MAKALAH
PEMBINAAN ANAK BERBAKAT
“ BAKAT MENARI”
DI
SUSUN OLEH :
Nama
Kelompok : Mariyati
Nim : 2014 141 106
Semerter/Kelas :
3/ C
Mata Kuliah :
Pembinaan Anak Berbakat
Program Studi :
BIMBINGAN Dan KONSELING
Jurusan :
Ilmu Pendidikan
Dosen Pengasuh :
Maulida Yk S.Pd M.Si
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PGRI PALEMBANG
2015
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT bahwa dengan Rahmat dan
Ridho-Nya. Serta Shalawat beserta salam kita
sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman
hidup yakni al-qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia. Penulis dapat menyelesaikan Makalah Mata Kuliah “Pembinaan
Anak Berbakat” yang berjudul “Bakat Menari” sebagai tugas Mata Kuliah
Semester Tiga.
Semoga Makalah ini dapat menambah wawasan kita semua. Tidak ada yang sempurna, begitu pula dengan penulisan makalah
ini. Oleh sebab itu penulis menerima kritik
positif dari pembaca sebagai perbaikan bagi penulis dimasa yang akan datang.
Semoga makalah ini bermanfat.
Akhir kata penulis ucapkan “Terima Kasih”.
Palembang, 3
November 2015
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang...............................................................................................1
1.2 Rumusan
Masalah..........................................................................................2
1.3. Tujuan
Penulisan.............................................................................................2
BAB II PEMBAHASAAN
2.1 Pengertian Bakat
Khusus................................................................................3
2.2 Karakteristik
Anak Berbakat...........................................................................3
2.3 Bakat
Menari...................................................................................................5
2.4 Contoh Orang Yang
Berbakat Menari.........................../.................................6
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan......................................................................................................8
3.2 Saran................................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................9
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perhatian terhadap pendidikan anak
berbakat sebenarnya sudah dikenal sejak 2000 tahun yang lalu. Misalnya, Plato
pernah menyerukan agar anak-anak berbakat dikumpulkan dan dididik secara khusus
karena mereka ini diharapkan bakal menjadi pemimpin negara dalam segala bidang
pemerintahan. Oleh karena itu, mereka dibekali ilmu pengetahuan yang dapat
menunjang tugas mereka (Rohman Natawijaya, 1979).
Demikian pula di Indonesia, kehadiran mereka sudah
dikenal sejak dulu. Banyak sekolah yang menerapkan sistem loncat kelas atau
dapat naik ke kelas berikutnya lebih cepat meskipun waktu kenaikan kelas belum
saatnya. Perhatian yang lebih serius dan formal tersurat dalam UUSPN No. 2
Tahun 1989 bahwa peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar
biasa berhak memperoleh pendidikan khusus untuk mengembangkan potensi anak-anak
tersebut secara optimal.
Anak berbakat tidak mengalami
kecacatan, seperti anak tunanetra, tunarungu, dan tunagrahita. Walaupun
diantara anak berbakat ada yang menyandang kelainan, tetapi kelainan itu bukan
pada terhambatnya kecerdasan. Agar anak berbakat yang mempunyai potensi unggul
tersebut dapat mengembangkan potensinya dibutuhkan program dan layanan
pendidikan secara khusus. Mereka lahir dengan membawa potensi luar biasa yang
berarti telah membawa kebermaknaan hidup. Oleh karena itu, tugas pendidikan
adalah mengembangkan kebermaknaan
tersebut secara optimal sehingga mereka dapat berkiprah dalam memajukan bangsa
dan negara.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa Definisi Anak Berbakat Itu?
2 Apa Saja Karakteristik Anak Berbakat Itu?
3. Apa Definisi Bakat Menari ?
4. Siapa Saja Contoh Anak Berbakat Menari?
C.
TUJUAN
1. Diharapkan dapat memahami dan menjelaskan
definisi anak berbakat.
2. Diharapkan dapat memahami
dan menjelaskan karakteristik anak berbakat.
3. Diharapkan dapat memahami
dan menjelaskan Bakat Menari.
4. Diharapkan dapat memahami dan
mengetahui contoh anak berbakat menari .
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN BAKAT KHUSUS
Bakat (aptitude) mengandung
makna kemampuan bawaan yang merupakan potensi ( potential ability ) yang masih
perlu pengembangan dan latihan lebih lanjut. Karena sifatnya yang masih
potensial atau masih laten, bakat memerlukan ikhtiar pengembangan dan pelatihan
secara serius dan sistematis agar dapat terwujud ( Utami Munandar 1992 ) . Bakat berbeda dengan kemampuan (ability)
yang mengandung makna sebagai daya untuk melakukan sesuatu, sebagai hasil
pembawaan dan latihan. Bakat juga berbada dengan kapasitas (capacity) dengan
sinonimnya, yaitu kemampuan yang dapat dikembangkan di masa yang akan datang
apabila latihan dilakukan secara optimal (
Conny Semiawan 1987 ) .
B. KARAKTERISTIK ANAK BERBAKAT
Karakteristik
anak berbakat ditinjau dari segi akademik, sosial/emosi, dan fisik/kesehatan.
1.
Karakteristik Akademik
Roe, seperti
dikutip oleh Zaenal Alimin (1996) mengidentifikasikan karakteristik
keberbakatan akademik adalah:
a. memiliki
ketekunan dan rasa ingin tahu yang benar,
b. keranjingan membaca,
c. menikmati
sekolah dan belajar.
Sedangkan Kitano dan Kirby (1986)
yang dikutip oleh Mulyono Abdurrahman (1994) mengemukakan karakteristik
keberbakatan bidang akademik adalah:
a. memiliki
perhatian yang lama terhadap suatu bidang akademik khusus,
b. memiliki
pemahaman yang sangat maju tentang konsep, metode, dan terminologi dari bidang
akademik khusus,
c. mampu
mengaplikasikan berbagai konsep dari bidang akademik khusus yang dipelajari pada aktivitas-aktivitas
bidang lain,
d. kesediaan mencurahkan
sejumlah besar perhatian dan usaha untuk mencapai standar yang lebih tinggi
dalam suatu bidang akademik,
e. memiliki sifat
kompetitif yang tinggi dalam suatu bidang akademik dan motivasi yang tinggi untuk berbuat yang
terbaik, dan
f. belajar
dengan cepat dalam suatu bidang akademik khusus.
Salah satu
contoh yang digambarkan oleh Kirk (1986) bahwa
seorang anak berbakat berusia 10 tahun, ia memiliki kemampuan akademik
dalam hal membaca sama dengan anak normal usia 14 tahun, dan berhitung sama
dengan usia 11 tahun, anak ini memiliki keberbakatan dalam membaca.
2.
Karakteristik Sosial/Emosi
Ada beberapa ciri individu yang
memiliki keberbakatan sosial, yaitu:
a. diterima oleh
mayoritas dari teman-teman sebaya dan orang dewasa,
b. keterlibatan
mereka dalam berbagai kegiatan sosial, mereka memberikan sumbangan positif dan
konstruktif,
c. kecenderungan
dipandang sebagai juru pemisah dalam pertengkaran dan pengambil kebijakan oleh
teman sebayanya,
d. memiliki kepercayaan
tentang kesamaan derajat semua orang dan jujur,
e. perilakunya
tidak defensif dan memiliki tenggang rasa,
f. bebas
dari tekanan emosi dan mampu mengontrol ekspresi emosional sehingga relevan
dengan situasi,
g. mampu
mempertahankan hubungan abadi dengan teman sebaya dan orang dewasa,
h. mampu
merangsang perilaku produktif bagi orang lain, dan
i.
memiliki kapasitas yang luar biasa untuk menanggulangi situasi sosial dengan
cerdas, dan humor.
Dicontohkan
pula oleh Kirk bahwa anak yang berbakat dalam hal social dan emosi, bahwa
seorang anak berusia 10 tahun memperlihatkan kemampuan penyesuaian sosial dan
emosi (sikap periang, bersemangat, kooperatif, bertanggung jawab, mengerjakan
tugasnya dengan baik, membantu temannya yang kurang mampu dan akrab dalam
bermain). Sikap-sikap yang diperlihatkannya itu sama dengan sikap anak normal
usia 16 tahun.
3.
Karakteristik Fisik/Kesehatan
Dalam segi fisik, anak berbakat
memperlihatkan (a) memiliki penampilan yang menarik dan rapi, (b) kesehatannya
berada lebih baik atau di atas
rata-rata, (studi longitudinal Terman dalam Samuel A. Kirk, 1986).
Dicontohkan pula oleh Kirk bahwa
seorang anak berbakat usia 10 tahun memiliki tinggi dan berat badan sama dengan
usianya. Yang menunjukkan perbedaan
adalah koordinasi geraknya sama dengan anak normal usia 12 tahun. Mereka juga
memperlihatkan sifat rapi.
Karakteristik
anak berbakat secara umum, seperti yang dikemukakan oleh Renzulli, 1981 (dalam
Sisk, 1987) menyatakan bahwa
keberbakatan (giftedness) menunjukkan keterkaitan antara 3 kelompok ciri-ciri,
yaitu (a) kemampuan kecerdasan jauh di atas rata-rata, (b) kreativitas tinggi
dan (c) tanggung jawab atau pengikatan diri terhadap tugas (task commitment).
Masing-masing ciri mempunyai peran yang menentukan.
Seseorang
dikatakan berbakat intelektual jika mempunyai inteligensia tinggi. Sedangkan
kreativitas adalah sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru,
memberikan gagasan baru, kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan yang baru
antara unsur-unsur yang sudah ada. Demikian pula berlaku bagi pengikatan diri
terhadap tugas. Hal inilah yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet
meskipun mengalami berbagai rintangan dan hambatan karena
ia telah mengikatkan
diri pada tugas
atas kehendaknya sendiri.
C. BAKAT MENARI
keterampilan menari
adalah
kemampuan seseorang dalam melakukan gerak yang tertata dan diselaraskan degan
irama, serta dengan penjiwaan yang dalam dengan baik dan tepat. Keterampilan menari ditunjukkan dengan kemampuan melakukan gerak yang baik dan tepat dengan yang seharusnya dilakukan. Mampu bergerak sesuai
dengan irama dalam tarian. Dan
mampu mengekspresikan makna atau jiwa dalam
tarian agar dapat dimengerti dan
dinikmati penonton.
Penilaian
tentang kemampuan menari
seseorang ditujukan pada kualitas penyajian tari yang dilakukan
oleh penari, tidak hanya ditujukan
pada karya tarinya saja (Kusnadi, 2009). Secara umum aspek yang dapat dipergunakan sebagai kriteria penilaian suatu karya tari meliputi kualitas gerak, irama, dan penjiwaan. Aspek-aspek
tertentu yang dipergunakan di Jawa dalam evaluasi penyajian tari adalah wiraga,
wirama, dan wirasa.
D. CONTOH ANAK TUNGARUNGU MEMILIKI
BAKAT MENARI
Ni Luh Widyari tidak bisa mendengar
alias tunarungu. Ketika Widya mulai tumbuh, Widya memang tidak bisa berbicara
dengan terlalu lancar. Tetapi, tidak terlalu difikirkan oleh keluarga. Di kira
itu cuma masalah perkembangan anak. Widya di sekolahkan disekolah umum seperti
anak-anak lainnya. Belum satu bulan sekolah, Widya sudah pulang menangis.
Dengan terbata-bata Widya mengadu sering diejek-ejek dengan sebutan kolok oleh
teman-temannya. Setelah diperiksakan ke dokter, barulah diketahui widya
penyandang tunarungu. Akhirnya, widya dipindahkan a ke SLBB Sidakarya..
Pernah Widya
sampai memukul-mukul kepalanya sendiri ketika belajar mengucapkan huruf ‘r’.
Tetapi usaha Widya tidak pernah berhasil. Keluarga sengaja tidak belajar bahasa
isyarat agar Widya fasih menggunakan gerak mulut dan ekspresi ketika
berkomunikasi. Widya yang memiliki hobi membaca komik Jepang ini mulai
menunjukkan kemampuan menari sejak kecil. Widya mulai dilatih menari oleh guru
tarinya, Ni Ketut Wati, di bilangan Kereneng, Denpasar. Widya kerap mengikuti
lomba tari dan mewakili Bali dalam tiap kegiatan di tingkat Kota Denpasar
maupun Provinsi Bali.
Kisah Widya yang tegar menghadapi kekurangannya ini menjadi kisah
yang difilmkan dengan judul “Widya Jemari Jiwaku Menari”. Film garapan
Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (KKKS) Kota Denpasar ini mengisahkan
kehidupan nyata yang diperankan sendiri oleh Widya sebagai tokoh utamanya.
begitu juga
Ayuda Kusmia Putri siswi SLB N 2 Bantul membuktikan bahwa penderita tuna rungu
juga dapat pandai menari bahkan memiliki segudang prestasi dalam bidang tari.
Ayuda sebelumnya pernah menjadi juara I tingkat provinsi penari terbaik, Juara
III tingkat provinsi tari kreasi baru, dan menarikan tarian jaran rijal pada
pembukaan PKLK Nasional di Taman Budaya Yogyakarta.
Meskipun
cara berlatih Ayuda sedikit berbeda dengan kebanyakan penari lainnya, namun
Ayuda tetap semangat disetiap latihan. Anak tuna
rungu memang dilemahkandalampendengarannya , namun dipertajam kemampuan
pemahaman dan rasa. Sehingga setiap gerakan yang saya perlihatkan dia cepat
menangkap, dan ia tarikan dengan penuh
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perhatian terhadap pendidikan anak
berbakat sebenarnya sudah dikenal sejak 2000 tahun yang lalu. Misalnya, Plato
pernah menyerukan agar anak-anak berbakat dikumpulkan dan dididik secara khusus
karena mereka ini diharapkan bakal menjadi pemimpin negara dalam segala bidang
pemerintahan. Oleh karena itu, mereka dibekali ilmu pengetahuan yang dapat
menunjang tugas mereka (Rohman Natawijaya, 1979).
Demikian pula di Indonesia, kehadiran mereka sudah
dikenal sejak dulu. Banyak sekolah yang menerapkan sistem loncat kelas atau
dapat naik ke kelas berikutnya lebih cepat meskipun waktu kenaikan kelas belum
saatnya. Perhatian yang lebih serius dan formal tersurat dalam UUSPN No. 2
Tahun 1989 bahwa peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar
biasa berhak memperoleh pendidikan khusus untuk mengembangkan potensi anak-anak
tersebut secara optimal.
Anak berbakat tidak mengalami
kecacatan, seperti anak tunanetra, tunarungu, dan tunagrahita. Walaupun
diantara anak berbakat ada yang menyandang kelainan, tetapi kelainan itu bukan
pada terhambatnya kecerdasan. Agar anak berbakat yang mempunyai potensi unggul
tersebut dapat mengembangkan potensinya dibutuhkan program dan layanan
pendidikan secara khusus. Mereka lahir dengan membawa potensi luar biasa yang
berarti telah membawa kebermaknaan hidup. Oleh karena itu, tugas pendidikan
adalah mengembangkan kebermaknaan
tersebut secara optimal sehingga mereka dapat berkiprah dalam memajukan bangsa
dan negara.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa Definisi Anak Berbakat Itu?
2 Apa Saja Karakteristik Anak Berbakat Itu?
3. Apa Definisi Bakat Menari ?
4. Siapa Saja Contoh Anak Berbakat Menari?
C.
TUJUAN
1. Diharapkan dapat memahami dan menjelaskan
definisi anak berbakat.
2. Diharapkan dapat memahami
dan menjelaskan karakteristik anak berbakat.
3. Diharapkan dapat memahami
dan menjelaskan Bakat Menari.
4. Diharapkan dapat memahami dan
mengetahui contoh anak berbakat menari .
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN BAKAT KHUSUS
Bakat (aptitude) mengandung
makna kemampuan bawaan yang merupakan potensi ( potential ability ) yang masih
perlu pengembangan dan latihan lebih lanjut. Karena sifatnya yang masih
potensial atau masih laten, bakat memerlukan ikhtiar pengembangan dan pelatihan
secara serius dan sistematis agar dapat terwujud ( Utami Munandar 1992 ) . Bakat berbeda dengan kemampuan (ability)
yang mengandung makna sebagai daya untuk melakukan sesuatu, sebagai hasil
pembawaan dan latihan. Bakat juga berbada dengan kapasitas (capacity) dengan
sinonimnya, yaitu kemampuan yang dapat dikembangkan di masa yang akan datang
apabila latihan dilakukan secara optimal (
Conny Semiawan 1987 ) .
B. KARAKTERISTIK ANAK BERBAKAT
Karakteristik
anak berbakat ditinjau dari segi akademik, sosial/emosi, dan fisik/kesehatan.
1.
Karakteristik Akademik
Roe, seperti
dikutip oleh Zaenal Alimin (1996) mengidentifikasikan karakteristik
keberbakatan akademik adalah:
a. memiliki
ketekunan dan rasa ingin tahu yang benar,
b. keranjingan membaca,
c. menikmati
sekolah dan belajar.
Sedangkan Kitano dan Kirby (1986)
yang dikutip oleh Mulyono Abdurrahman (1994) mengemukakan karakteristik
keberbakatan bidang akademik adalah:
a. memiliki
perhatian yang lama terhadap suatu bidang akademik khusus,
b. memiliki
pemahaman yang sangat maju tentang konsep, metode, dan terminologi dari bidang
akademik khusus,
c. mampu
mengaplikasikan berbagai konsep dari bidang akademik khusus yang dipelajari pada aktivitas-aktivitas
bidang lain,
d. kesediaan mencurahkan
sejumlah besar perhatian dan usaha untuk mencapai standar yang lebih tinggi
dalam suatu bidang akademik,
e. memiliki sifat
kompetitif yang tinggi dalam suatu bidang akademik dan motivasi yang tinggi untuk berbuat yang
terbaik, dan
f. belajar
dengan cepat dalam suatu bidang akademik khusus.
Salah satu
contoh yang digambarkan oleh Kirk (1986) bahwa
seorang anak berbakat berusia 10 tahun, ia memiliki kemampuan akademik
dalam hal membaca sama dengan anak normal usia 14 tahun, dan berhitung sama
dengan usia 11 tahun, anak ini memiliki keberbakatan dalam membaca.
2.
Karakteristik Sosial/Emosi
Ada beberapa ciri individu yang
memiliki keberbakatan sosial, yaitu:
a. diterima oleh
mayoritas dari teman-teman sebaya dan orang dewasa,
b. keterlibatan
mereka dalam berbagai kegiatan sosial, mereka memberikan sumbangan positif dan
konstruktif,
c. kecenderungan
dipandang sebagai juru pemisah dalam pertengkaran dan pengambil kebijakan oleh
teman sebayanya,
d. memiliki kepercayaan
tentang kesamaan derajat semua orang dan jujur,
e. perilakunya
tidak defensif dan memiliki tenggang rasa,
f. bebas
dari tekanan emosi dan mampu mengontrol ekspresi emosional sehingga relevan
dengan situasi,
g. mampu
mempertahankan hubungan abadi dengan teman sebaya dan orang dewasa,
h. mampu
merangsang perilaku produktif bagi orang lain, dan
i.
memiliki kapasitas yang luar biasa untuk menanggulangi situasi sosial dengan
cerdas, dan humor.
Dicontohkan
pula oleh Kirk bahwa anak yang berbakat dalam hal social dan emosi, bahwa
seorang anak berusia 10 tahun memperlihatkan kemampuan penyesuaian sosial dan
emosi (sikap periang, bersemangat, kooperatif, bertanggung jawab, mengerjakan
tugasnya dengan baik, membantu temannya yang kurang mampu dan akrab dalam
bermain). Sikap-sikap yang diperlihatkannya itu sama dengan sikap anak normal
usia 16 tahun.
3.
Karakteristik Fisik/Kesehatan
Dalam segi fisik, anak berbakat
memperlihatkan (a) memiliki penampilan yang menarik dan rapi, (b) kesehatannya
berada lebih baik atau di atas
rata-rata, (studi longitudinal Terman dalam Samuel A. Kirk, 1986).
Dicontohkan pula oleh Kirk bahwa
seorang anak berbakat usia 10 tahun memiliki tinggi dan berat badan sama dengan
usianya. Yang menunjukkan perbedaan
adalah koordinasi geraknya sama dengan anak normal usia 12 tahun. Mereka juga
memperlihatkan sifat rapi.
Karakteristik
anak berbakat secara umum, seperti yang dikemukakan oleh Renzulli, 1981 (dalam
Sisk, 1987) menyatakan bahwa
keberbakatan (giftedness) menunjukkan keterkaitan antara 3 kelompok ciri-ciri,
yaitu (a) kemampuan kecerdasan jauh di atas rata-rata, (b) kreativitas tinggi
dan (c) tanggung jawab atau pengikatan diri terhadap tugas (task commitment).
Masing-masing ciri mempunyai peran yang menentukan.
Seseorang
dikatakan berbakat intelektual jika mempunyai inteligensia tinggi. Sedangkan
kreativitas adalah sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru,
memberikan gagasan baru, kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan yang baru
antara unsur-unsur yang sudah ada. Demikian pula berlaku bagi pengikatan diri
terhadap tugas. Hal inilah yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet
meskipun mengalami berbagai rintangan dan hambatan karena
ia telah mengikatkan
diri pada tugas
atas kehendaknya sendiri.
C. BAKAT MENARI
keterampilan menari
adalah
kemampuan seseorang dalam melakukan gerak yang tertata dan diselaraskan degan
irama, serta dengan penjiwaan yang dalam dengan baik dan tepat. Keterampilan menari ditunjukkan dengan kemampuan melakukan gerak yang baik dan tepat dengan yang seharusnya dilakukan. Mampu bergerak sesuai
dengan irama dalam tarian. Dan
mampu mengekspresikan makna atau jiwa dalam
tarian agar dapat dimengerti dan
dinikmati penonton.
Penilaian
tentang kemampuan menari
seseorang ditujukan pada kualitas penyajian tari yang dilakukan
oleh penari, tidak hanya ditujukan
pada karya tarinya saja (Kusnadi, 2009). Secara umum aspek yang dapat dipergunakan sebagai kriteria penilaian suatu karya tari meliputi kualitas gerak, irama, dan penjiwaan. Aspek-aspek
tertentu yang dipergunakan di Jawa dalam evaluasi penyajian tari adalah wiraga,
wirama, dan wirasa.
D. CONTOH ANAK TUNGARUNGU MEMILIKI
BAKAT MENARI
Ni Luh Widyari tidak bisa mendengar
alias tunarungu. Ketika Widya mulai tumbuh, Widya memang tidak bisa berbicara
dengan terlalu lancar. Tetapi, tidak terlalu difikirkan oleh keluarga. Di kira
itu cuma masalah perkembangan anak. Widya di sekolahkan disekolah umum seperti
anak-anak lainnya. Belum satu bulan sekolah, Widya sudah pulang menangis.
Dengan terbata-bata Widya mengadu sering diejek-ejek dengan sebutan kolok oleh
teman-temannya. Setelah diperiksakan ke dokter, barulah diketahui widya
penyandang tunarungu. Akhirnya, widya dipindahkan a ke SLBB Sidakarya..
Pernah Widya
sampai memukul-mukul kepalanya sendiri ketika belajar mengucapkan huruf ‘r’.
Tetapi usaha Widya tidak pernah berhasil. Keluarga sengaja tidak belajar bahasa
isyarat agar Widya fasih menggunakan gerak mulut dan ekspresi ketika
berkomunikasi. Widya yang memiliki hobi membaca komik Jepang ini mulai
menunjukkan kemampuan menari sejak kecil. Widya mulai dilatih menari oleh guru
tarinya, Ni Ketut Wati, di bilangan Kereneng, Denpasar. Widya kerap mengikuti
lomba tari dan mewakili Bali dalam tiap kegiatan di tingkat Kota Denpasar
maupun Provinsi Bali.
Kisah Widya yang tegar menghadapi kekurangannya ini menjadi kisah
yang difilmkan dengan judul “Widya Jemari Jiwaku Menari”. Film garapan
Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (KKKS) Kota Denpasar ini mengisahkan
kehidupan nyata yang diperankan sendiri oleh Widya sebagai tokoh utamanya.
begitu juga
Ayuda Kusmia Putri siswi SLB N 2 Bantul membuktikan bahwa penderita tuna rungu
juga dapat pandai menari bahkan memiliki segudang prestasi dalam bidang tari.
Ayuda sebelumnya pernah menjadi juara I tingkat provinsi penari terbaik, Juara
III tingkat provinsi tari kreasi baru, dan menarikan tarian jaran rijal pada
pembukaan PKLK Nasional di Taman Budaya Yogyakarta.
Meskipun
cara berlatih Ayuda sedikit berbeda dengan kebanyakan penari lainnya, namun
Ayuda tetap semangat disetiap latihan. Anak tuna
rungu memang dilemahkandalampendengarannya , namun dipertajam kemampuan
pemahaman dan rasa. Sehingga setiap gerakan yang saya perlihatkan dia cepat
menangkap, dan ia tarikan dengan penuh,
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Bakat (aptitude) mengandung makna kemampuan bawaan yang merupakan potensi (
potential ability ) yang masih perlu pengembangan dan latihan lebih lanjut.
Karena sifatnya yang masih potensial atau masih laten, bakat memerlukan ikhtiar
pengembangan dan pelatihan secara serius dan sistematis agar dapat terwujud ( Utami Munandar 1992 ) .
keterampilan menari
adalah
kemampuan seseorang dalam melakukan gerak yang tertata dan diselaraskan degan
irama, serta dengan penjiwaan yang dalam dengan baik dan tepat. Keterampilan menari ditunjukkan dengan kemampuan melakukan gerak yang baik dan tepat dengan yang seharusnya dilakukan. Mampu bergerak sesuai
dengan irama dalam tarian. Dan
mampu mengekspresikan makna atau jiwa dalam
tarian agar dapat dimengerti dan
dinikmati penonton.
DAFTAR PUSTAKA
prints.uny.ac.id/9523/3/bab%202-08209241004.pdf
http://pendidikan-diy.go.id/dinas_v4/?view=v_berita&id_sub=2838
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Bakat (aptitude) mengandung makna kemampuan bawaan yang merupakan potensi (
potential ability ) yang masih perlu pengembangan dan latihan lebih lanjut.
Karena sifatnya yang masih potensial atau masih laten, bakat memerlukan ikhtiar
pengembangan dan pelatihan secara serius dan sistematis agar dapat terwujud ( Utami Munandar 1992 ) .
keterampilan menari
adalah
kemampuan seseorang dalam melakukan gerak yang tertata dan diselaraskan degan
irama, serta dengan penjiwaan yang dalam dengan baik dan tepat. Keterampilan menari ditunjukkan dengan kemampuan melakukan gerak yang baik dan tepat dengan yang seharusnya dilakukan. Mampu bergerak sesuai
dengan irama dalam tarian. Dan
mampu mengekspresikan makna atau jiwa dalam
tarian agar dapat dimengerti dan
dinikmati penonton.
DAFTAR PUSTAKA
prints.uny.ac.id/9523/3/bab%202-08209241004.pdf
http://pendidikan-diy.go.id/dinas_v4/?view=v_berita&id_sub=2838
Komentar
Posting Komentar