENANGANAN KASUS
STUDI
KASUS “MR” KECANDUAN NGELEM SEJAK LULUS SD
3.1 Gambaran
Umum Kasus
“MR”
adalah anak ke 7 dari 8 bersaudara, kakak “MR” sudah menikah 5 orang dan 1
masih duduk di kelas 8 SMP dan adik “MR” masih duduk di kelas 3 SD, melalui
wawancara dengan Ibunya, “MR” tidak mau lagi lanjut sekolah karena “MR” merasa
sekolah itu melelahkan dan tidak mau belajar, saat itu “MR” sangat malas untuk
datang ke sekolah meski pun “MR” diantar
Ibunya ke sekolah tapi “MR” tetap menolak untuk ke sekolah karena malas,
ayahnya “MR” sudah meninggal semenjak “MR” duduk kelas 1 SD, kata Ibunya “MR”
memang mengalami kesulitan belajar, mengingat, membaca pun duduk di kelas 4 SD
masih terbata-bata. Selama sekolah SD “MR” lebih memilih bekerja membantu ibunya
jualan di pasar, atau pergi memulung untuk mengisi waktu dan menghindari pergi
sekolah. Saat memulung “MR” bertemu dengan teman yang juga tidak sekolah dan
sekarang menjadi teman akrabnya, teman akrab nya inilah yang menyebarkan virus
ke “MR”, teman menawari lem kepada “MR”, awalnya menolak, lama kelamaan “MR”
pun terayu oleh temannya. Inilah awal “MR” kenal denga lem aibon. Penjelasan ini di dapat langsung dari “MR”.
3.2. Kegiatan
Pelaksanaan Praktik
Kegiatan pelaksanaan BKLS yang
bertempat di Kelurahan Silaberanti Palembang,Lrg. Prima RT.42 merupakan tempat
observasi penulis terhadap klien tersebut. Kegiatan praktik dimulai pada
tanggal 24 Nopember 2017 sampai dengan
17 Desember 2017. Sebagai syarat mata kuliah Bimbingan dan Konseling Luar
Sekolah (BKLS).
3.3. Identifikasi
Kasus
3.3.1
Identitas
Klien
Nama : “MR”
Umur :
13 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Anak ke : 7
dari 8 saudara
Agama :
Islam
Pendidikan : Lulusan
SD
Kulit :
Kuning langsat
Alamat :
Lrg. Prima RT.42 Kel. Silaberanti
3.3.2
Identitas
Orang tua
Nama Ayah :
Alm. “M”
Umur :
-
Agama : -
Asal Daerah : Oku Selatan
Pendidikan : Tidak
Lulus SD
Pekerjaan : -
Alamat :
-
Nama Ibu :
“N”
Umur :
49 Tahun
Agama :
Islam
Asal Daerah : Oku Selatan
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Jualan sayur di pasar pagi silaberanti
Alamat :
Lrg. Prima RT.42 Kel. Silaberanti
3.4.
Pengumpulan Data
3.4.1 Keadaan Sosial Ekonomi
Dari hasil pengamatan dan wawancara
“MR” tinggal di rumah yang sederhana dinding papan berlantaikan papan, rumah
terdapat 3 kamar kecil, dapur dan ruang tamu di dalam rumah hanya ada televisi
kursi plastik 6 buah beserta meja, lemari, dan alat masak. Wawancara yang dilakukan
terhadap Ibunya diketahui bahwa keluarga “MR” termasukk ekonomi tergolong
sederhana / ekonomi kebawah. Kakak “MR” 5 yang sudah menikah dan sudah memiliki
keluarga sendiri dan satu kakak “MR” sekarang duduk di kelas 8 SMP. Sedangkan adik
duduk di kelas 4 SD. Ayah “MR” sudah meninggal pada karena sakit yang
dideritanya.
3.4.2 Keadaan Klien
Dari
observasi penulis selama praktik dan juga wawancara dengan Ibu klien, diketahui
bahwa “MR” sekarang sudah tidak sekolah, setiap hari “MR” jarang berada di rumah.
“MR” sering berpergian. Kadang “MR”
pergi kepasar pagi, kadang juga pergi ke pasar 16. Lem yang di dapatkan
“MR” hasil dari mulung atau kerja di
kuli di pasar.
3.4.3 Kondisi Keluarga
Dari
hasil wawancara, kondisi keluarga “MR” cukup harmonis, walau pun beberapa kali terjadi
pertengkaran kecil, dalam masalah pendidikan, kakak “MR” rata-rata lulusan SMP
dan lansung menikah tau bekerja terlebih dahulu, alasan tidak melanjut SMA,
karena alasan keuangan dan saudara yang banyak. Adiknya duduk di kelas 4 SD. Orang tua “MR” sangat
ingin sekali ”MR” lanjut sekolah mengingat “MR” hanya lususan SD. IBU “MR”
merasa cemas “MR”tidak berubah sampai dewasa. Padahal banyak pekerjaan yang
bisa di lakukan “MR” . Ditambah lagi ini hidup di kota. Kehidupan yang sangat keras.
3.5. Diagnosa
Diagnosis
adalah tahap menginterpresikan data dari suatu masalah yang dihadapi. Proses
ini dilakukkan setelah melakukan pengambilan atau penarikan kesimpulan yang
logis.
Berdasarkan
hasil sintesis yang diperoleh dari pengumpulan data maka berikut ini akan
dikaji diagnosis atau hal yang menyebabkan klien mengalami masalah. Adapun
uraian diagnosis berdasarkan data yang telah dikumpul oleh praktikum adalah
sebagai berikut:
1.
“MR”
mengalami kesulitan dalam mengingat dan menghafal.
2.
“MR”
sering bolos.
3.
“MR”
menghindari pergi kesekolah.
4.
“MR” Terpengauh
lingkungan
Untuk
memudahkan memahami permasalahan klien akan dibuat topografi masalah klien “MR”.
TOPOGRAFI
MASALAH KLIEN “MR”
|
Keadaan fisik klien:
-
Warna
kulit kuning langsat
-
Tubuh
yang kurus
-
Klien
sehat
|
|
Keadaan pribadi klien:
-
Klien
adalah anak ke 7 dari 8 bersaudara
-
Tinggal
bersama keluarga
|
|
Keadaan klien:
-
Klien
memilih tidak lanjut sekolah
-
Klien
jarang ada rumahnya
|
|
Keadaan sosial klien:
-
Klien
termasuk anak yang mudah bergaul dengan teman-temannya
|
|
Keadaan keluarga klien:
-
Ayahnya
sudah meninggal
-
Ibunya
berjualan sayur di pasar pagi
|
|
Keadaan klien:
-
Klien
tidak mau lanjut sekolah dan sekarang kecanduan ngelem
|
3.6. Prognosis
Prognosis adalah langkah yang ditempuh untuk menetapkan
jenis atau teknik bantuan yang akan diberikan kepada konseli serta memprediksi kemungkinan yang
akan timbul oleh sehubungan dengan masalah yang sedang dialami.
Berdasarkan
hasil diagnosis terhadap masalah-masalah klien ini akan diuraikan
kemungkinan-kemugkinan pemberian bantuan. Pemberian bantuan berdasarkan latar
belakang penyebab masalah itu muncul. Kemungkinan-kemungkinan pemberian
bantuannya adalah sebagai berikut:
3.6.1
Memberikan bimbingan pribadi berupa:
1.
Pemberian
informasi bahaya lem.
2.
Informasi
tentang kesehatan akibat mengkonsumsi lem.
3.
Informasi
tentang cara menghilangkan kecanduan lem
3.6.2 Melaksanakan Teknik Konseling
a) RET (RASIONAL EMOTIF RETAPY) merupakan
teknik yang menekankan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang takterhingga
bigi aktualisasi dirinya dan bisa mengubah RET. RET menekankan bahwa manusia
berfikir, beremosi, dan bertindah secara simultan. Teknik ini membantu konseli merubah pemikiran yang
irasionalnya ke rasional.
b) Konseling
realitas adalah suatu sistem yang difokuskan pada tingkah laku sekarang.
Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengonfrontasikan klien dengan
cara-cara yang bisa membantu klien menghadapi kenyataan dan memenuhi
kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain.
Tujuan terapi ini ialah membantu seseorang untuk mencapai otonomi. Terapi Realitas adalah suatu bentuk modifikasi tingkah laku karena dalam
penerapan-penerapan institusionalnya, merupakan tipe pengkondisian operan
yang tidak ketat. Glasser mengembangkan terapi realitas dan meraih
popularitasnya karena berhasil menerjemahkan sejumlah konsep modifikasi tingkah
laku ke dalam model praktek yang relatif sederhana dan tidak berbelit-belit.
c) Teknik behavior merupakan penerapan
yang sistematis prinsip-prinsip belajar pada pengubahan tingkah laku kearah
cara-cara yang lebih adaptif. Terapi behavior diarahkan pada tujuan-tujuan
memperoleh tingkah laku baru, pengapusan tingkah laku yang maladaptife, serta
memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan.
3.7. Treatment / Bantuan
Setelah dilakukan
prognosa, selanjutnya akan dilakukan terapi atau bantuan. Dalam kegiatan terapi
ini, hal-hal yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1.
Pertemuan pertama
Pertemuan pertama, kejadian ini
berlangsung di rumah klien. Kebetulan klien ada dirumah. Pada pertemuan ini
melakukan tahap ekspolorasi tentang klien. Eksplorasi yang di bahas yaitu
menanyakan keadan/kondisi keluarga dirumah. Lalu, fokus membahas tentang “MR”.
Adapun hasil adalah bahwa “MR” tidak sekolah, karena tidak mau melanjutkan
ketingkat menengah pertama, kegiaatan sehari-hari “MR” pergi ke pasar, pasar
pagi maupun pasar 16 ilir. Ibu “MR” mengetahui “MR” ngelem sudah enam bulan yang
lalu. Namun ibunya tidak bisa menghentikan kegiatan “MR” tersebut.
“MR” termasuk orang yang
mudah bergaul dan mudah bersosialisasi dengan orang yang baru, sehingga mudah
untuk dekat “MR”. Hal ini terbukti ketika penulis mengajak bicara dengan “MR”.
Klien menceritakan bahwa ia memang ngelem, faktor penyebab klien tidak ngelem
yaitu faktor lingkungan dan teman-teman di pasar yang mayoritas anak jalanan
yang tidak sekolah juga menjadi faktor penyebabnya.
Eksplorasi pikiran, Pada
tahap ini konselor berusaha menggali ide, fikiran, dan pendapat klien mengenai
masalah yang di hadapinya. Pada tahap ini juga langsung ditawarkan tentang
konseling, dan akhirnya “MR” mau.
2.
Pertemuan
kedua
Pada
pertemuan kedua atau tahap personalisasi ini penulis memberikan arahan kepada “MR”
akibat serta damapak dari perilaku yang ia lakukan. Kegiatan ini dilakukan di
warung makan silaberanti.
3.
Pertemuan
ketiga
Pertemuan
ketiga atau Tahap Mengembangkan Inisiatif / Mengarahkan. Pada tahap ini
konselor berusaha mendengarkan inisiatif dan ide yang diambil oleh “MR”.
Kemudian
konselor memberikan gambaran dan berupa bantuan konseling Rational Emotive Theraphy (RET) dengan menggunakan tehnik self modeling dan tehnik reinforcement yaitu memberi reward terhadap perilaku rasional atau
memperkuatnya (reinforcement) adapun proses terapi konseling konselor berusaha
menunjukan klien kesulitan yang dihadapi
sangat berhubungan dengan keyakinan irasional, dan menunjukan bagaimana harus
bersikap rasional dan mampu memisahkan keyakinan irasional dan rasional.
Setelah
klien menyadari gangguan emosi yang bersumber dari pemikiran irasional, maka
konselor menunjukan gangguan emosi yang bersumber dari pemikiran irasional.
Pada tahap ini konselor tidak menyarankan “MR” untuk berhenti kecanduan ngelem.
Namun, penulis memberikan pilihan-pilihan. Dengan catatan konselor berusaha
agar klien berusaha merubah keyakinan menjadi rasional. Lalu konselor berusaha
agar klien menghindarkan diri dari ide-ide irasionalnya, dan konselor berusaha
menghubungkan antara ide tersebut dengan proses penyalahan dan perusakan diri.
4. Pertemuan keempat
Pertemuan
keempat atau tahap pengambilan keputusan dan pengakhiran. Tahap pengambilan
keputusan Setelah memberikan bantuan berupa konseling Rational Emotive Theraphy
(RET) dengan menggunakan dua tehnik yaitu self
modeling dan reinforcement pada
klien, konselor menantang klien untuk mengembangkan filosofis kehidupannya yang
rasional dan menolak kehidupan yang irrasional dan fiktif serta memberikan
kebebasan pada klien untuk mengambil
keputusan yang diambil klien ialah, ia berusaha untuk berhenti ngelem, walaupun
usaha yang “MR” lakuan butuh waktu yang lama dan proses yang panjang.
Tahap
penutup, yaitu tahap penilaian hasil dan penghentian konseling atas kehendak
klien. Tahapan ini penulis belum bisa untuk merubah perilaku “MR” secara 100%,
namun setidaknya penulis sudah menjelaskan secara kognitif tentang akibat
kecanduan ngelem. Semua keputusan ada di
tangan “MR”.
3.8. Follow Up / Tindak Lanjut
Follow up adalah
tahapan akhir dalam layanan konseling terhadap “MR”, yang bertujuan untuk
mengetahui perkembangan konseli setelah diberi bantuan. Kegiatan ini juga
sebagai alat ukur keberhasilan bantuan yang diberikan terhadap perkembangan
perilaku konseli. Follow up dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1.
Memantau via
WA perkembangan tingkah laku konseli untuk mengetahui sampai sejauh mana
layanan bimbingan dapat membantu konseli.
2.
Mengawasi
perkembangan konseli secara Continue
Karena
keterbatasan waktu yang dimiliki praktikan dalam memberikan layanan konseling,
maka selanjutnya penulis menyerahkan sepenuhnya pengawasan dan pengarahan kepada
keluarga.
BAB
IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Setelah
melakukan konseling dengan “MR”, penulis menyimpulkan bahwa perilaku negatif
yang dilakukan “MR” bukan hanya karena kesalahan “MR”, melainkan jga faktor
keluarga dan lingkungan terutama teman. Ketika menangani kasus ini, penulis
tidak bisa memastikan secara penuh perubahan “MR” dengan cepat, karena
kecanduan ngelem butuh waktu yang lama untuk menghentikannya, terkhusus
keinginan “MR” untuk berhenti merupakan faktor terbesar keberhasilan layanan
konseling ini.
4.2 Saran
Penulis
mengharapkan ada perubahan perilaku dari konseli “MR”. Mengingat “MR” masih
muda dan masih panjang perjalanan hidupnya.
REFENSI
Prayitno. 1998. Konseling Pancawaskita Kerangka Konseling
Eklektik. Padang : UNIVERSITAS NEGERI PADANG
Taufik. 2016. Pendekatan dalam Konseling. Padang :
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
Komentar
Posting Komentar